Inspirasi dan MotivasiParenting dan Keluarga

Ini Liburan Santri Idaman Walsantor

Libur telah tiba! Masa satu tahun full tanpa bertemu dengan sang buah hati sebentar lagi akan terobati. Tentunya berbagai rencana dan persiapan Walsantor untuk mengobati kerinduan ini sudah dipersiapkan matang-matang. Mulai dari rencana membuat masakan istimewa, rencana jalan-jalan, mengunjungi sodara atau ulama dan lain-lain. Lalu bagaimana rencana anak-anak kita? Matching-kah dengan rencana kita?

Beberapa santri biasanya telah membuat rencana bersama teman-temannya untuk mengisi masa liburan, ada yang berencana menginap di rumah temannya yang beda kota, ada yang berencana touring atau jalan-jalan (dulu masa sebelum pandemi, mungkin saat ini masih ada), ada yang berencana membuat acara semacam acara pengamalan ilmu untuk dipraktekkan di masa Ramadhan (keren!!), jika memungkinkan mungkin umroh atau jalan-jalan ke luar negeri bagi beberapa walsantor yang memiliki kelebihan rezeki dan banyak kegiatan lain.

Suasana pelepasan santri putri Gontor Bekasi (Foto: IKPM Bekasi (gontornews.com)

Namun masa liburan kali ini terasa sangat berbeda dengan liburan tahun-tahun sebelumnya. Satu tahun full interaksi walsantor dan buah hatinya hanya berupa suara di telepon. Luapan kerinduan seperti akan membuncah menanti pertemuan dengan sang buah hati, terkhusus santri baru yang bahkan saat pendaftaran dan memasuki kampus baru tanpa diantar.

Namun, bisa jadi kerinduan itu sedikit akan berbuah kegundahan ketika justru sang buah hati lebih memilih berlibur dan menghabiskan waktunya dengan teman-temannya satu konsulat atau bahkan beda konsulat alias beda kota. Drama melankolis!

Tidak ada yang Salah dengan Kegiatan di Luar

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sibuknya santri kita dengan teman-teman satu konsulatnya sepulangnya dari pondok untuk mengisi liburan. Insya Allah sejauh yang diamati, kegiatan mereka masih positif dan bermanfaat.

Bahkan beberapa orangtua atau walsantor lebih senang dengan aktifitasnya putra-putrinya di luar dengan diisi beberapa kegiatan positif terutama yang berhubungan dengan Bulan Suci Ramadhan.

Namun tidak sedikit orangtua berharap putra-putrinya menghabiskan waktu bersama mereka atau setidaknya di lingkungan mereka, yang mereka bisa melampiaskan melihat fisiknya yang satu tahun penuh tak terawasi. (Sedikit sentimentil dan lebay ya .. 🤭, yang protes kayaknya yang belum pernah jadi orangtua 🤭).

Suasana pelepasan keberangkatan santri (IKPM Depok, twitter.com)

Tapi ada yang seperti ini. Jika para santri tidak merasa orangtuanya seperti melankolis atau lebay ini sebenarnya mereka “sedikit berbohong” untuk kebahagiaan anaknya. Apa yang tidak dilakukan orangtua untuk kebahagiaan anaknya? Termasuk “berpisah lagi” di saat liburan demi melihat anaknya bahagia (jika mereka bahagia bersama teman-temannya).

Hik … 😢😢

(Mungkin) Ini Sikap Santri Idaman Walsantor

Suatu ketika, dalam status facebook santri kelas 5 (Angkatan Guardian) dulu, tertulis sebuah ungkapan yang akan membuat hati orangtuanya berbunga. Ungkapan itu ditulis dalam bahasa Inggris, kurang lebih artinya seperti ini:

“Setiap hari gue melihat elo, kerjasama sama elo, tidur sama elo (maksudnya satu rayon, pen.), tiap hari ketemu, eh pas liburan masak ketemu elo lagi. Ini waktunya gue sama Mak Bapak gue, sama keluarga gue, sama lingkungan rumah gue, sama masjid dekat rumah gue. Orangtua gue setahun menahan rindu masak pas liburan waktu gue malah kumpul sama loe lagi. Peace “

Orangtua mana yang tidak bahagia ketika diutamakan oleh anaknya seperti ini, (hayooo pada mewek … 🤭🤭).

Bisa jadi parameter walsantor dalam menilai putra-putrinya berbeda, tapi penulis yakin ungkapkan santri di atas membuat sebagian besar walsantor berbunga haru.

Sekedar renungan …

Jika ada santri yang sempat membaca ini, mungkin ini jadi menjadi bahan sedikit renungan.

Berbakti kepada orangtua itu bisa dengan banyak hal. Menjadi anak sholeh, menjadi anak yang berguna bagi orang banyak, aktif dalam kegiatan positif itu semua pasti akan membuat orangtua bahagia.

Namun di saat ada kesempatan berbakti secara fisik dan visual terhadap orangtua, dimana kesempatan itu jarang kita dapatkan karena kondisi menuntut ilmu di tempat yang jauh ditambah kondisi pandemi, maka maksimalkanlah kesempatan itu. Karena kita tidak tau apakah itu kesempatan terakhir bertemu orangtua kita. Jika itu terjadi, penyesalan menjadi tidak berguna.

Namun bukan berarti harus memutus interaksi dengan teman-teman satu konsulat. Jika ada kegiatan bisa dilakukan namun tetap porsi utama untuk orangtua kita, lingkungan kita, masjid dekat rumah kita.

Jika ada ilmu yang ingin diamalkan, utamakan di lingkungan dekat rumah, mengajar ngaji pada anak-anak di kampung, atau mengisi kegiatan masjid dekat rumah selama Ramadhan. Jika tidak ada, adakan.

Sekian curhat walsantor … eh … 🤭🤭

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan