Cerbung dan Kisah HikmahKisah Alumni

Sepenggal Kisah Saat santri Gontor Mengikuti Olimpiade Matematika dan Studi Islam di Jakarta

[wpcdt-countdown id=”3343″]

Hitungan Mundur Masa Liburan Santri Gontor

Salah satu yang unik dalam sekolah bersistem asrama itu adalah persahabatan. Terkadang persahabatan itu menjadi penyebab sang anak bertahan di sekolah dengan segala aturan dan dinamikanya. Dan hal ini juga terjadi di Gontor.

Banyak kisah persahabatan yang kemudian “kekal” bertahan walau saat mereka sudah jauh terpisah dari almamaternya. Salah satu yang fenomenal yaitu yang dikisahkan oleh Ustadz Ahmad Fuadi dalam negeri 5 Menara-nya.

Dan kisah persahabatan ini juga menjadi bumbu yang indah yang diceritakan oleh salah seorang alumni Guardian kepada penulis. Kisah mereka unik, lucu dan penuh inspirasi yang sangat sayang jika tidak diabadikan dalam tulisan yang bisa jadi akan menjadi inspirasi bagi para walsantor dalam memotivasi putra-putrinya dan juga bagi santri.

Kali ini akan diceritakan satu episode tentang saat santri Gontor mewakili pondoknya untuk mengikuti Kompetisi Olimpiade Matematika dan Studi Islam di Jakarta tahun 2015, dari beberapa episode yang unik dan lucu tentang persahabatan yang insya Allah akan disajikan secara prosa. Semoga bermanfaat.

..oo0O)(O0oo..

Mendaftar Olimpiade Matematika Fachruddin Arrozi Competition

Ikhwan, ketua kelas, yang baru selesai dipanggil oleh KMI untuk menyampaikan sesuatu pengumuman, menenangkan teman-temannya yang baru selesai istirahat pertama.

“Hush, huss, uskut awalan! isma’ mudatan! Isma mudatan!” seru Ikhwan menyuruh teman-temannya untuk diam sebentar.

Yang lain langsung merespon dengan ikut mengingatkan teman lainnya untuk diam. “hush, hush ..” terdengar berulang dan bersahutan. Kemudian semuanya diam.

Eh i’lan min KMI, wahid faqot. nanti insya Allah bakal ada olimpiade matematika Fachruddin Arrozi Competition, kelas satu sampe kelas tiga. Yang mau daftar langsung ke KMI. Langsung ke Ustadz Syarif atau Ustadz Dwi Langgeng.” kata Ikhwan memberitakan ke teman-temannya.

Olimpiade Matematika dan Studi agama Islam Fachruddin Arrozzi sudah beberapa kali dilaksanakan,, dan saat itu adalah penyelenggaraan yang ke 5. Olimpiade ini unik karena menggabungkan matematika dan studi agama.

“Wah kapan tuh, kapan tuh? Maujud Mantingan ga?”
“Gratis apa bayar?”
“Wah matematika, coba bahasa Inggris.”

Santri-santri dikelas itu berebut berkomentar dan bertanya. Sebagian yang lain saling menyenggol temannya menyuruh ikut.

Beberapa santri langsung menunjuk salah satu anak yang sementara itu sering memiliki nilai tertinggi di kelas.

“Mi, ikut Ente!”
“Hayo lho perwakilan salis G! Likai Salis G ismuhu naik,” paksa temannya

“Eeh udah dibilangin matematika kagak bisa ana,” protes Azmi.

Azmi tidak terfikir saat itu akan ikut seleksi Olimpiade Matematika, karena ia yakin kemampuan matematikanya biasa saja.

Tapi, setelah lewat beberapa hari, beberapa santri kelas G lain ternyata sudah mendaftar. Azmi belum mendaftar, dan sahabatnya Ahsani datang manas-manasin.

“Ayo, Mi, ente daftar, ana ikut daftar,” kata Ahsani.

“Eh Fachri ikut ga” tanya Azmi menanyakan salah satu trio sahabat ini yang tidak hadir.

“Ya engga lah, dia kan kaslan,” kata Ahsani bercanda. “Ente ikut aja. Kita jalan-jalan ke Jakarta Pek.”

“Lho, bukan gitu San. Ana ga yakin aja bakal lolos,” Azmi menegaskan alasannya.

Tapi setelah beberapa kali digoda untuk ikut oleh sahabat dekatnya itu, ditambah teman satu konsulatnya di kelas, Ali Yasrib, ikut mendaftar, akhirnya Azmi mencoba mendaftar di hari keempat setelah pengumuman dan diikuti oleh Ahsani.

Bismillah” katanya saat mengisi formulir pendaftaran. Azmi merasa optimis, optimis tidak lolos.

Tes Seleksi Pertama

Semua calon peserta seleksi olimpiade matematika dikumpulkan di Qo’ah Afghanistan di Gedung Saudi untuk menghadapi ujian pertama. Ruangan itu penuh dengan peserta santri kelas 1,2 dan 3.

Beberapa yang serius untuk lolos sudah belajar sungguh-sungguh dalam sepekan setelah pengumuman hingga seleksi, beberapa tidak sempat belajar karena kesibukan, Dan Azmi termasuk yang hanya belajar seadanya.

Santri dipisahkan berdasarkan kelasnya dengan per empat bangku dan terus berbaris hingga belakang. Kelas satu di bagian paling kiri, keluas dua ditengah dan kelas 3 di sebelah kanan.

Para santri dan Azmi mulai mengerjakan soal. Walau ini bukan termasuk ujian resmi dari Gontor tapi tetap santri tidak memiliki kesempatan untuk mencontek ataupun bekerja sama. Pengawas dengan mata elang dan wibawanya membuat santri enggan berlaku curang.

Azmi dengan serius mulai mengerjakan soal-soal. Ia kerjakan dulu soal-soal pertanyaan agama. Tidak terlalu sulit, pikirnya. Apalagi soal-soal semuanya dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Kemudian ia kerjakan soal-soal matematika.

Keningnya mulai berlipat. Beberapa bisa dijawabnya, tapi beberapa ia tidak yakin. Bahkan ada beberapa soal saat dilakukan penghitungan di kertas buram ia mendapatkan satu jawaban, jawaban A. Tapi untuk meyakinkan ia ulangi menghitung tapi yang keluar justru jawaban B. Penasaran ia ulangi lagi menghitung, tapi malah keluar jawaban C! Azmi mati gaya! Koq bisa?! pikirnya

Santri Gontor yang mewakili pondok saat berfoto di depan Kantor redaksi Majalah Gontor di Jakarta

Akhirnya ia putuskan memilih salah satu. “Bismillah” katanya pelan-pelan.

Setelah 60 menit, pengawas memberitahu untuk menyudahi mengerjakan soal dan dikumpulkan. Dengan tidak yakin, Azmi menyerahkan kertas jawabannya.

Beberapa hari setelah ujian tes itu, santri-santri calon peserta olimpiade dikumpulkan lagi di Qo’ah Afghanistan untuk diumumkan siapa saja yang lolos tahap pertama ini.

Setelah berbaris sesuai kelasnya, kemudian dibacakan santri yang lolos. Nama-nama tersebut dibacakan langsung oleh Direktur KMI, Ustadz Masyhudi. Ia menyampaikan bahwa urutan yang dibacakan berdasarkan nilai tertinggi.

Kelas satu sudah diumumkan, yang disebutkan namanya berdiri dan ditanyakan asal serta kelasnya. Begitupun kelas 2, sudah selesai diumumkan. Giliran kelas 3.

Azmi walaupun tidak yakin akan lolos, sempat juga ia merasa berdebar menunggu nama-nama yang lolos dibacakan. Ada sedikit harap namanya disebutkan. Kapan lagi bisa ke Jakarta bareng teman-teman, pikirnya. Disebut terakhir juga gapapa, pikirnya lagi.

Tiba-tiba ia merasakan seolah-olah waktu berhenti sesaat dan bergerak secara slow motion. Ia perhatikan beberapa temannya yang serius belajar yang berharap lolos berwajah tegang. Beberapa menutup wajahnya, Beberapa dengan gestur berdoa.

Ustadz Masyhudi mulai berganti kertas untuk dibacakan. Azmi masih melihatnya seperti slow motion.

1 2Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan