Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Ustadz Fitra, Naik Pangkat Istimewa dan Komandan Kompi Pasukan Perdamaian PBB dari Indonesia

[wpcdt-countdown id=”3343″]

Hitungan Mundur Masa Liburan Santri Gontor

Beberapa hari yang lalu, beredar video dukungan dan ucapan selamat atas suksesnya pemilihan kepengurusan IKPM Jakarta tahun 2020 dari seorang alumni yang aktif di TNI, Ustadz Mayor Fitra R. Syasna, alumni Gontor tahun 2004, kerrrenn!!

Di depan pasukannya, ia memperkenalkan diri dengan menyebut almamater pertamanya, Gontor, masya Allah.

Wajahnya seperti sudah tidak asing lagi, dulu pernah di blog ini menampilkan cuplikan kunjungannya ke Gontor dari video yang diunggah Ustadz Musthafa dari channelnya di Youtube. Saat itu Ustadz Fitra masih berpangkat Kapten Infantri.

Kini Beliau menjadi salah satu komandan kompi dalam Kontingen Garuda sebagai bagian dari pasukan keamanan PBB yang mengemban misi perdamaian di negara berkonflik, Libanon.

Panasaran dengan sosok luar biasa ini, terfikir saya harus bisa menggali inspirasi dari Beliau. Dan semoga bisa menjadi hal-hal yang mungkin akan menjadi inspirasi dan motivasi juga bagi pembaca setia walsantornews.com.

Inspeksi pasukan Kontingen Garuda oleh Panglima TNI

Alhamdulillah, melalui Bu Asih, salah satu walsan promotor walsantornews.com, saya mendapatkan nomor Beliau. Dan tanpa menunggu lebih lama, langsung saya hubungi karena dua hari kedepan, hari senin (21/12), Ustadz Mayor Fitra sudah harus berangkat ke daerah misi.

Ustadz Fitra bersama seorang anak saat masih Letnan Satu saat penugasan pemukulan Gerakan Pengacau Keamanan di kampung halamannya sendiri, Gayo, Aceh

Alhamdulillah, gayung bersambut, Beliau merespon pesan WA bersedia dihubungi via telpon.

Maka terjadilah dialog laksana seorang wartawan dan nara sumber orang-orang hebat, hehehe. Berikut saya sarikan dalam sebuah artikel

Masuk Gontor Badan Kecil

Jika kita lihat postur Ustadz Fitra saat ini, kita melihat sosok yang gagah, tinggi besar sangat pas dengan karirnya sebagai pemimpin pasukan. Tapi, siapa sangka saat masuk Gontor, ia mengaku badannya kecil dan tidak terbayang akan tampak gagah seperti sekarang.

“Saya masuk fashl adi (kelas reguler, dari lulus SD) Pak. Kecil badan saya dulu,” kata Ustadz Fitra bercerita.

Lho, kok bisa tinggi besar sekarang Tadz? Pertanyaan saya hanya dijawab dengan tawa oleh Ustadz Fitra.

Langganan Rois saat di Pondok

Ustadz Fitra, santri asal Gayo, Aceh tapi masuk Gontor dengan mewakili konsulat Jakarta pada tahun 1998. Saat masih di Gontor, jiwa kepemimpinannya benar-benar terlatih karena beberapa kali diamanatkan menjadi rois (pemimpin)

Beliau pernah menjadi Rois Ankstak (Asisten Andalan Koordinator urusan Perpustakaan). Pernah juga Rois Porpig di olahraga basket, Rois Firqoh (klub), Rois Konsul Jakarta dan beberapa jabatan lain.

Pengalaman kepemimpinan ini sangat besar pengaruhnya terhadap “karir”nya di kemiliteran.

“Yang membuat saya bisa memimpin dengan baik amanat-amanat dari kesatuan karena didikan kepemimpinan di Gontor itu Pak. Saya saat Letnan Dua pernah menjadi Komandan Pleton (Danki), kemudian komandan kompi, pernah memimpin pasukan saat diterjunkan menghadapi sempalan GAM yang menjadi teroris dan lain-lain.” kata Ustadz Fitra

“Dan sekarang saya dipercaya memimpin satu kompi pasukan di Kontingen Garuda di Libanon.” tambahnya.

Bagaimana Lulusan Gontor masuk TNI?

Lulusan pesantren khususnya Gontor, jarang kita dengar masuk AKMIL di semua matra: laut, darat, udara. Sekalipun ada tapi tidak banyak. Menurut Ustadz Fitra itu bukan menunjukkan kualitas pesantren di bawah sekolah umum. Tapi memang untuk AKMIL mengutamakan calon siswa dari SMA yang jurusan eksak atau IPA (saat itu masih ada penjurusan IPA atau IPS).

“Yang membuat lulusan Gontor itu sedikit masuk AKMIL, rata-rata karena seleksi administrasi awal. Ada beberapa KODAM yang mewajibkan hanya lulusan A1 (IPA), jadi saat diperiksa berkas calon siswa berijazahkan pesantren yang muadalah (Ijazah disamakan) maka langsung disisihkan.”

“Tapi kalau Bintara dan Tamtama persyaratan A1 itu tidak ada Pak. Ini hanya AKMIL.”

“Padahal aturan itu (tentang ijazah muadalah) tidak mutlak. Tapi ada sebagian penyeleksi berfikiran ‘yang A1 juga masih banyak” jadi yang ijazah muadalah disingkirkan diawal.”

“Namun ada juga beberapa KODAM yang tidak mewajibkan itu. Nah disaat lulusan Gontor lolos seleksi awal, maka santri Gontor sangat bisa bersaing. Yang penting fisik dan ideologi nasionalisme terutama anti PKI. Dan Gontor unggul dibanding sekolah umum lain dalam bidang itu.” jelas Ustdaz Fitra.

Kemudian saya sampaikan bahwa walsantornews.com pernah memuat artikel kesimpulan sebuah majalah Militer bahwa Gontor adalah lembaga pendidikan yang paling baik dalam mengajarkan nasionalisme. Dan Ustadz Fitra sangat setuju tentang itu. Ditambah lagi setiap tahun Gontor senantiasa memperingati peristiwa Persemar, sebuah peristiwa yang menegaskan “permusuhan” Gontor dan PKI.

“Jadi Pak, di Indonesia saat ini hanya TNI yang masih melakukan screening tentang pelarangan calon akademi yang terlibat PKI dengan cara apapun.” tambahnya lagi.

Mantap Tadz! Gontor juga masih dan akan terus anti PKI

Jadi Bagaimana Caranya Alumni Gontor masuk TNI?

Untuk menjadi bagian dari TNI ada berbagai pintu, yaitu melalui Tamtama, Bintara dan Perwira (AKMIL). Untuk Bintara dan Tamtama tidak ada masalah dengan ijazah Muadalah. Namun untuk AKMIL kadang masih ada KODAM yang menomorduakan ijazah santri walau ada yang tidak.

“Seingat saya kalau ga salah terakhir di KODAM di Kalimantan ada anak Gontor yang lulus dengan ijazah muadalah murni.” Katanya. Selanjutnya ia tidak tahu. Kebanyakan calon siswa AKMIL dari Gontor, setelah lulus Gontor mereka mencoba mendapatkan ijazah SMA atau mengambil ujian Paket C untuk bisa lolos.

“Kalau pas ada alumni Gontor yang mendaftar di KODAM yang sama dengan saya, bisa saya bantu Pak. Bukan untuk lulusnya tapi minimal mengingatkan panitia untuk mempertimbangkan meloloskan ijazah Gontor, tapi kalau beda KODAM saya tidak bisa apa-apa.” Tambahnya.

Dan alumni Gontor yang masuk AKMIL dengan ijazah Gontor Murni yaitu Ustadz Agung di AD lulus AKMIL 2005 dan Ustadz Rachmad di AU lulus tahun 2006.

Setelah berganti kepemimpinan TNI kadang tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Lebih tepatnya bukan TNI secara institusi tapi panitia penerimaan AKMIL di masing-masing KODAM.

Ustadz Fitra menyarankan para alumni yang ingin lolos AKMIL benar-benar harus menyiapkan kemampuannya di bidang eksak. Sebagaimana Ustadz Fitra, ia mengikuti berbagai kursus untuk itu selama setahun.

Ada cara lain Alumni Gontor masuk TNI Tadz?

“Ada. Selain Tamtama dan Bintara, bisa dari jalur sarjana agama. Setiap tahun selalu ada pembukaan penerimaan dari jalur ini. Baru-baru ini saya dengar ada 3 alumni Gontor yang diterima. Lulusnya sama dengan AKMIL, Letnan Dua.”

Ustadz Fitra berharap semakin banyak alumni Gontor yang menjadi Perwira tinggi, berarti harus masuk AKMIL atau setidaknya menjadi perwira melalui jalur sarjana, agar bisa memberi andil memudahkan alumni Gontor masuk TNI.

“Doakan saya agar menjadi perwira tinggi yang bisa mengingatkan panitia penerimaan AKMIL. Kalau saya masih kapten, panitianya Kolonel, bisa apa saya,” katanya sambil tertawa.

Aamiin, aamiin, aamiin yaa Robbal ‘aalamin. Insya Allah qobul!

Alumni Gontor Pertama Memimpin Pasukan di Kontingen Garuda

Markas Besar (Mabes) TNI memberangkatkan 1.090 prajuritnya yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2020 untuk menjalankan tugas menjaga perdamaian PBB di Lebanon.

Ustadz Mayor Fitra dan kompi pasukannya

Pemberangkatan seribuan personel TNI ini dilepas Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Muhammad Herindra di Plaza Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (17/12/2020). Dalam sambutan yang dibacakan Kasum TNI, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa penugasan PBB yang diemban prajurit TNI merupakan tugas yang istimewa. “Karena, sebagai prajurit, juga menjadi duta bangsa, duta TNI, dan menjadi wajah TNI di forum internasional,” ujar Panglima TNI dalam keterangan tertulis, Kamis (17/12/2020).

Memimpin salah satu pasukan perdamaian PBB dan membawa nama negara dan kesatuan TNI bukan sesuatu yang mudah. Seleksi ketat dan kualitas prajurit menjadi pertimbangan utama. Semua prajurit unggulan dari semua matra masuk ke dalam seleksi, dan yang terbaiklah yang akan terpilih.

Dan sebagai keluarga besar Gontor, kita ikut berbangga karena dari semua yang terbaik itu, alumni Gontor menjadi salah satu komandan pasukannya.

Markas Besar (Mabes) TNI memberangkatkan 1.090 prajuritnya yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2020 untuk menjalankan tugas menjaga perdamaian PBB di Lebanon.(Puspen Mabes TNI)

“Alhamdulillah saya alumni Gontor Pertama yang terpilih dalam Kontingen Garuda Pasukan Keamanan PBB,” kata Ustadz Fitra yang sebelumnya berdinas di Batalyon Infantri di Mabes TNI AD.

Masya Allah Mabruk Tadz!

Satu-satunya Perwira yang Mahir Bahasa Arab

Selain seleksi yang ketat untuk menjadi bagian dari Kontingen Garuda ini, para calon juga ditest kemampuan Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Dari sekira 50 orang perwira dalam kontingen Garuda itu, mulai dari Letnan Dua hingga Kolonel, hanya Ustadz Fitra yang mempunyai kemampuan Bahasa Arab yang fasih dan juga tentunya Bahasa Inggris.

“Ini salah satu kelebihan TNI lulusan Gontor Pak. Dari 50 orang perwira, cuma saya yang bisa bahasa Arab, alhamdulillah.”

Kemampuan Ustadz Fitra berbahasa Arab menjadikankannya mendapat tugas tambahan, yaitu menjadi interpreter alias penerjemah. Jadi penugasan Ustadz Fitra di Pasukan Keamanan ini ada dalam dua bidang yaitu sebagai Satgas Staff Khusus dan juga sebagai kontingen Pasukan.

Kenaikan Pangkat Khusus, Pertama di Lettingnya

Memimpin sebuah kompi diperlukan perwira dengan pangkat Mayor. Dengan ditunjuknya Ustadz Fitra sebagai salah satu komandan kompi dalam kontingen Garuda, Beliau mendapat kehormatan untuk naik pangkat satu tingkat menjadi Mayor Infanteri.

Pelantikanan kenaikan pangkat itu baru saja dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2020.

Sejatinya, menurut aturan Ustadz Fitra baru akan diangkat menjadi Mayor pada bulan 4 tahun 2021, namun karena penugasan ini kenaikan pangkat dimajukan dan ia menjadi orang pertama di letting-nya yang menjadi mayor. Masya Allah, 86 Komandan!!

Mohon Doa dari Seluruh Keluarga Besar Gontor

Kontingen Garuda dalam pasukan perdamaian PBB ini memiliki masa tugas satu tahun dan bisa juga diperpanjang sesuai instruksi Mabes TNI sesuai kondisi konflik.

Simulasi penanganan korban dalam kontingen Garuda di daerah konflik Libanon

Berada satu tahun di daerah konflik tentu merupakan suatu tugas yang memiliki resiko tinggi. Untuk itu Ustadz Fitra memohon dukungan dan doa dari seluruh keluarga besar Gontor agar ia dan seluruh kontingen bisa selamat dan pulang ke Indonesia membawa kebanggaan.

“Saya juga memohon doanya dari seluruh wali santri dan alumni agar saya dan teman-teman dilindungi Allah dalam mengemban misi ini.”

Aamiin ya Robbal ‘aalamin, lahum al Fatihah

..oo0O)(O0oo..

Dari dulu hingga sekarang, menjadi bagian dari TNI adalah sebuah kebanggaan apalagi jika sudah mencapai tingkat Perwira menengah hingga perwira tinggi. Semoga semakin banyak alumni Gontor yang mewarnai TNI dengan kiprahnya bagi Bangsa Indonesia.

Untuk mencapai itu, semoga masa keemasan alumni pesantren khususnya Gontor dapat diperhitungkan dalam seleksi sekolah perwira (AKMIL) seperti zaman SBY kembali terulang, atau setidaknya alumni yang sudah mencapai perwira saat ini, seperti Ustadz Fitra, bisa sedikit mewarnai kebijakan kepanitiaan penerimaan calon perwira di AKMIL. Aamiin

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan