Berita Keluarga Besar

Buya Hamka dan Gontor

Gambar diatas adalah rumah keluarga Ibu Robi’ah seorang anak bangsawan Minang istri pertama dari KH. Zainuddin Fanani (1908-1967) -Salah satu pendiri PM Darussalam Gontor-, maklum beliau salah satu Tri Murti yg paling ganteng. Kisah Cintanya sangat berliku maklum adat minang zaman itu masih kuat kawin antar suku sangat tabu.

Rumah itu di Payakumbuh. Waktu saya datangi, di dalam rumah itu masih tergantung foto-foto pernikahan Pak Fanani. Yang tentu saja didampingi Pak Zar (KH. Imam Zarkasy : 1910-1985)… Bisa dibayangkan, menikah di tanah perantauan dengan hanya diantar adik saja sebagai wakil keluarga…

Di suatu pagi di kota Padang, seperti biasa di rumah pasangan muda itu telah tersaji secangkir kopi panas dan sebuah lipatan koran yg baru diantar….

images (66)
KH. Zainuddin Fanani (1908-1967) Salah Satu Pendiri PM Gontor

Namun saat membuka halaman pertama, lelaki muda itu sontak terkejut dan termangu. Seolah tak percaya berita yg menjadi tajuk utama koran pagi itu. Ya, koran itu memberitakan tenggelam nya Kapal Van Der Wijk. Kapal yang baru beberapa pekan lalu dinaiki adiknya pulang ke jawa, dan ia bersama kawan dekatnya ikut mengantar ke pelabuhan teluk bayur..

Ia mendesah dengan nafas dalam tak tahu apa yg harus dilakukan.. Ia hanya membayangkan sosok adik yang sangat dicintainya itu ikut tenggelam, yang berarti tenggelam pula sebagian cita cita keluarga untuk menjadi bagian dari perjuangan besar bangsa ini….

Termangu dan tak berkutik, hingga membuat kawannya yang biasa datang pagi itu ter heran heran. “Ada apa gerangan..?” Pikirnya dalam hati. Sebagai seorang junior, kawannya ini pun ragu menanyakan perihal apa yg sedang menimpa sahabat baiknya ini. Ia pun hanya bisa melihat lihat dan mencoba menerka apa yang terjadi..

Lelaki yg sedang termangu memegang koran itu adalah Zainuddin. Dan kawannya yang datang itu tak lain adalah Hamka (H. Abdul Karim Amrullah ; 1908-1981). Dua sobat seperjuangan ini memang sangat kental.

Saat Hamka melirik ke bawah, terlihat tulisan besar di headline koran itu; berita tentang tenggelam nya Kapal Van Der Wijk..

Kali ini Hamka ikut menghela nafas dalam. Ia faham kini mengapa Zainuddin sepertinya kaku membisu bagai sedang disamber petir… Hamka juga ikut mengantar Zarkasyi ke teluk bayur saat itu. Pastilah Hamka juga ikut merasakan apa yang dirasakan Zainuddin.

Namun dengan kepala dingin, Hamka memungut koran itu dan membacanya secara perlahan; kata demi kata..

Sesaat kemudian Hamka dengan wajah cerah berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“Kakanda.. Sepertinya adinda Zarkasyi selamat dari musibah ini..” Kata Hamka dengan senyum yang setengah dipaksakan.

images (68)

H. Abdul Karim Amrullah (1908-1981)

“Hah.., bagaimana kau tahu..?” Tanya Zainuddin yang rupanya baru tersadar ada kawan dekatnya yg datang.

“Lihat, Kapal ini tenggelam dalam perjalanannya dari Tanjung perak menuju teluk bayur. Sementara adinda Zarkasyi naik Kapal ini dengan tujuan Tanjung perak..”

“Coba berikan koran itu padaku…” Kata Zainuddin menyeringai..

Setelah membaca dengan seksama, ia pun berpikir kembali dan berkata ; “Seharusnya telegram atau kartu pos dari Zarkasyi sudah saya terima jika is sudah sampai Surabaya. Tapi sampai saat ini belum ada telegram maupun kartu pos yang datang…”

Hamka punya ide untuk menyelesaikan keraguan kawannya ini. Ia mengajak ke kantor telepon untuk menghubungi redaksi koran itu untuk dapat konfirmasi dari wartawannya yang di Jawa…

Kembali ke Padang..

Saat dua sahabat itu bersiap keluar ingin menuju kantor pos atau kantor telepon, tiba tiba ada tukang pos datang membawa telegram. Ditujukan untuk kakanda Zainuddin. Zainuddin langsung menyambar telegram yg sebenarnya hanya berisi beberapa kata saja. Namun penting maknanya bagi dia. Dia buka telegram itu dan dia baca ;

“Alhamdulillah adinda telah tiba. Selamat. Maaf. Baru bisa kirim dari madiun.”

Ttd.
Zarkasyi.

images (69)

KH. Imam Zarkasiy (1910-1985) salah satu pendiri PM Gontor

Kali ini Zaenuddin sangat lega. Ia menengadahkan wajahnya ke langit sambil menggemggam telegram itu di dadanya.

“Kita tidak jadi pergi..” Kata Zaenuddin kepada kawannya. Ia kembali masuk rumah dan diikuti kawannya. Koran yg sempat membuatnya kaget tadi, dipakai untuk alas sujud syukur…

Hamka termangu ikut terharu memandangi wajah kawannya yang penuh syukur itu..

images (67)

Cover Novel ; Tenggelamnya Kapal VANDER WIJCK

Terlintas kemudian di benak Hamka untuk menulis sebuah roman berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” dengan tokoh utama bernama Zaenuddin….

*** ***

Kopas dari isi wa broadcast Bang Galib Mas’ud, (salah seorang pendiri IKPM SulSelBar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan