Info Beasiswa dan PendidikanKisah Alumni

Santri Kuliah Di Rusia? Mengapa Tidak: Pengalaman Alumni Gontor

Apa yang terbayang pertama kali saat disebut nama negara Rusia? Komuniskah? Atheiskah? Biasanya memang demikian yang terfikir oleh walsantor yang usianya 40 tahunan ke atas. Jika sudah demikian, maka mungkin tidak terfikir untuk mengizinkan putranya untuk melanjutkan studi di sana.

Rusia, yang dulunya bernama Uni Soviet, memang dulu merupakan negara utama dalam blok timur yang identik dengan komunis. Dalam usaha penyebaran pengaruh ideologi, mereka bersaing dengan Amerika Serikat dan sekutunya dalam “menguasai dunia”.

Namun Rusia kini sudah berubah, seiring runtuhnya blok timur pada tahun 1990. Beberapa negara sekutu dan federasinya satu-persatu melepaskan diri dari blok itu dan berdaulat.

Namun Uni Soviet yang kini berubah menjadi Federasi Rusia, tetaplah sebuah negara besar yang memiliki pengaruh besar dalam percaturan dunia.

Selain ia memiliki luas wilayah terbesar di dunia (seperdelapan luas daratan dunia), perekonomiannya pun tumbuh seiring sistem kapitalisme ekonomi yang juga dianutnya.

Ekonomi Rusia menempati peringkat ke-12 terbesar  menurut  PDB nominal dan keenam terbesar  menurut keseimbangan kemampuan berbelanja tahun 2015. Sumber daya energi dan mineral Rusia terbesar di dunia. 

Rusia merupakan negara besar dan anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga anggota dari G20, Dewan Eropa, Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), anggota utama Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS). (wikipedia)

Mengingat ini pastilah Rusia bukan “negara biasa” sebagai tujuan studi.

Bagaimana Islam di Rusia

Sebagai keluarga besar pesantren, pasti hal ini menjadi perhatian utama santri dan walsantor: bagaimana perlakuan terhadap Islam dan muslim di Rusia?

Seiring runtuhnya dominasi komunisme, geliat keagamaan semakin marak di Rusia. Islam bahkan menjadi agama yang cukup pesat pertumbuhannya. Pada tahun 2012, penduduk muslim hanya berjumlah 6,5% dari penduduk Rusia. namun pada tahun 2017, jumlah itu bertambah menjadi 10%. Bahkan pada tahun 2018, Mufti Agung Rusia, Sheikh Rawil Gaynetdin , menempatkan populasi Muslim Rusia pada 25.000.000 lebih atau hampir 20%.

Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks.

Kota-kota dengan mayoritas penduduk muslim terdapat di beberapa kota di Bashkortostan  (58-60%) dan  Tatarstan (48%)  di Distrik Federal Volga. Dan muslim juga mendominasi di antara penduduk di North Caucasian Federal yang terletak di antara Laut Hitam  dan  Laut Kaspia seperti: Circassians (64%),  Balkars (55%),  Chechen (95%),  Ingushetia (95%),  Kabardin (55%), Karachay (64%)  dan juga Dagestan (82%). 

Juga, di tengah-tengah Wilayah Volga terdapat populasi Tatar dan Bashkirs , yang sebagian besar adalah Muslim. 

Sedangkan muslim adalah minoritas di daerah-daerah lain seperti Moskow Saint Petersburg, dll.

Ada lebih dari 5.000 organisasi agama Muslim terdaftar, setara dengan lebih dari seperenam dari jumlah organisasi agama Ortodoks Rusia terdaftar sekitar 29.268 per Desember 2006

Kehidupan Muslim di Rusia saat ini membaik jika dibandingkan dengan masa kekuasaan Komunis dahulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.

Di Rusia ada kota (provinsi/negara bagian) yang penduduknya 60% adalah muslim, yaitu Kota Kazan.

Dan kota ini yang akan menjadi perhatian kita karena di kota inilah, 2 (dua) orang alumni Gontor (yang penulis kenal) pernah menuntut ilmu, yaitu Ustadz Sin dan Ustadz Syauqi Arinal Haq.

Mengenal Kota Kazan

Kazan (/kəzæn, zɑːn/Rusia : Казань), adalah ibukota dan kota terbesar di Republik Tatarstan  di  Rusia. Kota ini terletak di pertemuan sungai Volga dan Kazanka, seluas 425,3 kilometer persegi atau sekira lebih besar dari Surabaya dan lebih kecil dari Jakarta. Dengan populasi lebih dari 1,2 juta penduduk, hingga sekitar 1,6 juta penduduk di aglomerasi perkotaan. 

Salah satu masjid yang indah di Kazan City

Kazan adalah kota terbesar kelima di Rusia, dan kota terpadat di Volga, serta Distrik Federal Volga.

60% penduduk Kazan adalah Muslim. Jadi kota ini cukup nyaman menjadi salah satu destinasi studi lanjutan bagi lulusan Pesantren. Masjid cukup banyak sehingga tidak menjadi hambatan untuk melaksanakan kewajiban sholat berjamaah di masjid.

Pemandangan saat malam hari di Kazan saat Winter

Kazan (800 km di tenggara Moskow), adalah salah satu kota tertua di Rusia (didirikan pada 1005), penuh dengan pemandangan yang memesona, jalan-jalan yang indah, dan taman yang nyaman.

Kazan City Center View, Tatarstan, Russia

Penduduk Kazan, yang mayoritas memeluk Islam, yakin bahwa kota mereka memimpin berdasarkan sejumlah parameter sosial-ekonomi, seperti akses terhadap taman kanak-kanak dan sekolah, prospek pekerjaan yang cerah, area rekreasi, serta keramahan penduduknya. Kazan juga memanfaatkan potensi pariwisatanya dengan baik.

Kazan saat musim dingin (Winter)

Di kota ini, pada bulan Januari 2020, terdapat sekira 85 Mahasiswa Indonesia. Ada 3 universitas utama yang menjadi tujuan studi mahasiswa Indonesia

  1. Kazanskiy Federalny Universitet (Universitas Federal Kazan/KFU)
  2. Kazanskiy Natsionalny Issledovatelskiy Tekhnicheskiy Universitet (Universitas Teknik Riset Nasional Kazan/KNITU-KAI)
  3. Kazanskiy Gosudarstvenny Meditsinskiy Universitet (Universitas Kedokteran Negeri Kazan/KGMU)

Ambil Studi Apa di Rusia?

Rusia tentu bukan destinasi yang utama untuk melanjutkan studi memperdalam kajian agama Islam, sudah dimahfumi oleh dunia bahwa belajar studi agama Islam yang terbaik yaitu tidak jauh dari Jazirah Arab, Afrika Utara dan Indonesia.

Walau pun demikian Kazan memiliki segudang sejarah kejayaan masa Islam dahulu.

Menurut Ustadz Syauqi Arinal Haq, alumni Gontor 2013 Marhalah Dynamic, kuliah di Kazan sangat cocok bagi yang suka multikulturalisme, bidang budaya dan juga kajian Islam khususnya sejarah kebudayaan Islam. Sehingga ia memilih jurusan Hubungan Internasional. Sedangkan Ustadz Sin pernah mengambil jurusan Filsafat Ekonomi (mohon luruskan jika salah Tadz Sin)

Penduduk di Kazan sangat multikultural, mulai dari Asia, Eropa, Eropa Timur, bahkan Asia Barat (Arab) banyak berkumpul disini.

Cerita Alumni di Rusia: Ustadz Syauqi

Ustadz yang bernama lengkap Syauqi Arinal Haq lulus dari Gontor tahun 2013 (Marhalah Dynamic) dengan Yudisium Mumtaz, kemudian menjalani pengabdian wajibnya satu tahun di Gontor 1.

Ustadz cerdas yang berasal dari Konsulat Priangan, Bandung ini mendapat beasiswa S1 ke Maroko tahun 2014, tepatnya di Universitas Sidi Mohammed ben Abdellah, Fes Maroko.

Negara Maroko yang multikultural membuat Ustadz Syauqi melakukan banyak silaturahim dengan banyak teman dari berbagai negara. Sehingga dengan suasana multikultural itu ia bisa menjadi seorang polyglot atau seseorang yang menguasai banyak bahasa secara lancar.

Terakhir penulis mengetahui Beliau menguasai 7 bahasa Asing secara lancar, dan mungkin kini lebih banyak lagi. Masya Allah.

Liburan Ke Azerbaijan

Saat liburan musim panas studinya di Maroko, Ustadz Syauqi sempat silaturahim dan juga berlibur ke Azerbaijan. Di sana ia tinggal selama satu bulan di kediaman salah satu alumni Gontor, yaitu Ustadz Husnan Bey Fanani, yang saat itu masih menjadi duta besar Indonesia di Azerbaijan.

Di sana, Ustadz Syauqi banyak berdiskusi dan mendapat ilmu berharga dari Ustadz Husnan tentang banyak hal terutama informasi geo-politis, budaya dan kehidupan di Uzbekistan, bekas negara pecahan Uni Soviet dulu dan Eropa Timur secara umum.

Mungkin berawal dari sini atau mungkin memang kecintaannya dengan Asia Tengah yang bersentuhan dengan Eropa Timur menjadikannya memilih Kazan sebagai destinasi lanjutan studinya.

Mendapat Panggilan Dua Beasiswa

Saat mengajukan beasiswa untuk melajutkan studinya, Ustadz Syauqi mendapat 2 tawaran beasiswa dari 2 negara yaitu Perancis dan Rusia. Dengan pertimbangan yang matang dan juga saran dari Ayahnya, Profesor Sholihin (wakil Rektor UIN Bandung) dan juga saran dari alumni Gontor yang pernah kuliah di Rusia, Ustadz Sin, akhirnya Ustadz Syauqi memilih mengambil pendidikan ke Rusia dengan beasiswa dari Kementrian Pendidikan Rusia

Ustadz Syauqi kemudian diterima di Universitas Federal Kazan dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional, sebuah jurusan yang sesuai dengan passionnya yang menyukai multikultural.

Universitas Negeri Federal Kazan

Saat tes bahasa Rusia sebagai salah satu syarat memulai studi, Ustadz Syauqi mendapat nilai sempurna yaitu 10 dari skala 10. Masya Allah.

Fokus Kuliah

Berbeda saat Ustadz Syauqi masih S1 di Maroko yang memiliki banyak kegiatan di luar kampus, seperti mengajar bahasa Indonesia bagi orang asing di sana yang difasilitasi oleh Unicef PBB, saat di Kazan Ustadz Syauqi hampir mengisi seluruh waktunya untuk studi mata kuliahnya.

Ustadz Syauqi di depan kampusnya di Kazan

Jadwal kuliah yang padat, mata kuliah yang full dalam bahasa Rusia membuatnya hampir tidak dapat berkegiatan di luar studinya.

“Di sini setelah satu tahun, kita sudah dianggap mahir bahasa Rusia, jadi semua kuliah full dengan bahasa Rusia. jadi jika kurang dimengerti maka harus diulang lagi di rumah atau bisa ketinggalan pelajaran.” demikian kata Ustadz Syauqi.

Ustadz Syauqi saat presentasi di kelas dalam bahasa Rusia

Namun jika ada sedikit waktu luang, Ustadz Syauqi silaturahim dengan sesama rekan senegara atau megunjungi PCINU (Pengurus Cabang Internasional NU) di Rusia atau mengunjungi IKPM di negara lain seperti Turki.

Kuliah dan Kehidupan di Kazan

Ketika ditanya suka dukanya selama kuliah di Kazan, Ustadz Syauqi mengakui lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Tapi bagian dukanya, walaupun secara kuantitas lebih sedikit namun porsinya tidak kecil, yaitu kangen orangtua dan saudara di Indonesia. Namun mental santri Gontorinya sudah membentuknya untuk kuat mandiri. Apalagi, Profesor Solihin, ayahnya berpendapat bahwa lulusan Gontor itu punya kualitas internasional maka kuliahnya harus go international.

Bersama salah satu dosen

Namun kesedihan itu tidak membuat Ustadz Syauqi kehilangan gairah bahkan justru menjadi pemicu semangatnya untuk menyelesaikan studi dengan baik.

Dan kesedihan itu juga sedikit tertutup dengan padatnya aktifitas belajarnya yang menuntut konsentrasi penuh. Dan juga kota Kazan yang indah.

Secara umum kuliah di Kazan, yang memiliki penduduk mayoritas Islam tidak membuat Ustadz Syauqi terlalu sulit beradaptasi. Masjid cukup banyak dan makanan halal pun tersedia di banyak tempat.

Untuk kondisi cuaca, Kazan yang terletak lebih ke utara dari benua Eropa, memiliki suhu yang cukup atau bahkan mungkin sangat dingin bagi sebagian besar orang tropis. Tapi kondisi ini tidak menjadi hambatan sebab Ustadz Syauqi sudah cukup lama mengalami empat musim ketika kuliah di Maroko.

Biaya hidup di Kazan tidak terlalu tinggi sebagaimana negara Eropa lain. Biaya hidup 1,5 juta rupiah per bulan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian biaya hidup itu didapat dari beasiswa dan kekurangannya (karena biaya hidup sehari-hari dari beasiswanya tidak terlalu besar) ditambah dari kiriman orangtuanya dari Indonesia.

Mau Jadi Diplomat atau Akademisi?

Alumni Gontor cukup banyak yang menjadi diplomat, dan langkah Ustadz Syauqi mengambil S2 jurusan Hubungan Internasional di negara asing membuat penulis bertanya apakah beliau ingin menjadi seorang diplomat atau mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang akademisi, seorang dosen.

“Akademisi yang diplomat, atau diplomat yang akademis…… pengennya dua itu sekaligus. Teori dipelajari di akademis, dan dipraktekkan sebagai diplomat.” jawabnya diplomatis.

Masya Allah. Setuju!

Dan untuk menjadi akademisi Ustadz Syauqi mengakui bahwa tentu tidak cukup hanya sampai jenjang S2 pendidikannya. Oleh karena itu ia pun memiliki rencana untuk bisa lanjut ke S3 atau doktoral.

Pengen nya sih lanjut S3 langsung, karena suasana dan bidang studinya cocok untuk saya, tapi mungkin selesai S2 )ingin) coba-coba cari kerja dulu,” ujarnya.

Dan untuk melanjutkan studinya, ternyata Ustadz Syauqi masih memilih kampus di Universitas Federal Kazan, bukan ke negara lain.

Ya pak, kebetulan saya sudah akrab sama dosen2nya, hehehe,” katanya memberi alasan. Namun sebenarnya, alasan utamanya karena Kazan sangat cocok untuk studi yang ia geluti karena kemultikulturalnya, posisi yang strategis dan juga kemudahan untuk beribadah secara islami.

Kesimpulan dan Pendapat Ustadz Syauqi

Ustadz Syauqi juga memberikan pandangannya tentang kelebihan kuliah di luar negeri dengan beberapa poin sebagai berikut:

  1. Menambah kemampuan bahasa: karena langsung praktik tiap hari
  2. Memperluas wawasan: jadi lebih bijak, karena melihat perbedaan agama, budaya, pemahaman, dll
  3. Jadi lebih mandiri: karena jauh dari keluarga, dan harus mengahadapi semua urusan sendiri
  4. Relasi internasional: karena punya teman2 dan guru2 dari berbagai negara, siapa tau di masa depan mereka jadi orang2 penting di negaranya
  5. Makin cinta dengan Indonesia: biasanya kalau diluar negeri itu makin cinta negaranya, karena tau plus minus negaranya, bisa bandingin dengan negara lain.

Jadi, dengan beberapa advantage point kuliah di Rusia, khususnya Kazan, seperti: mayoritas muslim, masjid banyak, makanan halal banyak, kota yang indah dan ramah, beasiswa dengan biaya hidup yang cukup murah (Dibanding negara beberapa kota lain di Eropa), kampus yang megah, dll jadi bukan alasan untuk tidak menjadikan Kazan sebagai alternatif melanjutkan studi

Lalu bagaimana dengan paham komunisme di sana?

Ustadz Syauqi menyampaikan bahwa anak-anak muda di sana sudah sama sekali meninggalkan bahkan melupakan paham komunis. Para orangtua yang masih memiliki ingatan saat zaman komunis tapi tidak ingin kembali terulang.

Aman, insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan