Hanya di Gontor

Balada Piring Santri Gontor

Properti santri Gontor, seperti papan nama, sarung, peci dan lain-lain , termasuk piring, memiliki kisah-kisah tersendiri dan unik. Dan terkadang bahkan sering kisah-kisah tersebut menghadirkan kembali rindu akan pondok, rindu masa-masa kebersamaan saat nyantri di pondok, masa lugu, lucu, bandel dan iseng.

Piring di Gontor disebut dalam bahasa Arab dengan istilah صَحْنٌ, Sohen atau sohn. Berikut beberapa kisah tentang piring yang walsantornews.com gali dari beberapa alumni.

Piring Sebagai Gayung Darurat

Defaultnya, piring pastilah buat makan. Namun di Gontor piring bisa multi tasking alias serbaguna, bisa buat makan, minum, bahkan gayung darurat 😂..

“Dulu wkt ana kelas satu, ada temen ana izin ke kamar mandi, terus bawa piring.. Ditanya sm ustadz “Mau ngapain ke kamar mandi?”, “Mau qadha’ul haajah (BAB) Tadz”, “Lah itu piring? Abis dikeluarin mau di makan lagi tah?” “Buat cebok Tadz, takutnya di kamar mandi gak ada gayung 😅”. Sekelas ketawa 🤣.

Disiplin Piring

Sebagai alat makan, piring itu juga ada disiplinnya. Syarat umumnya piring tersebut harus ada nama. Nama juga harus lengkap: nama, kelas, rayon, dan daerah. Ditulisnya juga harus dengan cat minyak dan harus jelas. Tidak boleh pake spidol apalagi pulpen.

“Waktu ana kelas 6 di Dapur, kita pernah dikumpulin sama Musyrif ana sama walikelas waktu kelas 4. Ust. Miftahuddin yg dijulukin Mr. Professor karena orangnya ilmiah banget. Nah, dulu kan ada aturan, nulis nama dipiring harus diatas, nah beliau jelasin, kalo di cat minyak itu ada zat A B C balablabla yang berbahaya kalo nyampur sm makanan, kita bengong aja, ga ngerti”

“Nah Beliau yang nyaranin supaya nama dipindahin dibawah piring.”

Dulu pernah ada yang mewajibkan untuk menempelkan foto di bawah piring.

Belakangan ini juga ada aturan Piring harus yang kokoh bukan yg bisa dibengkokin apalagi kaca atau alumunium. Piring harus berbahan dasar melamine saja.

Piring melamine pun belum cukup, tapi harus polos tanpa gambar atau motif. Piring bentuk lingkaran dipilih untuk menyeragamkan piring Santri. Dipilihnya bahan melamine karena ringan, mudah dibawa, tidak mudah pecah, aman dan tidak berisik kalau jatuh.

Dan piring juga tidak boleh dari bahan yang sangat “lentur” seperti kertas kertas apalagi kresek 😂. Intinya, yang standar itu seperti piring yang tersedia di kopel.

Piring harus bulet pipih (seperti piring biasanya) bukan seperti kotak bekal makanan SD 🤭.

Sedang untuk santri kelas 6 memiliki piring angkatan dengan warna tertentu. Warna dalam suatu marhalah itu dianggap sakral sehingga angkatan lain atau santri lain tidak boleh memiliki piring yang sama dengan yang dimiliki santri kelas 6. Dan jika sama bisa jadi akan mendapat masalah.

Sering bawa-bawa piring: Santri Baru

Piring adalah salah satu benda paling populer dan ada dimana-mana. Bagi kalangan anak baru yang peraturannya keluar dari rayon setengah jam lebih cepat, mereka biasa membawa piring kemana-mana, masuk kelas pagi, pelajaran sore, muwajjah malam, pramuka bahkan muhadhoroh kadang ada yang bawa piring.

Kalau kita melihat Santri membawa piring ke tempat yang tidak sesuai, betarti mereka Santri baru yang tidak sempat mengembalikan piringnya ke kamar.

Jika dibandingkan dengan sekolah di tempat lain, mungkin hal ini termasuk unik dan langka. Jika biasanya di ruang kelas hanya ada peralatan tulis, tapi dikelas 1 dan 1 Int. kita bisa melihat piring sebagai alat dapur satu-satunya yang masuk kelas dan menemani pemiliknya belajar.

Ketika latihan pramuka sebagai kegiatan ekskul, piring biasa diletakkan di sela-sela tanaman, etalase, dan di tempat tersembunyi lainnya. Kadang pemiliknya lupa dan jangan heran kita akan menemukan piring bertebaran di sudut-sudut pondok

Perizinan Peminjaman Piring

Sepertinya halnya buku di perpustakaan, piring juga bisa dipinjam dengan memakai prosedur tertentu.

Setiap peminjaman dicatat dalam buku khusus. Di Kantor Dapur ada “Buku Perizinan Peminjaman Piring” dengan syarat dalam waktu 3 hari harus melaporkan piring baru alias si santri sudah memiliki piring sendiri.

Jika meminjam tanpa tanpa izin, maka harus siap-siap mendapat masalah. Apalagi jika memakai piring kepunyaan santri lain, alias nemu piring langsung pake ..

Biasanya sebelum keluar dapur, ada pemeriksaan piring. Kalo tidak, kadang2 langsung diperiksa di loket pembagian nasi

Tanda Khusus Untuk yang Puasa Daud

Santri yang melaksanakan puasa Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak, memiliki piring yang ditandai khusus

“Waktu zaman ana, anggota puasa Daud dikasih stiker dibawah piringnya: MEMBER OF DAUD FASTING. Tapi ada juga pake stiker + kartu anggota, ada yang di lockernya dikasih foto.”

Penandaan dimaksudkan agar yang bersangkutan puasa Daudnya bisa terkontrol. Dan mereka pun mendapat menu yang berbeda, lauk spesial. Dan saat saat sahur mereka juga mendapat menu khusus, jika berbarengan dengan santri-santri yang puasa sunnah Senin Kamis.

Jika tidak ada Piring …

Santri-santri sighor biasanya terpaksa tidak makan jika ternyata piringnya hilang sampai ia membeli piring baru. Untuk meminjam piring ke dapur mereka segan atau belum tahu sedang untuk meminjam ke teman diliputi kekhawatiran.

Sedangkan santri-santri yang kibar atau minimal sudah punya keberanian, mereka tidak kehilangan akal. Mereka tidak segan meminjam piring anggota sekonsul.

Eh Sul, Asta’ir sohen dong, ba’din ana urji’, nte ayyu maskanin?” (Eh, Sul pinjem piring dong, nnti Ana balikin, nte rayon apa?)

Atau ke teman satu klub.

“Eh, ba’din ana urji’ waktu tamrin firqoh masa’an ya” (Eh, nanti ana balikin waktu latihan klub sore-sore ya).

Ada juga yang mencari di tempat-tempat yg kira-kira santri-santri yang biasa menyembunyikan piring seperti di rak-rak sepatu, di ventilasi dll untuk “dipinjam”.

Piring “Khusus”

Tertib Piring sudah memiliki disiplin tersendiri, yang jika aturan itu dilanggar santri bisa kena hukuman. Namun ada beberapa santri di bagian-bagian tertentu memiliki “piring khusus”.

Santri-santri Bapenta biasanya sering memakai piring-piring inventaris yang terbuat dari beling.

Santri-santri dapur, jika tidak ada piring, biasanya mereka makan di perkakas dapur seperti di loyang tempat masak nasi, atau di panci sayur, atau bahkan tutup panci.

Nah, bagi santri-santri “kreatif”, yang jika memang benar-benar lapar, terus tidak sabar menunggu piring bekas orang untuk dipinjam, mereka pakai wadah apa saja yang ditemui. Yang penting makan. Ada yg minta plastik atau kertas nasi ke bagian kantin, ada yang cari-cari plastik bekas bungkus makanan 🤭, bahkan ada yang nyari kresek bekas orang, ada juga yang pake tutup ember, atau pake apa aja yg penting makan 😂😂😂. Dan ini biasanya hanya santri-santri kelas 6 yang “berani” melakukannya.

“Tapi kalo orang yang “normal” mereka pasti nunggu temennya yang masih pake piring angkatan. “Eh, Sohennya ba’daka ya..” (eh, piringnya abis nte ya..”)

😂😂

,,oo0O0oo..

Dibalik ketatnya aturan dan disiplin hampir di semua hal dalam kehidupan santri di pondok, sebenarnya tersimpan kisah-kisah yang jika mereka mengenangnya akan menimbulkan kerinduan akan masa-masa itu, yang akan menguatkan ikatan persaudaraan antar mereka. Semoga keberkahan senantiasa Allah limpahkan atas mereka. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan