Tips dan Trik

Lulus KMI dan Hafizh Quran? Bisa!

Salah satu yang menjadi pertimbangan walisantri yang terkadang membatalkan pilihan pesantren untuk anaknya ke Gontor adalah dalih karena ia ingin anaknya menjadi seorang hafizh Al Quran, padahal ..

Tulisan ini bukan sebagai pembanding pesantren. Namun pertanyaan ini kadang muncul saat calon walisantri ingin memilihkan pendidikan lanjutan putra/i-nya. Di Satu sisi ingin anaknya menjadi hafizh Al Quran di sisi lain ingin putra/putrinya memiliki pengalaman pendidikan khas Gontor (KMI).

Memiliki putra/putri yang sudah hafizh Al Quran adalah suatu kebahagiaan yang sangat besar, kebahagiaan yang luar biasa yang akan sulit dibandingkan dengan materi apapun. Berbekal harapan ini, banyak orangtua yang sudah mewajibkan hafalan Al Quran sejak dini kepada putra-putrinya.. Kemudian, sekiranya sudah siap mereka dimasukkan ke pesantren tahfizh untuk memantapkan hafalannya.

Hal ini didukung juga dengan banyaknya bermunculan pesantren-pesantren tahfizh di seantero penjuru sehingga memudahkan para orangtua membuat pilihan, berdasarkan biaya, lokasi pesantren atau metode hafalan yang digunakan.

Di sisi lain, pendidikan khas Gontor, dengan kurikulum KMI, miliunya yang khas, pembentukan karakter unggulnya (disiplin, kejujuran, kemandirian, kepemimpinan, keberanian etos kerja dll), pertemanan yang luas (nasional dan internasional), kader intelektual dan berbagai kekhasan Gontor juga menarik hati untuk para walisantri untuk dijadikan modal pendidikan putra-putrinya.

Dan PM Gontor bukan pesantren tahfiz. Dari dua harapan itu bagaimana menyiasatinya?

Bisakah Hafizh Quran di Gontor?

Kalau untuk sekedar jawaban bisa atau tidak, tentu pasti bisa, tapi dijamin akan butuh perjuangan yang tidak mudah. Metode pendidikan tahfizh dan KMI sangat berbeda. Ini pernah disampaikan oleh Kiai Hasan (Semoga Allah menjaganya) saat ia bertemu seorang alumni yang ingin mendirikan pondok pesantren, dialog dari Beliau dan alumni ini disampaikan suatu ketika didepan santrinya:

“Ada Alumni yg ngomong sama saya, ‘Ustadz, doakan kami, in syaa Allah kami mau membangun pondok’ , ‘Alhamdulillah, kurikulumnya apa lik?’,
‘In syaa Allah KMI plus Tahfizh Ustadz’, langsung itu saya larang! Saya bilang kalo KMI ya KMI saja! Kalo tahfizh ya tahfizh aja! Gak bisa fokus belajarnya, gak bisa fokus juga tahfizhnya! Makanya saya mendirikan Muqaddasah gak pake KMI”

Sebenarnya, bukan tidak mungkin selama mondok santri menghafal Al Quran full 30 Juz dari awal, tapi dari sekian banyak cerita alumni, yang terjadi adalah memang sulit untuk fokusnya.

Gontor itu salah satu prinsipnya adalah bergerak. Gerak seperti sudah menjadi nafas santri. Sedangkan tahfizh dibutuhkan ketenangan, fokus.

Tapi bukan berarti santri Gontor tidak memiliki program hafalan Al Quran. Hingga tamat KMI minimal santri sudah harus hafal juz 30, kemudian surat-surat pilihan di juz 28/29, dan puluhan bahkan ratusan ayat pilihan.

Adakah Alumni Gontor Hafizh Quran? Banyak

Kondisi di atas membuat banyak calon walisantri yang ingin putra atau putrinya menjadi seorang hafizh/ah tidak menjadikan Gontor sebagai alternatif utama. Padahal jika diperhatikan, banyak sekali alumni Gontor juga menjadi seorang hafizh Al Quran full 30 Juz.

Bagaimana bisa demikian?

Bagi beberapa walisantri yang memandang penting bagi putra-putrinya untuk menghafal Al Quran maka ada 4 cara yang diambil, yaitu:

  1. Hafal Al Quran terlebih dahulu lalu masuk Gontor
  2. Masuk Gontor terus mendorong anak agar aktif di JMH Gontor, Jami’iyyatul Hufazh, sebuah ekskul yang menfasilitasi santri untuk menghafal Al Quran atau wadah para hafizh Quran Gontor.
  3. Mendorong anak menghafal secara mandiri.
  4. Lulus Gontor lalu masuk pemantapan hafalan di pesantren Tahfizh

Cara yang pertama biasanya ditempuh para walisantri dengan memasukkan putra/putrinya di pesantren tahfizh Al Quran seperti Al Muqodasah, yang merupakan pesantren tahfizh asuhan Kiai Hasan juga, atau pesantren lain. Kemudian masuk Gontor dengan jalur reguler atau intensif.

Kelebihan dari cara ini yaitu santri sudah memiliki bekal hafalan sehingga memudahkannya menguasai materi-materi pelajaran yang berhubungan dengan pendalilan dari Al Quran. Untuk proses muroja’ah atau pengulangan hafalan santri dapat ikut dalam JMH (Jami’iyyatul Hufazh), semacam Ekskul kumpulan para penghafal Al Quran. Di kelompok ini diberikan beberapa kekhususan untuk santri bisa melakukan muroja’ah.

Cara kedua menjadi alternatif berikutnya bagi orangtua dalam mendorong anaknya menjadi penghafal Al Quran. Dalam JMH diberikan beberapa fasilitas yang berbeda dengan santri lain seperti tempat menghafal, waktu menghafal dan musrif untuk tempat menyetorkan hafalan.

Mereka dibagi kelompok berdasarkan jumlah hafalan dan setiap kelompok dengan musrif tersendiri yang merupakan santri kelas 5 atau 6.

Semua santri yang sudah hafal al Quran 30 Juz hampir semuanya kumpul di sini. Sedangkan yang belum tuntas 30 Juz berusaha menambah hafalan dengan menyinkronkan segala aktifitasnya, karena hampir semua anggota JMH juga aktif di ekskul lain seperti Basket, Sepakbola dan lain, lain. Hanya sedikit sekali yang hanya mengikuti JMH saja. Hal ini menjadikannya cukup sulit untuk menuntaskan hafalan 30 Juz, walau sekali lagi bukan tidak mungkin.

Cara ketiga walau cukup jarang ditemui namun ada yang dilakoni santri. Namun cara ini jarang sekali bisa konsisten karena dilakukan sendiri tanpa berjamaah.

Cara keempat merupakan cara yang paling banyak dipilih oleh para santri dan walisantri. Dan karena cara keempat ini merupakan cara yang juga dialami oleh penulis, yang memiliki putra yang sudah alumni dan melakoninya maka di sini akan disampaikan beberapa kelebihannya. Apa saja kelebihannya?

Kelebihan KMI dulu Baru Tahfizh

Sangat banyak alumni Gontor yang mempunyai keinginan menjadi bagian dari salah satu penjaga Al Quran, selepas pengabdian kemudian kembali masuk pondok tahfizh. Atau ada juga saat pengabdian memilih pondok alumni yang merupakan pondok tahfizh disana ia bisa belajar dan mengajar.

Ada beberapa kelebihan dari memilih cara ini yang dihimpun dari beberapa info dari alumni dan walisantri, berikut diantaranya

1. Waktu Menghafal yang Sebentar

Di Gontor bukan sama sekali tidak ada hafalan. Selain hafalan wajib juz 30, di beberapa pelajaran juga diajarkan ayat-ayat pilihan yang berkaitan dengan banyak pelajaran, yang sebenarnya jika dikonversikan kedalam halaman atau lembaran maka merupakan jumlah yang tidak sedikit.

Hal ini memudahkan santri dan menjadikan santri/alumni hanya memerlukan waktu yang tidak terlalu lama dalam menghafal al Quran. Waktu 3 hingga 4 bulan menjadi durasi yang biasa bagi alumni menyelesaikan hafalan, bahkan tidak sedikit yang bisa selesai hafalan dalam waktu 30 atau 40 hari saja.

2. Adab sebelum Ilmu

Pendidikan karakter di Gontor adalah sebuah upaya menanamkan adab kepada para santri. Selain disiplin dan tanggungjawab yang menjadi unggulan pendidikan karakter di Gontor. Adab yang dimaksud diantaranya adab terhadap ilmu dan adab terhadap guru.

Maka, jika Al Quran adalah ilmu, maka sesuai dengan nasehat Imam Malik untuk belajar adab dulu sebelum ilmu, maka Gontor menjadi tempat yang baik untuk belajar adab khususnya terhadap ilmu dan guru.

Atau bisa juga dikatakan bahwa di Gontor dipelajari terlebih dahulu nilai-nilai Quran yang diterapkan dalam keseharian, sebelum belajar Al Quran sebagai hafalan.

3. Bekal Kemampuan Bahasa Arab

Menghafal Al Quran dengan mengetahui maknanya akan lebih membekas dan berefek terhadap penjiwaan isi Al Quran dibanding hanya sekedar menghafal. Dan ini menjadi kelebihan dari lulus Gontor baru menjadi penghafal Al Quran

Kebiasaan komunikasi dan juga materi-materi pelajaran dalam bahasa Arab, membantu santri dalam memahami banyak kosa kata Al Quran. Dan ini juga dapat membantu pemahaman ayat-ayat dengan lebih baik.

4. Bekal sebagai Pengajar

Setiap alumni Gontor adalah pendidik dan mereka dibekali khusus untuk itu. Ada dua hal yang bisa diambil keuntungan dari sini saat menjadi penghafal Al Quran saat telah lulus Gontor. Pertama, salah satu metode belajar yang baik adalah mengajarkan. Jika belajar menghafal adalah proses memasukkkan kedalam memory maka mengajarkan adalah proses pembiasaan dan menjadikannya ke dalam alam bawah sadar.

Kedua, khoirukum, man ta’alamal Quran wa ‘alamahu. Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya. Mental seorang guru, berikut metode pengajaran sudah menjadi bekal alumni Gontor untuk mengamalkan hadits ini.

Ketiga, tidak sedikit pesantren alumni yang merupakan pesantren tahfizh merekrut alumni-aumni baru yang diperbantukan untuk mengajar. Jadi selain mengajar, maka alumni itu juga bisa belajar menambah hafalan.

5. Munculnya keinginan sendiri untuk menjadi Hafizh Al Quran

Belajar Al Quran karena keinginan sendiri dan kesadaran akan keutamaannya jauh lebih baik daripada belajar Al Quran karena keterpaksaan walau tetap bisa dinilai sebagi suatu kebaikan. Dan itu terjadi pada banyak alumni.

Walau demikian, tetap dorongan orangtua juga diperlukan karena terkadang karena terlepas dari rutinitas maka godaan akan semakin besar.

Dan mungkin masih banyak kelebihan lain.

Seluruh kelebihan itu bisa disingkat bahwa Gontor telah menitipkan KUNCI sebagaimana sering disampaikan oleh Kiai-kiai Pengasuh dalam beberapa kali wejangannya. Dengan adanya KUNCI dan kesadaran akan adanya KUNCI maka menjadi bekal berharga santri dalam menekuni aktifitas setelah lulus, apakah ia ingin menjadi hafizh Al Quran atau profesi lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan