Cerbung dan Kisah Hikmah

Kisah Inspiratif: Perjuangan Seorang Ibu yang Berprofesi sebagai Pengemudi Ojek Online dalam Menyekolahkan Putrinya di Gontor (Bag. 2)

Kisah sebelumnya: Ceu Ella yang diingatkan oleh ibunya agar Citra menjaga auratnya, memutuskan menghentikan aktifitas menari Citra yang sudah mengantarnya tampil di telivisi, dan memutuskan akan memasukkannya ke pesantren agar memiliki pendidikan agama yang baik. Namun niatnya mendapat tentangan dari suami dan pihak keluarga suami.

Episode 2

Perdebatan kedua suami istri itu berlanjut dengan tema berbeda: uang pendaftaran.

Pendaftaran Gontor Putri diadakan beberapa pekan sebelum bulan Ramadhan. Dan menjelang Ramadhan biasanya Ceu Ella membuat kue kering dan ditawarkan kepada tetangga atau kenalannya. Ia berharap pesanan tahun ini akan lebih banyak dari tahun sebelumnya, tapi hingga waktu pendaftaran sudah mendekat, pesanan yang masuk bahkan belum seperti yang diharapkan.

Tapi Ceu Ella yakin, jika niatnya memondokkan putrinya diridhoi Allah maka Allah pasti akan beri jalan. Walau saat ini uang yang dikumpulkannya dan juga pendapatan dari suaminya belum memungkinkan untuk pendaftaran.

Lha diditu nu boga kahayang asup pasantren, bari teu apal duit ti mana!” kata suaminya. (Lah disitu yang mau masukin pesantren, tapi ga tau uang  dari mana!)

“Pan seorang ayah nu kudu ngabiayaan,” balas Ceu Ella (kan suami atau ayah yang harus membiayai)

“Duit ti mana?” (uang dari mana?)

“Nambut ka kantor,” (pinjam ka kantor)

Temen kantor aja nu tos berbulan-bulan pinjem ke kantor belum dapat-dapat. Ngga mungkin kita dikasih pinjem ..” kata Kang Ajo

Bismillah aja Yah ini kita pinjem bukan buat foya-foya. Buat mondokin anak-anak. Insyaa Allah kalau dikasih pinjem berarti Allah meridhoi niat kita. Kalau ngga dikasih mungkin ini belum diridhoi,” kata Ceu Ella

“Cubian atuh ayah. Ayah da kasep …” (cobain lah Ayah. Ayah ganteng deh ..) tambahnya.

Kang Ajo (Suami Ceu Ella) tahu ia tidak akan bisa berdebat dengan istrinya, akhirnya ia mengalah. Besoknya ia langsung mengajukan pinjaman ke kantor. Dan Qodarullah, ternyata pinjaman itu dalam waktu beberapa hari disetujui. Kang Ajo sendiri kaget.

“Tuh kan, saur abdi ge naon. Insya Allah Neng Citra ka pasantren mah diridhoi ku Allah.” kata Ceu Ella bahagia. (Tuh kan kata Ibu juga apa. Insya Allah, Neng Citra ke pesantren diridhoi oleh Allah). Pinjaman dari kantornya tidak dikenakan bunga, sehingga Ceu Ella yakin bahwa jalan yang ia pilih diridhoi Allah.

Malam hari, saat mereka akan tidur, entah tiba-tiba terfikir berat untuk menghabiskan uang sebanyak itu buat pendaftaran sekolah bagi Kang Ajo atau sebab membayangkan putrinya akan pergi jauh, ia menanyakan sekali lagi ke istrinya.

“Ibu bener sudah bulat masukin anak ke pesantren?” tanya Kang Ajo,

Iya! Sudah ga bisa digepeng-gepeng deui!” kata Ceu Ella

Kasihan anak-anak …” keluh Kang Ajo.

“Harusnya kasihan kalau anak-anak ga dapat pendidikan agama,” sahut Ceu Ella.

Dalam hati Ceu Ella sebenarnya terfikir, kalau masalah sedih karena jauh, dia juga sedih, malah sangat sedih. Bahkan kalau dibolehkan ia mau menemani Neng Citra di Pondok sampe lulus. Anak tersayang, sembilan bulan di kandungan, dua tahun disusui, dimanja, ga pernah dimarah, disayang, …. seharusnya saya yang paling sedih … demikian fikiran bergelayut di benaknya. Tapi kalau anak besar tidak tau agama, bisa jadi malah nanti orangtua diabaikan belum lagi nanti di tanya Gusti Allah saat hisab … Tak terasa bantal tempat bersandar kepalanya malam itu basah dengan tumpahan air mata, air mata seorang ibu.

Tapi malam itu Kang Ajo tidur saling membelakangi punggung ke Ceu Ella. Ia masih terfikir untuk membuat Ceu Ella mengurungkan niatnya. Ia berencana besok mau mengajak Ceu Ella ke tempat saudaranya yang pendapatnya disegani keluarga besar. Ia berharap saudaranya ini bisa merubah keputusan istrinya karena yang ia ketahui, saudaranya itu memiliki pendapat yang sama bahwa sekolah umum lebih baik untuk dunia kerja, mudah-mudahan ga jadi ke Gontor, fikirnya.

Esoknya …

“Lha Citra memang sudah bulat mau masuk Gontor?” Ceu Ella mulai diinterogasi saudara suaminya.

“Iya Wa, sudah bulat ..”

“Cik Ella, pikir-pikir lagi. Ela kan orang Bandung. Kan di Bandung banyak sekolah yang lebih bagus dari Gontor! Lagian saya denger katanya alumni-alumni Gontor egois,” tambahnya

“Lebih bagus?” Ceu Ella rada tidak percaya. “Seandainya lebih bagus juga bayarannya jauh lebih mahal Wa.  Lagian kalau egois mah gimana bawaan orang masing-masing, bukan ku sebab Gontornya,” sanggah Ceu Ella.

Saudara suaminya masih berusaha merubah rencana Ceu Ella tapi sia-sia. Ceu Ella masih bersikukuh.

Mendadak Berangkat.

Sebentar lagi Neng Citra akan diwisuda kelulusan SMPnya. Sebelumnya dia kasih syarat ke ibunya agar bisa ikut perpisahan sekolah di sebuah tempat wisata di Puncak, Cianjur dulu sebelum ke Gontor.

Ceu Ella mengizinkan walau untuk itu harus membayar uang perpisahan  1,5 juta ke sekolah yang sudah masuk anggaran yang diajukan di pinjaman.

Suatu ketika, saat sore menjelang acara wisuda yang akan dilaksanakan malam harinya, saat mereka baru pulang dari hajatan pernikahan saudara sepupunya Citra,  Citra mengatakan sesuatu yang mengejutkan Ceu Ella.

“Bu, kita berangkat ke Gontor malam ini aja ya. Temen Kaka sudah nyampe Gontor. Katanya yang daftar sudah ribuan. Khawatir sudah penuh.”

Ceu Ella kaget. Betul-betul semua fikirannya campur aduk. Merasa sayang sebab uang sudah dibayarkan dan putrinya tidak sempat berjumpa dengan teman-temannya, merasa senang sebab putrinya semangat ke Gontor namun juga merasa sedih bahwa sebentar lagi ia akan berpisah dengan putrinya. Sepanjang jalan hingga sampai ke rumah air mata Ceu Ella tidak berhenti keluar. Entah apa yang dominan yang membuatnya menangis. Tapi Ceu Ella menangis.

Akhirnya mereka sepakat. Tidak jadi pergi untuk wisuda dan langsung ke Gontor Putri untuk mendaftar.

Persiapan pun dilakukan. Itu pun seadanya sebab Ceu Ella belum membeli perlengkapan baju muslimah buat putrinya. Baju rumahnya tidak dibawa karena rata-rata bukan baju tertutup secara syar’i.

“Kita beli dalam perjalanan aja,” kata Ceu Ella. Dan berangkatlah mereka malam itu dengan mobil kijang tua itu lagi. Tadinya Ceu Ella dan Neng Citra berencana berangkat berdua saja dengan menggunakan kendaraan umum. Tapi Kang Ajo mau ikut, walaubagaimanapun, meski ia tidak setuju putrinya masuk pesantren, tapi ini sudah terjadi. Dan dia tidak mau meninggalkan momen ini. Adik Citra yang masih SD juga diajak.

Menjelang mendekati Gontor Putri, keluarga ini beristirahat di sebuah POM bensin. Untuk mandi dan ganti baju. Karena Citra sendiri mulai dari rumah hanya memakai celana pendek dan baju kaos.

Sementara Citra mandi dan ganti baju, Ceu Ella pergi ke toko baju untuk membeli baji muslimah buat putrinya. Setelah kembali ke mobil berbarengan dengan Citra selesai dari kamar mandi.

“Bu, Citra tadi ambil baju Ibu dirumah. Citra suka. Bagus ga?” Tanya Citra sambil bergaya di depan ibunya.

Ceu Ella pangling, didepannya dia melihat seorang gadis muslimah cantik dengan baju yang ia kenal. Hatinya langsung berdegub bahagia. Tak terasa matanya menjadi lebih basah. Putriku tampak lebih sholeha, fikirnya.

“Ga apa-apa kan baju Ibu Kaka pake?” tanya Citra lagi menyadarkan Ceu Ella yang masih terpana.

“Eh .. nya teu nanaon atuh Ka. Eta geuning mangkin geulis nganggo acuk muslimah,” puji Ceu Ella. (Eh, ya ga apa-apa Kak. Nah itu makin cantik kalau pake baju muslimah)

“Euleuh si Kaka, pangling” komentar Kang Ajo demi melihat putrinya terlihat beda.

Tak berapa lama tibalah mereka ke Gontor Putri 2. Sebagaimana halnya Gontor Putra, untuk pendaftaran santri baru dipusatkan di Gontor Putri 2. Citra langsung mencari teman onlinenya yang dari Cianjur yang sudah lebih dahulu mendaftar. Sebenarnya mereka belum pernah bertemu melainkan hanya melalui dunia maya. Namun keakraban langsung terjalin antara mereka.

Setelah mendapat info yang cukup dari temannya itu, kemudian Citra ditemani Ceu Ella langsung menuju tempat pendaftaran yang sudah membentuk antrian yang lumayan panjang. Akhirnya mereka mendapat nomor urut 1750.

Setelah pendaftaran, mereka dan peserta lain bersama orangtuanya mengikuti sesi pengarahan yang disampaikan oleh seorang Ustadz. Ceu Ella fikir mungkin ustadz ini adalah pimpinan disini, sebab terasa sangat berwibawa dan dihormati.

Saat pengarahan Ceu Ella melihat Citra tampak gelisah. Tampak raut muka yang kesal di wajahnya.

Selesai pengarahan Neng Citra langsung menghampiri ibunya.

“Bu, Kaka mau pulang aja. Ga jadi masuk pesantren!” kata Citra sambil menangis.

Ceu Ella kaget ..

“Masa megang uang bolehnya 20ribu seminggu!”

“Tadi ustadznya ngomong gitu!” lanjutnya masih sambil menangis.

“Ga boleh bawa hape juga! Ga boleh bawa ini! Ga boleh bawa itu! Ga deh!!. Hayu pulang aja Bu!” kata Citra menangis yang makin bergetar sambil setengah memaksa.

Ceu Ella kaget seperti habis melihat tabrakan truk tronton dan sepeda motor didepan mukanya. Seketika harapannya hampir hilang. Sedih bergelayut di matanya. Namun masih ia tahan.

Di sisi lain Kang Ajo tampak senang. Putrinya sepertinya tidak jadi ke pesantren.

Kumaha Bu?, hayu ah pulang. Neng Citra na ge alimen.” kata Kang Ajo (“Bagaimana Bu?, Ayo pulang. Citranya juga tidak mau”)

“Ih, bapak teh kumaha! Lain dinasehatan kalakah diturutan!” kesal Ceu Ella. Kang Ajo malah cengengesan. (Ih, Bapak ini bagaimana! Bukan dinasehatain malah dituruti!)

Tapi Ceu Ella tidak langsung menasehati Citra. Dibiarkannya dulu putrinya itu menangis. Setelah lebih 30 menit dan tangisannya mulai agak mereda Ceu Ella baru bicara.

“Sok Kaka nangis aja … Ibu mah mending lihat Kaka sekarang nangis di dunia daripada Kaka nangis di akhirat ..”

“Bukan cuma Kaka nangis nanti di akhirat, tapi Ibu, Mak Nini dan semuanya ikut nangis. Disini Kaka nangis dijamin cuman sebentar. Sok aja lihat nanti kalau sudah punya teman dan sudah padat aktifitas, pasti Kaka lupa semua.”

Seperti tiba-tiba tersadar, Neng Citra langsung terhenti tangisnya. Walau kadang sering membantah ibunya, tapi hatinya tidak kuat membayangkan jika ibunya yang tercinta menangis karena dirinya.

Di sisi lain, sebenarnya Ceu Ella pun ingin menangis. Ia merasa seperti seorang ibu yang kejam. Ibu siapa yang tidak akan menangis saat dijauhkan dari putri kesayangan? Ia yang rela menukar nyawa demi sang buah hati, merelakan darahnya dihisap putrinya dalam 9 bulan dikandungan dan 2 tahun penyusuan, adalah sangat bohong jika dikatakan ia bergembira dengan jauhnya putri kesayangannya.

Tapi ia menyadari rasa sayangnya yang terlalu itu justru menjadi penghalang dalam menjaga amanah terindahnya ini. Karena ilmu yang terbatas, ia belum bisa mengenalkan putrinya dengan Penciptanya dengan baik dan benar. Sayangnya yang besar membuatnya tidak mampu “memaksa” putrinya untuk menjaga auratnya dan menjaga kemuliaannya sebagai seorang wanita muslimah, atau membekali ia dengan karakter seorang muslimah yang akan menjaganya di saat ia dewasa nanti, dan mendidik keturunannya selanjutnya …

Keturunan … Tiba-tiba Ceu Ella bergidik … Ia membayangkan saat hisab, puluhan atau mungkin ratusan atau ribuan keturunannya menunjuk dirinya karena menjadi penyebab mereka tidak mengenal Tuhannya, karena ia lalai mendidik putrinya yang dimulai ketika ia mundur dari pendaftaran dan kembali ke Jakarta.

Tidak. Aku tidak akan kembali setelah sejauh ini ... teguhnya dalam hati.

Saat Citra masih sesegukan, datang menghampiri Puji Ainun, seorang calon santriwati dari Karawang dan juga Lala, calon santriwati dari Tanggerang. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Citra akhirnya bersedia kembali bergabung dengan calon santriwati lainnya.

Demi buah hatinya, Ceu Ella hampir dua pekan berada di Mantingan. Ia penuhi segala apa yang diinginkan Citra, selama keuangannya masih bisa memenuhi, demi membuat ia bertahan. Membuat Citra merasa nyaman menjadi prioritasnya saat ini. Dan Citra sendiri, bersama teman-teman barunya mengikuti bimbingan sebagai persiapan untuk ujian masuk Gontor Putri.

Dan Citra sendiri, hampir setiap istirahat menghampiri keluarganya dan mengatakan mau pulang ke Jakarta, sambil membuka jilbabnya. Dan bersembunyi di mobil sambil menangis. Tapi uniknya saat bel atau waktu berkumpul, ia kembali lagi bersama calon pelajar-pelajar lain. Dan hampir seperti itu setiap hari.

Dan Ceu Ella bersyukur bahwa Allah mempertemukan Citra dengan teman-teman yang terbaik. Merekalah yang membujuk dan menyemangati Citra

Ustdzh. Puji Ainun, yang sejak awal pendaftaran hingga sekarang ia diterima di Al Azhar, sangat dekat pertemananya dengan Citra dan Ceu Ella

Tibalah ujian imla, yaitu ujian pemahaman kosa kata bahasa Arab yang didiktekan oleh seorang ustadz kemudian ditulis oleh calon santri.

Citra menjadi gelisah. Pelajaran agama yang sangat minim saat masih di sekolah umum dan persiapan yang hanya dalam hitungan hari membuatnya merasa tidak yakin bisa menyelesaikan dengan baik. Tapi, suatu hal yang sangat disyukuri Ceu Ella, jika Citra gelisah karena khawatir tidak bisa mengerjakan soal berarti hati kecilnya berharap untuk dapat diterima di Gontor.

Ceu Ella berusaha mengintip jalannya ujian Imla Neng Citra. Dari jauh dilihatnya Citra tegang dan gelisah.

“Al Masjidu!” teriak ustadzah yang memimpin ujian. Para calon santriwati menyimak tapi belum dizinkan menulis. Setelah beberapa kali pengulangan uztadzah itu kembali berkata . “Uktubu ..!” sebagai perintah untuk memulai menulis.

Pandangan Ceu Ella sempat bertemu dengan pandangan Citra. Citra memberi isyarat bahwa ia tidak bisa dengan mimik wajah hampir menangis. Tapi Ceu Ella membalas dengan isyarat menyemangati.

“Kaka bisa! Semangat! Harus tenang. Dengerin ustadzahnya ..!” kata Ceu Ella yang tadinya berniat untuk bersuara keras tapi suara yang keluar lirih, karena ia tau tidak boleh ada kegaduhan saat ujian berlangsung. Dan ia juga tahu suara itu tidak akan sampai ke Citra, tapi ia berharap itu bisa menyemangatinya.

Dan Ceu Ella pun tidak mau berlama-lama “ngintip” Citra yang lagi tegang. Karena ia khawatir itu bisa jadi justru membuatnya makin tidak tenang. Di luar itu mulutnya tidak berhenti berzikir dan berdoa agat Allah memudahkan putri kesayangannya mengerjakan ujian dengan lancar dan sukses. Dan kadang air matanya jatuh karena besarnya harapan doanya dikabulkan Allah.

..oo0O0oo..

Genap dua pekan Ceu Ella dan suami menemani Citra di Pondok. Dan mereka harus pulang karena cuti suaminya hanya memberi mereka kesempatan 2 pekan saja mengantar putri tercinta.

Citra sempat hampir meledak lagi tangisnya dan hampir memaksa ingin ikut pulang, tapi alhamdulillah teman-temannya, Lala dan Puji Ainun, terus menyuportnya dan membujuknya dan akhirnya Citra bersedia ditinggal di pondok setelah diyakini bahwa Citra bisa kontak dengan ibunya dengan menelepon di wartel.

Dan hampir sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, suasana di mobil itu hampir tidak ada dialog. Sepanjang jalan Ceu Ella menangis. Bahkan sesaat tiba di rumah, tangis Ceu Ella malah makin menjadi dan ia berkurung di kamar beberapa saat.

Sempat ia merasa menjadi ibu paling kejam, paling tega, hampir terucap penyesalan namun dia segera beristighfar. Setelah sejauh ini langkah yang sudah diambil, dia yakin Allah telah menunjukkan jalan yang baik. Segera ia ambil wudhu kemudian sholat hajat dan berdoa agar Allah menjadikan putri kesayangannya menjadi anak yang sholihah, terjaga kemuliaannya, istiqomah dalam kebaikan dan selamat dunia akhirat.

Haru biru perjalanan kisah ini masih berlanjut, bagaimana keadaan Citra saat ditinggalkan, bagaimana suasana saat pengumuman kelulusan calon santri, dan bagaimana keadaan keluarga itu saat perusahaan tempat Kang Ajo bekerja tutup karena bangkrut? saksikan lanjutannya di episode berikutnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan