Cerbung dan Kisah Hikmah

Kisah Inspiratif: Perjuangan Seorang Ibu yang Berprofesi sebagai Pengemudi Ojek Online dalam Menyekolahkan Putrinya di Gontor

Cinta seorang Ibu itu luar biasa, menakjubkan, tidak terputus dan mampu membuatnya melakukan apa saja, asal halal, demi buah hatinya. Cintanya itu mampu menghapus keluh kesahnya, mampu menutup lelahnya, bahkan untuk tidak mengindahkan cibiran, agar buah hatinya senantiasa terjaga.

Sudah cukup lama saya minta izin untuk menuangkan kisahnya yang sangat inspiratif ini. Walau ia mengizinkan, namun sungguh sangat lama menunggu kalimat pertama yang menceritakan rentetan kisahnya itu.

Setelah kembali diyakinkan bahwa kisahnya mungkin akan memberi banyak inspirasi seorang anak untuk semakin sayang kepada ibunya, atau seorang ibu semakin termotivasi menjaga putrinya, atau mungkin seorang ayah/suami yang akan semakin sayang kepada istrinya atau bisa jadi meningkatkan rasa syukur walsan lain yang Allah titipkan kelapangan rizki. Baru ia bersedia, alhamdulillah..

Layak dibikin Sinetron

Setelah kalimat pertama keluar yang menceritakan kisahnya, ternyata kalimat mengalir seperti air sungai yang mengalir. Bahkan kisah di “hulu sungai” yaitu kisah masa kecil sang ibu itu, juga sangat menarik yang membuat dan melatarbelakangi mengapa ia sangat ingin putrinya mendapat pendidikan agama yang baik.

Jika Anda dapat membayangkan kisah Kang Kabayan, yang menceritakan seorang pemuda lugu, jujur, cerdas, berani dari tempat terpencil di sebuah desa di Tanah Sunda, dan kisah ibu ini, Ceu Ella, demikian ia dipanggil, adalah seperti perumpamaan itu tapi versi perempuannya. Sangat mirip bahkan dengan kemampuan silatnya. Hehehe.

Suatu saat, walsantornews.com akan memuat kisahnya yang akan ditayangkan di blog ini dalam bentuk cerita bersambung. Namun kali ini hanya akan diangkat bagian-bagan inspiratifnya yang berhubungan dalam usahanya menyekolahkan putrinya di Gontor (Putri).

Teguran Nenek Yang Menyadarkan

Ceu Ella mempunyai cita-cita agar anak-anaknya memiliki pendidikan agama yang lebih baik dari orangtuanya. Pengalamannya masa lalu dan juga melihat pergaulan zaman sekarang yang mengkhawatirkan menjadi pertimbangannya. Dan iapun berharap disaat ia telah tiada, ada anak-anaknya yang menjadi “jaminannya” dihadapan Allah karena kesholehan anak-anaknya.

Kesadarannya itu muncul ketika ia diingatkan oleh Ibunya ketika putrinya, Neng Citra, sering tampil di televisi membawakan tarian Jaipongan.

“Enek mah teu bangga da gaduh incu masuk tivi joged-joged terus pake baju kitu ihhh sexy nanaonan coba! Sahenteu na urang teh masih aya katurunan Sunan Gunung Djati. Ntos nyak cukup eta budak geulis2 ngumbar2 aurat!”

(“Nenek mah tidak bangga punya cucu masuk tivi nari-nari terus pake baju kayak gitu! Ihhhh apa-apaan coba! Begini juga kita masih ada keturunan Sunan Gunung Jati! Udah aja, cukup itu anak cantik buka-buka aurat!!),

Demikian ucapan Ibunya, Neneknya Neng Citra, mengingatkan Ceu Ella. Sejak saat itu ucapan itu membekas dan berkecamuk di dalam otaknya.

Neng Citra memang memiliki hobi menari. Itu bermula saat Ceu Ella memasukan Citra ke tempat les tari Jaipong dan Betawi dengan maksud agar putrinya itu bisa tinggi dan mau makan. Saat itu Citra memang susah makannya, dan oleh temannya disarankan untuk les tari agar mau makan dan bisa tinggi. Dan ternyata Citra menyukai aktifitasnya itu dan juga akhirnya … suka makan karena sering bergerak.

Beberapa kali lembaga kursus tari itu membuat pertunjukan dari mal ke mal. Keterampilan Citra menari yang bagus membuat teman-teman Ceu Ella menyarankan untuk mendaftarkan Citra untuk tampil di acara dance anak-anak di stasiun TV (RCTI andan TPI saat itu). Dan sejak saat itu Nenk Citra sering tampil di TV.

Aktifitas Neng Citra saat menari di televisi itu membuatnya beberapa kali dipakai oleh beberapa sutradara sebagai tokoh figuran di beberapa sinetron. Ceu Ella mengizinkan karena saat itu berfikir bahwa itu bagus untuk melatih Citra terbiasa di depan banyak orang, walaupun honornya saat itu hanya 50 ribu rupiah.

Sempat terbersit bangga pada diri Ceu Ella apalagi saat itu, orang-orang di kampungnya mendukung dan selalu menanti tampilnya Citra di TV. Dan karena termasuk anak yang cantik, kamera sering menyorot Neng Citra yang membuat neneknya di kampung yang ikut menonton merasa tidak nyaman. Sehingga menelepon Ceu Ella dan mengingatkannya.

Lingkungan pertemanan Nenk Citra dengan kru-kru televisi dan sinetron termasuk Agus Ringgo, selebriti asal tanah Sunda, membuat Ceu Ellah merasa agak risih dan malu juga, sebab anak-anak lain diantar dengan mobil atau taxi sementara ia mengantar dengan motor kadang dengan angkot. Dan untuk biaya itu semua, Ceu Ella mencari tambahan dengan membuat keripik singkong dan diasongkan kepada orangtua-orangtua temannya Neng Citra atau dititipkan ke warung-warung.

Pernah suatu ketika Ceu Ella ditanya oleh ibu-ibu “sosialita itu”.

“Mamah Citra… Ma’af ya jangan kesinggung. Memang mamah Citra dapat untung berapa dari keripik singkong? Kok mau sih jualan keliling nitip-nitip dari warung ke warung?”

Pertanyaan yang membuatnya risih dan tidak nyaman. Namun tetap dilayani dengan ramah.

Ini kalo sy bawa 10 pak dapat untung 30rb kalo barangnya habis. Kalo ada sisa ya ngga dapet 30rb. Belum dipotong bensin. Ya dapat 18rb kadang2
Untungnya. Kalo bawa 15 pak dapat untung 45rb.”

Mereka pada kaget tapi Ceu Ella hanya tersenyum melihat reaksi mereka.

Cukup ya buat sekolah anak?” tanya mereka. “Apalagi Ceuceu sekarang ada saingan lho.” sambil mata mereka melirik ke seorang ibu yang lain.

“Ah rezeki mah Allah yang ngatur,” kata Ceu Ella singkat.

Ia tahu ibu yang dimaksud “mak-mak sosialita itu“. Ia ingat ibu itu dulu pernah datang kepadanya untuk minta diajarin membuat keripik dan berjualan karena kondisinya saat ini sedang sulit. Kemudian Ceu Ella dengan senang hati mengajarkan ibu ini membuat keripik yang enak dan mengajarinya untuk berjualan dengan cara mengasong di pintu-pintu pabrik Nestle ketika waktu bubaran pabrik. Kini ibu itu sudah bisa dagang sendiri, tapi ia tidak menyangka ternyata ibu itu jualan di tempat yang sama ia mengantarkan anaknya. Tapi ia tidak peduli.

Berhenti Menari

Peringatan dari Neneknya Citra masih bergejolak di bathinnya. Di satu sisi ia melihat kebenaran dan sangat ingin langsung melaksanakan nasehat ibunya. Di sisi lain ia melihat Citra sudah sangat suka dengan aktifitasnya dan Ceu bingung bagaimana memulai untuk menyampaikannya.

Bahkan pernah suatu ketika Ceu Ella membuka buku harian Nenk Citra, di sana dilihatnya banyak ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan dengan aktifitasnya, Bahkan ia menuliskan cita-citanya untuk menjadi artis atau pramugari. Jika ia hentikan mimpinya itu dengan cara yang tidak tepat, bisa jadi Nenk Citra kecewa dan sedih berketerusan.

Tapi Ceu Ella harus menyampaikan. Jika ingin kebaikan untuk putrinya itu. Dan ternyata dugaannya benar. Walau disampaikan dengan lemah lembut dan di waktu yang tepat, Nenk Citra merasa kecewa dan sedih. Beberapa hari ia berkurung di kamar.

Untuk mengganti aktifitasnya itu, Ceu Ella menawarkan Nenk Citra untuk kursus bahawa Inggris dengan konsekwensi Ceu Ella harus makin giat jualan karena biaya kursus itu juga tidak murah.

Hingga tiba saat pendidikan sekolah menengah pertamanya sudah hampir selesai, Ceu Ella harus mempertimbangkan pendidikan lanjutan putri kesayangannya itu.

Dalam fikirannya saat itu, ia mengambil keputusan untuk memasukkan putrinya ke pesantren. Dan Gontor Putri adalah pilihannya setelah mencari beberapa informasi tentang pesantren yang bagus.

Tentangan dari Suami dan Keluarga Suami

Meyakinkan suaminya untuk melepas putri mereka ke pesantren ternyata hampir sama sulitnya meyakinkan Nenk Citra untuk mau masuk pesantren. Suaminya menolak.

“Yah, Citra kita masukkan ke pesntren ya?” kata Ceu Ella pelan kepada suaminya.

“Kemana?” tanya suaminya tanpa menoleh sambil membersihkan kandang burung.

Ke Gontor, Jawa Timur.” Kata Ceu Ella. Ceu Ella sudah menebak apa yang akan dijawab suaminya. Di keluarga suaminya belum pernah ada yang masuk pesantren. Dan bagi mereka sekolah umum itu lebih baik untuk masa depan anak-anaknya.

“Gak! Ngapain jauh-jauh! Di sini juga banyak sekolahan!” kata suaminya, sambil masih sibuk dengan kegiatannya.

Tapi Ceu Ella berusaha meyakinkan bahwa pentingnya pendidikan agama anak-anaknya, dan Gontor sudah memiliki banyak alumni yang sukses. Tapi suaminya pun bersikeras.

“Rek jadi naon lulus ti pesantren? Ti mana biaya na? Tong sok siga boga duit loba!” kata suaminya. (Mau jadi apa lulus dari pesantren. Biaya dari mana? Jangan kayak banyak duit aja!).

Suami istri itu terus berdebat. Namun sepertinya suaminya sadar istrinya mempunyai keinginan yang kuat yang sulit untuk di rubah. Namun dalam bayangannya, perempuan sekolah ke pesantren paling hanya menjadi guru ngaji. Dan ia melihat sekolah umum lebih baik untuk masa depan anaknya. Belum lagi dia mendengar bahwa masuk Gontor itu biayanya mahal.

Untuk mencari dukungan, setelah perdebatan itu, ia bercerita kepada keluarga besarnya. Dan keluarga besar suaminya pun tidak mendukung rencana Ceu Ella untuk memasukkan putrinya ke pesantren.

Ceu Ella tau ini karena saat berkunjung ke keluarga besar suaminya, ia seperti disidang.

Ceu katanya mau masukin Neng Citra ke pondok di Jawa Timur ya.” tanya mereka.

“Iya,” kata Ceu Ella singkat.

“Kok tega sih?”
“Kamu sudah ga mau ngurusin anak-anak lagi?”
“Gajih ayahnya emang cukup buat nyekolahin ke Jawa
?”
“Belum nanti kalo sakit, belom waktunya kan jauh ka Jawa Timur.”
“Kita disini makan enak, anak-anak kita blm tau makan apa disana.”

“Harus lihat kemampuan suami! Kasihan si Ajo ( suaminya Ceu Ella) nyari uang banting tulang!”

Demikian berondongan pertanyaan keluarga suaminya. Tapi Ceu Ella tidak memperdulikan itu semuanya. Semakin saudara-saudara suaminya ngomong seperti itu semakin kuat niat Ceu Ella masukin anak kepondok. Jika alasannya biaya, dia yakin jika niat baik apalagi agar anak sekolah pesantren, Allah pasti kasih jalan.

Akhirnya suaminya terpaksa mengalah. Tapi bukan berarti semua menjadi lancar. Sekarang giliran bagaimana meyakinkan Neng Citra agar mau ke pesantren yang ternyata tidak mudah.

Perjuangan Membujuk Neng Citra

Membujuk anak perempuan yang sempat mengenal dunia keartisan dan sudah mempunyai cita-cita menjadi artis terkenal bukan perkara mudah. Jika terhadap suami Ceu Ella bisa bersilat lidah dan keukeuh mempertahankan pendapatnya, namun tidak demikian ia terhadap putri kesayangannya ini.

Ia harus hati-hati agar tidak ada pelampiasan yang tidak diinginkan jika terlalu dipaksa. Ia khawatir jika dipaksa, dan walaupun akhirnya berhasil masuk pondok, putrinya tidak berlaku optimal malah bisa jadi seperti anak-anak terpaksa yang justru berlaku “tidak baik”.

Saat ditawarkan pertama kali, Nenk Citra langsung menolak. Baginya pesantren menyeramkan. Tdak asyik.

Kemudian, dilain waktu, Ceu Ella memamerkan beberapa alumni pesantren yang berhasil, ada yang menjadi diplomat, dosen, pejabat dan lain-lain. Nenk Citra masih tidak tertarik.

Akhirnya suatu ketika, Ceu Ella akhirnya mengajak Citra pergi liburan saat selesai ujian sekolah dengan mengajaknya melihat langsung pesantren Gontor Putri di Jawa Timur. Karena “judulnya” jalan-jalan, Nenk Citra bersedia.

Dengan mengandalkan mobil kijang tua milik kantor ayahnya, mereka sekeluarga berangkat ke Ngawi Jawa Timur. Ini perjalanan pertama mereka pergi jauh sehingga hampir sepanjang jalan saat terjaga Citra tidak berhenti bertanya.

Perjalanan sepanjang malam dilalui dan akhirnya saat pagi hari mereka sudah tiba di Gontor Putri 2. Citra cukup terkejut setelah melihat bangunan pesantren itu. Dalam bayangan dia sebelumnya pesantren itu seperti bangunan kumuh bertingkat yang didepan kamar-kamarnya bergantungan jemuran baju dan pakaian dalam santri-santrinya. Tapi ia tidak melihat itu

Di sana Keluarga Ceu Ella di temui oleh putri dari temannya yang sudah terlebih dulu mondok di sana yang sekarang sudah berada di kelas 3. Kemudian Citra diajaknya keliling pondok. Ceu Ella hanya melihat dari kejauhan putri tercintanya dengan harapan putri temannya itu bisa menggugah hati Citra untuk mau mondok.

“Gimana Ka?” tanya Ceu Ella saat putrinya baru tiba dari jalan-jalan keliling pondok.

“Biasa aja. Ga ada yang istimewa.” kata Neng Citra lempeng. Sepertinya ia masih beluh berubah penolakannya. Ceu Ella sedih, tapi masih berharap keajaiban.

Selesai dari Gontor Putri, mereka berencana mau melanjutkan perjalanan ke Ponorogo untuk melihat Gontor Putra, sebab adiknya Citra yang laki-laki pun mau dimasukkan ke sana.

Tapi dalam perjalanan, anak laki-lakinya bercerita kepada Ceu Ella.

“Bu, adik mau ngomong. Tapi janji ya jangan marah ke ayah.” kata putranya sambil memberi syarat. Ceu Ella penasaran putranya mau ngomong apa, akhirnya menyetujui syarat yang diajukan.

“Kata papah, kalau Mama mau nyuruh adik masuk pesantren, jangan mau. Sebab nanti kalau Ka Citra ke pondok, dirumah sepi,” kata putranya. Ceu Ella sudah mau ngomel ke suaminya yang lagi nyetir namun membaca gelagat ibunya yang mau protes ke ayahnya, adiknya Citra langsung menambahkan.

“Kata ayah nanti aja pas adek lulus SMP.”

Ceu Ella tidak jadi protes. Ya udah fikirnya, ga masalah. Tapi Ceu Ella langsung terfikir lagi dengan Nemg Citra. Bagaimana membujuknya. Perjalanan liburan ini belum berhasil menggugah Citra.

Tapi Ceu Ella terus memohon kepada Allah agar Allah melembutkan hati putri kesayangannya. Suatu malam air matanya mengalir saat berharap dengan sangat kepada Allah. Dan ternyata Allah langsung menjawab doa’nya.

Suatu ketika di pagi hari, tiba-tiba Citra menghampiri ibunya.

“Bu… Ini di twitter ada temen Citra, namanya Seny orang Cianjur mau mondok juga di Gontor,” kata Citra.

Kalau ada temen Citra mau,

Ceu Ella seolah mendapat hadiah yang besar pagi itu, ia sangat bersyukur. Dipeluknya putri kesayangannya.

Ceu Ella terfikir, mungkin Allah melembutkan hati Citra, dengan syariat dialog singkat ibu dan anak, saat sebelumnya mereka pulang ke kampungnya di Cililin, karena Neneknya Citra, yang dulu pernah menasehati Ceu Ellah untuk menjaga aurat cucunya, meninggal dunia.

“Ka, lihat itu Mak Nini (panggilan mereka ke neneknya yang baru saja meninggal). Di kubur sendirian aja. Anak, cucu, bapak, aki ditinggal. Ga ada yang nemenin. Rumah gede sagala ga ada yang bisa dibawa. Cuman amal baiknya dan doa anak-anaknya yang sholeh yang nemenin.”

Saat itu Citra menangis sesegukan. Mungkin saat itu Allah melembutkan hatinya.

Ceu Ella berfikir suaminya sudah berhasil diyakinkan, dan Citra sudah dengan sukarela masuk Gontor, kini tinggal masalah berikutnya yang tidak kalah besar. Mereka tidak mempunyai uang untuk pendaftaran.

Bagaimana solusi masalah ini dan bagaimana perjalanan pendidikan Citra di Gontor? Apakah ia betah? Bagaimana orangtuanya mencukupi kebutuhan bulanan Neng Citra? Nantikan lanjutannya pada artikel berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan