Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Ustadz Iwan Wahyudi, Pilih Gontor Dibanding Unpad

Jika sebagian besar pemuda saat lulus SMA dan ada peluang untuk masuk sebuah universitas tanpa tes tentu adalah suatu kebanggan yang besar. Tapi tidak bagi Ustadz Iwan Wahyudi.

Perjalanan hidupnya yang unik, sangat menarik untuk dijadikan renungan dan inspirasi. Disaat seorang anak SMA yang baru lulus dan diterima di universitas melalui jalur PMDK, tapi malah memilih masuk Gontor, tentu akan menjadi pertanyaan bagi orang lain. Pilihan ini tentu akan membuatnya mengulang lagi pendidikan setingkat SMA, dari awal!

Tapi ini adalah pilihan dengan kesadaran penuh, dengan perenungan yang dalam.

Pergulatan Fikiran saat SMA

Berawal dari apa yang disampaikan guru agamanya saat di SMA, bahwa islam adalah agama komprehensif. Lengkap. Sebuah jalan hidup. Bukan sekedar identitas dalam KTP. Sebuah Diin, yang memiliki makna yang dalam.

Tapi ia berkaca pada diri sendiri dan juga melihat realitas yang ada disekelilingnya bahwa praktek agama ternyata banyak yang hanya sebatas ritual. Termasuk dirinya. Agama tidak nampak dalam karakternya, tidak nampak dalam kesehariannya. Jika sekedar baik, maka kebaikan itu sebenarnya universal, semua bisa baik. Sedang bagaimana baik dalam bingkai agama ia belum paham.

Hal ini membuat ia merenung. Renungan yang membangkitkan tekadnya untuk belajar agama lebih baik. Walau pelajaran agama adalah salah satu pelajaran favoritnya sejak SMP tapi ia merasa belum cukup.

Sekira 3 bulan sebelum kelulusan, ia sudah memutuskan. Ia akan ke pesantren. Dan Gontor adalah pilihannya.

Siswa Berprestasi di SMA

Iwan remaja sebenarnya siswa yang berprestasi di sekolah. Sejak SMP prestasi akademik selalu mengikutinya dan demikian juga saat SMA.

Bahkan saat kelulusan SMA ia menempati urutan ketiga NEM tertinggi di SMA 1 Bondowoso! Sesuatu yang sangat membanggakan.

Namun niatnya sudah bulat untuk masuk pesantren. Sehingga di saat teman-temanya merayakan kelulusan dengan corat-coret baju seragam, ia malah datang saat kelulusan dengan baju bebas. Dan ia tidak ikut kemeriahan kelulusan bersama teman-temannya.

2 Pekan Di Gontor, Diterima PMDK

Bulan Oktober tahun 2000, Iwan tiba di Gontor. Saat itu penerimaan santri baru di Gontor 2, Siman Madusari, Ponorogo. Semangat baru mulai bersemai di hati pemuda ini.

Namun, 2 pekan setelah di Gontor, ia mendapat kabar dari Ibunya bahwa ia diterima di dua universitas dari jalur PMDK.

Ustadz Iwan Wahyudi di dekat kediamannya sekarang di Bogor.

Memang, dengan prestasinya yang cemerlang, Iwan terpilih sebagai salah satu siswa yang lolos perguruan tinggi tanpa tes yang disebut jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Dua universitas yang meminangnya yaitu Unpad (Universitas Padjadjaran) dan Unesa (Universitas Negeri Surabaya).

Namun, Iwan bergeming. Keputusannya sudah bulat. Pesantren adalah pilihannya dari awal. Ditambah, Iwan tidak mau membebankan orangtua dengan biaya lagi untuk masuk universitas dan merelakan uang pendaftaran yang sudah dilakukan saat itu di Gontor yang berjumlah 600 ribu, suatu jumlah yang tidak sedikit bagi orangtuanya.

Ia sudah dalam passionnya!

Bercita-cita menjadi Penulis

Sejak kecil Iwan memiliki hobi membaca. Minatnya akan dunia literasi ini sejak lama sudah membangkitkan sebuah cita-cita bahwa ia ingin menjadi penulis. dan ternyata jalan untuk menjadi penulis, alhamdulillah, memang ia temukan di Gontor. Apalagi ia tahu bahwa di Gontor ada 2 perpustakaan, tempat paling disukai seorang penulis.

Saking hobi bacanya, ia sering menyisihkan uang dari orang tua untuk membeli buku. Bahkan pernah dalam sebuah bazzar buku murah di Kopel ia langsung membeli 30 buah buku yang habis semuanya ia baca hingga tamat.

Padatnya aktifitas di Gontor, interaksi dengan banyak teman dari banyak daerah dan banyak karakter, dan juga suka dukanya dalam menjalan kewajiban sebagai santri, menjadi sumber tulisannya yang dituangkan dalam buku harian.

Selama 4 tahun di Gontor, ia mempunyai 6 buku diary tebal yang full berisi coretan perasaan, ide dan harapannya.

Cita-cita Tercapai

Tahun 2004 ia berhasil lulus dari Gontor. Pengabdian satu tahun telah selesai ia jalankan. Dan gelas S1 dari STAI di daerahnya pun telah ia dapatkan. Namun cita-citanya masih sama: ia ingin menjadi penulis.

Dalam rangka usaha mewujudkan cita-citanya, maka berangkatlah Ustadz Iwan menuju Jakarta. Dan ternyata Allah memudahkan jalannya menjadi penulis. Berawal dari jasa penulisan yang ia lakukan, beberapa tawaran datang untuk ia tulis.

Kini profesi itu sudah 10 tahun ia jalani. Entah sudah berapa banyak buku ia tulis. Dan Ustadz Iwan mengkhususkan jasa penulisan seperti biografi, profil dan konten perusahaan, sambil sesekali menjadi ghostwriter.

Apa itu ghostwriter? Ghost writer merupakan seseorang yang dipekerjakan oleh seseorang atau perusahaan dan bertugas untuk menulis untuk mereka. Nama dari penulis tidak akan dicantumkan dalam tulisan, melainkan hanya diakui oleh individu atau perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Penutup

Jalan hidup itu memang kadang unik. Tapi sebaik-baik jalan hidup adalah ketika jalan itu disandarkan kepada Sang Pemilik skenario hidup, maka tidak ada sedih-gembira, sulit-mudah, turun-naik dan semua dinamikanya kecuali DIA sertakan hikmah yang besar.

Semoga kisah singkat Ustadz Iwan Wahyudi dapat menjadi bahan renungan dan inspirasi bahwa ketika niat sudah terbetik, azamkan, usahakan lalu sandarkan kepada Allah, dan biar Allah yang menggiring.

Semoga bermanfaat. (riM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan