Kisah Alumni

Hanjar Lukito Jati, Alumni yang Menjadi “Petani” Cerdas Yang Sukses Tembus Ekspor Beras Ke Amerika

Indonesia yang terkenal dengan lahan yang subur dengan iklim yang sangat baik untuk tumbuh padi, tapi masih terkenal sabagai salah salah satu pengimpor padi terbesar. Cukup miris. Tapi disela-sela masalah perpadian dan impornya, ternyata ada alumni Gontor, yang masih 30 tahunan berhasil tembus pasar Amerika untuk ekspor beras. Yup benar, ekspor beras.

Untuk bisa tembus ekspor beras ke Amerika dan Eropa bukan perkara mudah. Dengan halangan aturan yang berbelit, standar tinggi yang diminta pembeli dan juga ganjalan dari pesaing-pesaing dalam jaringan “naga-naga”, maka keberhasilan sebuah “PT” kecil dari Wonogiri yang berhasil mengekspor beras ke pasar Eropa, Amerika dan Asia Tenggara, menjadi kebanggaan bagi masyarakat tani, … dan juga kita sebagai keluarga besar Gontor, karena ada peran alumni Gontor di sana.

Beliau adalah Hanjar Lukito Jati. Dahlan Iskan memanggilnya Hanjar al Gontory, dan menilainya memiliki kepribadian yang santun, otaknya cerdas, gaya bicaranya antusias –tapi tertata rapi.

Walsantornews.com mendapat info dari alumni yang lain bahwa Ustadz Hanjar lulus dari Gontor tahun 2004, namun belum mendapat detail tentang aktifitasnya di Gontor semasa mondok. Semoga dengan munculnya artikel ini ada info lebih pasti tentang Ustadz Hanjar.

Memiliki Ayah Walsantor yang Pengayom Petani

Adalah Pak Budi Sulistyo, seorang walsantor yang sangat concern dengan pertanian organik, ditengah kekhawatirannya akan semakin banyaknya pupuk kimia yang digunakan yang akan merusak alam, yang berimbas dengan semakin menurunnya produktifitas lahan pertanian di lingkungannya, Desa Kebonagung.

Beliau hanyalah seorang lulusan Sekolah Dasar (SD), namun mempunyai keinginan yang kuat menghidupkan kembali pertanian di desanya dengan mengembangkan pupuk organik hasil penelitiannya dan memaksimalkan pupuk kandang.

Waktu itu Hanjar masih sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Dan kakaknya masih sekolah di sebuah STM. Sehingga tidak bisa membantu ayahnya merealisasikan ide-ide mulianya itu.

Rela Membeli Tinggi Hasil panen Petani

Ide Pak Budi kemudian ditawarkan kepada petani dengan dibantu karywannya, Harjanto. Jadi tugas Harjanto adalah membujuk petani agar mau beralih ke pertanian sistem organik.

Saat itu banyak petani yang enggan, karena produktifitasnya pasti dibawah sistem pupuk kimiawi.

”Sulit sekali. Petani selalu bilang, kalau hasil panennya merosot siapa yang menanggung,” ujar Harjanto.

Akhirnya Pak Budi bikin jaminan. ”Setiap penurunan hasil panen ditutup oleh Pak Budi,” kenang Harjanto. Didapatlah tiga petani di desa Kebon Agung. Masing-masing punya sawah 3.000 meter persegi. Mereka diajari cara-cara bertani organik.

Misal: sebelum tanah dibajak oleh traktor dihamburi dulu pupuk kotoran sapi.

Hasilnya: panen mereka turun 50 persen. Biasanya 10 ton tinggal 5 ton.

Pak Budi pun membeli hasil itu dengan harga yang sama dengan 10 ton gabah padi biasa.

Tahun berikutnya bisa naik sedikit. Tahun ketiga baru bisa 8 ton. Pak Budi terus membelinya dengan harga 10 ton gabah biasa.

Delapan ton itulah hasil terbesarnya. Tidak pernah bisa sama: 10 ton.

Tapi karena harga beras organik 2,5 kali harga beras biasa hasil rupiahnya sudah jauh lebih besar. Saat itulah Pak Budi terbebas dari mensubsidi petani.

Ayah Meninggal

Pada tahun 2004, Bapak Budi Sulistyo meninggal dunia. Hanjar masih belum tamat sekolah. Tamat dari Gontor, Hanjar masih harus pengabdian mengajar selama setahun di Bogor. Sejak saat itu, usaha pertanian organik yang dirintis oleh Pak Budi otomatis terhenti hingga tiga tahun.

Selesai pengabdian, Hanjar mengurungkan niatnya melanjutkan studi di IPB (Institut Pertanian Bogor) dan memilih melanjutkan usaha ayahnya.

Adalah berkat kegigihan kedua putra Almarhum (Hardiyan Kusuma Djati, dan Hanjar Lukito Jati), pada 27 Agustus 2009, Asosiasi Pertanian Organik Wono Agung Wonogiri (APOWW) terbentuk sekaligus mengakhiri kevakuman Kegiatan Pertanian Organik di Wonogiri sejak sepeninggal Bapak Budi Sulistyo.

Pada tahun 2020 ini, anggota asosiasi itu terdiri dari 2000 lebih petani organik.

Mendirikan BUMP (Badan Usaha Milik Petani) PT. Pengayom Tani Sejagad

Pada tahun 2015, sebanyak 139 orang Petani Anggota Asosiasi Pertanian Organik Wono Agung Wonogiri (APOWW) lulus uji sertifikasi Pertanian Organik oleh Mutu Certification International (Mutuagung Lestari, PT) dalam skup bidang Padi dan Beras Organik. Sehingga membuat Hanjar mulai berfikir untuk meluaskan pasaran ke pasar ekspor.

Maka dibentuklah BUMP (Badan Usaha Milik Petani) PT PT Pengayom Petani Sejagad dengan Direktur Ustadz Hanjar Lukito Jati. Terbentuknya BUMP ini sangat unik, namun inilah yang dinyatakan oleh seorang peneliti Dr Sugeng Edi Waluyo.

Dr. Edi ini mengetuai perkumpulan sarjana tingkat doktoral Universitas 11 maret Solo. Mereka itu melakukan penelitian bidang kelembagaan petani. Sangat mendalam. Mereka kaji keberadaan koperasi, kelompok, asosiasi, dan apa saja yang terkait petani.

Hanjar Lukito (kedua dari kiri), Dr. Edi (ketiga dari kiri) dan Dahlan Iskan

Hasil kajian itu: tidak ada lembaga tani mana pun yang bisa mengatasi problem pokok petani. Yakni: menjaga agar di musim panen harga hasil tani tidak merosot.

Penelitian Dr. Edi, yang nampak seperti seorang Indonesia keturunan China namun merupakan orang Jawa Asli dan muslim, itu sampai pada kesimpulan: lembaga tani itu harus perseroan terbatas. Ia pun menyusun desertasi soal kelembagaan ini. Jadilah Edi doktor pertama di ilmu kelembagaan.

Namun Dr. Edi melihat masih ada kelemahan dalam lembaga petani berbentuk PT ini, yaitu cenderung kapitalistik. Hingga ia bertemu dengan Hanjar Lukito Jati dengan konsepnya yang cerdas yang memadukan gabungan sifat-sifat koperasi, resi gudang, Bulog, dan perseroan terbatas.

Dengan konsep ini, setiap petani mendapat deviden setiap panennya, yang setahun bisa 2 kali.

”Agar petani langsung merasakan hasil panen mereka,” ujar Hanjar Lukitojati, direktur Pengayom Petani Sejagad.

Berhasil Ekspor Beras Merah

Kemampuan perusahaan kecil seperti PT Pengayom Petani Sejagat untuk menembus pasar Amerika dan Eropa mendapat penghargaan dan pujian tinggi dari Dahlan Iskan.

Tahun lalu kita ekspor perdana ke Amerika melalui PT Bloom Agro Indonesia. Ekspor perdana ini, kami mengirim 20 ton beras organik ke Amerika Serikat. Bahkan, kami telah teken kontrak untuk mencukupi pesanan beras organik tahun ini sebanyak 450 ton,” beber Direktur Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pengayom Petani Sejagad Hanjar Lukito Jati.

“Jumlah ekspornya tidak penting bagi saya. Tapi bahwa bisa sampai ekspor, itu tidak mudah. Mencari partnernya tidak mudah. Merintisnya tidak mudah.” Tulis Dahlan Iskan

Beras organik PT Pengayom siap ekspor

Memenuhi persyaratannya tidak mudah. Administrasi ekspornya njelimet. Walhasil mereka membuktikan diri bisa ekspor. Kita-kita pengusaha yang mengaku lebih terpelajar tentu malu dengan para petani itu.” Demikian lanjutnya dalam Diarinya di Disway.

Konsep yang unik dari PT ini yang memiliki sistem pergudangan yang apik dan konsep penyimpanan seperti Bulog membuatnya dipercaya oleh Bupati Wonogiri untuk menyalurkan beras Raskin menggantikan Bulog. Wow, masya Allah.

Beberapa kali mendapat Penghargaan

BUMP PT Pengayom Petani Sedjagat ini merupakan kebanggaan komunitas petani Indonesia, khususnya Masyarakat Wonogiri. Perannya dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan konsep pembagian hasil yang mencapai 80% untuk petani, menjadikannya motor penggerak geliat pertanian Indonesia.

Ustadz Hanjar sendiri sebagai pelopor beberapa kali mendapat penghargaan dari beberapa lembaga. Salah satunya menjadi salah satu dari 67 orang pelopor atau Duta Petani Milenial [DPM] dan Duta Petani Andalan [DPA] dari seluruh Indonesia yang dikukuhkan secara formal oleh Prof Dr Nursyamsi,  Kepala BPPSDMP Kementan. Pengukuhan dilakukan melalui videoconferenceyang disaksikan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dari Agriculture War Room – Komando Strategis Pembangunan Pertanian [AWR KostraTani].

Penyerahan penghargaan secara daring dari Departemen Pertanian

Indonesia yang terkenal dengan lahan yang subur dengan iklim yang sangat baik untuk tumbuh padi, tapi masih terkenal sabagai salah salah satu pengimpor padi terbesar. Cukup miris. Tapi disela-sela masalah perpadian dan impornya, ternyata ada alumni Gontor, yang masih 30 tahunan berhasil tembus pasar Amerika untuk ekspor beras. Yup benar, ekspor beras.

Untuk bisa tembus ekspor beras ke Amerika dan Eropa bukan perkara mudah. Dengan halangan aturan yang berbelit, standar tinggi yang diminta pembeli dan juga ganjalan dari pesaing-pesaing dalam jaringan “naga-naga”, maka keberhasilan sebuah “PT” kecil dari Wonogiri yang berhasil mengekspor beras ke pasar Eropa, Amerika dan Asia Tenggara, menjadi kebanggaan bagi masyarakat tani, … dan juga kita sebagai keluarga besar Gontor, karena ada peran alumni Gontor di sana.

Beliau adalah Hanjar Lukito Jati. Dahlan Iskan memanggilnya Hanjar al Gontory, dan menilainya memiliki kepribadian yang santun, otaknya cerdas, gaya bicaranya antusias –tapi tertata rapi.

Walsantornews.com belum mendapat info pasti tahun berapa dan marhalah apa saat Ustadz Hanjar lulus dari Gontor, namun dari salah satu alumni yang menelusuri datanya, diperkirakan Beliau lulus tahun 2007/2008 (?). Semoga dengan munculnya artikel ini ada info lebih pasti tentang Ustadz Hanjar.

Memiliki Ayah Walsantor yang Pengayom Petani

Adalah Pak Budi Sulistyo, seorang walsantor yang sangat concern dengan pertanian organik, ditengah kekhawatirannya akan semakin banyaknya pupuk kimia yang digunakan yang akan merusak alam, yang berimbas dengan semakin menurunnya produktifitas lahan pertanian di lingkungannya, Desa Kebonagung.

Beliau hanyalah seorang lulusan Sekolah Dasar (SD), namun mempunyai keinginan yang kuat menghidupkan kembali pertanian di desanya dengan mengembangkan pupuk organik hasil penelitiannya dan memaksimalkan pupuk kandang.

Waktu itu Hanjar masih sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Dan kakaknya masih sekolah di sebuah STM. Sehingga tidak bisa membantu ayahnya merealisasikan ide-ide mulianya itu.

Rela Membeli Tinggi Hasil panen Petani

Ide Pak Budi kemudian ditawarkan kepada petani dengan dibantu karywannya, Harjanto. Jadi tugas Harjanto adalah membujuk petani agar mau beralih ke pertanian sistem organik.

Saat itu banyak petani yang enggan, karena produktifitasnya pasti dibawah sistem pupuk kimiawi.

”Sulit sekali. Petani selalu bilang, kalau hasil panennya merosot siapa yang menanggung,” ujar Harjanto.

Akhirnya Pak Budi bikin jaminan. ”Setiap penurunan hasil panen ditutup oleh Pak Budi,” kenang Harjanto. Didapatlah tiga petani di desa Kebon Agung. Masing-masing punya sawah 3.000 meter persegi. Mereka diajari cara-cara bertani organik.

Misal: sebelum tanah dibajak oleh traktor dihamburi dulu pupuk kotoran sapi.

Hasilnya: panen mereka turun 50 persen. Biasanya 10 ton tinggal 5 ton.

Pak Budi pun membeli hasil itu dengan harga yang sama dengan 10 ton gabah padi biasa.

Tahun berikutnya bisa naik sedikit. Tahun ketiga baru bisa 8 ton. Pak Budi terus membelinya dengan harga 10 ton gabah biasa.

Delapan ton itulah hasil terbesarnya. Tidak pernah bisa sama: 10 ton.

Tapi karena harga beras organik 2,5 kali harga beras biasa hasil rupiahnya sudah jauh lebih besar. Saat itulah Pak Budi terbebas dari mensubsidi petani.

Ayah Meninggal

Pada tahun 2004, Bapak Budi Sulistyo meninggal dunia. Hanjar masih belum tamat sekolah. Tamat dari Gontor, Hanjar masih harus pengabdian mengajar selama setahun di Bogor. Sejak saat itu, usaha pertanian organik yang dirintis oleh Pak Budi otomatis terhenti hingga tiga tahun.

Selesai pengabdian, Hanjar mengurungkan niatnya melanjutkan studi di IPB (Institut Pertanian Bogor) dan memilih melanjutkan usaha ayahnya.

Adalah berkat kegigihan kedua putra Almarhum (Hardiyan Kusuma Djati, dan Hanjar Lukito Jati), pada 27 Agustus 2009, Asosiasi Pertanian Organik Wono Agung Wonogiri (APOWW) terbentuk sekaligus mengakhiri kevakuman Kegiatan Pertanian Organik di Wonogiri sejak sepeninggal Bapak Budi Sulistyo.

Pada tahun 2020 ini, anggota asosiasi itu terdiri dari 2000 lebih petani organik.

Mendirikan BUMP (Badan Usaha Milik Petani) PT. Pengayom Tani Sejagad

Pada tahun 2015, sebanyak 139 orang Petani Anggota Asosiasi Pertanian Organik Wono Agung Wonogiri (APOWW) lulus uji sertifikasi Pertanian Organik oleh Mutu Certification International (Mutuagung Lestari, PT) dalam skup bidang Padi dan Beras Organik. Sehingga membuat Hanjar mulai berfikir untuk meluaskan pasaran ke pasar ekspor.

Maka dibentuklah BUMP (Badan Usaha Milik Petani) PT PT Pengayom Petani Sejagad dengan Direktur Ustadz Hanjar Lukito Jati. Terbentuknya BUMP ini sangat unik, namun inilah yang dinyatakan oleh seorang peneliti Dr Sugeng Edi Waluyo.

Dr. Edi ini mengetuai perkumpulan sarjana tingkat doktoral Universitas 11 maret Solo. Mereka itu melakukan penelitian bidang kelembagaan petani. Sangat mendalam. Mereka kaji keberadaan koperasi, kelompok, asosiasi, dan apa saja yang terkait petani.

Hanjar Lukito (kedua dari kiri), Dr. Edi (ketiga dari kiri) dan Dahlan Iskan

Hasil kajian itu: tidak ada lembaga tani mana pun yang bisa mengatasi problem pokok petani. Yakni: menjaga agar di musim panen harga hasil tani tidak merosot.

Penelitian Dr. Edi, yang nampak seperti seorang Indonesia keturunan China namun merupakan orang Jawa Asli dan muslim, itu sampai pada kesimpulan: lembaga tani itu harus perseroan terbatas. Ia pun menyusun desertasi soal kelembagaan ini. Jadilah Edi doktor pertama di ilmu kelembagaan.

Namun Dr. Edi melihat masih ada kelemahan dalam lembaga petani berbentuk PT ini, yaitu cenderung kapitalistik. Hingga ia bertemu dengan Hanjar Lukito Jati dengan konsepnya yang cerdas yang memadukan gabungan sifat-sifat koperasi, resi gudang, Bulog, dan perseroan terbatas.

Dengan konsep ini, setiap petani mendapat deviden setiap panennya, yang setahun bisa 2 kali.

”Agar petani langsung merasakan hasil panen mereka,” ujar Hanjar Lukitojati, direktur Pengayom Petani Sejagad.

Berhasil Ekspor Beras Merah

Kemampuan perusahaan kecil seperti PT Pengayom Petani Sejagat untuk menembus pasar Amerika dan Eropa mendapat penghargaan dan pujian tinggi dari Dahlan Iskan.

Tahun lalu kita ekspor perdana ke Amerika melalui PT Bloom Agro Indonesia. Ekspor perdana ini, kami mengirim 20 ton beras organik ke Amerika Serikat. Bahkan, kami telah teken kontrak untuk mencukupi pesanan beras organik tahun ini sebanyak 450 ton,” beber Direktur Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pengayom Petani Sejagad Hanjar Lukito Jati.

“Jumlah ekspornya tidak penting bagi saya. Tapi bahwa bisa sampai ekspor, itu tidak mudah. Mencari partnernya tidak mudah. Merintisnya tidak mudah.” Tulis Dahlan Iskan

Beras organik PT Pengayom siap ekspor

Memenuhi persyaratannya tidak mudah. Administrasi ekspornya njelimet. Walhasil mereka membuktikan diri bisa ekspor. Kita-kita pengusaha yang mengaku lebih terpelajar tentu malu dengan para petani itu.” Demikian lanjutnya dalam Diarinya di Disway.

Konsep yang unik dari PT ini yang memiliki sistem pergudangan yang apik dan konsep penyimpanan seperti Bulog membuatnya dipercaya oleh Bupati Wonogiri untuk menyalurkan beras Raskin menggantikan Bulog. Wow, masya Allah.

Beberapa kali mendapat Penghargaan

BUMP PT Pengayom Petani Sedjagat ini merupakan kebanggaan komunitas petani Indonesia, khususnya Masyarakat Wonogiri. Perannya dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan konsep pembagian hasil yang mencapai 80% untuk petani, menjadikannya motor penggerak geliat pertanian Indonesia.

Ustadz Hanjar sendiri sebagai pelopor beberapa kali mendapat penghargaan dari beberapa lembaga. Salah satunya menjadi salah satu dari 67 orang pelopor atau Duta Petani Milenial [DPM] dan Duta Petani Andalan [DPA] dari seluruh Indonesia yang dikukuhkan secara formal oleh Prof Dr Nursyamsi,  Kepala BPPSDMP Kementan. Pengukuhan dilakukan melalui videoconferenceyang disaksikan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dari Agriculture War Room – Komando Strategis Pembangunan Pertanian [AWR KostraTani].

Penyerahan penghargaan secara daring dari Departemen Pertanian

Majalah Trubus juga tidak ketinggalan memberikan penghargaan. Ustadz  Hanjar Lukito Jati dianggap Trubus sukses meningkatkan taraf hidup petani di Wonogiri, Kabupaten Jawa Tengah dengan melakukan inovasi fair trade atau pemberdayaan ekonomi yang dilakukannya kepada petani di Wonogiri, Jawa Tengah. Atas prestasinya tersebut, dirinya dianugrahkan penghargaan Trubus Kusala Swadaya 2019 yang digelar bertepatan dengan ulang tahun ke-50 majalah Trubus.

Hanjar Lukito Jati saat mendapat penghargaan dari Trubus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan