Kisah Alumni

Masuk Gontor Usia 27th, Begini Kisah Perintis Kampung Inggris, Pare, Kediri

Kisah Sepatu Hilang di Gontor

Pada saat kelas 2 semua santri wajib olah raga lari, dan yang tidak punya sepatu harus berlari tanpa alas kaki. Kalend saat itu tidak punya sepatu tapi tidak mampu berlari tanpa sepatu. Maka dia berusaha keras membeli sepatu Jepang.

Sehabis lari, dia simpan sepatunya dan setelah keluar, sepatu itu pun hilang. Kalend marah besar dan sebagai santri paling tua dia melapor ke pos pengamanan dijaga oleh santri. Kalend mengeluarkan semua kemarahannya kepada petugas jaga sampai dia tidak bisa lagi ucapan yang bisa dia ucapkan.

Semua petugas jaga pada diam, tidak satu pun yang bersuara. Setelah Kalend diam, maka petugas jaga angkat bicara dan yang bicara adalah petugas yang paling kecil. Si kecil dengan perlahan berkata,

Kakak, maafkan kami kakak, kita disini tidak bisa menjaga semua sepatunya orang kakak, masing-masing jaga sepatunya kakak.

“Di Pondok ini semua orang mau baik kakak, tapi tidak semua orang baik-baik kakak. Ada teman-teman kita dulunya anak-anak yang nakal lalu masuk disini dan kebiasaan itu masih dibawa kesini kakak. Jadi masing-masing kita jaga sendiri sepetunya dan supaya tidak hilang agar ditulis namanya.”

Mendengar nasehat si kecil itu, lalu Kalend tersadar dan malu sendiri.

Dia berpikir inilah mungkin yang dikatakan orang, kalau belajar 2 tahun saja di Gontor anda akan keluar jadi orang yang hebat.

Keluar Gontor Belajar kepada Alumni Gontor

Setelah Kalend berada pada kelas 5 mulailah dia menyadari pentingnya bahasa Inggris, dan pada saat yang sama biaya sekolah semakin menipis dan tidak mencukupi untuk bisa selesai di Pondok Pesantren Gontor.

Maka keluarlah ia dari Gontor setelah menempuh pendidikan 4 tahun 9 bulan.

Keluar dari Gontor, Osein bingung akan kemana. Karena untuk pulang kampung ia tidak mempunyai uang sama sekali.

Akhirnya, dia terpaksa harus tetap tinggal di Jawa. Di tengah kebingunan, dia diberitahu oleh salah satu temannya bahwa di Pare ada seorang kyai yang juga lulusan Gontor, yang menguasai delapan bahasa. Namanya, K.H. Ahmad Yazid yang tinggal di Desa Singgahan.

“Saya kemudian mendengar ada kyai di Pare yang menguasasi 9 bahasa. Saya ingin belajar dari beliau,” katanya.

Kalend tertarik untuk belajar ke sana. Setelah sampai di Pesantren Darul Falah asuhan Kyai Yazid itu, dia kembali dapat mengenyam pendidikan bersama para santri lainnya.

Baru 5 bulan Belajar, Disuruh Mengajar

Ketika baru 5 bulan belajar bersama Kyai Yazid, Osein mendapati takdir yang menjadi awal ia menjadi tenar seperti sekarang.

Pada suatu kesempatan, ada dua orang bertandang ke pesantren tersebut. Tamu itu adalah dua mahasiswa dari IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mendalami bahasa Inggris demi persiapan ujian kampus kepada Ustadz Yazid

Tapi sayang, kyai sedang keluar pergi ke Majalengka. Sehingga kedua tamu itu ditemui oleh Nyai Yazid. Setelah menyampaikan keperluannya, Nyai Yazid menyuruh mereka untuk belajar kepada Kalend. Mungkin Nyai Yazid sudah memahami kalau Kalend memang mahir berbahasa Inggris berbekal kebiasaan berbahasa Inggis di Gontor dan 5 bulan belajar bersama Kiai Yazid.

Masih merasa kaget, Kalend Osein yang saat itu membantu membersihkan masjid, terpaksa menemui kedua tamu itu.

Ia lalu meminta kedua mahasiswa itu menunjukkan buku teks yang digunakan. Namun mereka hanya membawa buku kosong dan lembar contoh soal. Dosen mereka mengatakan, bila menguasai 70 persen soal, mereka akan lulus ujian bahasa.

“Setelah saya lihat soalnya, ternyata saya bisa menjawab. Saya pun bersedia mengajar mereka. Kemudian, selama lima hari lima malam, saya mengajar mereka. Fokusnya untuk menjawab soal, bukan yang lain. Dengan modal itu mereka berani menempuh ujian,” katanya.

Kabar baiknya, keduanya lulus ujian bahasa. Sebulan berikutnya mereka kembali menghadap untuk mengucapkan terima kasih. Yang lebih menguntungkan, keduanya juga gencar mempromosikan Kalend muda sebagai pengajar Bahasa Inggris yang “mantap” kepada rekan-rekannya.

“Mereka tidak segan-segan, di kampus lain pun mempromosikan tentang saya. Ini tentu membawa keuntungan bagi saya. Pada sisi lain, saya melihat kalangan mahasiswa saja kesulitan. Sementara saya tahu tentang Bahasa Inggris. Lalu timbullah keberanian untuk mengajar,” katanya.

Beberapa bulan kemudian, berdatangan banyak mahasiswa IAIN dan Tribhakti Kediri, dan Muhammadiyah Kediri untuk belajar pada Kalend. “Saya sampai merasa sungkan dengan guru saya, Kyai Yazid, kok bulan puasa saya mengajar Bahasa Inggris,” katanya.

Mendirikan BEC (Basic English Course)

Lingkar manfaat aktifitas pengajaran Kalend kian meluas. Melihat kesungguhan para mahasiswa, belakangan muncul beberapa anak sekolah di lingkungan sekitar masjid maupun pelajar di wilayah Pare yang ingin belajar Bahasa Inggris pada Kalend.

Ia yang sebelumnya menikah dengan seorang guru dari Pare dan pindah ke kota kecil. Banyaknya orang mencari dia untuk belajar bahasa Inggris, Kalend Osein melihat ini sebagai peluang bisnis. Maka dengan berbekal tanah warisan istrinya, ia mulai membangun BEC.

“Animo saya pun meningkat. Pengajaran kepada masyarakat sekitar pun berkembang. Tahun 1977, saya punya enam orang murid yang unggul. Saya merasa dapat modal. Inilah anak yang bisa mengangkat aktifitas ini. Mereka lalu meminta kelompok belajar ini diberi nama. Singkat cerita, hadirlah nama Basic English Course (BEC),” katanya.

BEC, Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris yang didirikan Ustadz Kalend Osein

Lembaga BEC pun berkembang pesat. Hingga saat ini, jumlah alumninya mencapai belasan ribu orang. Banyak diantara mereka yang kemudian mengikuti jejak sang guru dengan membuka lembaga kursus. Namun banyak juga yang bekerja di sektor formal.

“Inilah tempat saya. Yang penting saya bisa hidup dengan bahasa Inggris. Merupakan anugerah dan pertolongan Allah kami bisa berkembang. Yang penting adalah menjadi orang yang bermanfaat,” katanya.

Ia pun menyakini bahwa dirinya bukan orang yang paling pandai dalam urusan bahasa. “Kalau urusan pintar, di Pare banyak orang pintar sebelum saya. Inilah nasib. Nasib saya ditunjang oleh Tuhan dibolehkan hidup di Pare dengan bahasa Inggris. Dengan modal pas-pasan saya bisa hidup di Pare. Ini terus kami syukuri,” katanya.

Menerapkan Disiplin Tinggi

Berbekal disiplin tinggi dari Gontor, Ustadz Kalend Osein pun menerapkan disiplin yang tinggi kepada murid-muridnya. Dari pengalamannya mengajar ia mempunyai metode sendiri dalam penyampaian materi, dan ia sangat otoriter untuk itu.

“Ke 15 staf tersebut sebagian besar adalah mantan siswa dengan kemampuan mengajar yang saya pilih. Saya memahami kritik tetapi metode saya telah dikembangkan melalui pengalaman. Ya, saya otoriter, saya percaya pada disiplin. Saya tahu apa yang berhasil. Yang terpenting adalah memiliki semangat.” Seperti yang ia sampaikan kepada The Jakarta Post.

Kecamatan Pare menjadi Kampung Inggris

Tentang nama Kampung Inggris, Kalend mengatakan merupakan pemberian para wartawan. “Tahun 1995, aktifitas kami sudah diulas media massa. Namun belum mendapat perhatian secara luas. Mungkin dianggap iseng. Setelah tahun 2000, barulah mulai ditanggapi secara luas,” katanya.

Masyarakat pun mulai tertarik dengan predikat itu. Warga yang pro, seperti para PKL, begitu semangat belajar. Secara berkelompok mereka belajar. Aktifitas pembelajaran pun semakin meluas. Sedangkan warga yang kontra, merasa julukan Kampung Inggris bakal membebani mereka yang tidak menguasainya.

Sebuah sudut di Kampung Inggris Pare, Kediri

“Nah, mungkin wartawan itu melihat tukang becak dan penumpangnya ngobrol bahasa Inggris. Juga pemilik warung dengan pengunjungnya. Mereka kagum lalu memberi predikat itu. Padahal besar kemungkinan tukan becak, pedagang, dan warga itu pernah ikut belajar,” katanya.

Ada pula media televisi yang memberikan predikat tersebut karena banyaknya muncul lembaga kursus bahasa Inggris. “Saat ini jumlahnya sudah mencapai 200 lembaga lebih. Ini barangkali satu-satunya kecamatan se Indonesia yang punya lembaga kursus sebanyak itu,” katanya.

Pesan Kiai Sahal Bekal Menghadapi Pandemi

Saat pandemi ini berlangsung, kampung Pare pun mengalami imbas yang sangat signifikan. Seluruh lembaga kursus di kampung itu berhenti total dalam mengadakan dan menerima murid sejak bulan April 2020.

Belum adanya keputusan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri untuk membuka kembali Kampung Inggris di Pare, membuat Kalend Osein kecewa. Setelah empat bulan ditutup pemerintah, sampai sekarang belum ada solusi untuk Kampung Inggris yang berdiri sejak 1977.

Berbekal pesan dan nasehat dari Kiai Sahal ia nekat membuka kembali lembaga kursusnya namun tetap mengutamakan protokol kesehatan, walau beresiko ia diperkarakan.

“Saya nekat buka saya Agustus. Nggak takut saya. Kalau memang saya melanggar, penjarakan saja saya. Karuan umur saya juga sudah 75 kok!” ungkap Kalend. Kalimat ini muncul saat ia mengumpulkan Forum Kampung Bahasa (FKB) di Basic English Course (BEC).

Tekad Kalend pun semakin bulat ketika ia mengingat pesan KH Sahal Ponpes Gontor. “Saya ingat kata-kata Pak Sahal. Orang hidup punya risiko, maka kalau dalam hidup punya prinsip, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, kalau takut, mati saja. Maka saja dengan berpikir itu, saya beranikan Agustus jalan. Risiko saya hadapi,” tegasnya.

Kalend mengakui jika ia akan menerapkan anjuran protokol kesehatan dari pemerintah. “Tapi saya juga punya persyaratan secara umum menurut peraturan pemerintah, selaku rakyat Indonesia kita taati. Anjurkan masker, anjurkan cuci tangan, jaga jarak, mau apalagi. Ada tambahan prosedur dari saya, setiap orang anak yang baru masuk tolong bawa surat keterangan sehat dan keterangan dari keluarga bahwa mereka juga ikut bertanggungjawab, ketika sewaktu-waktu sakit,” kata Kalend.

Pada sisi pembelajaran, Kalend meyakini bahwa taqwa dan keimanan kepada Ilahi membawa banyak kemudahan dalam menuntut ilmu. “Yang Maha Memiliki Ilmu adalah Tuhan. Bagaimanapun manusia belajar, kalau ingin ilmunya bermanfaat dan rejekinya barakah, maka jangan jauh-jauh dari Sang Maha Pintar dan Maha Kaya, dekatilah,” katanya. (*)

Previous page 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan