Kabar PondokTokoh Islam

Komplit! Pemikiran Kiai Imam Zarkasyih Tentang Kepondokmodernan

Artikel Ilmiah Dr. Moh. Nurhakim, Dosen Senior UMM yang berjudul: Imam Zaraksyih dan Pembaharuan Pesantren: Rekonstruksi Aspek Kurikulum, Manajemen dan Etika Pendidikan

Kiai Haji Imam Zarkasyih adalah tokoh besar nasional, khususnya dalam bidang pendidikan. Beliau dianggap sebagai Toloh Pembaharu Pesantren dengan konsep Pondok Modernnya. Pemikirannya sering menjadi kajian ilmiah banyak peneliti pendidikan Islam.

Berikut adalah tulisan lengkap seorang Dosen Senior Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Moh. Nurhakim yang kami kutip dari website Docplayer

Pendahuluan

Di antara sekian tokoh ulama yang memiliki perhatian khusus dan berkecimpung langsung terhadap pengembangan pesantrendi Indonesiaadalah KH. Imam Zarkasyi. Berdasarkan pengamatan dan studi awal (Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000), tokoh ini memiliki ide-ide pengembangan dan pembaharuan pesantren yang kemudian disebut dengan pesantren modern. Bahkan, tak hanya memiliki ide-ide cemerlang, tetapi beliau juga telah membuktikan diri sebagai tokoh yang berhasil memimpin institusi pendidikan pesantren DarusSalam Gontor Ponorogo yang terkemuka dan memiliki pengaruh yang luar biasa di Indonesia, bahkan di manca negara.

Sangat tepat jika ide-ide serta pengalaman-pengalamannya bidang pembaharuan pendidikan Islam khususnya pesantren dikaji kembali untuk membangun teori-teori pendidikan Islam modern.

Salah satu ide sentral tokoh ini yang dirasakan berpengaruh sangat kuat terhadap dunia pendidikan Islam adalah pembaharuan institusi pesantren. Pesantren yang selama ini diidentikkan dengan dunia serba tertinggal dan tradisional, beliau rubah menjadi pesantren yang memiliki karakter tradisi dan menerima modernitas.

Namun demikian, yang perlu digali lebih lanjut dari pemikirannya, adalah di mana letak kekhasan pemikiran pembaharuan terhadap pesantren oleh tokoh ini di tengah-tengah banyaknya pemikiran serupa dalam pendidikan Islam sezamannya.

Tulisan ini akan difokuskan pada usaha menggali dan merekostruksi pemikiran Imam Zarkasyi yang masih berserakan khususnya dalam bidang pembaharuan pesantren. Lebih lanjut, tulisan ini hanya akan membahas aspek-aspek: problem pendidikan Islam dan solusinya, kurikulum, kelembagaan pesantren modern, menejemen pesantren, dan peningkatan mutu proses belajar mengajar.

Guna menggali dan merekonstruksi pemikiran Zarkasyi, penelitian ini menggunakan sumber-sumber kepustakaan baik yang primer maupun sekunder yang terdapat dalam buku, jurnal,majalah, dan dokumen yang belum berpublikasi. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode yang disebut oleh Yuyun S. S. (1995) analitis kritis.

Sosok Pribadi yang Lengkap

Imam Zarkasyi dilahirkan di Gontor Ponorogo pada tanggal 21 Maret 1910, dan meninggal dunia pada tanggal 30 Maret 1985. Beliau meninggalkan seorang istri dan 11 anak (6 laki-laki dan 5 perempuan). Beliau adalah putra bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama R. Santoso Anombesari yang dikenal sebagai keturunan elit Jawa, dan merupakan generasi ketiga dari pimpinan Pondok Gontor pertama, sekaligus generasi kelima dari Pangeran Hadiraja Adipati Anom, putra Sultan Kesepuhan Cirebon. Sedangkan ibunya bernama Siti Partiyah, keturunan Bupati Suriadiningrat yang terkenal pada zaman Mangkubumen dan Penambangan (Amir Hamzah, 1996: 597).

Belum genap usia sepuluh tahun, di sekitar tahun 1918, Imam Zarkasyi telah menjadi yatim. Ayahnya meninggal dunia di saat kondisi pondoknya sangat mundur dan belum memiliki generasi penerus. Dengan demikian, Imam Zarkasyi diasuh oleh sang ibu. Melalui pendidikan yang dilakukan ibunya itulah ia memperoleh dasar-dasar pendidikan agama serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Pesan ibunya yang mengatakan bahwa “kamu harus menjadi alim dan salih” itulah pesan dan wasiat ibunda, Nyai Santoso, yang selalu diingat sekaligus dilakukan oleh Imam Zarkasyi (Imam Zarkasyi, 1996: 5-9).

Ketika ibunya meninggal dunia pada tahun 1920, Imam Zarkasyi mulai belajar agama di pondok pesantren Joresan. Sorenya belajar di pondok dan paginya belajar di desa Nglumpang. Kitab-kitab yang diajarkan di Pesantern tersebut diantaranya adalah Ta’limu al-Muta’allim, As-Sullam, Safinatun-Najah, danTaqrib. Setelah selesai sekolah Imam Zarkasyi melanjutkan studinya ke sekolah Ongko Loro di Jetis. Pelajaran utama di Pesantren ini adalah tauhid, khatmu al-Qur’an, berzanji, dan khitabah.

Setelah belajar di sekolah OngkoLoro, ia melanjutkan studinya di pondok pesantren Jamsarem, Solo. Masa selama itu benar-benar dimanfaatkannya seoptimal mungkin untuk menimba ilmu dan pengalaman yang sebanyak-banyaknya. Ketekunan itu membuat Ustadz Al-Hasyimi yang berpikiran maju memandangnya sebagai seorang pemuda potensial. Sekaligus juga belajar di sekolah Mambaul Ulum di kota yang sama yaitu Solo (Amir Hamzah, 1996: 20).

Ketika berhasil menyelesaikan pendidikannya di Solo, Imam Zarkasyi meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat sampai tahun 1935. Setelah tamat belajar di tempat itu, ia diminta oleh gurunya, Mahmud Yunus untuk menjadi direktur perguruan tersebut.

Namun Imam Zarkasyi hanya dapat memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut selama satu tahun, dengan pertimbangan meskipun jabatan itu cukup tinggi, tetapi ia merasa bahwa jabatan tersebut bukanlah tujuan utamanya setelah menuntut ilmu di tempat itu.

Imam Zarkasyi dinilai oleh Mahmud Yunus memiliki bakat yang menonjol dalam bidang pendidikan, dan Mahmud Yunus juga melihat bahwa Gontor lebih memerlukan kehadiran-nya. Di samping itu, kakaknya Ahmad Sahal yang bekerja keras mengembangkan pendidikan di Gontor tidak mengizinkan Imam Zarkasyi berlama-lama berada di luar lingkungan pendidikan Gontor. Sehingga dengan demikian, Imam Zarkasyi menyerah-kan jabatannya kepada Mahmud Yunus, dan ia pun kembali ke Gontor.

Selain di Pondok pesantren Modern Gontor, Imam Zarkasyi mengabdikan dirinya untuk bidang pendidikan, juga untuk bidang kegiatan sosial kemasyarakatan dan kenegaraan. Pada tahun 1943 ia diminta untuk menjadi kepala Kantor Agama Karesidenan Madiun. Pada masa pendudukan Jepang, ia pernah aktif membina dan menjadi gurudi barisan Hizbullah di Cibarusa Jawa Barat.

1 2 3 4 5Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan