Kolom Ustadz Oky

Ustadz Oky: TENTANG WASAILUL IDOH (ALAT PERAGA)

By Oky Rachmatulloh

Wasailul Idoh atau Alat peraga berperan penting dalam system pengajaran di Gontor. Bukan karena Gontor ini pelajarannya penuh penelitian, tapi karena pengajarannya menerapkan metode direct method. Artinya pengajaran dengan bahasa asing di Gontor, dilarang keras memberitahu artinya dalam bahasa Indonesia kecuali amat sangat terpaksa. Maka jika ada yang menterjemahkan kalimat-kalaimat dalam bahasa Indonesia, maka itu termasuk pelanggaran serius dalam mengajar di Gontor.

Maka itu, diusahakan pengajar membawa alat peraga ke dalam kelas. Kalau mau menunjukkan arti kata ‘MIKNASATUN” (Sapu) maka bawalah sapu ke kelas, lalu sampaikan “Hadzihi Miknasatun” (Ini sapu) berkali-kali. Kalau ada santri yang kemudian bertanya “Miknasatun artinya sapu ust?” Maka mengangguklah dengan senyum, tapi jangan mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia. Demikian juga jika ingin menerangkan “Tholasatun” (penghapus) maka bawa pengapus ke kelas lalu dengan cara yang sama dengan cara diatas.

Kalau benda yang ingin diternagkan tidak bisa di bawa? Seperti JABALUN (gunung) misalnya, itu bagaimana? Maka bawalah gambar ke kelas. Tunjukkan bahwa JABALUN itu yang ada di Gambar, sekali lagi tanpa menyebut makna dari JABALUN itu dalam bahasa Indonesia. Jika ada santri yang bertanya “JABALUN itu gunung ust?” jawab dengan senyum dengan sebuah kata “Zih anta…dzalika ma’nahu” (Betul kamu itu maknanya) tanpa menyebut arti JABALUM dalam bahasa Indonesia.

Lalu bagaimana kalau yang ingin kita terangkan adalah Kata kerja? Misalnya “Kataba-Yaktubu” (menulis)? Maka praktekanlah seperti orang menulis, para santri akan bersahut-sahutan menyebut dalam bahasa Indonesia apa arti kata KATABA-YAKTUBU itu, dengarkan saja, itu boleh dan wajar. Yang tidak boleh adalah Guru menyebut bahasa Indonesia. Sampai ada yang menyebut “Menulis Ust…!!” sekali senyum dan anggukkan kepala lalu pujilah santri tersebut. Karena pujian dari Guru akan membuat para santri berlomba-lomba menjawab pertanyaan dari kita.

Kenapa Guru tidak boleh menterkemahkan ke dalam bahasa Indonesia apa-apa yang belum diketahui murid? Karena manusia cenderung mengikuti apa yang dilihat, bukan apa yang didengar. Maka penterjemahan Guru bukan Cuma membuat pelajaran menjadi membosankan, tapi juga membuat murid mati akalnya. Karena pasif mendapat terjemahan dari Guru. Sebagaimana pengelaman KH Imam Zarkasyi ketika belajar Bahasa Arab dulu (Pencetus Taqriqah Al-Mubasyiroh (Direct Methode).

Kenapa memuji itu penting? Karena yang kita ajar itu manusia yang secara naluriah sangat senang untuk dipuji. Maka pujian yang tidak berlebihan itu memang salah satu model pengajaran yang sangat dianjurkan.

Wah, melelahkan sekali cara mengajar seperti itu. Guru harus bawa alat peraga hanya untuk menerangkan satu kata saja, atau Guru harus parktik untuk mengajarkan kata kerja kepada para muridnya. Para Guru capek dong? Memang, karena kita adalah Guru. Tugas kita memahamkan murid, bukan memberitahu murid.

Jadi guru harus aktif, produktiif, serius tapi tidak lupa juga harus humanis. Dulu di Gontor, KH Syamsul hadi Abdan pernah berkata :

“Itu kami sediakan kursi dan meja guru di kelas, itu untuk guru-guru yang sudah sepuh, yang sudah payah. Bagi yang masih muda-muda, guru-guru yang masih segar, sangat dilarang duduk di kursi itu. Harus bergerak, harus berteriak, harus aktif….”

Ah…wasailul idoh dan Gontor…kembali membawaku terbang ke kampong penuh kenangan itu…21 tahun yang lalu, ketika kata-kata itu aku dengar…Shodaqta ya Ustadzi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan