Berita AlumniInspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Dr. Taniem, Dokter Alumni Gontor yang Sempat Lulus Seleksi Al Azhar

Di kalangan santri dan alumni Gontor dan juga walsantor terkenal pameo “yahanu“: “Menantu Terbaik adalah Alumni Gontor“. Sedangkan diluar pondok, sudah lama menjadi idaman para orangtua bahwa salah satu Menantu terbaik adalah dokter. Lalu bagaimana jika dua pameo ini bergabung: Alumni Gontor dan juga seorang Dokter? Ini mungkin ada pada sosok dr. Muhammad Taniem Nawawi. (Hehehe maaf Tadz). Siapa dr. Taniem?

dr. Taniem Nawawi saat membuka posko kesehatan di Silatnas 2018

Lahir di Mekah, Besar di Makasar

Saat mencari sumber berita tentang IDAGI, walsantornews.com menghubungi dr. Taniem di sela-sela kesibukannya sebagai dokter. Nama ini muncul setelah ramai diberitakan media massa tetang keterlibatan ratusan alumni Gontor yang berprofesi sebagai dokter yang tergabung dalam IDAGI, yang membantu Pondok dalam penanganan wabah Covid 19. Dan dr. Tamiem adalah yang saat ini mengemban amanah sebagai ketua IDAGI.

Satu hal yang menyenangkan ketika menghubungi nara sumber yang merupakan alumni Gontor adalah mereka semua terasa sangat akrab seolah-olah sudah kenal lama, padahal baru saat itu sempat berbicara langsung. Dan mereka juga terasa humble, sangat membumi padahal sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi umat. Termasuk diantaranya dr. Taniem.

Beliau bernama lengkap Muhammad Tamiem Nawawi, lahir di Mekah, Arab Saudi pada tanggal 11 Juli 1990. Namun Beliau berdomisili dan menghabiskan masa kecilnya di Makasar. Karena terlahir dari keluarga yang taat beragama yang berasal dari kota di ujung selatan Pulau Sulawesi.

Lulus dari SD Impres Kantinsang Makasar tahun 2002, ia dikirim orangtuanya untuk melanjutkan pendidikan agamanya dengan dimasukan di pesantren di Pulau Jawa. Dan Gontor menjadi pilihan.

Ditempatkan di Gontor 3 Darul Ma’rifat Kediri

Sebagaimana capel yang sempat mendapat pendidikan persiapan capel di Gontor 2, Taniem kecil juga sempat mengecap suasana pondok cabang itu. Dan saat dinyatakan lulus, Beliau kemudian ditempatkan di Gontor 3 Kediri.

Di Darul Ma’rifat Gontor 3 Kediri, Taniem termasuk santri yang cerdas karena senantiasa berada di kelas “positif”. Walau bagus secara akademis namun Beliau tidak ketinggalan aktif dalam beberapa kegiatan dan penugasan di kampusnya.

Beliau sempat menjadi kader Penerimaan Tamu, Kader Kopda (Koperasi Dapur) dan pengurus Kopda.

Saat Yudisium kelas 6, ia dipindahkan ke Gontor 1 dan aktif dalam kegiatan Takmir Masjid. Dan lulus dengan mendapat amanah pengabdian di Gontor 7 Kendari (sekarang Gontor 6) selama setahun.

Sempat Lulus dalam Seleksi Beasiswa ke Al Azhar

Setelah lulus dan selesai pengabdian, Pemuda Taniem sangat ingin melanjutkan pendidikan agamanya sebagaimana keinginan sebagian besar alumni Gontor yaitu ke Al Azhar atau Madinah.

Sambil menanti pengumuman dua universitas besar itu, untuk mempersiapkan alternatif jika tidak diterima, Taniem disarankan orangtuanya mengikuti test kedokteran di Universitas Muslim Indonesia, Makasar. Untuk persiapan itu, ia mengambil kursus-kursus persiapan terutama untuk persiapan ujian masuk ke fakultas kedokteran itu.

Akhirnya, Taniem diterima masuk fakultas kedokteran tersebut, walau menjadi dokter bukan pilihan utama Taniem, namun dia menjalani dengan sungguh-sungguh.

Tidak berapa lama, ternyata dalam pengumuman kelulusan beasiswa Al Azhar, namanya termasuk dalam barisan mahasiswa yang lulus. Namun dengan pertimbangan yang dimusyawarahkan kepada keluarganya, Taniem memilih bertahan di Fakultas Kedokteran.

Semasa menjadi mahasiswa, keahliannya berorganisasi di Pondok menjadi bekalnya untuk aktif dalam kegiatan kampus. Terbukti dia dipercaya sebagai Sekum Komisariat HMI Kedokteran UMI Makassar.

Seabreg Amanah saat Berprofesi sebagai Dokter

Bekal tempaan mental khas Gontor seperti kepemimpinan, organisasi dan etos kerja, mengantar pemuda yang kini sudah menjadi dokter dengan seabreg amanah yang diemban.

Selain menjadi Sekum Komisariat HMI, dr Taniem juga sempat mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Tim Bantuan Medis 110, Direktur Pengabdian Masyarakat Bakornas LKMI PB-HMI, Koordinator Humas PDUI Sulsel, Koordinator Diklat IDI RSDC Wisma Atlet.

dr. Taniem saat berfoto bersama Ustadz Dien Syamsuddin

Dalam hal kepedulian terhadap kasus pendemi Covid 19 yang menimpa Indonesia, dr. Taniem sempat bergabung dengan tim sukarelawan penangan Covid di RSDC Wisma Atlet Kemayoran jakarta. Sebuah peran yang sangat mulia karena bertaruh dengan nyawa dalam menghadapi virus.

Karena pengalamannya, kini dr. Taniem diamanahkan sebagai KOordinator tim penyeleksi Sukarelawan. Menurut Beliau masih ada alumni Gontor yang bersama beliau dalam tim tersebut.

Berikut Biodata lengkap Beliau:

Nama : Muhammad Taniem. Nawawi
Tempat, tanggal lahir : Mekkah, 11-07-1990
Asal : Makassar

Pendidikan :
SD Inpres Kantisang Makassar
Pondok Modern Gontor 2
Pondok Modern Gontor 3 2002-2007
Pondok Modern Gontor 1 2007-2008
Pengabdian Gontor 7 Kendari 2008-2009
Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia, Makasar
Magister Manajeman Rumah Sakit di Esa Unggul Jakarta

Riwayat Organisasi di Pondok :
Kader Bag. Penerimaan Tamu
Kader Kopda
Bagian Kopda
Bagian Ta’mir Masjid
Koor. IDAGI

Riwayat Organisasi di Kampus dan Profesi:
-Sekum Komisariat HMI Kedokteran UMI Makassar
-Wakil Ketua Tim Bantuan Medis 110
-Direktur Pengabdian Masyarakat Bakornas LKMI PB-HMI
-Koord. Humas PDUI Sulsel
-Koord. Diklat IDI RSDC Wisma Atlet

Pesan dan Motivasi dari Ustadz dr. Taniem

Disela obrolan kemarin, dr Taniem juga menjelaskan bahwa sebenarnya Gontor sudah banyak membekali santri-santrinya dengan bekal mental yang sangat baik untuk bisa diterapkan saat sudah keluar dari Pondok.

“Sebenarnya pondok itu sudah memberi pendidikan mental yang sangat baik, kita tinggal mempraktekannya dalam masyarakat. Semua pendidikan di Gontor adalah berguna,” demikian jelas Beliau.

Saat ditanya, apa bekal dari pondok yang bisa digunakan di pendidikan lanjutan yang tidak berhubungan dengan pendidikan agama seperti fakultas Kedokteran dan lain-lain, dr. Taniem menjelaskan bahwa mental Gontor itu yang paling penting dan juga kebiasaan menghafal di Pondok.

“Selain memang mental sudah tergembleng di Gontor, bekal kebiasaan sering menghafal sangat membantu dalam pendidikan di fakultas kedokteran. Banyak sekali hafalan tentang istilah-istilah kesehatan dan kedokteran dan di Gontor kebiasaan menghafal itu sudah menjadi kebiasaan.” tambah Beliau.

Masya Allah, semoga pesan ini bisa disampaikan walsantor kepada putra-putrinya untuk tidak menyia-nyiakan pendidikan di pondok terutama dalam hal pembentukan karakter atau mental dan juga kebiasaan menghafal.

Masih Membujang Saat Menginjak usia 30 Tahun

Saat ditanya apakah Ustadz dr. Taniem sudah berkeluarga, ternyata dokter ganteng ini belum berkeluarga.

Dan tertawa lepas keluar dari mulutnya ketika walsantornews.com iseng menawarkan jasa perjodohan, karena ternyata calon pun Beliau belum punya. (hehehe, afwan Tadz )

Mungkin karena kesibukan dan juga kepeduliannya yang besar terhadap kesehatan masyarakat dan orang banyak, penyempurna sebagian agama itu belum sempat diprioritaskannya.

BTW, Alhamdulillah tabarokallah, penulis merasa sangat bersyukur bisa berkenalan dengan orang-orang hebat yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi terutama untuk sedikit mengobati kegelisahan walsantor akan ketidakbisaan mengunjungi putra-putrinya karena suasana pandemi ini

Bisa jadi setelah ini mungkin ada beberapa walsantor yang akan menghubungi admin walsantornews.com guna menanyakan nomor kontak Ustadz dokter Taniem Nawawi, (hehehe, bercanda Tadz 🙏🙏🙏).

2 Comments

  1. Berita² di walsantornews bnyk memberi inspirasi bagi kami sbg walsantor. Km jd lebih bnyak tahu tentang Gontor & alumni²nya.
    Smoga kel besar Gontor selalu dilindungi Allah SWT…. Aamiin …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan