Kisah Lucu

Saat Senapan Sniper Galil Galatz Kaliber 7,62 mm Mengarah ke Qo’ah Oleh Seorang Santri ..

Jika semua alumni Gontor punya keinginan menulis dan dibukukan, bisa jadi akan banyak ditemukan di toko-toko buku tulisan tentang pengalaman mereka selama nyantri. Karena kisah mereka memang unik-unik, lucu komplit dengan tawa, sedih, jahil, iseng dan lain-lain ditambah tidak ketinggalan prestasi.

Bahkan dari seorang Ustadz Ahmad Fuadi saja, bukunya menjadi best seller bahkan tersusun menjadi trilogi yang laku keras berikut dilayarlebarkan. Belum seorang Hanka (nama pena dari Ustadz Muhammad kamal Ihsan) penyabet penulis terbaik di Islamic Book Fair dan bukunya sempat ditawar oleh sineas Mesir untuk difilmkan, dan juga alumni lain.

Tapi Gontor bukan “Pesantren khusus Calon Penulis”, sehingga buku yang tertulis dari alumni insya Allah adalah buku-buku yang terbaik yang memang diniatkan untuk sebuah karya terbaik.

Hubungan dengan sniper apa?

Oh iya itu … hehehe bentar ..

Ini kisah 4 orang santri yang mendapat amanah M4 (Manager of Class 4) saat kedatangan tamu istimewa di Gontor, Bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla tahun 2016. Ini salah satu kisah lucu mereka. (diceritakan oleh M. Azmi dan diilustrasikan lagi oleh walsantornew.com.

Rayon saat itu sedang sepi. Seluruh santri kelas 1 hingga kelas 6 sedang akan menyambut kedatangan wakil presiden Yusuf Kalla, mereka berkumpul di depan gedung Qo’ah. Dari pagi hingga menjelang zhuhur, seluruh rayon di kampus Gontor 1 hanya dijaga oleh sekira 42 santri M4, Manager of Class 4. 42 santri yang terpilih sebagai mudabbir saat masih duduk di kelas 4.

Di Gedung Saudi, suasana sepi itu membuat beberapa M4 terkantuk-kantuk, beberapa malah kepalanya sudah berbantalkan meja kayu. Sebagian ada yang membaca buku. Beberapa orang mulutnya seperti berkomat-kamit, mungkin sedang menghafal sesuatu. Sebagian yang lain berbincang-bincang sambil mengisi waktu, sebagian lagi sedang berkeliling mengecek lemari santri yg tidak dikunci.

Eh, kaifa lau nal’ab kuroh?,” kata salah seorang dari mereka kepada teman-temannya mengajak bermain bola. empat orang menanggapi sementara yang lain enggan. Dalam cuaca panas dan stelan khas M4 saat menjaga rayon yang memakai jas tebal pasti akan terasa tidak nyaman bermain bola walau saat itu rayon mereka sedikit teduh karena sinar matahari tertutup gedung Saudi.

Tapi tidak bagi 5 orang santri M4 itu. Mereka asyik bermain bola. Baru sebentar peluhnya sudah harus sering diseka dari wajah-wajah mereka.

Tiba-tiba terdengar suara protokol dari qo’ah:
“Diberitahukan kepada seluruh santri dan keluarga besar Pondok Modern Darussalam bahwa rombongan Bapak Wakil Presiden akan segera tiba …”

5 orang itu tetiba berhenti bermain bola.

“Eh, kaifa lau nanzhur?” ajak salah satu dari mereka, tiga orang temannya setuju sedang yang satu nampak ingin beristirahat sejenak dari penat bermain bola.

Yang 4 bergegas naik ke lantai paling atas gedung Saudi. Tempat ini sering dijadikan “studio alam” pagi sineas-sineas muda Darussalam untuk kegiatan shooting film pendek atau video klip lagu.

Sudut di Gedung Saudi 6 dimana Sniper siaga dalam pengamanan wakil Presiden Yusuf Kalla

Tiba di lantai paling atas itu, mereka melihat 2 orang TNI sedang berbincang di sudut barat Gedung Saudi 6 di dekat basecamp Pasus Gudep 15089-05. Yang satu sedang menghabiskan sarapannya yang mungkin terlambat sedang yang satu sedang menimang-nimang sepucuk senjata laras panjang sambil membersihkannya. Mata kedua TNI itu spontan melihat ke tiga santri M4 yang baru saja naik itu.

“Lho, ga ikut kumpul Dek?” tanya salah satu dari mereka.

Para santri yang tidak menyangka di sana ada dua orang TNI menjawab dengan sedikit kaget.

Eh nggak Pak, kami ditugaskan menjaga rayon,” jawab salah satu dari mereka.
Lho ngapain dijaga? emang rayonnya bisa kabur? “ kata salah satu tentara itu bercanda.
Ehng, sudah tugasnya Pak,” sanggah mereka.

4 santri ini tadinya berniat ingin melihat dari kejauhan kedatangan rombongan wakil presiden karena dari lantai paling atas gedung Saudi bisa terlihat suasana keramaian di depan gedung qo’ah. Dengan adanya dua orang tentara itu mereka melihat kesempatan yang jarang-jarang terjadi.

Mata mereka menatap sebuah senjata yang sebelumnya hanya bisa dilihat di film atau dimainkan di game-game shooting.

Kedua tentara itu menyadari keingintahuan 4 santri itu.

“Baru pertama lihat senapan sniper ya?” tanyanya menggoda. “Ayo coba dipegang. Kapan lagi bisa”

“Boleh Pak?” tanya mereka, tapi tanpa menunggu isyarat mereka langsung memegang senjata itu.

Galil Galatz, senapan andalan sniper Kitaipur (Kompi Intai Tempur) Kostrad TNI AD

Inilah Galil Galatz, senapan andalan sniper Kitaipur (Kompi Intai Tempur) Kostrad TNI AD. Senjata ini mempunyai kaliber 7,62 x 51 mm. Sistem kerja senjata ini mengandalkan gas operated yang mirip digunakan pada senapan serbu AK-47. Sementara pola tembakan hanya bisa melayani single fire. Untuk dukungan amunisi, magasin Galatz berisi 20 peluru. Desain magasin mencomot dari US Stoner-63 Light Machine Gun. Umumnya, Galatz menggunakan teropong bidik Nimrod 6×40 yang punya pembesaran 6x. Galatz diengkapi hardpoint standar untuk dudukan pembidik optik atau night vision sights. Dengan segala asesoris itu maka sangat wajar senjata ini terasa berat ditangan santri.

Wuih berat juga ya,” kata salah satu dari mereka yang kemudian mencoba mengarahkan senjata itu ke arah kerumunan di Qo’ah dan mengeker selayaknya seorang sniper melalui teropong di sisi atas senjata itu. Santri terus mengeker dan membidik sampai dia tersadar diingatkan tentara itu

Jangan ditarik pelatuknya lho, nanti bapak dipecat,” kata tentara itu bercanda, karena sebenarnya senjata itu belum diisi peluru.

“Eh iya Pak,” santri itu langsung sedikit terpucat karena terbersit bagaimana jika dia tidak sengaja menarik pelatuk dan ada korban di sana, hiii …

Kemudian mereka sedikit berbincang, sambil sesekali mencoba alat-alat perlengkapan sniper lainnya seperti teropong standar seorang sniper, tapi salah satu dari empat M4 itu terus memegang senjata, menelitinya. Sedikit-sedikit mencoba mengotak-atik sniper itu. Tapi kemudian dia kaget karena ujung sendal temannya menyentuh dengan keras tulang kering kakinya. Sepertinya para tentara itu sudah mau mulai bertugas. Sambil malu-malu santri yang terakhir memegang senjata memberikan kepada tentara itu.

Kemudian keempat santri itu minta izin untuk kembali kebawah dan para Sniper itu pun segera siap-siap di posisi seperti yang sudah diperintahkan komandannya.

Setiap santri mempunyai kisah sendiri. Inilah kadang yang menjadikan mereka terikat kerinduan dengan pondok.

Catatan:
Standar pengamanan pejabat kelas 1 di negara ini memungkinkan suatu pengkondisian pengamanan perimeter termasuk menempatkan para sniper di lokasi-lokasi tertentu untuk mengamankan pejabat negara atau tamu-tamu penting negara. Pengamanan semacam ini juga pernah diadakan saat Gontor kedatangan Grand Syeikh Al Azhar.

Jenis senjata adalah ilustrasi dari walsantornews.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan