Berita Keluarga BesarKabar PondokPesan Ustadz

Sepenggal Kisah Kezuhudan Kiai Syamsul Hadi Abdan

Tidak ada perjalanan yang lebih indah, dari perjalanan ke Baitullah dan kota Rosulullah Madinah, karena saat itulah kita dapat bersimpuh di depan Ka’bah, Multazam, Roudhoh dan tempat tempat mustajabah lainnya. Saat itulah kita akan merasakan halawatul iman.

Yang lebih indah dalam perjalanan ibadah Umroh Ramadhan tahun 2019 lalu, adalah kami bersama orang tercinta, ayahanda KH. Syamsul Hadi Abdan Rohimahullah. Beliau sudah tutup usia pada 18 Mei 2020.

Sosok Yang Ikhlas

Beliau adalah sosok kiai yang selalu mengedepankan keikhlasan dalam segala gerak dan langkahnya. berjuang li i’laai kalimatillah dan maslahah ma’had yang berada di atas segalanya bagi beliau.

Keseharian beliau penuh dengan kesederhanaan, menunjukkan kezuhudan beliau. Sebuah contoh yang sangat layak untuk kita jadikan figur sang kiai yang selalu dibanggakan dan ditiru oleh para santrinya.

Sejak hari pertama kami tiba di Madinah, beliau minta untuk disamakan dalam segala hal dengan seluruh jamaah yang lainnya, dan jangan ada yang dibedakan. Sehari-hari, beliau habiskan waktu untuk i’tikaf di Masjidilharom dan Masjid Nabawi, bahkan beliau tidak akan pulang ke hotel setelah Shalat isya’ kecuali telah mengkhatamkan tilawah Al-Qur’an setiap hari, sembari mengangkat tangannya. Beliau selalu membasahi lisannya dengan tetesan air mata saat mendo’akan Gontor dan para pejuang pondok yang beliau pimpin hingga akhir hayatnya.

Roudhoh dan Multazam adalah tempat yang paling beliau idolakan, dengan susah payah mengikuti antrian panjang, serta padatnya jamaah Umroh dari seluruh dunia. Diusianya yang ke-75, semangat beliau untuk selalu berada di dua tempat tersebut tak kalah dengan kita kita yang masih kepala tiga.

Senantiasa Menangis Mendoakan Pondok

Ustadz Dr Fairus Subakir Ahmad dan ustadz Rif’at Husnul Ma’afi. MA adalah teman sejatinya saat beliau bersama merasakan nikmat dan manisnya iman, dan beribadah di Roudhoh. Beliau bertiga selalu berlomba lomba dalam beribadah. Tak jarang beliau terlelap sejenak di dalam masjid untuk istirahat kemudian bangun kembali mengajak thawaf sunnah, kemudian istirahat sejenak, kemudian Thawaf Sunnah lagi, sembari menangis dalam berdoa setiap thowaf.

Lalu kami bertanya, “Ustadz antum kok banyak sekali thawaf sunnah, apa tidak lelah, bagaimana kalau kita istirahat di hotel dulu.”

Jawaban beliau, “saya ini menthowafkan pondok dan pejuang pondok, tidak masalah kalau saya harus mati di sini, Njajal Awak Mendah Matio. Perjuangan ini belum sebanding dengan perjuangan para Trimurti yang bahkan hidupnya pun ditaruhkan untuk pondok pesantren,” (sambil meneteskan air mata beliau teringat Almarhum Trimurti, kemudian mendoakan beliau bertiga).

1 2Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan