Profil Wali Santri Gontor

Profil Walsantor: Hadji Kalla dan Ibu Athirah, Pedagang ulet yang Jujur

Kita banyak memiliki alasan-alasan yang membenarkan kegagalan kita dalam berusaha…, Namun sosok suami istri wali santri Gontor ini memberi kita banyak pelajaran, bahwa seorang anak manusia biasa dari lingkungan yang biasa, serta dari tingkat pendidikan yang biasa namun dapat menjadi teladan bagi banyak orang….

Hadji Kalla, Yatim Mandiri

Kalla lahir tahun 1920 di kampung Nipa, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sejak umur tiga tahun, dia sudah hidup meyatim karena ayahnya meninggal dunia. Keadaan itu membuatnya tumbuh sebagai laki-laki mandiri dan berjiwa usaha.

Motivasi untuk menggantikan peran ayah bergejolak di dalam jiwanya. Kemandirian dan jiwa usaha Kalla dibuktikan dengan ikut-ikutan berdagang bersama temannya.

Karena rajin dan ulet, dia pun memperoleh hasilnya pada usia 15 tahun dengan memiliki kios sendiri di pasar Bajoe di Watampone, ibukota Kabupaten Bone.Sebagai pedagang, Kalla sangat hemat dan rajin menabung. Uang hasil berdagang ditabungnya sedikit demi sedikit.

Hingga pada 1936, dia bersama rombongan keluarganya menunaikan ibadah haji ke Mekkah mengunakan kapal penumpang milik pemerintah Belanda.Sepulang dari tanah suci, Kalla memperbaiki tampilan kiosnya dan mengembangkan usaha dagangnya. Dia juga akrab dipanggil Hadji Kalla oleh teman-temannya. Panggilan itu pun melekat pada namanya dan menjadi identitas dirinya.

Athirah, Wanita luar Biasa Di samping Laki-Laki Hebat

Athirah (Istri Hadji Kalla) lahir tahun 1924 di kampung Bukaka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ayahnya Muhammad adalah Kepala Kampung dan mantan penasehat Kerajaan Bone. Ibunya Hj. Kerra adalah seorang pedagang kecil-kecilan sekaligus ibu rumah tangga.

Athirah hidup sederhana dalam keluarga yang ekonominya pas-pasan. Karena pas-pasan itu, Athirah hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. 

Sehari-hari, Athirah bekerja membantu ibunya berdagang dan melakukan pekerjaan rumah tangga: menyapu, mencuci, dan menyiapkan makanan di dapur.

Nikah Muda

Madeng, kakek Hadji Kalla, bersahabat baik dengan Muhammad, ayah Athirah. Keduanya pun memrakarsai perjodohan antara Hadji Kalla dengan Athirah. Hadji Kalla setuju dengan hal tersebut; Athirah sendiri hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan semoga dia diberi suami yang saleh, bertaqwa, dan bertanggungjawab kepada keluarga.

Pada 1937, di umurnya yang ke-17 tahun, Hadji Kalla menikah dengan Athirah yang baru  berumur 13 tahun. Nikah muda memang menjadi kebiasaan orang-orang di kampung jaman dulu.

Menjalankan Usaha Bersama

Selanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Hadji Kalla dan Athirah menjalankan usaha bersama dengan mengembangkan kios mereka di Pasar Bajoe. Jiwa dagang Athirah yang diwarisi dari ibunya sangat membantu Hadji Kalla.Pada 1950, seiring kemajuan usaha, Hadji Kalla dan Athirah membuka Toko Sederhana di Jalan Wajo, Watampone.

Toko tersebut menjual barang kebutuhan pokok dan pakaian: baju, celana, sarung, dan lainnya. Kesibukan keduanya pun bertambah karena di sisi lain juga harus merawat dan menjaga tiga anak mereka yang masih kecil: Nuraini Kalla, Muhammad Jusuf Kalla, dan Zohrah Kalla.

Merantau ke Makassar

Sukses berdagang di kampung, Hadji Kalla dan Athirah memberanikan diri merantau dan berdagang ke Makassar membawa tiga anak mereka. Masa awal di Makassar, keduanya menginap di Hotel Capitol di jalan Riburane, samping stasiun RRI Makassar.

Keputusan merantau ke Makassar dirasa sangat tepat karena pada masa itu terjadi gerakan nasionalisasi perusahaan Belanda. Hadji Kalla pun tidak mau ketinggalan, dia juga membeli tujuh Firma warisan Belanda.Pada 18 Oktober 1952, Hadji Kalla mendirikan perusahaan bernama NV Hadji Kalla Trading Company.

Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, tekstil, ekspor-impor, dan jasa transportasi. Dia mengembangkan usaha tersebut dibantu teman-temannya, diantaranya Hadji Saebe.

Lama kemudian, setelah perusahaan maju, Hadji Kalla membeli satu petak rumah toko (ruko) di jalan Pelabuhan (sekarang jalan Martadinata). Ruko itu kemudian berfungsi sebagai kantor NV Hadji Kalla Trading Company sekaligus rumah tinggal Hadji Kalla dan keluarganya di Makassar.

Hasil usaha yang maju juga dipakai Hadji Kalla untuk berinvestasi. Investasi andalannya adalah membeli tanah di beberapa daerah di Makassar, seperti di jalan Andalas, di daerah Bulorokeng, Sudiang, dan beberapa daerah lainnya.

Suami Istri Pedagang Ulung

Sang istri Athirah juga tidak mau ketinggalan. Jiwa dagang membuatnya turut menjalankan usaha sendiri. Jual beli sarung sutra dan perhiasan menjadi pilihannya. Rumah di jalan Andalas dijadikannya sebagai toko. Selain itu, dia juga menjalankan usaha rental mobil.

Pada 1960-an, ketika Indonesia mengalami krisis, bisnis Hadji Kalla turut mengalami krisis dan bahkan tidak berjalan sama sekali. Di saat sulit seperti itu, usaha dari istrinya Athirah menjadi penopang hidup keluarga.

Di saat sulit seperti itu, usaha dari istrinya Athirah menjadi penopang hidup keluarga

Mempunyai 11 anak

1 2 3Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan