Inspirasi dan Motivasi

Balada Sepatu Butut: Saksi Ke-qonaah-an yang Berhasil di Gontor

Saya tidak tahu walsan secara keumuman tapi saya banyak mendapat cerita dari walsan lain dan juga pengalaman anak sendiri tentang sepatu butut anaknya.

Oh ya, tentang istilah qona’ah:
“Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidakpuas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qanaah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada didirinya adalah kehendak Allah”

Dalam kondisi “normal”, pada anak-anak yang seusia SMP/SMA, diperlukan usaha super extra bagi orang tua untuk mengajarkan qonaah. Anak-anak seusia itu pada umumnya  sangat memperhatikan penampilan diri. Penilaian orang lain atau temannya adalah “ayat suci” baginya (hehehe mungkin tidak semua). Penilaian “penampilan buruk” dari temannya adalah “aib” yang bisa jadi besoknya dia menjadi malu keluar rumah atau pergi kesekolah. Usaha orang tua dalam mengajarkan sikap qonaah ini mendapat ujian berat dengan konten-konten tontonan televisi dan media online yang sulit difilter.

Belum lagi iklan di TV yang mampu menghipno sebagian besar anak muda (mungkin juga sebagian orang tua) untuk merasa gelisah jika ada jerawat satu di wajah, atau kulit sedikit menghitam, atau ada butiran salju di baju hitam (ketombe maksudnya 😁), warna baju yang ga matching, HP yang fiturnya ga komplit dll. Dan konten-konten itu juga berhasil membuat sebagian menjadi tidak gelisah jika telat sholat, atau tidak gelisah ketika anak berkata tinggi pada orangtuanya. Orang tua menjadi tidak gelisah dengan pergaulan anaknya, cara anaknya berpakaian dan lain-lain. Na’udzubillahi min dzaalik.

Degradasi nilai-nilai agama pasti menjadi sebuah keniscayaan jika hal-hal ini dibiarkan. Sebagian orangtua yang menyadari hal ini, sebagian memaksa anak untuk menjadi baik tapi tanpa memberikan keteladanan yang bisa ditiru. Sebagian mungkin berhasil tapi tentu dengan usaha yang ekstra, ekstra segalanya, just name it.

Sedang bagi kita, wali santri Gontor (saya tidak mengklaim semuanya tapi banyak sekali) akan mendapatkan sedikit hadiah aneh anaknya saat liburan pertama dari menempuh pendidikan “hidup” di pondok: salah satunya SEPATU BUTUT.

Bukan sekedar sepatunya, bukan sekedar bututnya, tapi fenomena bahwa tidak ada telepon dari anak mengabarkan sepatunya sudah tidak layak lagi pakai. Padahal hampir setiap minggu dia menelepon orangtuanya. Bahkan anak saya cerita, dia pernah beberapa lama memakai sepatu dengan alas kaos kaki di bawahnya. Whatt!!! Pengen teriak,”Nak, walau ayah bukan orang banyak duit tapi beli sekedar sepatu supaya kakimu terlindungi pasti ayah paksakan Nak buat cari gantinya!”. Tapi si anak santai aja. “Sudah biasa di Gontor seperti itu Yah, bukan Aa aja”. Sihir apalagi ini yang dikasih Gontor 😁 (hehehe mungkin pesantren lain juga sama, tapi ga tau).

Yang lebih parah terjadi pada adiknya. Celana tinggal dua-duanya. Satu dipake maka satu lagi dicuci. Dan dari dua itu hanya satu yang normal, yang satu untaian lebih dari sepuluh peniti mengikat jahitan bagian selangkangannya. Oh ya Allah. Dan itu juga tidak ada kabar berita kecuali pas liburan ibunya mau mencuci pakaian yang jangan bayangkan baunya sebagai oleh-oleh liburan pertama dari Pondok.

Dan hebatnya (atau mungkin anehnya) fenomena ini juga terjadi pada walsan lain yang sepertinya secara ekonomi berkecukupan. Gontor memang aneh (atau hebat 😁).

Ada pesantren lain yang juga bagus, makannya di kantin yang bagus dengan menu 4 sehat 5 sempurna, bajunya diloundrykan, ruangannya ber AC, tapi … ah … saya cukup bangga dengan pendidikan yang sudah ditanamkan Gontor pada anak-anak kami. Pendidikan yang kami belum tentu sanggup berikan pada anak. Bekal kesederhanaan ini kami yakin akan mendidik untuk tidak gampang mengeluh, siap menerima amanat apapun kondisinya, siap berjuang walau tanpa imbalan (tapi kebangetan make jasa alumni Gontor tanpa memberi imbalan, hehehe). Peace ✌✌

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan