Inspirasi dan Motivasi

Hikmah Tersembunyi Saat Santri Menelepon Orangtuanya Sebelum Ujian

Beberapa waktu lalu, anak yang kelas 3 menelepon. Salah satu ceritanya katanya digundul!! 😱 Sebabnya karena main bola saat musim ujian, Waduh!! Langsung memberudul nasehat Bundanya, terutama agar dia taat aturan. Karena saat ujian santri memang wajib fokus. Dan kami orangtuanya disini langsung lumayan lemes mes, khawatir dengan akumulasi hukuman. 😓

Musim ujian sedang berlangsung di Gontor. Ujian di Gontor adalah “sesungguhnya Ujian” bagi segala individu yang terkait dengan pondok: Santrinya (tentu), ustadz bahkan Kiainya, masyarakat sekitarnya, bahkan wali santrinya.

Ujian ini tidak melulu tentang soal-soal dan persiapan belajar, disiplin, kejujuran, dan ketertiban santrinya yang mana juga sudah umum juga di sekolah-sekolah lain (bahkan di Gontor dengan standar yang lebih ketat) tapi juga kondisi miliunya (lingkungan belajar), sistemnya, komitmen, kerja keras, cerdas dan kerja apapun namanya, bahkan tirakat dan ketundukan dalam arti ketauhidan benar benar terasa bagi santri, kiai dan assatidz dan juga wali santri.

Suasana kelas di Santri Gontor Putri

Bagaimana sistemnya atau ujiannya bisa dibaca di artikel lain di Blog ini atau tulisan-tulisan alumni yang lebih berhak menjabarkan. Tapi di sini penulis (walisantri) akan memandang dari sudut lain.

Santri menyempatkan dalam segala aktifitas untuk membaca

Dari sisi wali santri, sudah umum yang terjadi yaitu mereka saling mendoakan terutama di media social dan grup-grup chatting. Bobot ujian di pondok yang sedemikiannya membuat para wali santri mengencangkan doa. Bahkan karena sangat berharap doanya dikabulkan Allah mereka memperbanyak puasa, sedekah, dan sholat malam.

Bahkan ada cerita dari salah seorang wali santri yang mengazamkan diri untuk sedapat mungkin, minimal selama ujian berlangsung, untuk benar-benar menjaga matanya, telinganya, mulutnya dan segala tindakannya bahkan untuk dosa-dosa kecil agar dirinya layak ditolong Allah supaya Allah dapat mengabulkan doa-doanya melancarkan usaha putranya dapat mengerjakan ujian dengan baik.

Wow masya Allah!! Minimal selama 6 tahun dilatih untuk tirakat ini, maka orangtua pun benar-benar nyantri selama putranya nyantri. Luar biasa!.

Di sisi lain, selain belajar, melahap semua materi yang bejibun yang akan diujikan, para santri biasanya akan menelepon orangtuanya minta doa dan dukungan (dan juga menyelesaikan kewajiban membayar SPP sebagai syarat ikut ujian😁). Saat itu wartel mungkin penuh sesak. Walisantri yang kebetulan mudif juga bisa jadi kebagian dipinjam teleponnya oleh santri teman putranya untuk menelepon orangtua sekedar minta doa.

“Tradisi” minta doa ini biasanya dianjurkan oleh ustadznya atau ustadz wali kelas. Jika direnungkan, ternyata hikmahnya sangat dalam.

Menelepon orang tua untuk minta doanya bukan sekedar mengingatkan orang tua bahwa sebentar lagi ujian, atau tentang doa itu sendiri. Karena sesungguhnya tanpa diminta pun orangtua pasti mendoakan dengan segala pengharapan yang besar. Tapi ini tentang mencari “simpati Allah” agar mereka semakin layak ditolong Allah, karena menyadari ketidakberdayaan selain pertolongan Allah dengan menempatkan diri benar-benar sebagai anak dan menempatkan orangtua sebagai “orangtua” yang mereka berkhidmat kepadanya. Ridho Allah adalah ridho orangtua. Ini hakikatnya.

Bagaimana jika anak tidak menelepon? Apakah akan kurang pertolongan Allah?

Belum tentu!! Di sini ada hikmah keadilan ajaran islam. Keadilan Islam itu adalah bukan selalu tentang bagaimana kita diperlakukan tapi juga bagaimana kita memperlakukan.

Musim ujian itu wartel bisa jadi penuh! Antrian bisa jadi lama hingga mendapat giliran. Belum lagi ditambah anak harus mempersiapkan diri untuk menguasai materi pelajaran yang banyak. Maka bisa jadi anak tidak sempat atau bahkan bisa jadi lupa. Apalagi jika ada alasan lain misalnya anak tidak punya uang untuk menelepon. Jadi apakah “kualitas simpati Allah” akan berbeda?

Insya Allah masih bahkan tetap sama. Berarti tinggal fokus tindakan pada orangtua. Orangtua mesti mengikhlaskan kepada Allah apa yang tadinya diharapkan untuk menjadi nilai plus yang anak lakukan. Ikhlaskan. Ridhokan. Jangan meragukan kenapa anak tidak menelepon. Jangan terlalu bebankan anak agar “harus” menelepon. Permaklumkan. Orangtua ridho maka Allah ridho. Ketundukkan orangtua kepada Allah sepenuhnya dengan keridhoan, insya Allah dapat memancing “simpati Allah” agar anaknya dimudahkan Allah dalam menempuh ujian. Indah sekali ajaran Islam.

Demikian tentang hal yang dianggap sepele padahal memiliki makna yang dalam. Begitupun jika istri meminta izin atau meminta doa kepada suami. Telepon atau bicara langsung lebih bernilai dibanding sekedar teks. Semata-mata bukan tentang izinnya ataupun doanya tapi karena perintah Allah untuk berkhidmat kepada suaminya, menempatkan suami di posisi bagaimana Allah menempatkan posisi suami bagi istri, bagaimanapun suaminya, lalu anak memposisikan orangtua sebagaiman Allah memposisikan orangtua bagi anak, bagaimana pun keadaan orangtua.

Semoga bermanfaat. (riM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan