Hanya di GontorInspirasi dan Motivasi

Ketika Ustadz Baru Bertemu Santri Baru: Unik, Lucu dan Gemas

Ustadz baru lulus yang sedang menunaikan pengabdian mengajar memiliki dua situasi kompleks saat memulai pengajaran di awal-awal. Situasi kompleks itu yang pertama adalah bahwa mereka adalah seorang “guru/ustadz pemula” dan situasi kedua bahwa mereka menghadapi santri-santri yang juga berpredikat “santri pemula”, terutama santri-santri yang baru kenal dengan atmosfer pesantren. Situasi kompleks ini bukan suatu hambatan atau masalah bagi lulusan Gontor yang memang sudah dididik untuk siap mengajar, tapi lebih merupakan suatu “kejutan” fase awal “kehidupan sesungguhnya” bagi yang tadinya berpredikat santri kemudian menjadi ustadz bertemu dengan yang tadinya “murid umum” menjadi “santri baru

Situasi kompleks ini biasanya akan menghadirkan momen-momen unik dan lucu. Dua sisi “kejutan” perubahan fase awal kehidupan di pesantren bertemu biasanya akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.

Putra kami (Guardian Generation) mendapat kesempatan menunaikan amanah pengabdian di Gontor 2, dengan tanggung jawab 3 pelajaran utama di 3 kelas, dan juga beberapa kelas lain sebagai ustadz pengganti disaat ustadz yang seharusnya hadir berhalangan. 3 kelas utama itu yaitu 2 kelas merupakan kelas satu (santri baru) dan satu kelas yaitu kelas 3 Intensif (santri intensif tahun kedua).

Menghadapi atau mengajar santri-santri kelas intensif kelas 3 hampir tidak ditemukan kendala, karena mereka sudah memahami adab-adab santri. Jika ada kesempatan diberi waktu untuk bertanya biasanya pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran atau tema yang sedang disampaikan.

Berbeda dengan santri baru. Sebagian mereka masih merasa seperti sekolah umum saat mereka SD. Cerita anak kami: “mereka itu ada yang lugu, lucu, gemas, mengesalkan, pikarunyaeun (bah. Sunda yang kira-kira berarti kalau melihat kita jadi kasihan), spontan, malu-malu. Komplit! Kaya nano-nano!”😁😁

Suatu ketika saat dikasih kesempatan bertanya, biasanya pertanyaan yang berhubungan dengan kehidupan pesantren, bukan pelajarannya! Bahkan kadang yang cukup jauh: “Ustadz punya pacar? Ustadz sudah nikah?” 😱😱

“Whaatt!!😱” kata anak saya tapi tentunya dalam hati “mungkin karena melihat Aa sudah tua kali ya Bun!? Padahal Aa kan baru 17 tahun” 😁kata dia ke Bundanya. Tapi alhamdulillah semua dilayani dengan baik. Semua pertanyaan dijawab dengan ditambahkan pemahaman keislaman.

Cerita anak berlanjut:

“Tapi kemarin, pas Aa masuk kelas, santri-santri belum rapi. Masih bermain-main. Kursi, meja digoyang-goyang, bahkan meja ustadz pun digoyang-goyangin! (hahaha mungkin mereka merasa akrab dengan ustadznya). Tapi yang parah itu pas Aa mau absen, buku absen ga ada!😱 Setelah dicari-cari ga ketemu, ternyata … disembunyiin sama santri baru!! Wah! Aa langsung tegas, singkat cerita akhirnya bisa menyampaikan materi pelajaran hari itu. Tapi 15 menit terakhir Aa pake buat menyampai nasehat (mungkin ada yang sedikit tegas).”

Dalam nasehatnya itu, sang ustadz baru ini menyampaikan bahwa tradisi ilmu itu dimulai dengan adab, dan bahwa adik-adik baru ini belum memiliki adab seorang santri. Terus diceritakan bagaimana orang-orang terdahulu sangat beradab terhadap gurunya, biar keberkahan ilmu didapat bla bla bla hingga tiba waktu lonceng.

“Pas Aa cerita itu semua santri diam Bun 😇. Mematung! Aa sempet kaget juga. Bahkan pas Aa sudah keluar mereka masih diam mematung, diam di kursi! (mungkin tegang, mematung, malu, takut bercampur aduk). Eh .. pas baru beberapa langkah keluar terus ada santri yang paling kecil datang, kucuk, kucuk, kucuk .. (Aa mengambarkan langkah kecil lucu sang santri) terus manggil Aa, “Ustadz ….. maafin kami ya …. kami tidak pakai adab ya … maafin kami ya Ustadz 😥”, kata anak kecil itu sambil menghapus air mata. Haaa!! Aa kaget Bun, tapi alhamdulillah sudah Aa tenangkan. Aa sampaikan supaya jangan diulang lagi (mungkin anak itu yang menyembunyikan buku absen, hahaha). Alhamdulilah berikutnya jadi lebih tertib”

Masya Allah, ini pengalaman yang tidak akan terlupakan ustadz-ustadz baru yang berhadapan dengan santri-santri baru. Sebuah situasi kompleks yang menjadi pembelajaran yang sangat berharga yang akan membentuk dan melahirkan kebijaksanaan dan kedewasaan yang jarang didapat bagi lulusan setingkat SMA.

Mungkin banyak lagi kisah-kisah unik dan lucu yang dihadapi ustadz-ustadz muda lain. Tapi Gontor sudah mengantisipasi itu semua dengan sistem pencetakan guru yang berkualitas, siap menghadapi situasi apapun dan kapanpun. Bahagia ketika berkesempatan menjadikan anak merasakan pendidikan di Gontor. Barokah bagi para ustadz, barokah bagi para santri, insya Allah (riM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan