Cerbung dan Kisah HikmahInspirasi dan Motivasi

Para Ibu Pejuang Pondok

Oleh: Mang Salman

Seorang ibu bercerita, kemarin saat arisan keluarga, tiba tiba ada tetangga yang nanya

“Sekolah dimana anaknya jeng?”

“Di pondok bu,”

“Lah kok di buang kesana jeng?”

“Emangnya situ sibuk apaan sih sampai gak sempet ngurus anak,”

“Gak mau repot yah didik anak anak, makanya disimpen di pesantren.”

“Duh, jadi orang tua kok gak ada tanggung jawabnya, mentang mentang banyak duit”

“Bu, pendidikan itu lebih utama kalau di asuh sama orang tuanya, bukan dialihkan sama pihak ketiga.”

“Mondokin anak, niat mau mensholihkan, atau sekadar gak mau repot.”

“Yang ditanya di akhirat, nanti orang tuanya loh, bukan gurunya aja”

Dan masih banyak lagi tudingan yang diterima para ibu sholehah ini saat memasukan anaknya ke pesantren.

Deggg…!

Saya bisa membayangkan luka hati apa yang dialami para ibu saat itu.

Menerima berbagai macam tudingan saat memutuskan memasukan anaknya ke pesantren.

Pada saat bersamaan harus melepaskan separuh jiwanya untuk menuntut ilmu saja sudah sedemikian sakitnya.

Tak mudah para ibu ini berjuang,

Darah daging yang selama ini di kandung, lalu dirawat dan dibesarkan dengan cinta, tiba tiba harus pergi meninggalkan mereka saat ini.

Buah hati yang selama ini membersamai kehidupan mereka, tetiba harus jauh meninggalkan dirinya.

Lalu, tanpa empati, kita menghakimi para ibu , seakan mereka melakukanya karena hilangnya rasa sayang terhadap anak anak mereka.

Dengan berbagai macam dalih, kita membenarkan setiap prasangka buruk itu agar terlihat menjadi sebuah pembenaran.

Bahwa keputusan sang ibu keliru dalam memondokan anaknya

Mereka para ibu yang tidak bertanggung jawab !

Begitu kira kira,

Astagfirullah,

Sebegitu mudahkah kita menghakimi para ibu mulia ini,

Padahal, seandainya…

Seandainya saja bisa, ingin rasanya anak anak mereka tak usah sekolah jauh jauh.

Cukup di rumah saja, bersama dengannya.

Tapi para ibu baik hati ini mengerti, bahwa mereka memiliki banyak keterbatasan yang membuatnya tak maksimal dalam mendidik putra putrinya.

Tentu ini bukan upaya membela diri, tapi faktanya dengan kondisi saat ini, para ibu yang merasa masih kurang ilmu agamanya, wawasannya dan pengalamanya dalam mendidik anak anak dengan didikan agama yang baik, dihadapkan pada realitas fenomena social yang demikian rusaknya.

Pergaulan bebas, pornografi, narkoba, kriminalitas remaja, dan penyimpangan prilaku mengancam dan mengintai anak anak kita.

Ada kekhawatiran yang menghinggapi benak para ibu, ketakutan yang teramat sangat akan masa depan akhirat anaknya,  membuat para ibu ini berharap anak anaknya akan mendapatkan didikan yang jauh lebih baik dari apa yang selama ini mereka berikan.

Dengan berat hati, meski harus menahan rindu, meski harus menanggung gundah.

Mereka ikhlas !

Yah, meski ini teramat berat,

Meski kerinduan itu akhirnya menjadi aliran air mata yang menganak sungai saat keinginan untuk berjumpa sudah tak tertahan.

Meski rasa cinta itu akhirnya harus menjadi nestapa saat keinginan untuk bertemu semakin membuncah.

Tapi mereka mengerti, bahwa saat ini mereka harus bersabar, untuk sementara.

Agar perpisahan sesaat ini, bisa menjadi sebab pertemuan mereka kelak di surga-Nya.

Maka, berhentilah menghakimi mereka,

Justru berikan sikap empati untuk para ibu hebat ini,

Hapuslah air mata mereka saat tangisan kerinduan muncul, hiburlah hatinya saat kesedihan menyeruak, dan gembirakan jiwanya saat gulana menghampiri.

setidaknya, jika kita tak mampu menghibur mereka, mohon jangan sakiti hati mereka dengan kata kata dan prilaku kita.

Yah, setidaknya lisan kita tak menambah deretan kepiluan yang muncul karena kerinduan tadi

Untuk para ibu pejuang pondok !

*Teruslah bertahan. Tetaplah tegar, jangan kasih kendor !*
Satu kata terakhir,

*You’re the best of the best !*

💐💐💐

(Dikutip dari sharing di Whatsapp Grup)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan