Hanya di GontorInspirasi dan Motivasi

Ujian Kelas 6 Belum Habis!

Dulu perang Badar adalah salah satu perang terdahsyat, terdramatis, full darah dan air mata, tapi sebagaimanapun dahsyatnya Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasalam menyatakan masih ada perang yang lebih dahsyat, yaitu setelah ujian perang dalam memerangi hawa nafsu.

Ujian akhir anak-anak kita kelas 6 walaupun tidak akan bisa sebanding dengan perang Badar, tapi memang sungguh-sungguh berat dengan proses dan materinya, tapi sesungguhnya proses menguras itu akan kemudian menjadi sia-sia jika merasa sudah menang.

Ternyata belum usai perjuangan. Godaan akan lebih besar.

oooOOOooo

Kita dulu (atau mungkin tepatnya saya 😁🙏) saat SMA sehabis ujian akhir yang melelahkan dan panjang (pdhl ga panjang2 amat 😅) merasa sudah plong dan bebas. Biasanya melepas penat camping ke pantai (dulu saat SMA ke Pantai sejarak 6-8 km), bersenang-senang. Padahal UNnya cuma beberapa mata pelajaran. Pake sistem SKS (sistem kebut semalam) sedikit banyak masih bisa ngebantu. Kemudian di pantai sama sekali berusaha melupakan “kepenatan” itu dengan bersenang-senang, bergitar, cerita ngalor ngidul, nyanyi2 teu puguh dll.

Kalau diingat dan dibandingkan anak2 kita di Gontor sekarang rasanya malu sekali

Anak2 kita kelas 6 di Gontor, sehabis ujian yang hampir 2 bulan lebih dengan puluhan mata pelajaran dan materi lebih dari 100 buku, dengan ujian praktek mengajar yang mahasiswa S2 bidang pendidikan saja takjub kelengkapan metodenya dengan tingkat evaluasi yang sangat komplit, kemudian ujian lisan yang didesain tidak ada kesempatan bagi rekayasa karena langsung disandingkan dengan satu kompetitor dari materi ujian pertama hingga terakhir yang bila kita tidak bisa jawab maka akan diambil oleh kompetitor itu kesempatannya dan jika persiapan minim makan akan semakin terlihat “bodohnya”.

Dan ujian tulis yang tidak ada multiple choice alias essay semua, yang sistem pengawasan dan sanksi yang tanpa ampun tanpa alasan jika melakukan kecurangan sedikitpun.

Benar benar suatu UJIAN bukan ujian-ujianan. Tapi walau sedemikian rupa sehabis ujian hanya dilampiaskan dengan sujud syukur, senyum yang sebentar, lega yang bersekat, karena tidak ada waktu berleha-leha setelah senyum sebentar itu, atau lega yang pende ituk. Masih ada tanggung jawab didepan.

Pasca sujud syukur dan berdoa bersama, acara dilanjutkan dengan pesan dan nasehat dari Bapak Pimpinan serta Bapak Direktur. Nasehat beliau berdua untuk siswa akhir lebih kepada mengingatkan mereka agar jangan sampai berhenti bersyukur. Nasehat beliau yang lain agar jangan sampai lupa diri. Jangan sampai pasca ujian hal-hal positif yang selama ini mereka lakukan saat masa-masa ujian, langsung ditinggalkan. Yang sebelumnya rajin belajar dan beribadah, langsung jadi malas-malasan. Yang sebelumnya kurang tidur untuk belajar, langsung balas dendam. Wal iyadzu billah….” (quote dari tulisan Ustadz Iqbal).

“Di gontor ketika selesai ujian teng…  Kelas 6 itu membereskan sendiri bangku,meja mereka lalu menatanya untuk perkumpulan Panitia dan Pembantu Ujian Akhir Semester kelas 1-5.

Lalu terus apa? Mereka bergegas ke masjid syukur. Kemudian malam hari mereka sudah berkumpul untuk pengarahan pembantu ujian,

Lihatlah betapa dinamika pondok terlebih kelas 6 sangatlah padat. Baru saja mereka di uji dan sekarang mereka akan membantu Panitia ujian dg amanah masing-masing. Ada yg jadi penguji syafahi berjas rapi ada yg menjaga bagian lain, adapula yg dengan senang hati dan bangga ketika mereka berkeliling dg truk penuh sampah Grandong.

 Sungguh mental apa yang dimiliki santri? Ya inilah mental pendidikan, bukan revolusi mental yg hanya sebuah rencana. Performa kelas 6 dituntut cepat dan tanggap. Tugas dan amanah mereka belum selesai walau sudah bsa dikatakan nisfal ustadz sudah menjadi setengah ustadz.” (Tulisan diambil dari redaksi tulisan FB (Ustadz) Patani Vegetr)

Beres itu masih ada lagi: Tugas menyusun laporan akhir atau disini disebut PAPER semacam skripsi yang HARUS TULIS TANGAN (ga kebayang kalau yang berpaham SKS, sistem kebut semalam).

Ya tulis tangan!! kalau salah HARUS NULIS LAGI DARI AWAL! Prosesnya hampir sama dengan skripsi: pengajuan judul. Makalah yang akan ditulis berkaitan dengan materi aqidah, fiqih atau tarbiyah.

Mereka diharuskan untuk memilih salah satu dari ketiga materi tersebut yang kemudian diajukan kepada ustadz pembimbing atau wali kelas masing-masing. Kemudian hunting literasi (kembali membaca sekian banyak buku), bimbingan. Dicoret, perbaiki, dicoret, perbaiki.

Kalau komputer mungkin bisa tinggal copas halaman yang ga dicoret kemudian perbaiki yang dicoret. Tapi ini tulis tangan! Dan menurut informasi DALAM BAHASA asing: Arab atau Inggris dan wajib ditulis rapi! Wow 😱😱

Speechless… Dididik apa anak kita di Gontor. Dalam bayangan Penulis, inilah pendidikan mental sesungguhnya, bukan hanya slogan revolusi mental. Jika menimbang bahwa di Gontor UJIAN itu untuk belajar bukan BELAJAR untuk ujian, maka insya Allah tantangan ke depan yang “sepertinya” tidak seberat “ujian” di POndok, maka anak-anak kita akan lebih kuat dan siap. Insya Allah

Sungguh berbanggalah kita, para orang tua, memiliki kesempatan menitipkan anak yg mau dididik di Gontor. Semoga kelak benar benar hasil didikan ini menjadi bekal terbaik untuk menghadapi masa depan mereka dan menjadi tabungan untuk ke surga. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan