Inspirasi dan MotivasiKisah LucuSerba-Serbi

Lucu! Botak (lagi), Curhatan Santri Mahluq Di Gontor

Sebagian besar santri mengaku jika boleh memilih, lebih baik dihukum pukul atau fisik lain (lari, push up dll) dari pada jadi mahluq, dibotak! Botak itu ga sakit di fisik, tapi di sini (nunjuk dada) 🤭.
Jangan salahkan mereka mengeluh, wajar untuk pergolakan emosi seusia itu, tapi berbanggalah ketika mendapat hikmah, seperti curhatan insan mahluq di bawah ini 🤭

Apakah kamu juga merasakan bahwa ada saat-saat tertentu dalam hembusan napasmu dimana kamu merasa bukan siapa-siapa dalam hidupmu sendiri?   Aku merasakannya juga. Terlebih semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, hingga mau tidak mau rambutku harus hilang digundul.

Semangat The Show Must Go On-ku seketika saja hilang bersama hilangnya ribuan helai rambutku dipootong oleh tukang cukur dengan upah lima ribu rupiah.  

Bagi banyak orang muti‘—begitu kami menyebut santri dengan skill patuh pada peraturan tingkat dewa— gundul adalah satu hal yang sangat menyakitkan.

Identiknya, orang yang kena hukuman botak akan langsung putus asa. Tiak mau turun ke klub olahraga lagi, tidak mau rueun ke klub musik lagi, kalau yang jadi jurnalis seperti ku yang tidak mau turun ke lapangan mencari berita lagi.

Dalam skala yang lebih parah, bisa sampai malas sekolah bahkan untuk sekedar belajar sekalipun.   Itu bukan tanpa alasan, loh. Sekali lagi botak itu memang menyakitkan.

Pandangan semua orang terhadap kepala tanpa rambut pasti buruk. Apalagi pandangan seorang wali kelas yang tahu anggotanya seorang botak. Pasti dianggapnya nakal dan tidak beradab. Hingga botak bisa menjadi penyebab seorang murid dimutasi ke pondok cabang.  

Orang botak itu kemanapun mereka—kami— pergi harus selalu berpeci. Supaya silaunya tidak mengganggu orang lain, katanya. Mending ya kalau kami punya ingatan kuat. Sayangnya kami lebih sering lupa memakai peci. Hingga entah berapa kali harus pulang lagi ke asrama, padahal sudah jauh berjalan hanya karena satu alasan. Mengambil peci.  

Orang gundul itu tidak boleh keluar pondok, tidak boleh ikut penampilan perkajum, tidak boleh berolah-raga, bahkan sekedar menonton pun tidak boleh. Sejujurnya botak itu enak, kepala terasa dingin dan tidak perlu repot-repot menyisir.

Tapi satu hal yang paling menyakitkan dari itu semua adalah waktu sore hari kami, yang seharusnya kami gunakan untuk melepas penat setelah berjuang menahan kantuk di kelas untk belajar sejak pagi hingga siang hari, direnggut oleh bagian keamanan pusat dengan satu kegitan yang paling membosankan. Amal Mahluqin. Kaya kerja bakti, untuk para kaum tak berambut di sore hari. S … (toooot! disensor 🤭🤭)  

Padahal jam-jam di sore hari itu seharusnya bisa kami pakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Parahnya, sering kali amal makhluqin  itu baru selesai pukul lima kurang lima menit. Sementara bel waktu terakhir datang ke masjid adalah pukul lima lebih lima menit. Sepuluh menit terakhir sebelum jaros itu mana cukup digunakan untuk antri mandi. Kalau sampai terlambat ke masjid, kena blacklist. Namamu tertulis di buku blacklist tiga kali saja, sudah kena hukuman botak lagi. Ah, semuanya jadi serba salah.  

Hidup di pondoki ini memang penuh sekali dengan ancaman botak. Dan botak itu begitu menyedihkan. Tapi soal amal mahluqin itu nggak terlalu jadi masalah bagiku. Karena hampur satu minggu lebih masa baktiku menjadi “romusha“, aku selalu mendapat kertas rekomendasi terlambat ke masjid.   Padahal sebelumnya aku sudah berpikir untuk benar-benar menghidupkan api The Show Must Go On ku.

Didalama kepalaku, semuanya harus berjalan dengan lancar apapun resikonya. Wawancara haris sampai tuntas walaupun harus terlambat ke masjid. Sidang redaksi harus sampai selesai walaupun resikonya adalah gundul karena kumpul tembus adzan isya’ tapi semua pikiran itu musnah dalam sekejap saat rambutku juga hilang. Api semangat The Shoe Must Go On ku berubah menjadi es keputusasaan yang sangat dingin.  

Aku justru berbalik menyalahkan keadaan. Kuanggap semua ini adalah karena kursus dan instansiku. Sejak pikiran itu menyelimuti otakku, aku jadi ingin sedikit dimengerti keputusasaannya. Aku mulai jadi malas mencari berita, malas datang ke perkumpulan.

Ternyata benar apa yang sebagian orang bilang, jangan pernah berputus asa. Berapa kali pun rambutmu hilang digundul.   Botak, atau hukuman lain itu ada karena kita bergerak. Itu adalah bagian dari gesekan pergerakan sebagai konsekuensi yang harus diterima akibat pergerakan

Tapi ternyata aku salah.

Lepas dari kegiatan yang sudah menjadi bagian hidupku justru tidak mendatangkan kebahagiaan dan perasaan tenang, yang ada malah perasaan bersalah yang semakin mendalam karena sering telat mengumpulkan berita atau bahkan tidak.  

Ternyata benar apa yang sebagian orang bilang, jangan pernah berputus asa. Berapa kali pun rambutmu hilang digundul.   Botak, atau hukuman lain itu ada karena kita bergerak. Itu adalah bagian dari gesekan pergerakan sebagai konsekuensi yang harus diterima akibat pergerakan.

Bedakan antara orang-orang yang hanya mengalir dalam arus sungai peraturan. Rambut mereka memang selalu utuh. Tapi apakah mereka merasakan kenikmatan memiliki rambut itu jika mereka tidak pernah kehilangannya.

Bedakan antara orang-orang yang hanya mengalir dalam arus sungai peraturan. Rambut mereka memang selalu utuh. Tapi apakah mereka merasakan kenikmatan memiliki rambut itu jika mereka tidak pernah kehilangannya.

Juga apakah mereka sekuat diri kita yang banyak mengecap pahit-asam kehidupan (?)   Selama kamu beriman, dan kesalahanmu bukan karena menentang syariat Allah, bukan karena melanggar ajaran agama, jangan takut. Innallaha ma’ana. (Sumber: ulildailysnote)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan