Inspirasi dan MotivasiSerba-Serbi

Pengalaman Pribadi: Pendaftaran Santri Baru Gontor Putri (Catatan Bunda Niswatul Khimayah Bag. 4

Assalamualaikum
Setelah jeda agak lama, terselip beberapa postingan lain, akhirnya saya melanjutkan lagi cerita tentang pengalaman saya ketika mendaftarkan di Gontor. Ini merupakan part 4, yang insyaAllah akan menceritakan momen pengumuman dan segala keriwehan penempatan santri. Cerita mengenai syarat dan proses pendaftaran serta ujiannya sudah saya tulis di bagian sebelumnya. Berikut linknya:

PART 1 – Kelengkapan, Waktu dan Biaya Pendaftaran
PART 2 – Proses Pendaftaran
PART 3 – Ujian masuk Gontor

Setelah ujian selesai, kini waktunya calon pelajar dan calon wali santri menunggu pengumuman. Kalau kayak gini ya banyakin berdoa dan persiapkan mental untuk menerima ketetapan terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Pada waktu itu agak simpang siur kapan pengumuman, tidak ada pemberitahuan resmi juga dari panitia. Tapi yang jelas itu gak lama, saya lupa selang berapa hari tapi yang jelas gak sampai seminggu. Mungkin sekitar 3-4 hari dari tes tulis.

Hari demi hari, tenda mulai terpasang, kursi mulai berjajar pertanda hari pengumuman kian dekat. Sampai akhirnya suatu malam ada pemberitahuan kepada calon santri bahwa besok adalah hari H pengumuman dan santri sudah harus berkumpul jam 06.00 untuk ikut pengarahan. Antusias calon pelajar dan wali santri tentu sangat tinggi untuk segera tau pengumumana. Sebelum shubuh, banyak calon pelajar termasuk adik saya yang sudah bersiap. Sebagian dari mereka sengaja mandi di luar (kamar mandi masjid dan bapenta) karena menghindari antrian di kamar mandi dalam. Mandi, sholat shubuh dan langsung kembali masuk ke asrama lagi.

Calon wali santri juga gak kalah antusias, parkiran mobil itu penuh sepenuh-penuhnya sampai tepi jalan raya. Dari pendaftaran ke pengumuman itu gak sebentar, jadi banyak calon wali santri yang pulang dulu dan kembali lagi saat hari pengumuman tiba. Saran saya sebaiknya jangan datang paginya, karena mulai habis magrib itu sudah mulai berdatangan.

Jam 6 pagi wali santri mulai berduyun-duyun masuk ke dalam, merapat ke tenda tempat dimana pengumuman dibacakan. Tenda itu terpasang di depan gedung oren, memanjang ke barat, yang kira-kira akan menampung 2.400 calon santri. Tenda itu memang dikhususkan untuk calon santri saja. Sementara calon wali santri ya memadati sekitar tenda, mencari tempat ternyaman masing-masing untuk mendengar kenyataan. hehe.

Pengumuman di Gontor berbeda dengan tempat lain, yang cukup di tempel di papan pengumuman atau bahkan diumumkan online. Di sini, pengumuman dibacakan bergantian oleh pimpinan pondok. Nomor yang diterima maupun yang tidak diterima akan dibacakan semua. Itu sama sekali tidak ada jeda dan semuanya diharapkan tertib, menyimak sampai semua selesai dibacakan. Pimpinan, Kyai Hasan, mulai memberikan sambutan pukul 07.00 dan selesai tepat pukul 08.00. Setelah itu mulailah dibacakan nomor-nomor yang diterima di Gontor putri 1, 2, 3, 5 sampai nomor yang belum bisa menjadi santri Gontor tahun ini.

Bagi yang punya nomor awal, begitu kepanggil rasanya langsung lega gitu ya. Tapi kalau yang nomornya ribuan, ya harus agak sabar, tenang dan keep praying. Adik saya daftarnya belakangan jadi dia dapat nomor 2.000 sekian. Ya itu agak lumayan juga dag dig dug nya pas mulai dibacakan, nomor awal-awal. Pas dengan Kyai Hasan membacakan, “Di terima di Gontor Putri 1, nomor x, x, x, ……..” air mata saya langsung netes. Antara terharu, cemas, berharap, semua campur aduk. Apalagi lihat orang tua yang nomor anaknya sudah terpanggil, masyaAllah. Melihat ibu bapaknya berpelukan sambil menangis terharu, MasyaAllah ikut terharu banget rasanya.

Lama kelamaan saya mulai tenang, sampai akhirnya mulai dag dig dug dan sangat gak karuan pas udah mulai dekat 2000. Saya dan Mama nyimak bener-bener sampai pindah tempat, dari yang awalnya dibelakang. Pindah merapat ke dekat tenda calon santri. Semakin harap- harap cemas, ketika Ustadz sudah membacakan 19XX, 19XX, ……. 2.050, 205X, 20XX. Jeng jeng nomor adik saya terloncanti. saya speechless sejadi-jadinya.

Astagfirullah, saya dan mama seketika itu pula saling melihat dan menetes air mata. Posisi kita agak kepisah jadi kita gak bisa berinteraksi lebih. Rasanya badan saya lemes langsung, sedikit hopeless karena Gontor putri 1 ini menerima paling banyak. Bahkan sepengetahuan saya hampir setengah dari keseluruhan total santri yang diterima ditempatkan di GP 1. Sisanya baru GP2, GP3, dan GP5 yang paling sedikit. Jadi ya gimana ya, kayak yang punya peluang terbesar ya di GP 1. Terlebih lagi ini pengalaman pertama, semua serba baru dan hanya mengandalkan insting sok tahu. haha.

Pengumuman terus berlanjut, penempatan Gontor Putri 1 selesai dan mulailah dibacakan Gontor Putri 2. Kita semua gak henti-hentinya berdoa, meminta yang terbaik padaNya. Dari yang awalnya berdoa dapat di GP 1, sampai akhirnya pasrah dan berdoa minta yang terbaik. Tapi ya tetep harapannya bisa ketrima, mau di GP 2, 3 bahkan di GP 5 sekalipun. Oke, GP 2 Mulai dibacakan satu persatu mulai dari nomor terkecil. Ini agak cepat nunggunya karena kan gak sebanyak GP 1. Kalau dilihat dari whats app saya, nomor 2000an sudah terpanggil kurang dari setengah jam. Alhamdulillah adik saya diterima dan ditempatkan di Gontor Putri kampus 2.

Alhamdulillah, Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Begitu nomor dia dipanggil, saya dan mama lansung mundur untuk mengabari yang perlu dikabari dan mengurus keperluan adik. Sementara anaknya masih harus tetap stay di tempat sampai rangkaian pengumuman selesai dan sujud syukur di masjid. Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Prosesnya juga tidak berhenti sampai disini, bagi yang diterima di GP 2, GP 3 dan GP 5 langsung diberangkatkan saat itu juga. Alhamdulillah GP 2 sebelahan dengan GP 1, jadi kita tinggal jalan lewat jembatan yang menghubungkan GP 1 dan GP 2. Alhamdulillah lagi kita berempat plus adik saya, jadi sekali jalan barangnya sudah kebawa semuanya. Dia bilang sebelum setengah 12 harus sudah sampai GP 2 karena ada pengarahan, jadi ya emang bener-bener langsung jalan saat itu juga. Begitupun yang ke GP 3, bis bis sudah stay disana. Orang tua tidak perlu khawatir karena pondok sudah menyiapkan bis untuk santri dan truk untuk mengangkut barangnya.

Saat itu lalu lalang manusia bawa-bawa koper, kasur, ember, dll bener-bener banyak sekali. Begitupun lalu lalang kendaraan, gak kalah riwehnya. Semuanya campur aduk, sama kayak perasaan orang-orang saat itu. Ada yang nangis terharu, ada yang nangis sedih. Pokoknya ini momen terhactic menurut saya, gak bisa dideskripsikan. Dari 2.400 sekian calon santri, akhirnya yang diterima adalah 1.900 sekian. Sehingga ada sekitar 500 calon pelajar yang belum bisa belajar di Gontor tahun ini. Lalu kira-kira mereka harus sekolah dimana? sebab sekolah umum juga sudah tutup. Tunggu ceritanya di part selanjutnya ya, terima kasih. 🙂
———————————————————————Bersambung

Sumber 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan