KMI atau Tahfizh?

Tulisan ini bukan sebagai pembanding pesantren, namun hanya tentang mana yang lebih dulu. Pilihan ini sering menjadi pertimbangan walisantri saat ingin memasukkan putra/putrinya ke pesantren. Di Satu sisi ingin anaknya menjadi hafizh Al Quran di sisi lain ingin putra/putrinya memiliki pengalaman pendidikan khas Gontor.

Memiliki putra/putri yang sudah hafizh Al Quran adalah suatu kebahagiaan yang sangat besar, kebahagiaan yang luar biasa yang akan sulit dibandingkan dengan materi apapun. Berbekal harapan ini, banyak orangtua yang sudah mewaijbkan hafalan Al Quran sejak dini kepada putra-putrinya.. Kemudian, sekiranya sudah siap mereka dimasukkan ke pesantren tahfizh untuk memantapkan hafalannya.

Hal ini didukung juga dengan banyaknya bermunculan pesantren-pesantren tahfizh di seantero penjuru sehingga memudahkan para orangtua membuat pilihan, berdasarkan biaya, lokasi pesantren atau metode hafalan yang digunakan.

Mencermati Lebih Dalam

Al Quran pastilah sempurna, dan menghafalnya adalah suatu kebaikan dan berpahala. Namun niat dan metode adalah cipta karya manusia yang sangat besar potensinya untuk terdapat kekurangan.

Dalam sebuah seminar pendidikan pernah disampaikan oleh seorang ahli pendidikan bahwa tidak sedikit yang terjadi sekarang orang tua berbondong-bondong menjadikan putra-putrinya hafizh/ah Al Quran, namun tidak dengan niat sungguh-sungguh agar anak memiliki karakter Qur’ani, melainkan hanya ikut-ikutan trend dan sebatas kebanggaan.

Niat ini kemudian bertemu dengan munculnya banyak metode yang menawarkan hafalan super kilat. Dalam waktu satu bulan bisa hafal 30 juz. Salahkah metode ini? Tentu TIDAK.

Ini adalah metode yang Allah ilhamkan kepada orang-orang spesial yang mempunyai cita-cita agar Al Quran makin membumi, makin mudah dihafalkan. Ini adalah usaha yang mulia. Namun sebenarnya program hafalan itu hanya awal dan ada program lanjutan yang tidak kalah penting, konsistensi muroja’ah dan pemahaman isi kandungan Al Quran. Dan ini tentu tidak bisa didapatkan dalam waktu singkat.

Karena hafal Al Quran belum tentu memiliki karakter Al Quran. Dan karakter tidak bisa terbentuk dalam satu tahun apalagi satu bulan.

Yang tidak sedikit terjadi, demikian disampaikan ahli pendidikan itu, ada sebagian (mudah-mudahan sebagian kecil) yang memfasilitasi anak-anaknya menjadi penghafal Al Quran namun disaat yang sama dirumahnya disediakan juga alat atau suasana yang bisa membuat hafalan-hafalan itu hilang. Alat dan suasana itu seperti pemakaian gadget yang tanpa pengawasan, suasana rumah yang tidak qur’ani, tidak ada pengawasan untuk konsistensi merojaah dan menggali isi kandungan Al Quran lebih lanjut dan lain-lain.

Tapi di luar itu semua, tidak ada keraguan bahwa apapun yang ditempelkan Al Quran kepadanya menjadi lebih mulia. Seperti Bulan Ramadhan, bulan dimana Al Quran pertama kali turun maka menjadi bulan mulia, umat yang memilik Al Quran sebagai kitab sucinya menjadi umat yang mulia, dan bahkan para huffazh dianggap Allah sebagai bagian dari keluarga-Nya. Ada yang lebih mulia dari itu?

Interaksi dengan Al Quran itu memiliki 5 tahapan, Dan sekedar hafal baru memasuki tahap 2 dan sayangnya sudah dianggap cukup. Tahap selanjutnya, selain konsistensi muroja’ah yaitu memahami isi kandungan Al Quran dengan jalan memahami bahasa Arab, memahami tafsir dan kemudian tadabbur yang mampu menjadikan karakternya sebagai karakter qur’ani.

Lalu Hubungannya Dengan Gontor?

Sekali lagi disampaikan bahwa ini disampaikan tidak dengan maksud mana yang lebih baik masuk pesantren Gontor atau masuk pesantren Tahfizh. Namun mungkin lebih tepat, dalam kombinasi ini mana yang lebih dulu.

Gontor bukan pesantren Tahfizh sehingga saat lulus maka santri hanya wajib menghafal juz 30 saja. Tapi bukan berarti para walisantri kemudian lalai dalam penjagaan hafalan putra-putrinya.

Bagi beberapa walisantri yang memandang penting bagi putra-putrinya untuk menghafal Al Quran maka ada 3 cara yang diambil, yaitu:

  1. Hafal Al Quran terlebih dahulu lalu masuk Gontor
  2. Masuk Gontor terus mendorong anak agar aktif di JMH Gontor, Jami’iyyatul Hufazh, sebuah ekskul yang menfasilitasi santri untuk menghafal Al Quran atau wadah para hafizh Quran Gontor.
  3. Mendorong anak menghafal secara mandiri.
  4. Lulus Gontor lalu masuk pesantren Tahfizh

Cara yang pertama biasanya ditempuh para walisantri dengan memasukkan putra/putrinya di pesantren tahfizh Al Quran seperti Al Muqodasah, yang merupakan pesantren tahfizh asuhan Kiai Hasan juga, atau pesantren lain. Kemudian masuk Gontor dengan jalur reguler atau intensif.

Cara kedua menjadi alternatif orangtua dalam mendorong anaknya menjadi penghafal Al Quran, namun yang terjadi, JMH mayoritas diisi oleh santri yang sudah hafal Al Quran dan menjadikan wadah itu sebagai tempat murojaah bersama. Dan cukup jarang diisi oleh santri yang ingin menambah hafalan dari awal, karena beban pelajaran di Gontor dan padatnya aktifitas membuat susah untuk fokus. Dan ini juga yang menjadikan cara ketiga menjadi tidak bisa fokus.

Cara keempat merupakan cara yang paling banyak dipilih oleh para santri dan walisantri. Dan karena cara keempat ini merupakan cara yang juga dialami oleh penulis, sebagai walisantri, maka berikut akan disampaikan beberapa kelebihannya.

Kelebihan Cara Nomor 4

Bisa jadi ada banyak kelebihan di poin 1-3, tapi karena penulis tidak mengalami dan juga belum melakukan studi untuk itu, maka di sini baru dikemukakan kelebihan poin nomor 4. dimana, sebagai walisantri, ini langkah yang sudah kami ambil dan menemukan manfaatnya. Berikut diantaranya:

1. Hafalan ayat-ayat pilihan dalam pelajaran

Di Gontor bukan sama sekali tidak ada hafalan. Selain hafalan wajib juz 30, di beberapa pelajaran juga diajarkan ayat-ayat pilihan yang berkaitan dengan banyak pelajaran, yang sebenarnya jika dikonversikan kedalam halaman atau lembaran maka merupakan jumlah yang tidak sedikit.

Jadi ini menjadi bekal yang sangat bagus bagi santri untuk menjadi penghafal Al Quran. Belum lagi ditambah pemahaman terhadap ayat-ayat tersebut dalam pelajaran tafsir atau asbabun nuzul ayat-ayat Al Quran tersebut.

2. Al Quran itu adalah ilmu, maka sebelum ilmu maka belajar adab terlebih dahulu

Pendidikan karakter di Gontor adalah dalam sebuah upaya menanamkan adab kepada para santri. Selain disiplin dan tanggungjawab yang menjadi unggulan pendidikan karakter di Gontor, ada satu lagi yang jarang masuk dalam definisi karakter yaitu mematikan ego santri.

Dalam belajar dan berguru maka memang hendaklan santri atau murid mematikan egonya untuk sementara. Jika pun ada yang tidak sesuai dengan guru, maka mematikan ego membuat santri tetap taat dan mampu menerima ilmu dari guru. Dan diharapkan dari situ muncul keberkahan proses dan ilmunya. Dan itu yang terjadi dan diajarkan di Gontor.

3. Bekal Kemampuan Bahasa Arab

Menghafal Al Quran dengan mengetahui maknanya akan lebih membekas dan berefek terhadap penjiwaan isi Al Quran dibanding hanya sekedar menghafal. Dan ini menjadi kelebihan dari santri Gontor.

Kebiasaan komunikasi dan juga materi-materi pelajaran dalam bahasa Arab, membantu santri dalam memahami banyak kosa kata Al Quran. Dan ini juga dapat membantu pemahaman ayat-ayat dengan lebih baik.

4. Bekal sebagai Pengajar

Setiap alumni Gontor adalah pendidik dan mereka dibekali khusus untuk itu. Ada dua hal yang bisa diambil keuntungan dari sini saat menjadi penghafal Al Quran saat telah lulus Gontor. Pertama, salah satu metode belajar yang baik adalah mengajarkan. Jika belajar menghafal adalah proses memasukkkan kedalam memory maka mengajarkan adalah proses pembiasaan dan menjadikannya ke dalam alam bawah sadar.

Kedua, khoirukum, man ta’alamal Quran wa ‘alamahu. Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya. Mental seorang guru, berikut metode pengajaran sudah menjadi bekal alumni Gontor untuk mengamalkan hadits ini.

Ketiga, tidak sedikit pesantren alumni yang merupakan pesantren tahfizh merekrut alumni-aumni baru yang diperbantukan untuk mengajar. Jadi selain mengajar, maka alumni itu juga bisa belajar menambah hafalan.

5. Munculnya keinginan sendiri untuk menjadi Hafizh Al Quran

Belajar Al Quran karena keinginan sendiri dan kesadaran akan keutamaannya jauh lebih baik daripada belajar Al Quran karena keterpaksaan walau tetap bisa dinilai sebagi suatu kebaikan. Dan itu terjadi pada banyak alumni.

Walau demikian, tetap dorongan orangtua juga diperlukan karena terkadang karena terlepas dari rutinitas maka godaan akan semakin besar.

Dan mungkin masih banyak kelebihan lain.

Namun seluruh kelebihan itu bisa disingkat bahwa Gontor telah menitipkan KUNCI sebagaimana sering disampaikan oleh Kiai-kiai Pengasuh dalam beberapa kali wejangannya. Dengan adanya KUNCI dan kesadaran akan adanya KUNCI maka menjadi bekal berharga santri dalam menekuni aktifitas setelah lulus.

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan