Inspirasi dan Motivasi

Ketika Putra Kita Berpindah Ladang Perjuangan (manqul) …

Manqul, adalah sebuah kata yang menggetarkan bagi santri dan juga walsantor ketika tiba pengumuman kenaikan kelas. Bagi beberapa walsan, kata ini seolah menjadi sebuah mimpi buruk yang sedemikian rupa didoakan agar terhindar. Tapi bagi banyak walsan yang memahami hakikatnya ini adalah hal biasa. Makhluk apa manqul itu?

Manquul berasal dari bahasa Arab naqola-yanqulu, yang artinya adalah pindah. Maka ilmu yang manquul adalah ilmu yang dipindahkan dari guru kepada muridnya.

Dalam pelajaran tafsir, Tafsir manquul berarti mentafsirkan suatu ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lainnya, mentafsirkan ayat Al-Qur’an dengan hadits, atau mentafsirkan Al-Qur’an dengan fatwa shohabat.

Dalam ilmu hadits, manquul berarti belajar hadits dari guru yang mempunyai isnad sampai kepada Nabi Muhammad, shollallohu’alaihi wasalam.

Dan di Gontor, manqul bermakna berpindah (lokasi) belajar, berpindah guru. Dan manqul tidak hanya terjadi pada santri melainkan juga pada assatidz yang mendapat amanah baru mengajar di tempat lain.

Dari semua definisi itu, sebenarnya manqul itu bermakna positif. Tidak ada yang salah dengan manqul. Tapi kenapa jadi horor ya …

Ulama-ulama dahulu termasuk Trimurti juga Manqul

Secara sejarah Gontor, manqul (yang dijalankan santri saat ini) baru ada setelah Gontor memiliki cabang-cabang. Menurut Ustadz Iqbal Ficry, awalnya Gontor hanya ada satu di Ponorogo, setelah memiliki beberapa cabang, maka dengan maksud melakukan pemerataan santri maka diadakan istilah manqul ini. Sampai di sini manqul masih tetap bermakna positif.

Namun secara istilah, tradisi manqul yang bermakna berpindah guru, berpindah tempat belajar juga menjadi tradisi ulama-ulama besar termasuk juga Trimurti pendiri Gontor. Mereka berpindah-pindah dalam menuntut ilmu mulai dari berbagai pesantren di Jawa hingga sekolah Thawalib di Sumatera Barat.

Jadi sebenarnya, apa yang dikhawatirkan dengan manqul?

Ketika Manqul Menjadi semacam Sanksi, Tanda Sayang Gontor ke Santrinya

Mungkin ini yang dikhawatirkan para santri dan walsantor.

Walisantri sering menyalahartikan bahwa manqul terjadi karena hanya pelanggaran adab. Bahkan pengertian adab sendiri sering diartikan sempit sebagai pelanggaran adab sebagaimana dikenal di luar, sehingga mereka menyangka santri-santri yang dipindahkan seolah-olah tidak beradab. Dan pondok cabang hanya berisi santri-santri yang kurang adab. Tidak seperti itu bahkan salah sekali.

Adab disini adalah aturan pondok. Sedangkan pelanggaran adab berat sanksinya bukan manqul melainkan mathrud (dipulangkan) atau mafshul (diskors). Itupun tidak bisa dijustifikasi bahwa mereka mutlak bersalah, melainkan ini bagian dari pendidikan. Bahkan para Pimpinan sering menangis ketika membuat keputusan mathrud, namun ini adalah pendidikan.

Semua anak remaja sangat berpeluang melakukan pelanggaran adab (aturan Gontor), bisa jadi karena kelalaian, ketidaksengajaan, atau bahkan merasa tidak melakukan tetapi dihukum. Mengalami ini semua (terkena sanksi) adalah bagian dari pendidikan. Jadi semua santri sangat mungkin manqul entah dia kalem, aktif, pintar, sedikit pintar dll.

Dan kalau dipahami hakikat atau filosofinya, sesungguhnya manqul adalah tanda sayang Gontor kepada santrinya. Santri yang manqul akan mendapat pengalaman baru, wawasan baru, teman baru. Jika awalnya ia baik maka ia bisa menularkan kebaikan kepada lingkungannya. Jika ia sedikit “nakal”, diharapkan lingkungan baru akan membuatnya lebih baik. Inilah konsep hijrah.

Ustadz Azmi (alumni Guardian) menyampaikan ke walsantornews.com mengutip apa yang pernah disampaikan Kiai Hasan ketika memberi nasehat dan semangat pada santri-santri yang manqul:

“Sudah cukup perjuanganmu disini, sekarang berhijrahlah kamu ke sana! berkaryalah! hidupilah! warnailah tempat hijrahmu dengan segala potensi yg kamu miliki! dirimu bukanlah barang rusak yg dibuang! tapi dirimu adalah kontingen pasukan perjuangan! Namun apabila kamu merasa dirimu adalah barang rusak, ketahuilah! engkau akan dibawa ke tempat reparasi, sehingga dirimu diperbaiki dan dimodifikasi sehingga menjadi baik seperti semula, bahkan lebih baik..”

Nah, orang-orang yang bisa merasakan nilai-nilai yang dihembuskan pondok saat memanqulkan orang, niscaya dia bakal lebih unggul dibanding kondisi sebelumnya, demikian lanjut Ustadz Azmi.

Tapi kalau hatinya sudah dipenuhi iri dan ketidakikhlasan, bisa-bisa dia tdk akan berkembang, malah jadi semakin nakal dsb..

Betapa banyak orang yg manqul, tau-tau di cabang dia lebih bergerak, lebih aktif, ketua sana sini, atau bahkan lebih pintar..

Ustadz Azmi memberi contok adiknya yang manqul dari G1 ke Gontor Cabang,

“Adik ana, saat di pusat susah mengikuti pelajaran, terancam tidak naik kelas, tapi ketika dimanqul ke pondok cabang jadi insan quwwah, dianggep pinter (sekarang kelas B), rois PPAT, kurang apa coba? Bahkan secara interpersonal skill kemampuannya bisa dibilang lebih baik dari tidak sedikit santri lain di G1″.

Pondok senantiasa mengajarkan Dimana Bumi dipijak, disitulah ladang perjuangan”

Masih berfikir negatif tentang manqul?

Kecewa dengan Kebijakan Manqul, jangan-jangan walsantor telah melakukan ini …

Ketika putra/putri kita dipindahkan, terutama dari Gontor Pusat ke Gontor lainnya, pasti ada banyak pertanyaan di benak walsantor. Sebagian walsan galau berat, ada yang bak detektif menyelidiki kesalahan apa yang dibuat putranya sehingga dipindahkan, ada yang seakan ingin protes (tapi ya ga bisalah …), bahkan baru-baru ini ada kabar walsan yang kecewa dan memindahkan putranya ke sekolah lain.

Sebegitunyakah? Emang ketika dimanqul apa yang akan terjadi dengan anak kita sehingga sedemikian responnya?

Dari info yang walsantornews gali dari alumni, manqul bukanlah kebijakan random. Bukan asal comot nama santri, melainkan melalui pertimbangan yang sangat lengkap, matang, dan tercatat. Dan semua dilakukan semata-mata untuk kebaikan santri.

Selain itu, sejak lama Gontor memiliki program yang mungkin sama dengan semacam standarisasi/pemerataan cabang dari segala sisi, dari akademik, disiplin, bahasa dsb..

Kalau seandainya kelas B yang dipindah, bisa berarti juga kalo santri-santri kelas B itu memang “dibutuhkan” dipondok cabang..

Kebijakan ini dilakukan Pondok menghilangkan mindset manqul, berarti pindah ke tempat yang lebih buruk”.. Bukan seperti itu, sebab sekali lagi, bagi santri Gontor dimanapun berada adalah ladang perjuangan

..oo0O0oo..

Dan bagi walsan yang merasa kecewa dengan kebijakan manqul, mungkin beberapa hal ini bisa menjadi bahan renungan.

Ternyata kita ragu dengan doa kita sendiri

Ketika kita kecewa bahkan menolak saat putra kita manqul, bisa jadi kita menolak doa-doa kita sendiri. Na’udzubillahi mindzaalik.

Saat putra kita dididik di Gontor, setiap hari kita meminta agar Allah membimbingnya, menunjukinya jalan, dan memberi jalan yang terbaik bagi putra-putra kita. Kemudian ketika takdir membuatnya terpindahkan dari kampus awalnya, kemudian kita kecewa dengan keputusan itu dan menarik diri?

Atas dasar apa kita menilai dipindahkan itu lebih buruk? Prasangkakah? desas-desus? Apakah ketika keluar bisa dipastikan akan menjadi lebih baik? Allahu a’lam.

Ketahuilah, belajar agama itu sakral. Insya Allah selalu dalam bimbingan Allah. Tidak mungkin Allah menyia-nyiakan orang yang mendekatinya dengan belajar agama.

Kita belum T.I.T.I.P ke Gontor

Saat putra-putri kita masuk Gontor, biasanya walsan juga mendapat sedikit wejangan dari pimpinan Pondok agar melakukan T.I.T.I.P. T.I.T.I.P. adalah sebuah filosofi agar walisantri ikhlas dan percaya putra-putrinya akan dididik sepenuhnya di Gontor.

Dan semua itu dasarnya adalah percaya bahwa PONDOK tidak akan menyia-nyiakan anak didiknya. Dengan niat yang tulus, proses pendidikan akan dijalankan dengan baik. Keikhlasan yang menjadi prinsip utama pendidikan di situ, insya Allah akan mampu memberikan pendidikan yang baik bagi para santrinya.

Manqul adalah bagian dari proses pendidikan. Dan segala keputusan tentang itu tidak dilakukan secara acak melainkan secara detil, tercatat, dan mempunyai maksud positif kebutuhan santri dan juga kepentingan pondok.

Kita meremehkan Potensi anak kita juga meremehkan Gontor

Tanpa sadar, ketika kita kecewa atau bahkan menolak salah satu proses pendidikan di Gontor yang namanya manqul, kita telah underestimate dengan kemampuan anak kita karena dalih anak kita akan sulit lagi beradaptasi, khawatir anak kita tidak betah, khawatir akan desas-desus. Padahal santri-santri Gontor dididik untuk memiliki mental yang kuat dan dari sejarah membuktikan itu. Dan ketika kita merasa putra kita tidak akan “kuat” di cabang berarti kita melemahkan mental anak-anak kita.

Di sisi lain, kecewa dengan kebijakan manqul berarti kita juga meremehkan pondok-pondok cabang, seakan-akan tidak lebih baik dari Gontor pusat. Padahal kemampuan assatidz sama, peraturan sama, pimpinan sama, kebijakan sama, dan sejarah membuktikan hasilnya pun sama.

Kita mencabut gelar Mujahid bagi anak kita

Seorang mujahid adalah seorang pejuang. Ia siap ditempatkan dimana saja dalam kondisi apa saja. Dia siap menerima amanah dan siap menjalankannya.

Selama ini kita menjuluki dan memanggil anak-anak kita mujahid, namun ketiga “amanah” dan tugas baru datang, kita mengeluh dan menyerah.

Hal ini sama dengan kita menarik kembali status mujahid anak-anak kita. Sesungguhnya lari dari perjuangan itu bukan tipikal muslim sejati.

Kita meruntuhkan mental yang telah terbentuk

Sangat wajar ketika seorang anak dipindah ia menjadi sedikit sedih karena ia akan meninggalkan hal-hal yang mungkin sudah ditemukan kenyamanannya, persahabatan, lingkungan dan suasana kampus. Namun jiwa Gontori sejati memahami bahwa ketika amanat datang tidak ada cara lain melainkan harus dia laksanakan.

“Sudah cukup perjuanganmu disini, sekarang berhijrahlah kamu ke sana! berkaryalah! hidupilah! warnailah tempat hijrahmu dengan segala potensi yg kamu miliki! dirimu bukanlah barang rusak yg dibuang! tapi dirimu adalah kontingen pasukan perjuangan! Namun apabila kamu merasa dirimu adalah barang rusak, ketahuilah! engkau akan dibawa ke tempat reparasi, sehingga dirimu diperbaiki dan dimodifikasi sehingga menjadi baik seperti semula, bahkan lebih baik..”

Namun sebagian besar santri hampir tidak merasakan masalah ketika dimanqul, mereka sudah siap secara mental karena jiwa Gontory sedikit banyak sudah terpatri di dada mereka.

Akan tetapi justru terkadang ada orangtua yang melemahkan semangat mereka dengan mempertanyakan kebijakan pondok itu. Sang anak, bisa jadi yang tadinya kuat dan tidak masalah, namun karena orangtuanya, prinsip pejuangnya melemah bahkan hilang.

Kita semestinyalah terus menjadi motivator anak-anak kita bukan sebaliknya.

Penutup

Menitipkan santri di Gontor, hakikatnya seperti kita menitipkan anak kepada seorang Ibunya sendiri. Seorang Ibu tidak akan menzholimi anaknya sendiri. Semua dilakukan dengan cinta dan kasih sayang.

Dan Ibu Gontor, bukan ibu sembarangan. Usianya hampir menyentuh satu abad. Ia telah melahirkan banyak tokoh besar, tokoh bermanfaat, tokoh inspiratif. Pengalamannya mendidik dengan asam garam bahkan pahit semakin menambah khasanah kebijaksanaannya.

Dari “rahimnya” muncul kembali ratusan “ibu-ibu” pesantren lain yang terus memberi jariah yang tidak terputus kepada banyak assatidz.

Sebenarnya keikhlasan kita mestinya berbanding lurus ketika “kebijaksanaan Ibu” berlaku pada santri-santri kita, bukan sebaliknya. Respon negatif terhadap kebijaksanaannya khawatir mengurangi keberkahan apa yang sudah diberikan.

Santri Gontor insya Allah siap ditempatkan dimanapun sebagai medan perjuangan. Dan kita walisantrinya, insya Allah akan melihat pemuda-pemuda hebat yang akan memberikan kita jariah yang tidak terputus karena ketangguhannya dalam setiap kondisi perjuangan.

Motivasi anak kita saat manqul, jangan lemahkan semangatnya dengan ungkapan kekecewaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan