Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Motivasi dan Inspirasi dari Alumni Gontor “Bule” Australia, Ustadz Muhammad Ali Abdullah

Pendidikan di Gontor sangat melekat tradisi kesederhanaan, bahkan kesederhanaan itu sudah menjadi bagian dari pendidikan. Bagi beberapa santri baru kadang terjadi culture shock. Bagi yang biasa hidup dalam kemewahan kemudian berada dalam suasana kesederhanaan dan disiplin tentu memerlukan adaptasi yang tidak mudah.

Ketika anak kita sulit beradaptasi dengan didikan kesederhanaan Gontor, maka ia bisa belajar dari kisah Ustadz Muhammad Ali Abdullah, seorang alumnus Gontor yang berasal dari tempat yang bukan saja jauh namun juga berbeda budaya dan kebiasaan bahkan benua.

Ustadz Muhammad Ali Abdullah adalah warga negara Australia yang ber-ras kaukasoid alias bule. Keberadaannya di Gontor menjadi warna tersendiri bagi angkatannya. Namun perbedaan ras tidak berpengaruh terhadap perlakuan di Gontor. Ia tetap harus mengikuti segala pola kebersahajaan di pesantren yang sebentar lagi menginjak usia satu abad ini seperti juga santri-santri dari daerah lain.

Perbedaan budaya dan kebiasaan juga menimbulkan beberapa kisah yang unik bagi Ustadz Ali.

Berikut sekelumit cerita Beliau kepada penulis dalam sebuah chatting di media sosial, semoga menjadi inspirasi dan motivasi:

Related Articles

2 Tahun Setelah Mualaf “Merantau” ke Gontor

2 tahun setelah berikrar syahadat di tahun 1993, Theis (Ustadz Muhammad Ali Abdullah) memutuskan ingin mendalami agama barunya ke negeri yang terkenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia pada tahun 1995.

Pilihannya saat itu hanya Gontor. Ia tidak mengetahui pesantren lain karena kebetulan dua orang sahabatnya yang memimbingnya saat menjadi mualaf adalah dua orang alumni Gontor. Dan juga setiap orang Indonesia yang ia temui rata-rata mengenal Gontor dan memberi rekomendasi bahwa itu adalah pesantren bagus, maka putusannya bulat menuju Gontor.

“Pada tahun 1995, dua tahun menjadi muallaf, saya bersama dua kawan Muslim yang lainnya berkeinginan untuk belajar ke Gontor, dan alhamdulillah Allah mudahkan jalannya agar keinginannya bisa tercapai.” demikian jelas Ustadz Ali.

Culture Shock Pertama: Menu Gontor

Perjalanan ke Gontor adalah perjalanan pertama Ustadz Ali ke luar negeri. Maka membuat paspor dan mengurus visa menjadi pengalaman pertamanya. Walau urusan di imigrasi di Indonesia saat itu sulit dan berbelit, namun ia merasakan proses yang “cukup” cepat, dalam tiga hari ia sudah berada di Gontor dengan segala “dinamikanya”.

Culture Shock pertama yang ia rasakan adalah tentang makanan. Bagi sebagian santri baru asal Indonesia, menu makanan di Gontor cukup mengagetkan (pada awalnya) apalagi bagi seorang pemuda bule yang belum pernah ke Indonesia.

Ustadz Ali pernah beberapa kali makan masakan Indonesia di restoran Padang di Australia dan ternyata menu di Gontor tidak seperti masakan Padang!

Namun karena keinginannya belajar di Gontor lebih kuat, sedikit demi sedikit ia berhasil membiasakan diri dengan menu di Gontor.

“Memang kehidupan santri Gontor sengaja diatur agar belajar hidup sederhana, termasuk dengan makanannya. Daging hanya dapat menikmati sekali seminggu.” ujarnya

Untuk Adaptasi, Belajar dari Pengalaman Teman

Di Australia hanya dikenal 2 cara untuk mandi yaitu menggunakan shower yaitu berupa air yang dipancurkan atau bath, dimana kita masuk ke dalam air dan merendam diri beberapa saat. Dan itu tidak ia temukan di Gontor.

Namun Ustadz Ali belajar dari pengalaman temannya yang pernah belajar di Gontor sebelum dia. Teman itu bercerita bahwa ia sangat kaget dengan cara mandi di pondok dan juga toiletnya.

Pertama ia masuk ke kamar mandi ia kaget dengan gayung yang terbuat dari besi. Seperti cangkir besar yang digunakan untuk camping, tapi terlihat besar sekali. Ia bingung bagaimana orang minum dari cangkir sebesar itu.

Kemudian ia melihat bak mandi yang penuh dengan air. Ia pikir ini pasti bathtub untuk berendam. Maka ia masuk dan berendam di bak itu dan membersihkan badannya. Namun setelah mengetahui fungsi bak, ia merasa bersalah, karena setelah ia keluar dari kamar mandi, ada santri lain yang masuk. Dan santri itu mungkin memakai air bekas mandinya. Hiiii ….

“Alhamdulillah saya dapat ceritanya supaya tidak mengalami sendiri.” kata Ustadz Ali yang ternyata menggali dulu informasi tentang kebiasaan di Gontor dari temannya yang pernah terlebih menempuh ilmu di sana supaya tidak terjadi hal-hal yang “memalukan”.

“Banyak hal lain yang menjadi culture shock bagi saya, tapi saya mendapat banyak pengalaman dengan semua itu dan menyadari berbagai hikmahnya setelahnya.” lanjutnya.

Namun ternyata bukan perbedaan kultur dan kebiasaan yang paling berat yang ia rasakan selama sekolah di Gontor, melainkan homesick alias rindu rumah, saudara. Hal ini sangat wajar karena ini perjalanan pertamanya jauh dari rumah dan langsung ke tempat berbeda negara. Namun hal ini dianggapnya sebagai bagian perjuangan untuk menjadi lebih baik.

3 Hal yang Dirindukan di Gontor.

Walau saat di Gontor Ustadz Ali merindukan rumah tapi saat setelah lulus dari Gontor maka yang muncul adalah kerinduan terhadap almamaternya itu.

Ustadz Ali bersama keluarga besar Alumni Gontor di Australia

Keseluruhan suasana di Gontor adalah sesuatu yang dirindukan bagi Ustadz Ali Abdullah, namun tiga hal yang sangat berkesan baginya dan juga sangat dirindukan yaitu:

1. Kesungguhan dan keikhlasan para guru. Mulai dari Kyai sampai guru baru.

2. Mendengarkan suara tilawah Al-Qur’an menjelang adzan yang dapat didengarkan diseluruh kampus pondok.

3. Tajammu’

Dalam Skala 1-10, Gontor adalah 10

Dengan tawadhu, Ustadz Muhammad Ali Abdullah merasa belum maksimal dalam menjadi alumni Gontor ideal sebagaimana diharapkan Trimurti pendiri Gontor namun ia selalu berjuang untuk itu.

3 hal yang membekas yang menjadi bekal utamanya dalam mewujudkan cita-cita Trimurti itu yang juga membentuk kepribadiannya sekarang yaitu didikan Gontor kepada santrinya.

Gontor mendidik santrinya untuk mencintai ilmu, berjuang untuk menuntutnya, berjuang untuk membaginya, dan berusaha agar bermanfaat bagi umat.

Ini yang menjadi bekal Ustadz Ali dalam segudang aktifitasnya:

• Board of Imams member, Centre for Islamic Dakwah and Education (CIDE), Sydney
• Pembina Muallaf di Brisbane (di sponsori oleh Dompet Dhuafa Australia)
• Penceramah diberbagai Masjid dan Majelis Ta’lim masyarakat Indonesia di Sydney, Melbourne dan Brisbane. Masya Allah.

Karena hal itulah, ketika ditanya dalam skala 1-10 Ustadz Ali akan memberi nilai berapa, beliau menjawab 10!

Pesan Ustadz Muhammad Ali Abdullah kepada Santri dan Walsan Gontor

Nyantri di Gontor adalah “sesuatu”. Dengan segala aturan, disiplin, dan seluruh dinamikanya, tidak sedikit beberapa santri bahkan walisantri kemudian menyerah di tengah jalan. Berbekal pengalamannya, Ustadz Ali memberikan sedikit pesan kepada santri dan juga walisantri.

“Dalam kehidupan sebagai santri pasti ada suka dan duka. Satu hari santri bisa merasa betah, happy, dan bangga menjadi santri Gontor. Besoknya mungkin kena hukum dan mungkin merasa tidak bersalah, dan merasa tidak betah, dan ingin pulang. Kadang-kadang bisa kepikiran kenapa kok di Gontor seperti ini dan itu. Ketahuilah bahwa keseluruhan sistem di Gontor itu sangat unik dan ada maksud dibaliknya. Kadang-kadang ketika sedang merasakan itu belum dapat memahami, tapi setelah keluar dan pemikiran tambah dewasa itu akan sadar dan nensyukuri bahwa dulu pernah merasakan dan mengalami semua itu. Pesan saya untuk santri, “Don’t give up!” Untuk wali santri, semangati putra dan putri yang sedang berjuang.

Masya Allah, terima kasih telah berbagi Ustadz Muhammad Ali Abdullah, semoga Antum senantiasa dirahmati Allah dan diberkahi dalam setiap aktifitasnya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan