Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Pertolongan Allah itu Dekat! Inspirasi luar biasa Perjuangan Alumni Gontor Mendirikan Sekolah di Jakarta Timur

[wpcdt-countdown id=”3343″]

Hitungan Mundur Liburan Santri

Pernah mengalami satu titik seakan-akan kita sudah habis, hampir menyerah, kemudian pertolongan Allah datang tanpa kita duga?

Ada kisah tentang itu dari perjuangan 6 alumni Gontor dalam mendirikan sebuah sekolah di bilangan Jakarta Timur. Sangat inspiratif dan sarat hikmah.

Selalu menarik ketika berkesempatan menggali inspirasi dari alumni-alumni Gontor dengan perjuangannya. Termasuk dengan Ustadz Rudy Haryadi, Kepala Sekolah SD Tahfizh Ibnu Katsir Jakarta Timur.

Karena padatnya jadwal Beliau, penulis baru berkesempatan berdialog menggali inspirasi setelah sepekan membuat janji. Lama juga ya … hehehe

Informasi awal tentang “perjuangan seru dramatis” Ustadz Rudy dan teman-teman satu almamater dari Gontor penulis dapatkan dari salah seorang pengajar yang juga alumni Gontor. Begitu dahsyatnya pelajaran yang bisa diambil maka sayang sekali jika tidak menjadi catatan dalam blog ini untuk bisa dibaca keluarga besar Gontor hingga kapanpun juga.

Berawal dari Ngobrol di Tukang Bakso

Pelajaran pertama, merencanakan kebaikan itu ternyata sederhana. Tidak selalu harus diawali mengumpulkan banyak orang, tidak perlu rapat-rapat rumit dengan perdebatan, tidak perlu selalu terkumpul dana kemudian baru bergerak. Jika terbetik kebaikan, bismilah, kemudian laksanakan.

Begitu juga dengan Ustadz Rudy (99) dan sahabatnya Ustadz Sarudin (98) disaat ngobrol ringan di sebuah rumah makan bakso di pertengahan Januari 2017.

Saat itu mereka membicarakan bahwa sekolah-sekolah dengan penekanan penerapan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di Jakarta banyak namun rata-rata mahal. Tidak semua kalangan masyarakat yang bisa menitipkan putra-putrinya dengan pola pendidikan seperti sekolah tersebut.

Kemudian terbetik ide oleh mereka untuk membuat sekolah sejenis tapi dengan biaya yang murah. Niat mereka semata-mata agar ilmu Allah melalui keteladanan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bisa semakin banyak dirasakan semua lapisan masyarakat.

Niat mereka menjadi pelajaran kedua, menolong orang lain yang kurang mampu agar bisa merasakan pendidikan yang berkualitas. Mereka tidak mendirikan sekolah untuk mencari penghidupan namun semata-mata agar pengajaran sunnah melalui sekolah bisa lebih luas dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Memanggil Alumni Gontor lain

Niat sudah terpatri bersama azam yang kuat, akhirnya mereka langsung sepakat bergerak. Ini menjadi pelajaran ketiga: jangan tunda niat baik!

Saat itu belum terfikir bagaimana biaya membangun sekolah, dana mereka tidak punya. Ustadz Rudy saat itu hanya seorang guru disebuah pesantren yang hanya mendapat jadwal mengajar 3 hari dalam sepekan. Dan tidak berbeda dengan Ustadz Sarudin. Bisa dipastikan saat itu penghasilan mereka hanya cukup untuk keperluan keluarganya saja.

Tapi keyakinan mereka menjadi pelajaran keempat: Jika menolong agama Allah, pasti Allah tolong!

Dengan bismilah mereka membuat langkah pertama: menghubungi rekan-rekannya sesama alumni Gontor. Saat itu kemudian bergabung Ustadz Nurhadi (99), Ustadz M. Ruliandi (98), Ustadz Hidayat (97) dan Ustadz Sudirman 97.

Mengapa Ustadz Rudy mengumpulkan teman-teman alumni Gontornya? Karena keyakinannya bahwa alumni Gontor memiliki militansi yang tidak diragukan lagi. Bismillah!

Sekolah di Tanah Sisa Ukuran 3 x 5 meter!

Langkah pertama yang 6 sahabat ini lakukan adalah membuat sebuah yayasan yang akan menaungi tempat pendidikannya, dan saat itu Ustadz Rudy dipilih sebagai ketua yayasan.

Saat itu masih sekitar di penghujung bulan Januari 2017. Masih ada waktu beberapa bulan sebelum memasuki tahun ajaran baru. Mereka kemudian bergerak! Ada yang membuat proposal dan menyebarkannya, mencari lahan untuk disewa (padahal dana belum ada), sedang Ustadz Rudy sendiri mengkonsep kurikulum untuk diterapkan.

Semakin mendekati tahun ajaran baru, mereka belum mendapati tempat yang bisa digunakan untuk lokasi sekolah.

Ada sebuah bangunan sekolah yang tutup yang bisa disewa namun biayanya sekira 50juta pertahun, dan mereka belum ada dana.

Waktu tahun ajaran baru semakin mendekat!

Beberapa sahabat hampir menyerah untuk bisa percaya bahwa mereka bisa memulai di tahun itu, dan mengusulkan agar memulainya di tahun depan. Namun Ustadz Rudy dan sebagian yang lain masih yakin mereka bisa memulai ajaran tahun itu.

Akhirnya salah satu sahabat itu mengusulkan untuk sementara menggunakan sisa tanah keluarganya yang berukuran hanya 3 x 5 meter. Demi belum melihat jalan keluar lain akhirnya mereka sepakat.

Kemudian mereka membangun dari sisa tanah itu sebuah bangunan sederhana berdinding gypsum dan beratap asbes. Sangat sederhana. Bisa membayangkan? Kira-kira seperti bangunan di bawah ini.

Ilustrasi bangunan sekolah sangat sederhana cikal bakal SD Tahfizh Ibnu Katsir (Hanya ilustrasi)

Dan mereka juga patungan untuk membeli peralatan dan perlengkapan layaknya sebuah sekolah walau harus membeli barang-barang bekas.

Setidaknya bangunan, walau sangat sederhana, sudah ada. Dan mereka menamakan sekolahnya: SD Cinta Ilmu.

Tinggal muridnya ….

Tapi siapa orangtua yang mau menitipkan anaknya di sekolah SD seperti itu?

Murid 11 Keluar 6, sisa 5

Saat itu, tahun 2017, sekolah lain dengan model pendidikan seperti yang diterapkan SD Cinta Ilmu memiliki biaya pendaftaran berkisar di angka belasan juta, sedang Ustadz Rudy dan sahabatnya mensyaratkan uang pendaftaran hanya 2,5 juta rupiah dengan SPP hanya 200 ribu rupiah per bulan.

Namun hingga sekolah akan dimulai, yang daftar hanya beberapa orang. Di bawah 5 orang dan itupun anak-anak yang masih punya hubungan kekerabatan dengan pendiri sekolah.

Akhirnya dibuat kesepakatan untuk menggratiskan uang pendaftaran. Dan tim ini menghubungi sebuah panti asuhan untuk dapat menitipkan anak-anak yang belum sekolah di SD Cinta Ilmu dengan gratis. Akhirnya terkumpul total 11 orang murid. Alhamdulillah.

Sekolah bisa melaksanakan proses belajar mengajar.

Beriring jalannya proses pendidikan, beberapa orangtua mulai khawatir dan meragukan keberlangsungan pendidikan anak-anaknya di sekolah yang sangat sederhana itu.

Sekolah itu sangat sederhana, apakah diakui pemerintah? Apakah sekolah nanti tidak bubar di tengah jalan? Apakah ijazah atau raport dari sekolah ini berlaku jika meneruskan sekolah ke tempat lain? Demikian mungkin dalam benak para orangtua. Akhirnya satu persatu murid keluar baru dalam masa beberapa bulan sekolah.

Dari 11 siswa yang mendaftar saat pertama kini tersisa 5 siswa. Dan itupun dua orang tua siswa sudah akan hampir menarik anaknya dari sekolah itu tetapi berhasil diyakinkan Ustadz Rudy dan rekan-rekan.

Namun masalah belum selesai! Lokasi sekolah kecil itu akan didirikan bangunan. Mau tidak mau mereka harus pindah.

Mencari Lokasi Baru dan Sahabat Pergi

Niat baik itu tidak mungkin mulus-mulus saja tanpa diberi ujian oleh Allah. Ujian itu pastilah bukan karena Allah tidak sayang bahkan sebaliknya. Allah ingin menguji seberapa kuat niat baik itu. Hingga tiba waktunya Allah memberi balasan. Di sini dibutuhan kesiapan mental bahwa setiap perjuangan tidak akan disebut perjuangan hingga seseorang diuji. Dan Kesiapan Mental Berjuang ini adalah pelajaran kelima.

Ini sangat tergambarkan dalam perjuangan Ustadz Rudy dan para shahabatnya itu. Ketika siswanya satu persatu keluar, mereka harus segera mencari lokasi baru.

Para assatidz tidak menyalahkan pemilik tanah, karena mereka memang hanya menumpang tanah yang tadinya dikira tidak terpakai, tetapi ternyata akan dipergunakan untuk didirikan bangunan.

Mereka kemudian kembali bergerilya mencari tanah yang akan dijual yang pemiliknya bersedia untuk dibayar bertahap. Seluruh Jakarta Timur sudah mereka survey namun tidak mereka temukan. Membeli tanah dengan sistem seperti itu di Jakarta bukan hal yang mudah.

6 sahabat itu juga akhirnya tidak bisa lagi terus bersama. Karena murid tersisa hanya 5 orang, 3 orang sahabat mengundurkan diri untuk mengabdikan ilmunya di tempat lain dengan pertimbangan 5 murid bisa ditangani oleh 3 sahabatnya. .

Tinggal tersisa tiga sahabat:Ustadz Rudy, Ustadz Sarudin dan Ustadz Nurhadi.

Sejujurnya, mereka pun, tiga yang tersisa, sebenarnya sudah hampir menyerah. Begitu berat ternyata perjuangannya. Tapi ternyata Allah masih memberi mereka sedikit harapan dengan menyisakan opsi terakhir. Jika ini gagal, maka mimpi mereka memiliki sekolah tertunda.

Pertolongan Allah Tiba!

Setelah bergerilya dan belum mendapat hasil, Ustadz Rudy menjanjikan opsi terakhir kepada dua sahabatnya yang tersisa.

Ia memiliki kenalan seorang jamaah masjid yang ia pernah beberapa kali mengisi pengajian di sana. Beliau bernama Pak Khairul. Beliau adalah aghniya yang pernah mewakafkan sebuah masjid. Ia berharap Pak Khairul bisa diajak bekerja sama.

Namun takdir Allah berkata lain. Ustadz Rudy tidak dipertemukan Allah dengan Pak Khairul yang dimaksud, namun Allah pertemukan dengan Pak Khairul yang lain, yang sebenarnya ia punya tanah tidak jauh dari lokasi ruang kelas kecilnya yang sudah harus pindah: di gang sebelah!

Ini skenario Allah yang ajaib!

Setelah bertemu dengan Pak Khairul di Gang sebelah, ternyata responnya luar biasa. Ia memiliki tanah yang jauh lebih luas dari bangunan lama yang hanya 3 x 5 meter. Tanah kosongnya seluas 900m persegi berada di sisi jalan yang bisa dimasukin mobil bahkan truk.

Pak Khairul menyambut baik rencana Ustadz Rudy dan rekan-rekannya. Bahkan menanyakan berapa kebutuhan kelas untuk langkah pertama. Ustadz Rudy mengatakan bahwa untuk langkah awal dibutuhkan 3 ruang kelas. Dan ternyata langsung dieksekusi Pak Khairul dengan langsung dibuatkan 3 ruang kelas bulan itu juga.

Keceriaan siswa-siswa SD Tahfizh Ibnu Katsir

Masya Allah! Ternyata pertolongan Allah itu dekat. Sangat dekat. Setelah perjuangan mencari tempat kemana-mana bahkan hingga jauh namun tidak dipertemukan oleh Allah, ternyata Allah sebenarnya telah menyiapkan kejutan yang hanya bisa diperoleh bagi orang-orang yang bersabar.

Ini menjadi pelajaran keenam, bahwa jangan sekali-kali berputus asa dari pertolongan Allah karena tidak akan dicapai itu semua kecuali dalam sabar dan sholat.

Siswa dari 5 kini 250

Ustadz Rudy mengusulkan kepada Pak Khairul agar 3 kelas pertama itu dibuat dengan pondasi untuk bangunan bertingkat, walau dana Pak Khairul, muwakif saat itu, hanya cukup untuk membuat bangunan satu lantai. Tapi Pak Khairul setuju.

Kemudian Ustadz Rudy bersama Ustadz Sarudin dan Ustadz Nurhadi kembali bergerak menjadi jalan para kaum aghniya menyalurkan donasinya. Dengan telah memiliki lokasi yang representatif, ternyata Allah gerakkan tangan dari para aghniya lebih mudah untuk ikut memberi andil menjadi donatur sekolah pencetak generasi peradaban unggul berdasarkan jalan sunnah itu.

Sekolah itu kemudian diubah namanya menjadi SDIT Al Quran Ibnu Katsir.

Siswa yang awalnya 5, kemudian Allah gerakkan para orangtua untuk memindahan anak-anaknya dalam tahun pelajaran yang sedang berjalan ke sekolah itu. Qodarullah, ada sekira 28 anak pindahan mengisi kelas awal itu sehingga jumlah siswa menjadi 33 orang.

Dan kini memasuki tahun ketiga jumlah total siswa menjadi 250 orang. Dengan rincian murid TK 35 siswa, SD kelas 1 90 siswa, kelas 2 60 siswa, kelas 3 20 siswa dan kelas 4 33 siswa.

Bahkan untuk tahun ajaran baru yang baru akan dimulai beberapa bulan ke depan, sudah mendaftar sekira 90 calon siswa! Masya Allah!

Dan bangunan yang awalnya hanya berukuran 3×5 meter kini SD Tahfizh Ibnu Katsir memiliki gedung 2 lantai dengan luas 210m², gedung 4 lantai dengan luas 720m², gedung 3 lantai dengan luas 200m². Bangunan itu berdiri di atas tanah seluas 900m²

Sebuah nikmat yang luar biasa buah perjuangan yang dibalut kesabaran.

Semua kelas Ber-AC namun biaya cukup murah

5 siswa yang pertama yang bertahan itu ditambah 28 anak pindahan, kini sudah kelas 4. Dan mereka semua menjalani proses belajar mengajar dalam kelas permanen yang full AC! Dan mereka diajar oleh guru-guru dengan kualifikasi yang mumpuni, seperti lulusan LIPIA, dan universitas lain-lain dan ternyata mereka rata-rata adalah alumni UNIDA Gontor.

3 orang sahabat alumni Gontor ini, Ustadz Rudy, Ustadz Sarudin dan Ustadz Nurhadi, tidak melupakan almamater mereka dengan menjadi jalan para alumni Gontor mengamalkan ilmunya di sekolah tersebut.

Walau telah menjadi salah satu sekolah yang representatif dengan kualifikasi pengajar yang bukan seadanya, SD Tahfizh Ibnu Katsir tetap dengan komitmen awal untuk menjadi alternatif sekolah terbaik dengan biaya yang bisa dijangkau oleh khalayak ramai.

Dibanding sekolah-sekolah sejenis yang dibutuhkan belasan juta untuk bisa mendaftar, SD Tahfizh Ibnu Katsir hanya menetapkan uang pendaftaran sekira 4 jutaan dengan SPP hanya 200 ribuan.

SD Tahfizh Ibnu Katsir masih membuka kesempatan Peluang amal menjadi donatur

Seiring pertambahan murid yang akan dihadapi setiap tahun ajaran baru, otomatis SD Tahfizh Ibnu Katsir terus membutuhkan ruang kelas baru untuk menampung itu semua.

Siswa “tertuanya” yang kini kelas 4, tahun depan akan naik ke kelas 5 dan minimal 3 hingga 4 kelas baru akan menunggu saat pendaftaran siswa baru.

Yayasan juga membuka kelas untuk taman kanak-kanak, TK Al-Qur’an Ibnu Katsir, yang alhamdulillah juga memiliki respon yang baik, serta ada juga kelas tahfizh khusus akhwat yaitu Ma’had Tahfizh Putri Ibnu Katsir

Ini semua tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, Yayasan masih membuka kesempatan para donatur yang akan berpartisipasi dalam mencetak generasi awal yang unggul, yang akan disalurkan untuk pembangunan kelas-kelas baru dan juga rencana pendirian SMP Tahfizh Ibnu Katsir.

Jika pembaca walsantornews.com tergerak ingin ikut berpartisipasi, bisa menghubungi Ustadz Rudy selaku ketua Yayasan dan juga kepala sekolah atau bisa juga melihat informasinya di akun resmi FBnya dengan link berikut ini.

Penutup

Jika melihat jalan perjuangan pendirian SD Tahfizh Ibnu Katsir dan juga skenario Allah menguji kesungguhan para pendirinya dalam keikhlasan dan kesabaran, ini yang membuat walsantornews.com terpikat untuk menyampaikan inspirasi besar ini agar menjadi salah satu pelajaran besar bagi keluarga besar Darussalam Gontor.

3 poin penting yang diharapkan dari inspirasi ini yaitu:

1. Semoga ini menjadi inspirasi dan juga motivasi bagi para alumni untuk bisa mengambil andil mencetak generasi-generasi islam yang unggul dengan membuat sekolah terbaik;

2. menjadi jalan para muwakif, muzakki atau munfiq dalam menyalurkan wakaf, zakat dan infaq pada saluran yang pas, dan

3. juga menjadi bahan para walsantor untuk terus menyemangati, memotivasi ustadz-ustadz mudanya yang mungkin baru lulus yang menemui ujian serupa, bahwa jangan berputus asa dengan pertolongan Allah dengan mengambil 6 pelajaran dari Ustadz Rudy dan sahabat-sahabatnya: merencanakan kebaikan itu simpel aja, tinggal luruskan niat, jangan tunda, yakin pertolongan Allah, yang dicapai dengan mental pejuang dan diraih dalam sabar dan sholat.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan