Hanya di Gontor

IKPM Kedua setelah ILUNI (?)

7 Parameter Keunggulan IKPM dibanding organisasi alumni lain

[wpcdt-countdown id=”3343″]

Hitungan Mundur Liburan Santri

Judul di atas bisa bermakna pernyataan atau pertanyaan. Keduanya sah-sah saja tergantung dari sudut mana kita menilainya.

Salah satu barometer keberhasilan sebuah institusi pendidikan, memang, adalah alumninya. Alumni yang dimaksud bukan hanya berarti sekedar lulus dari institusi tersebut melainkan bagaimana kiprahnya dalam membawa maslahat dan manfaat bagi orang banyak.

Beberapa waktu lalu, dalam chating-an dengan Ustadz Hakim, Beliau mengatakan bahwa alumni Gontor itu luar biasa, mungkin saat ini yang bisa mengunggulinya hanya Iluni dalam hal kontribusinya terhadap bangsa dan negara.

Menarik! Secara ILUNI adalah institusi alumni keluaran sistem pendidikan tertinggi dalam hirarki pendidikan di Indonesia dengan sarjana hingga profesornya. Sedang Gontor dengan IKPMnya hanya setingkat pendidikan menengah. Keren nih, masya Allah!

Tingkatan Pendidikan Mana yang Berhak disandang Seorang Alumni

Jenjang pendidikan di Indonesia itu banyak, mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Jika seseorang “berhasil” jenjang pendidikan mana yang paling layak disandangkan sebagai produsen alumninya?

Sebenarnya secara formal, sebuah institusi sah-sah saja mengklaim seseorang yang pernah menempuh pendidikan di institusinya sebagai alumninya. Misal, menteri anu adalah lulusan TK anu, atau SD anu.

Namun secara logis dan normatif, seseorang berhak mempublikasikan dirinya sebagai alumni dari sebuah institusi pendidikan yang telah “membentuk” dirinya. Institusi tersebut telah “menjiwai“nya, telah membentuk karakternya saat ini, dan institusi itu berpengaruh besar dalam jalan hidupnya.

Dan sebagai sekolah pembentuk karakter unggul, sangat sah jika ada alumni Gontor merasa lebih gontory walau mungkin ia melanjutkan pendidikan hingga lulus dari perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun luar negeri, atau mungkin lulusan Akmil dll. (jika ada satu, dua yang tidak seperti itu juga masih wajar, karena tidak ada yang sempurna).

Sekilas Iluni

Di Indonesia, ILUNI, Ikatan Alumni Universitas Indonesia, sudah tidak aneh lagi memberi banyak kontribusi bagi bangsa. Para lulusannya pernah dan sedang mengisi beberapa posisi-posisi penting di pemerintahan atau pernah dan sedang menjadi tokoh-tokoh yang banyak memberi inspirasi bagi masyarakat.

Sebagai salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia, Universitas Indonesia telah melahirkan tenaga ahli dengan kuantitas tak terhitung di segala bidang. Alumni UI umumnya terkenal sebagai pakar di bidangnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, UI telah melahirkan banyak insinyur dan banyak lagi yang hasil penelitiannya tidak saja diakui oleh kalangan dalam negeri, namun juga oleh kalangan ilmuwan internasional. Dalam bidang politik, alumni UI juga punya peran penting. Bahkan tidak jarang sebagai pembuat kebijakan.

Organisasi ini dimulai dari seruan Presiden Universitas Indonesia ketika itu Prof. Dr. Bahder Djohan, untuk menghimpun lulusan Universitas Indonesia pada tanggal 19 Juli 1956, dan disusul Rapat Umum di aula Salemba 4, tanggal 3 Februari 1958, maka oleh peserta pertemuan sekitar 78 orang disahkan berdirinya ILUNI sejak 2 Februari 1958.

Tokoh-tokoh besar ILUNI diantaranya: Abdul Gafur, Ali Alatas, Fahmi Idris, Fahri Hamzah, dan lain-lain

Ketenaran ILUNI juga ditopang dengan pemberitaan media yang luas.

Sekilas IKPM

IKPM tenyata berdiri lebih dahulu dibanding Iluni.

Berawal dan Konggres Muslimin Indonesia pertama di Yogyakarta tahun 1949, Gontor diwakili Kiai Haji Imam Zarkasyi menghadiri konggres tersebut disertai Ghazali Anwar dan Mukari asal Ponorogo.

Ketika Konggres Muslimin Indonesia yang pertama itu berlangsung, ternyata banyak alumni Pondok Modern yang menjadi peserta konggres mewakili berbagai macam organisasi dan berbagai macam daerah. Melihat kenyataan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan, membicarakan terbentuknya organisasi kekeluargaan bagi setiap alumni.

Akhirnya, pertemuan yang dilangsungkan di rumah salah seorang alumni Gontor bernama Pak Dukhan di Ngasem Yogyakarta, dan berhasil membentuk organisasi alumni yang disebut dengan IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) pada tanggal 17 Desember 1949 yang diresmikan kemudian tahun 1951, dengan tujuan agar hubungan bathin alumni dengan pondoknya tetap terpelihara.

Setelah terbentuknya IKPM, disusunlah AD & ART yang kemudian disahkan pada Konggres I (Mubes I) IKPM di Pondok Modern Gontor, pada 31 Oktober 1951 bersamaan dengan peringatan seperempat abad berdirinya Pondok Modern Gontor yang berlangsung pada 27 Oktober sampai dengan 4 November 1951.

Tokoh-tokoh alumni Gontor yang berpengaruh di Indonesia diantaranya: KH. Idham Kholid, KH. Hasyim Muzadi, KH. Din Syamsuddin, Dr. Hidayat Nurwahid, Dr. Nurkholis Madjid, Ustadz Lukman Hakim Saefudin, Ust. Ahmad Fuadi, dll.

Dan uniknya orang diluar keluarga besar Gontor mungkin tidak terlalu familiar dengan IKPM padahal kiprah alumninya sangat luar biasa.

Ssst … sebenarnya IKPM lebih unggul dari Iluni, ini Parameternya

Sejatinya, sebenarnya Gontor dengan IKPMnya tidak ada urusan dengan peringkat, dengan siapa yang unggul. Karena itu bukan tujuan mereka. Dengan Motto Panca Jiwa dan Panca Jangkanya, Gontor dan alumninya tidak dibentuk untuk “meminta” (diliput) dan “berharap “(nomor satu) melainkan “memberi dan berkontribusi” bagi pondok, bagi umat, bagi bangsa bahkan bagi dunia. Itulah sebabnya kiprah IKPM hampir tidak terdengar kecuali dalam lingkup keluarga besar Gontor.

Dan sejatinya lagi, alumni sebuah perguruan tinggi pantasnya “dibandingkan” dengan alumni perguruan tinggi lain. Seperti Iluni dengan alumni UGM, atau ITB atau Unair, Undip dan sejenisnya.

Jika berbicara kualitas dan kapasitas keilmuwan, keahlian bidang pengetahuan umum maka lulusan perguruan tinggi mungkin lebih unggul.

Namun tidak bisa dipungkiri dalam hal mencetak tokoh-tokoh bangsa, kontribusinya dalam masyarakat, bangsa dan negara, ternyata IKPM melesat dari mulai berdirinya bahkan melebihi banyak pabrik-pabrik intelegensia berlabel perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan salah satu media asing pernah menulis Gontor sebagai Harvardnya Indonesia. Keren cuy! Masya Allah.

Lalu bagaimana parameter dalam menilai keunggulan organisasi alumni ini dibanding yang lain? Panasaran.com .. eh walsantornews.com membuatnya dalam beberapa parameter berikut:

1. Tokoh-tokoh besar dan berpengaruh secara lokal, nasional bahkan global

“Memproduksi” tokoh-tokoh besar adalah parameter wajib dalam menilai sebuah institusi pendidikan. “Besar” disini bisa berarti memimpin atau memiliki peran penting di lembaga pemerintahan, organisasi dengan massa besar, organisasi dengan pengaruh besar, pemikir besar, tokoh besar masyarakat, ilmuwan, wirausahawan dan pengusaha dan lain sebagainya.

Dari semua barisan “besar” itu, ada alumni Gontor yang pernah dan sedang menjalaninya. Mulai dari RT hingga menteri, Lembaga tertinggi Negara (MPR) hingga ketua parlemen muslim sedunia, mulai ketua ranting organisasi agama hingga ketua umum organisasi Islam terbesar di dunia, kepala sekolah TK hingga rektor perguruan tinggi, ulama dan budayawan, wirausaha dan pengusaha dan lain-lain.

Dan hanya satu yang belum namun insya Allah akan terjadi di masa depan yaitu Presiden Republik Indonesia. Hayu dukung Ustadz Djalil IKPM Subang untuk jadi presiden, eh …五五五

2. Networking yang luas

Networking juga menjadi salah satu syarat wajib kebesaran sebuah organisasi. Sekedar banyak dan ketersebaran alumni bukan jaminan akan membuat besar sebuah organisasi alumni seandainya yang banyak dan tersebar itu tidak terjalin dalam networking yang hidup.

Di kalangan alumni networking ini berhasil membentuk Gontor Connection yang melegenda, tentunya koneksi yang “halal”.

Muscab IKPM Turki 2020

IKPM sangat tersebar secara nasional dan global. Di setiap propinsi, bahkan hampir disetiap kota dan kabupaten ada IKPM, bahkan di 5 Benua dengan puluhan negara ada perwakilan IKPMnya, dan bukan sekedar papan nama melainkan memang hidup dan berperan dalam networking.

3. Militansi Alumni

Aih, militansi alumni Gontor mah jangan ditanya. Militansi itu ketangguhan dalam berjuang (menghadapi, kesulitan, keterbatasan, dan sebagainya).

Militansi ini tidak terjadi jika pejuang dipenuhi fasilitas dan kemudahan. Dan alumni Gontor insya Allah unggul disini.

Ada fasilitas karena networking atau istilah kerennya Gontor Connection ataupun tidak, tidak menjadi masalah yang penting, jika Gontor memanggil maka akal sehat akan datang, eh .. 五

4. Ikatan Emosional dengan institusi

Jika dikampus-kampus perguruan tinggi interaksi “penduduk” kampus dengan kampusnya hanya terjadi saat ada perkuliahan dan kegiatan yang bahkan kadang tidak terjadi setiap hari, tentu sangat sulit membentuk ikatan emosional yang kuat.

Sedang alumni Gontor (IKPM) dan pesantren pada umumnya, interaksi yang terjadi adalah 24 jam sehari, 7 hari sepekan. Teringat dulu KKN yang hanya 2 bulan, berhasil membentuk ikatan emosional yang kuat apalagi jika 5 hingga 6 tahun ditambah satu tahun pengabdian.

Dan di pondok itu ada sosok Kiai yang selalu dirindukan. Fungsinya sudah seperti orangtua. Orangtua-anak senantiasa saling merindukan. Ada yang rindu Rektor? 五

5. Fasilitas dan Output

UI, UGM, UNDIP, UNPAD adalah perguruan tinggi negeri yang fasilitas dan aksesnya dijamin oleh pemerintah. Dan mestinyalah itu membuat mereka unggul. Mestinya. Namun ternyata perkembangan mereka tidak berjalan seiring.

Dan seandainya mereka memiliki output unggul itu bukan sebuah keanehan.

Namun seandainya ada institusi alumni yang mandiri, tidak difasilitasi pemerintah dalam arti resmi dan mereka bisa besar, hidup dan menghidupi, itu baru awesome!

Dan demikianlah IKPM. Fasilitasnya adalah apa yang Allah kasih dari sumber daya alumninya, dalam Gontor Connection, dalam militansi dan keikhlasan, semangat menghidupi bukan dihidupi, semangat memberi bukan meminta, semangat berkarya bukan berharap, insya Allah. Bismillah!

Teringat ucapan Kiai Ahmad Hidayatullah Zarkasyi saat mengunjungi sekolah paling unggul di Amerika karena sangat kaya dan difasilitasi pemerintah, Beliau berkata:

If we had as much money as Cushing Academy, we could do better than them,

Ini bukan pengandaian sebuah penyesalan, melainkan sebuah bentuk kebanggaan atau kesyukuran dengan apa yang Allah tetapkan untuk Gontor.

6. Duplikasi

Nah, ini yang tidak bisa dilakukan alumni universitas secanggih atau sebesar apapun di Indonesia, DUPLIKASI.

Belum pernah mendengar alumni sebuah perguruan tinggi negeri besar di Indonesia, karena kecintaan dengan almamaternya membuat institusi sejenis dengan label “Kampus Alumni”, misal UI cabang Medan 五.

But IKPM does!

7. Lingkup Kontribusi IKPM lebih luas dan Range lebih besar

Kontribusi untuk bangsa, negara dan umat itu bukan hanya menjadi orang penting di pemerintahan atau perusahaan besar atau organisasi besar.

Ada lingkup kecil disudut daerah terpencil, atau masjid kecil yang sangat jarang tersentuh alumni-alumni perguruan tinggi besar, yang mereka rata-rata berlomba-lomba melamar pekerjaan di perusahaan atau instasi besar di kota besar.

Range pengabdian IKPM lebih luas dalam hal ini. Barokallah.

..o0)O(0o..

Semoga Allah menjaga ruh keikhlasan para alumni, militansinya, kecintaannya pada almamaternya dan juga kontribusinya bagi Gontor, umat, bangsa dan negara. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin

..o0)O(0o..

Di lain waktu, Ustadz Sin, admin grup IKPM Eropa, meminta saya mewancarai Ustadz Ismail, yang saat ini memegang amanah menahkodai IKPM, karena dari Beliau bisa banyak sekali digali inspirasi tentang IKPM karena ditangan Beliau IKPM sekarang makin menggema dan makin disegani. Semoga kesempatan itu, mewawancarai Beliau, bisa terwujud, bismillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan