Berita Keluarga Besar

Saat Santri-santri Berpeluh Mempersiapkan DA dan PG, Bunda Walsan Priangan “Gelut” dengan Perampok! 😱

Sudah lama tidak mengupdate tulisan di blog ini, bingung mau nulis apa. Mau menulis tentang Gontor, tulisan alumni lebih bernas dari coretan saya. Mau membahas dari kacamata walsantor tentang segala akfitas di Gontor, entah kenapa mut belum datang-datang juga.

Tapi, suatu sore, saat sedang mencari ide untuk tulisan blog lain, panasaran.com, tiba-tiba istri kasih kabar bahwa Mama Dean – demikian sesama walsantor memanggil walsan lain berdasarkan nama anaknya yang nyantri di Gontor – walsantor Priangan, baru saja kerampokan dan terlibat “pergelutan” dengan sang perampok. Whattt!!

Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Kaget, sedih, ikut berduka pasti menjadi kesan pertama saat mendengar kabar musibah dari keluarga besar Gontor. Tapi untuk peristiwa ini, selain kesan di atas, koq ternyata muncul juga kesan salut, takjub sama seorang ibu dua putra di Gontor ini. Wanian! kalau dalam Bahasa Sunda, kira-kira artinya koq berani-beraninya!

Dari dulu saya takjub dengan para walsan Gontor. Ini sekolah luar biasa, anak-anak/santri-santrinya luar biasa, dan tentunya para walsannya juga luar biasa.

Mulai dari kisah hidup yang inspiratif, perjuangannya hingga bisa memasukkan putra/putrinya ke Gontor, perjuangannya mencari nafkah, perjuangannya meyakinkan putra/putrinya terus bertahan dalam kawah candradimuka yang bernama Gontor, perjuangannya saling membantu sesama, kepedulian yang besar terhadap negeri (ngobrolin politik maksudnya hehehe 🤭) dan banyak kekaguman lainya.

Dan peristiwa “pergelutan” seorang ibu walsan dengan perampok rumahnya semakin menambah deretan dugaan saya bahwa walsantor itu memang “diciptakan khusus”. Bahasa transendennya, Allah menakdirkan jalan-jalan alumni Gontor yang banyak yang luar biasa itu dari rahim seorang ibu yang luar biasa dari keringat dan lelah seorang ayah yang luar biasa. Istilahnya pengkaderan dipilih dari keluarga pilihan.

Jika ini dianggap terlalu berlebihan, minimal anggaplah ini sebagai doa.

Lalu bagaimana cerita perampokan itu?

Peristiwanya baru saja terjadi. Saat santri-santri kelas 5 sedang bermandikan peluh untuk persiapan final dua hari sebelum pergelaran Drama Arena, saat hampir semua walsan memantengi grup-grup walsan menanti kesempatan bisa mendapat link pergelaran yang mungkin anak-anaknya ikut terlibat.

Ibu Lisa, atau Mama Dean, bergamis biru di posisi paling kiri. (Foto koleksi pribadi Emak-Mak Priangan)

Begitupun Mama Dean, yang bernama asli Ibu Lisa. Beberapa hari sebelumnya ia berinisiatif mengordinir beberapa walsan Priangan untuk memberi andil pertunjukan Konsulat Priangan dalam acara KA dengan membelikan kostum untuk tampil. Dan hari itu pun, Rabu, 9 Desember 2020, ia pun sedang terlibat pembicaraan dengan Mak-mak Priangan terkait seorang santri yang sedang sakit semacam bisul di kaki.

Mama Dean adalah seperti kebanyakan para ibu, seorang ibu rumah tangga yang setiap hari bergelut dengan aktifitas rumah, sementara sang suami, Ayah Dean, beraktifitas di luar mencari nafkah.

Siang itu, pukul 12.15, saat Mama Dean sejenak meluruskan kaki di atas sofa setelah seabreg aktifitasnya. Ia membuka androidnya sambil membalas chat dari beberapa walsan yang berniat untuk menengok santri yang sedang pulang ke Bandung karena sedang sakit.

Tiba-tiba ia mendengar suara aneh di kamar tidurnya. Ia heran, karena tidak ada orang lain di rumahnya saat itu. Suaminya sudah keluar dari tadi dengan meninggalkan beberapa rupiah uang di meja untuk keperluan hari itu.

Belum terpikir hal buruk yang melintas di benak Mama Dean, tapi ia teringat bahwa tadi ia tidak menutup rapat pintu rumahnya. Tapi ia membuang prasangka bahwa akan ada yang masuk, karena selama ini lingkungan rumahnya aman. Kompleknya berada dalam lingkungan one gate, hanya satu gerbang, yang tentu tidak ideal bagi para pelaku kejahatan. Tapi ia paksakan berdiri untuk meyakinkan suara apa yang tadi terdengar di kamarnya

Namun betapa kagetnya ia!

Theft of an Cremation Urn: what a crime?! - Scattering Ashes

Di kamar itu ia menatap seorang laki-laki dewasa yang sedang memasukkan barang-barang berharga ke dalam tasnya, beberapa smartphone milik anaknya yang selama ini hanya tergeletak di meja kamar menunggu pemiliknya liburan dan juga uang yang tadi ditinggalkan suaminya.

Laki-laki itu pun bertemu pandang dengan Mama Dean. Kedua-duanya kaget.

“Mau apa kamu di sini?” Teriak Mama Dean.

Laki-laki asing yang kaget itu, mungkin karena panik, mengeluarkan lagi barang-barang yang sebelumnya sdh dimasukkan kecuali uang.

Belum sempat terpikir apa lagi yang harus dilakukan oleh Mama Dean, ternyata laki-laki asing itu bergerak lebih cepat. Tanpa menjawab pertanyaan Mama Dean ia langsung menghampiri Mama Dean.

Dia menyerang Mama Dean!

Mama Dean yang saat itu sedang memegang HP langsung melempar hape itu berharap si penjahat tidak ikut membawa hapenya. Hanya itu yang sempat ia pikirkan. Kemudian ia sibuk mempertahan diri dari serangan si perampok.

Si perampok mencoba menusuk mata Mama Dean dengan kuku namun berhasil di halangi oleh tangan Mama Dean. Perampok itu makin beringas! Mama Dean dipukuli tanpa peduli bahwa yang dihadapinya adalah seorang wanita yang tentunya bukan bandingan tenaga laki-laki.

Tapi Mama Dean bukan wanita lemah sebagaimana pikiran perampok itu. Ia balas memukul. Terjadilah pergelutan yang sangat tidak seimbang. Hal ini makin membuat perampok kehilangan akal. Ditariknya rambut Mama Dean dan terus dipukulinya wajah sang ibu 3 anak itu! Sehingga Mama Dean merasakan sakit yang sangat. Astaghfirullahal ‘azhim, penjahat terkutuk!

Secara logika penjahat itu, seharusnya Mama Dean sudah terjatuh dan menyerah, tapi ia sedang melawan perempuan luar biasa. Penjahat itu mencoba memukul dengan sekuat tenaga leher bagian belakang Mama Dean berharap ibu itu pingsan, mungkin demikian yang sering ia tonton di film-film. Tapi, alhamdulillah, Allah belum izinkan itu terjadi. Mama Dean masih melawan.

Tangan Mama berusaha menjangkau kipas angin yang tidak jauh darinya, saat terjangkau langsung ia pukulkan ke perampok itu. Kipas itu terlepas, lalu tangannya mendapat amunisi lagi dengan menjangkau charger hape dan dihantamkan ke kepala perampok.

Begitu sengitnya perlawanan Mama Dean membuat anting-antingnya terlepas.

Hingga satu titik yang ia rasakan tenaganya sudah habis. Ia tidak lagi sanggup melawan. Ia hanya bisa berdoa dalam hati:

“Ya Allah, panjangkanlah usiaku, selamatkanlah aku …”

Bayangkan Mak-mak seperti Mama Dean (Jilbab krem sebelah kiri bawah) berkelahi dengan penjahat. (Foto koleksi pribadi Emak-Mak Priangan)

Kemudian kembali semangatnya muncul. Dengan berani ia menyuruh si perampok itu berhenti memukul.

“Sudah! Jangan dipukul terus! Sakit tau!! Kalau mau pergi ya pergi aja!”

Si perampok kaget. Dipikirnya Mama Dean sudah tidak berdaya. Melihat usahanya sia-sia, si perampok akhirnya cabut. Kabur bersama temannya yang menunggu dari tadi diluar dengan kondisi motor yang terus hidup.

Segera setelah perampok itu lari, dengan sisa tenaganya Mama Dean ikut keluar dan mulai berteriak.

“Bangsat! Maling! Bangsat! Maling!” (Bangsat berarti maling dalam bahasa Sunda).

Mama Dean meneriakkan itu sambil membawa balok yang sempat diraihnya. Tapi apa lacur ternyata penjahat iti sudah kabur sebelum para tetangga berdatangan.

Sekali lagi, innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Semoga Allah memberi kekuatan Mama Dean, menghilangkan traumanya dan mengganti semua yang hilang dengan kebaikan. Aamiin

Tapi sebagaimana wanita, kejadian luar biasa itu tentu menyisakan trauma yang dalam. Luka-luka fisik seperti memar, bengkak dan luka mungkin masih bisa hilang dalam hitungan hari. Tapi luka psikis tentu tidak mudah hilang.

Mari kita doakan semoga trauma itu segera berlalu.

Visum dan Lapor Polisi

Papa Dean segera pulang setelah mendengar kejadian itu. Dan mereka pun sudah melakukan prosedur untuk kelengkapan pelaporan ke polisi diantaranya Visum et repertum berupa kondisi fisik yang lebam, memar dan terluka.

CCTV Tidak Aktif

Mudah-mudah bukan termasuk sedang trend, tapi CCTV di rumah Mama Dean sedang tidak aktif sebagaimana CCTV di Tol Karawang kemarin (heheh ga nyambung).

Pelaku yang terekam kamera CCTV Komplek

Tapi alhamdulillah CCTV komplek dikabarkan aktif. Dan semoga sempat mereka “penampakan” penjahatnya dan segera tertangkap dan diberi hukuman setimpal. Aamiin

Penjahat Sial

Dan ini titik kenapa saya kagum dan salut atas peristiwa ini: Mama Dean masih bisa menceritakan kejadian yang menimpanya tanpa keluhan! Tanpa merasa paling tersiksa.

Bahkan kisahnya diceritakan di grup dimana istri saya bergabung dengan sedikit candaan. Jadi para Mak-Mak di grup itu berada dalam kesedihan bercampur tertawa.

Dan sebenarnya yang sial adalah perampoknya! Ia salah masuk. Ia masuk ke rumah WALSANTOR yang terkenal tahan banting. Hehehe.

Bahkan si perampok hampir tidak membawa apa-apa kecuali selembar uang lima puluh ribu yang tersisa di meja.

Beberapa Smartphone yang tadinya sudah masuk di dalam tas malah dikeluarin lagi kusebab kaget. Bahkan doi sempat merasakan “sedapnya” kipas angin dan charger hape yang mampir ke kepalanya.

Jam tangan dan tasbih milik perampok

Dan satu lagi, si penjahat tanpa sadar meninggalkan jam tangan miliknya dan juga tasbih yang entah didapat dimana.

Hikmah dan Pelajaran Yang Bisa Dipetik

Kebanyakan ibu-ibu walsan adalah pejuang-pejuang rumah tangga yang berjihad di rumah. Dan saat ditinggal suami mencari nafkah, hendaknya betul-betul meyakinkan diri dalam kondisi aman, seperti senantiasa menutup dan mengunci pintu rumahnya.

Kedua, penjahat ketika ketahuan, sebenarnya merekapun panik. Cara yang terbaik disaat kita menyadari kehadiran orang asing yang bermaksud buruk yaitu dengan segera bersembunyi di tempat aman dengan handphone yang siap menelepon. Jika dalam kondisi kita terjebak, sebenarnya keselamatan jiwa kita lebih utama dibanding barang-barang yang diambil. Buat keputusan yang bisa menyelamatkan jiwa.

Namun dalam kondisi seperti yang Mama Dean alami adalah kondisi khusus. Mama Dean mungkin saat itu menyadari bahwa si Pelaku tidak bersenjata jadi ia berani melawan. Seandainya bersenjata, na’udzubillahi min dzaalik, maka lari dan bersembunyi adalah lebih baik.

Ketiga, jika di rumah terpasang CCTV, pastikan alat ini masih terus bekerja. Walaupun keadaan dirumah senantiasa aman, karena apa yang terjadi di depan tidak ada yang tahu.

Keempat, sering-seringlah berkumpul denga teman-teman yang senantiasa memotivasi. Seperti teman-teman pengajian, sesama walsantor yang saling memberi semangat. Jika tidak secara fisik, maka petemanan maya pun akan banyak membantu. Teman yang baik yaitu teman saat kita sedang dilanda kesusahan yang terus memberi semangat dan motivasi.

Semoga bermanfaat. Dan Semoga Allah melindungi seluruh keluarga Besar Gontor, termasuk para walisantri Gontor. Semoga Allah mudahkan urusannya, Allah lapangkan rezekinya, dan anak-anaknya menjadi anak-anak sholeh dan bermanfaat bagi umat. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan