Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Tuah Melaksanakan Wejangan Kiai Sahal, Dari Pemandu Wisata menjadi Pemandu Haji: Pengalaman Inspiratif Alumni

“Saya belum jadi apa-apa Pak, ga pantas dituliskan artikel tentang saya …”, demikian rata-rata jawaban alumni ketika saya meminta izin membuat artikel tentang mereka.

Ketika kesuksesan hanya diukur dari jabatan yang dimiliki, atau harta berlimpah yang dikumpulkan, atau perusahaan yang besar dengan ribuan karyawan maka bisa jadi hanya segelintir orang yang bisa diliput dan memberi inspirasi. Dan bisa jadi inspirasi yang ditimbulkan tidak jauh dari hasrat hedonis yang hanya berorientasi materi.

Bagi saya, orang sukses itu sederhana: Ia tidak ingin menjadi beban dan dengan ikhlas berusaha memberi manfaat bagi orang lain. Dan jika ia seorang alumni Gontor tentunya yang sejalan dengan filosofi dan idealisme almamaternya.

Ketika ia tidak ingin menjadi beban, tentulah ia akan melalui perjuangan yang tidak mudah. Ia akan menjadi seorang pejuang. Ketika ia berkeinginan memberi manfaat kepada orang lain, maka itu menunjukkan kualitas akhlaknya yang mulia.

Dan itu yang saya temukan pada salah satu alumni yang cukup “senior”, Ustadz Wildan Ahmad.

Alumni Tahun 72

Ustadz Wildan Ahmad masuk Gontor dari jalur Eksperimen (Sekarang intensif) pada tahun 1969. Beliau berasal dari Banjanegara dan termasuk dalam konsulat Banyumas (saat itu konsulat Banjarnegara belum ada).

Santri lain yang berasal dari banjarnegara antara lain Ustadz Imam Suyudi, Ustadz M. Fathullah, dan Ustadz Fahmi Hisyam.

Saat di Gontor, Ustadz Wildan Ahmad aktif di beberapa kegiatan seperti ikut grup Band Gontor. Ia menjadi seorang drummer Sidasah Band, satu-satunya grup band milik Gontor saat itu. (Jika dihitung dengan Mahadasah, maka ada dua band).

Di OPPM juga Ustadz Wildan memegang bagian kesenian. Bidang yang sesuai dengan minatnya saat itu.

Beliau juga aktif di kepanitiaan-kepanitiaan seperti saat Ramadhan dan Syawal dan juga di Qismul I’lam (Bagian Penerangan) bersama Ustadz Yusuf Suyono, Ustadz Azhar Arsyad.

Beliau pernah terlibat saat pembangunan Masjid Jami’ Gontor. Saat Beliau kelas 6, masjid masih berlantai pasir. Dan santri-santri kelas 6 ikut membantu dalam pembangunan. Ustadz Wildan kebagian tugas mengikat besi-besi kolom untuk lantai dua masjid.

Pesan Kiai Ahmad Sahal yang Menjiwai Perjalanan Hidupnya

Ustadz Wildan juga pernah bertugas di rumah Kiai Ahmad Sahal, salah seorang dari Trimurti, sebagai penerima tamu-tamu yang akan “sungkem” kepada Kiai Ahmad Sahal pada hari ‘Idul Fitri.

Nah, salah satu nasehat Kiai Sahal yang masih terus melekat di benaknya saat itu, yang turut menjiwai jalan hidupnya yaitu: “Jangan bergantung dari warisan orangtua!”. Sebuah pesan yang menekankan santri-santrinya untuk hidup dari usaha sendiri.

Pesan ini seolah-olah menjadi penyemangat Ustadz Wildan untuk bisa mandiri. Dan ia mempraktekan itu saat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga selepas lulus dari Gontor (kini UIN Sunan Kalijaga).

Mempraktekan Pesan Kiai Sahal

Selepas lulus dari Gontor tahun 1972, alumni muda Ustadz Wildan Ahmad langsung masuk IAIN Sunan Kalijaga saat itu bersama Ustadz Hikmat (Allahuyarham) dan Ustadz Hazik dari Pati yang merupakan alumni Gontor.

Pesan Kiai Sahal di atas terus terngiang-ngiang di benak Ustadz Wildan. Sambil kuliah, ia terus mencari cara agar bisa mendapat penghasilan sendiri dan membiayai kuliahnya sendiri.

Maraknya turis yang datang ke Jogja baik dari mancanegara maupun domestik, memberi ide Ustadz Wildan untuk belajar menjadi guide atau pemandu wisata.

Sistem kuliah di IAIN saat itu masih masih memakai sistem Grade (bukan SKS), hampir mirip dengan sistem sekolah. Saat itu kuliah hanya pagi hari dan sore waktu relatif kosong. Dan sore hari, Ustadz Wildan memanfaatkan untuk mengikuti kursus Guide.

Di dekat lokasi kampusnya, sekira sebelah utara dari Tugu Jogja, di Sekolah Taman Dewasa, ada sebuah tempat kursus Guide bernama Brahman Shakti Guide Course. Dan Ustadz Wildan mengikuti kursus itu hampir selama satu tahun.

Menjadi Guide saat Kuliah

Tahun 1974, kursus pemandu wisata yang diikuti tuntas. dan Ustadz Wildan mulai merintis niatnya untuk bisa mandiri baik untuk biaya kuliah, biaya makan dan lain-lain dengan mencoba menjadi guide.

Untuk mendapat Lisensi Guide, Ustadz Wildan harus mengikuti ujian yang saat itu diadakan di Fakultas Sastra Arab UGM. Lisensi pertamanya didapat dengan spesifkasi penguasaan bahasa Arab walau dalam prakteknya lebih sering menggunakan bahasa Inggris.

Kemudian ia bergabung dengan Biro Perjalanan Wisata Kelana Tour, di Hotel Garuda, di jalan Malioboro, Yogyakarta. Dan mulailah ia mendapat job-job pemandu wisata.

Profesi pemandu wisata membuat sempat berpindah tempat kerja beberapa kali. Tahun 1975 ia pindah ke Pan Travel yang juga di Hotel Garuda. Tahun 1978, ia bergabung dengan Ambarukmo Palace Hotel.

Di Ambarukmo, walau saat itu statusnya free lance, namun karena hotel tersebut adalah hotel berbintang, dengan Biro Travel Pacto, Ustadz Widan banyak mendapat order dengan bekal kemapuan bahasa Inggris dan bahasa Arabnya.

Ustadz Wildan pernah menjadi guide pribadi dua orang Syaikh miliuner kaya dari negeri Arab yang datang sendiri dengan pesawat pribadi. Dan ia menjadi pemandu mereka selama di Indonesia.

Keasyikan Jadi Guide Kuliah menjadi Tidak Lancar

Mungin karena berjiwa petualang, Ustadz Wildan muda tidak puas dengan hal yang biasa. Ia kemudian bergabung dengan Rama Tour, yang memiliki turis pelanggan dari Jepang.

Untuk itu ia harus mengikuti kursus bahasa Jepang agar bisa mendapat order memandu wisata.

Perjalanan yang panjang dan juga petualangannya menjadi guide dalam rangka mencari ma’isya agar bisa mandiri dan tidak tergantung dari orangtua membuat perjalanan kuliahnya tidak begitu lancar.

Namun untunglah sistem kuliah saat itu tidak mengenal absensi sehingga walau sering meninggalkan kuliah, namun saat ujian ia diizinkan untuk mengikuti sehingga Beliau bisa menyelesaikan kuliahnya di tingkat Sarjana Muda.

Namun saat melanjutkan kuliahnya di sarjana penuh, Ustadz Wildan mendapati kesulitan dalam mensinkronkan aktifitas guidingnya. Karena di level ini kampus mempertimbangkan absensi sebagai syarat untuk mengikuti ujian.

Hal ini membuat Ustadz Wildan harus membuat keputusan. Dengan pertimbangan bahwa profesinya sebagai guide sudah mantap, dan hampir setiap hari waktunya tersita untuk guiding, sehingga jika ia melanjutkan kuliah bisa jadi tidak akan benar, maka ia memilih untuk tidak melanjutkan kuliah dan mantap di bidang pemandu pariwisata.

“Jika kita sudah dibooking customer Transit Tout, otomatis sepanjang hari waktu kita akan bersama pelanggan itu. Mulai dari penjemputan di Bandara Adi Sucipto, makan pagi di Ambarukmo, keliling wisata seperti ke Borubudur, Prambanan dan lain-lain. Dan biasanya sorenyanya mereka ke tujuan utama ke Bali. otomatis tidak akan bisa mengikuti kuliah,” paparnya menjelaskan alasan meninggalkan bangku kuliah.

Memiliki Hotel Sendiri

Ternyata pilihannya untuk tidak melanjutkan kuliah dan fokus di profesinya sebagai guide, menjadi jalan Allah mengucurkan banyak nikmat kepada Ustadz Wildan.

“Alhamdulillah, dari aktifitas saya di pemandu wisata itu, saya bisa membeli rumah di daerah Jogokaryan, membeli 3 kendaraan roda 4 yang disewakan ke biro perjalanan umum. Bahkan hingga pada tahun 1989 saya membeli lokasi yang sekarang menjadi hotel, walau masih dalam kategori hotel melati. Lumayan buat pensiun saya” kata Ustadz Wildan menceritakan hasil yang didapat dari profesi guidenya.

Saya mencari di Google hotel yang dimaksud Ustadz Wildan, ternyata bukan hotel melati yang cukup besar di daerah yang cukup ramai. Pembaca bisa melihat di link ini, Hotel Jogokaryan.

Kesimpulannya, pesan Kiai Sahal benar-benar dijalankan oleh Ustadz Wildan, dengan sama sekali tidak memakai warisan orangtua. Sejak tahun 1974, dua tahun setelah lulus Gontor, ia sudah memilki penghasilan sendiri dan mandiri.

Ustadz Wildan merasakan manfaat besar dari pendidikan Gontor yang menurutnya meberikan “kecerdasan” lain bagi santri-santrinya untuk hidup dan menghidupi. Selama 24 jam santri dididik sehingga menghasilkan input yang menjadi bekal yang cukup bagi para santri untuk hidup di luar pondok.

Meneruskan Kuliah setelah “Berumur”

Saat gagal melanjutkan kuliah karena kesibukannya melakukan traveling sebagaimana profesinya sebagai guide di masa mudanya, bukan berarti Ustadz Wildan Ahmad tidak melanjutkannya.

Setelah hotelnya berdiri dan ia memiliki waktu yang bisa diluangkan, ia melanjutkan studi S1nya di STAIMS dan S2 di UMY dan selesai tahun 2003 yang kebetulan dosen pembimbingnya adalah Prof. Amin Abdullah (satu marhalah) dan Prof. Siswanto Masruri (kakak angkatan di Gontor).

Menurutnya semua ini dilakukan untuk memberi pelajaran bagi anak-anaknya bahwa pendidikan itu penting.

Ustadz Wildan saat menjadi salah satu nara sumber di NET TV

Beliau juga sempat menjadi salah satu nara sumber di acara NET TV dan juga ikut dalam program Ramadhan RCTI bersama masjid Jogokarian. Sedang bakat musiknya pernah ditampilkan di TVRI saat membawakan lagu-lagu Koes Plus.

Rekaman saat Ustadz Wildan ikut dalam Grup Angkringan Masjid Jogokarian di acara RCTI

Dari Pemandu Wisata menjadi Pemandu Haji

Profesi guide yang ditekuni Ustadz Wildan berlansung cukup lama. Dari semenjak ia pertama menjadi Guide tahun 1974 hingga tahun 2000 an, praktis hampir selama 30 tahun. Dan Ustadz Wildan mulai terfikir untuk sesuatu yang beda.

Pada tahun 2002, bersama teman-temannya saat di Gontor dulu, seperti Ustadz Imam Mujiono, Ustadz Wahidan Alwi, mengajak untuk mendirikan Biro Perjalanan Haji atau KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Lalu berdirilah KBIH Hajar Aswad

Pengalaman Ustadz Wildan di beberapa biro perjalanan, sedikit banyak akan sangat bermafaat dalam merintis Biro Bimbingan Haji ini.

Dan Alhamdulillah, sejak tahun 2004, hampir setiap tahun Ustadz Wildan berangkat ke Tanah Suci untuk membimbing haji, kecuali hanya 2 kali absen karena suatu hal, yang salah satunya karena pandemi Covid 2019.

Sedangkan untuk Umroh, Ustadz Wildan bisa berangkat berkali-kali dalam setahun. Masya Allah!

Berkah Menjalankan Pesan Kiai

Ustadz Wildan merasakan sekali keberkahan dari mengikuti nasehat Kiai. Ia yakin nasehat Kiai bukan hanya kata-kata biasa yang meluncur tanpa makna dari bibir, melainkan ilham yang diberikan Allah kepada orang-orang sholeh. Yang jika kita jalankan akan memberikan manfaat kebaikan bagi kita.

Kisah perjalanan hidup Ustadz Wildan, sungguh menyimpan banyak pesan jika kita renungkan. Mulai dari keberkahan Wejangan Kiai, bekal untuk “hidup” dalam sistem pendidikan di Gontor, yang melahirkan keyakinan bahwa Allah yang mengatur rezeki dan takdir, bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, hingga sinergitas alumni.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan