Cerbung dan Kisah HikmahKisah Alumni

TANGGA UNTUK ‘PENCURI’

KISAH Zuhudnya K.H. Imam Subani, pengarang kitab Durusullughoh Al Arabiyah bersama KH. Imam Zarkasyi

Oleh: Makmun Arba

Bila ada yang mau melakukan survei tentang buku apakah yang paling banyak dicetak ulang dan ditulis oleh putra bangsa Indonesia? Maka dia akan terkejut melihat hasilnya bahwa buku Durusul Lughoh Al-Arabiyah karya K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Imam Subani menempati rangking teratas, atau, paling tidak, masuk dalam 10 besarnya.

buku Durusul Lughoh Al-Arabiyah karya K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Imam Subani

Buku tersebut adalah buku wajib bagi Gontor yang telah memiliki 24 cabang, dan bagi pondok-pondok pesantren alumni Gontor dan simpatisan Gontor yang jumlahnya kurang lebih 600-an. Bila pondok-pondok tersebut sudah memakai buku tersebut selama 20 tahun, bisa dibayangkan berapa besar royalti buat kedua penulis buku terseb Bila pada umumnya, para penulis yang bukunya menjadi ‘best seller’ hidup dalam kemewahan dan kenikmatan duniawi, maka tidak dengan kedua penulis yang rendah hati dan termasuk mukhlisin ini (Allah yarhamhuma).

Saya termasuk yang beruntung dapat menyaksikan dengan langsung kesederhanaan K.H. Imam Subani. Beberapa minggu sebelum beliau wafat saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bersilaturahim ke kediaman beliau di kota Ponorogo. Untuk orang sekaliber beliau, rumahnya terbilang sangat sederhana. Ukurannya sekitar 7 x 10 meter, berdinding semi permanen dari bebatuan seadanya. Ruang tamunya dilengkapi satu meja kayu tua dan beberapa kursi. Di teras rumah ada kursi yang terbuat dari rotan. Tak ada pagar yang mengelilingi rumahnya.

Saya datang sekitar pukul sepuluh pagi, dan baru bisa berjumpa beliau menjelang asar. Ada sekitar 5 jam harus menunggu.
Kesalkah? Insyaallah tidak.

Untuk bertemu orang semulia beliau, kata kesal tidak ada di kamus saya. Karena pada kenyataanya memang demikian. Ketika saya datang, beliau pas sedang melakukan salat dhuha. Setelah itu para tamu datang silih berganti. Justru dengan lamanya waktu menunggu itu saya bisa berbicara dengan tetangga beliau yang sama-sama menunggu di musala dekat rumah beliau.

Dari sang tetangga tersebut saya tahu bahwa Pak Bani (begitu masyarakat Ponorogo memanggilnya) adalah ‘paku buminya Ponorogo’. Beliau adalah guru dan penasihat spiritual yang menjadi rujukan utama bagi masyarakat Ponorogo dari semua kalangan. Dari rakyat biasa sampai ke para pejabatnya. Beliau selalu dimintai nasihat dan saran baik bagi persoalan-persoalan pribadi maupun persoalan yang menyangkut kebijakan untuk orang banyak.
Sang tetangga juga bercerita bagaimana cara beliau menghormati tamu dan tetangga. Pernah suatu hari datang seseorang ke rumah Pak Bani dengan maksud meminjam gergaji. Setelah disuguhi minuman dan makanan kecil, Pak Bani minta izin sebentar ke belakang kepada tamunya.
Apa yang terjadi kemudian?

Tanpa diketahui oleh sang tamu, Pak Bani keluar dengan sepedanya menuju toko material dan membeli gergaji baru. Sesampainya di rumah, Pak Bani masuk dari belakang, dan menyerahkan gergaji tersebut kepada sang tamu. Ya Allah, ya Karim.

Namun, dari sekian ceritanya, ada satu yang sangat menyentak kesadaran saya dan membuat saya merasa sangat kecil dan kerdil di hadapan orang tua yang mulia ini. Pernah pada suatu saat malam, Pak Bani mendengar ada sedikit suara asing di halaman rumahnya. Ternyata ada seseorang tengah mencuri mangga yang tumbuh di halaman rumahnya. Apa yang dilakukan beliau saat itu? Tidak ada.

Malam itu beliau tidak melakukan apa-apa.

Tapi, keesokan paginya, beliau menyandarkan sebuah tangga di pohon mangga tersebut dan galah di sampingnya. Beliau seolah memfasilitasi bagi siapa pun yang ingin mengambil buah mangga itu. Beliau tampak lebih khawatir bila seseorang cedera karena jatuh dari pohon mangga itu daripada kehilangan buah mangganya.

Beliau seperti ingin menyampaikan ke kita bahwa yang menumbuhkan pohon mangga itu adalah Allah, dan dia khawatir bila karena karunia Allah yang telah diberikan kepadanya membuat seseorang cedera atau tersakiti.

Subhanallah.

Pencuri itu pasti orang asing dan bukan warga di situ. Karena para tetangga Pak Bani tahu, beliau selalu membagi-bagikan mangganya ke tetangga bila musimnya telah datang. (Sumber)

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fa ‘anhu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan