Cerbung dan Kisah HikmahKisah AlumniPesan Ustadz

K.H. Imam Syubani: Wawasan Jangan Hanya Se-Wajan!

Wasiat KH Imam Syubani yang membantu KH Imam Zarkasyi menulis Durusullughah untuk KMI

Oleh: Sunartip Fadlan

Syawwal 2006 Pak Kiai Ma’sum pendiri dan pengasuh Pondok Modern Arrisalah Program Internasional mengajakku Silaturrahim ke kediaman KH Imam Subani di jalan Kawung Mangunsuman selatan Pasar Pon Ponorogo.

Wajah Mbah Bani benar-benar sumringah bertemu Pak Kiai, beliau bercerita banyak bagaimana bisa mendampingi Pak Zar menyusun kitab Durusullughah itu.

Setiap hari Mbah Bani ngontel ke Pondok Modern Gontor untuk nyapu di sana, setiap kali Pak Zar mengajar beliau menyempatkan menyapu dekat kelas tersebut, hingga Mbah Bani bisa melihat, mendengar hingga kemudian mencatatnya.

Pak Zar mengetahui ini akhirnya memanggil Mbah Bani agar sekalian nyantri, tawaran itu disambut dengan sangat bersyukur oleh Beliau.

Setelah sekian lama, Pak Zar melihat kecerdasan, kedisiplinan, dan tulisan Mbah Bani yang sangat teliti dan rapi. Ini menjadikan Pak Zar berkenan menugaskan Mbah Bani untuk mencatat apa saja yang didiktekan oleh Pal Zar dan mendiskusikannya dengan Mbah Bani. Hingga durusullughah tersusun seperti yang kita nikmati hari ini.

Tulisan tangan Mbah Bani sangat rapi, ini terbukti dari beberapa buku tentang: Tuntunan Shalat Sunnah, Tata Cara Shalat Dluha yang dihadiahkan padaku saat Silaturrahim bersama Pak Kiai saat itu. Beliau tulis Latin dan Arabnya. Diphotocopy dan disampuli rapi. Subhanallah.

Tiba-tiba Mbah Bani bertanya padaku:

“Kamu bantu Pak Ma’sum berapa lama?”

“Sampun tiga belas tahun Mbah.” Jawabku

“Tiga belas tahun kok sampun!” Beliau tidak berkenan dengan jawabanku.. “Tiga belas tahun itu baru! Baru tiga belas tahun! Anas bin Malik itu lepas dari rumah, ngawulo kepada Kanjeng Nabi dua puluh tahun! Kamu kalau belum dua puluh tahun jangan keluar!” Doktrin Beliau.

“Nggeh Mbah.” Jawabku.

“Ini bawa pulang! Saya kasih karangan saya, diamalkan, tanyakan (boleh tidaknya mengamalkan dan cara praktiknya) pada Pak Kiai Ma’sum ini!”

“Alhamdulillahirabbai-l’alamin nggeh Mbah.” Aku ijin pada Pak Kiai, Pak Kiai menyuruhku menyambutnya, maka aku terima dengan senang hati.

Wawasan Jangan Hanya Se-Wajan!

Mbah Bani berwasiat -saya sebut wasiat karena beberapa bulan setelah itu Beliau wafat- kepada kami berdua:

DADI UWONG LEK DUWE WAWASAN OJO KUR GEDENE SAK WAJAN [Jadi orang, kalau punya wawasan jangan hanya sebesar (seluas) wajan (penggorengan)]

Orang yang hidupnya hanya untuk kebesaran dirinya, pesantrennya, kelompoknya, apalagi hanya sekedar untuk diri dan keluarganya ini orang yang berwawasan se-wajan.

Wawasan harus jauh, harus akhirat, sebab akhirat itu abadi, dunia ini sebesar dan sehebat apapun, nilainya sangat kecil di hadapan Allah.

Orang yang hanya sebesar wajan, hanya memikirkan makan, nikah, berketurunan. Orang seperti ini tidak bisa diajak berjuang! Mentalnya lemah! Kurang harta, kurang fasilitas, kurang dihormati atau dikenal dia akan mundur dan meninggalkan perjuangan. Panjang lebar beliau menceritakan berbagai hal tentang perjuangan.

Aku bertanya pada Mbah Bani:

“Mbah.. saya dengar Jenengan menolak penghormatan dari Gontor sebagai royalti atas penulisan Jenengan di Durusullughah?”

Beliau terkekeh:

“Hehehehe… kalau saya terima, berarti saya kan hanya berwawasan wajan!” Subhanallah.

Ziarah Ke Makam KH Imam Syubani

Jum’at ini (17 Juli 2020) setelah shalat Jum’at aku sempatkan kontrol pengairan di kebun pondok yang terletak di Jl Bathorokathong 254 Mangunsuman Siman Ponorogo tepat di barat makam Mangunsuman seberang sungai sudah wilayah Jalan Kawung (Belakang Kediaman alm Mbah Bani).

Bersama Baharuddin Kasirah Putra Papua tiba-tiba Allah memberiku hidayah dengan mengingatkan aku akan mimpi bertemu Pak Kiai Ma’sum semalam untuk mencari tahu, apakah KH Imam Syubani dikebumikan di sini, sebab semalam aku bermimpi bertemu Pak Kiai Ma’sum, beliau berpesan agar aku mencari makam Mbah Bani sahabat sekaligus Guru beliau (beliau berdua diberangkatkan haji oleh Pak Zar pimpinan Gontor).

Hampir setengah jumlah batu nisan yang ada di makam aku gosok dan bersihkan untuk mencari makam Beliau, nihil -tidak ketemu-, lalu aku hidyah al-Fatihah untuk mendoakan Beliau.

Allah mempermudah dengan menunjukkan postingan kawan alumni Gontor di FB (Photo tertera) berbekal dari situ aku mengulanginya lagi dengan para santri yang lain dengan membawa cangkul dan sabit, Alhamdulillahirabbai-l’alamin ketemu.

Kondisi patok makam hilang karena ada pemakaman baru di sisi timur makam Beliau, aku cari dan dapat dengan tulisan yang terbaca hanya IMAM SYUBANI.

Maka makam aku rapikan bersama para santri dengan tanda:- Ada tumbuhan Kamboja cabang tiga di atas bagian kepala;

Aku berdoa semoga kelak diakui para guruku sebagaimana Mbah Bani diakui santri oleh TRIMURTI.

Patok nisan dari batu bata rangkap 3: Aku tidak berani mengganti dengan yang lain, sebab belum ijin ahli waris, sekaligus ingat dahulu pernah aku dengar Mbah Bani hanya mau pakai patok dari batu bata. Itupun beliau minta tidak usah ditulisi nama. Karena keluarganya baru tahu setelah pemakaman, maka batu batanya terlanjur ditulisi nama Beliau: USTD H. IMAM SYUBANI

Yang terpenting dari semua ini. Semoga kita semua bisa meneladani Akhlaq mulia dan keikhlasan KH Imam Syubani. Amin!

Semoga Allah SWT mengampuni Beliau dan mengumpulkannya bersama para Anbiya’ Mursalin, Syuhada’ dan Shalihin. Al-Fatihah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan