Kisah Alumni

Ketika Mushola Tidak Cukup Untuk Perhelatan Maulid, Tempat ini yang diusulkan Ustadz Husnan di Belanda

Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie, yang juga merupakan cucu KH. Zainuddin Fananie, salah seorang Trimuri pendiri Pondok Modern Gontor, memiliki pengalaman unik.

Pengalamannya ini terjadi saat ia menjadi Ketua Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) untuk kepengurusan tahun 1994-1996. Ketika itu Husnan merupakan mahasiswa S2 Rijksuniversiteit Leiden.

“Dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan PPME, ada sebuah momen yang tak akan pernah saya lupakan,” kenangnya, seperti tertulis dalam biografi Husnan berjudul ‘Menapaki Kaki-Kaki Langit’.

Pada buku yang ditulis Imam Fathurrohman itu diceritakan, suatu waktu di tahun 1994, PPME berencana mengadakan acara maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Rencananya, acara itu akan digelar secara besar-besaran dengan mengundang penceramah kondang Indonesia, yakni Ustadz Sa’ad Samlan, yang juga merupakan Anggota DPR RI dari PPP asal Madura.

Sementara sebagai pembaca Al-Quran, PPME mengundang Ustadzah Maria Ulfah, seorang qari’ah internasional yang tak asing bagi masyarakat Indonesia.

Maka rapat panitia pun dibentuk, melibatkan jamaah PPME dan mahasiswa muslim dari Universitas Leiden. Namun, jika melihat banyaknya jamaah, tentu saja tidak mungkin acara itu digelar di Mushalla Al-Ittihad. Apalagi jika membayangkan animo jamaah nantinya, ditambah akan hadir pula komunitas muslim dari berbagai negara lainnya.

Di sisi lain, acara pun tidak mungkin dilakukan di hall. Peraturan di Belanda melarangnya, karena setiap acara keagamaan hanya boleh dilakukan di tempat ibadah. Sementara masjid-masjid milik komunitas Maroko dan Turki juga tidak mungkin digunakan. Selain kecil, komunitas muslim Maroko maupun komunitas muslim Turki dipastikan memiliki tradisi berbeda dalam mengadakan acara maulid tersebut.

“Kemudian saya usul saja, bagaimana jika acara maulid digelar di gereja besar Den Haag?” ujar Husnan.

Husnan Bey Fananie saat menggelar Maulid Nabi Muhammad Saw. di gereja besar di Den Haag Belanda. (Foto: Buku MKKL)

Usulan nyeleneh itu sontak membuat jamaah PPME terperanjat kaget. Selama ini mana ada sejarahnya mengadakan acara maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di gereja? Rasa-rasanya tidak ada. Baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya.

Usulan yang dilontarkan Husnan, sejatinya, bukanlah usul pepesan kosong. Peraturan di Belanda membolehkan acara keagamaan di tempat-tempat ibadah. Tidak ada penjelasan spesifik, apakah kegiatan umat Islam hanya boleh dilakukan di masjid atau mushalla.

Begitu pula untuk kegiatan umat beragama lainnya. Maka sah-sah saja Husnan melontarkan usulan tersebut. Meski bagi jamaah muslim Indonesia, hal itu dianggap nyeleneh dan aneh. Di sisi lain, Husnan meyakini jika pihak gereja tidak akan merasa keberatan, karena gereja disewa.

Setelah menimbang usulan Husnan, panita sepakat dan berencana untuk segera menemui pengelola gereja. Husnan dan beberapa panitia maulid pergi ke Grote Kerk (Gereja Agung), gereja besar Katolik Roma yang berada di sentral Kota Den Haag.

Grote Kerk merupakan gereja tua yang dibangun di zaman Ratu Helmina, nenek Ratu Beatrix yang memimpin Belanda saat ini.

Saat itu Grote Kerk sudah mulai jarang dijadikan tempat ibadah, karena jemaatnya sedikit dan jarang ada aktivitas peribadatan. Namun, ornamen indah dan khas umat Katolik yang dimiliki gereja ini selalu memikat siapapun yang melihatnya. Tak heran jika gereja ini juga sering disewa untuk acara-acara seremonial, seperti resepsi pernikahan.

Perkiraan Husnan tepat. Pengelola Grote Kerk tak berkeberatan dan setuju untuk menyewakan gereja itu. Hanya saja pengelola gereja meminta agar panitia acara tidak mengubah semua ornamen yang ada di dalamnya. Lagi pula, kursi-kursi yang ada di dalam gereja, tertanam kuat secara permanen dan tak mungkin dipindahkan. Gereja tua itu pun jadi disewa dengan biaya 7.000 Gulden.

Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia memberikan sambutan.

Setelah gereja itu jadi disewa, Husnan bersama panita maulid dan dibantu sejumlah mahasiswa Leiden, menyusun rencana dekorasi. Selain kursi-kursi yang memang tidak bisa dipindahkan, ruangan gereja ‘disulap’ untuk menghadirkan konsep yang islami.

Sebuah panggung kecil dibuat persis di depan altar. Sementara untuk background, sebuah patung Yesus yang cukup besar serta altar ditutup dengan kain warna hijau. Bahkan, untuk memunculkan ornamen Islam, pada kain penutup itu dipasang kaligrafi arab ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ berukuran besar. Kain penutup itu juga berfungsi sebagai backdrop yang dituliskan identitas kegiatan dan temanya.

Di atas panggung disiapkan sebuah mimbar untuk penceramah dan sebuah sajadah serta ‘tatakan kayu’ untuk qari’ah membacakan Al-Quran. Selain itu, ada juga sound system dan beberapa jenis bunga untuk hiasan di atas panggung.

Mengingat acara direncanakan mulai pukul 09.00 pagi hingga sore hari, maka panitia menyiapkan karpet untuk digunakan shalat Zhuhur berjamaah. Letak karpet itu berada di ruangan yang sama dan tak jauh dari panggung.

Sebelum acara dimulai, seperti halnya di tanah air, alunan shalawat dari kaset diputar dan diperdengarkan melalui pengeras suara. Alunan shalawat pun terdengar hingga ke luar gereja sejak pagi hinga menjelang acara dimulai.

Bisa dibayangkan, dari gereja di pusat kota terdengar alunan shalawat yang sontak menarik perhatian masyarakat Den Haag. Terlebih lagi, sebelumnya, tidak pernah terdengar suara aktifitas peribadatan hingga ke luar gereja.

Satu persatu tampak jamaah mendatangi gereja. Ada yang naik mobil maupun trem. Jamaah tak hanya berasal dari Den Haag, tapi juga dari Amsterdam, Leiden, dan Rotterdam. Dan tak hanya orang Indonesia, tetapi juga ada muslim Suriname, Maroko, Turki, dan muslim dari negara-negara Asia lainnya.

Melihat ini, masyarakat Den Haag pun makin terheran-heran, ada banyak orang-orang memakai jilbab dan peci datang ke gereja.

Hingga tibalah acara Maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dimulai. Setelah sambutan dari Hasan Basri, mahasiswa asal Aceh yang menjadi ketua panitia, Husnan pun memberikan sambutan dalam kapasitasnya sebagai Ketua PPEME. Berikutnya adalah sambutan dari pembina PPME Ustad Hambali Maksum, dan sambutan dari pewakilan ulama negara Belanda. Acara-acara seremonial itu berlangsung dengan cukup baik.

Suasana semakin syahdu ketika Ustadzah Maria Ulfa melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Jamaah yang hadir seolah terhanyut mendengarkan indahnya lantunan yang dibawakan qari’ah internasional itu. Bahkan beberapa jamaah terlihat menitikkan air mata.

Kemudian acara berubah menjadi semakin semarak, ketika seluruh muslim yang hadir membacakan shalawat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam secara berjamaah. Model acara maulidan yang banyak dilakukan muslim di tanah air, rupa-rupanya dipraktikkan benar pada acara itu. Ketika beberapa shalawat yang terdapat di Kitab Barzanji dibacakan, jamaah pun berdiri turut membacanya dengan sangat syahdu dan penuh semangat.

“Dan yang lebih menggetarkan hati lagi adalah ketika Ustadz Sa’ad Samlan berceramah. Gaya ceramahnya yang menggebu-gebu berhasil memancing jamaah untuk meneriakkan Takbir berkali-kali, Allahu Akbar.. Allahu Akbar!! Suara Takbir menggema di seantero ruangan di dalam gereja itu,” ujar Husnan.

Acara Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Grote Kerk itu menjadi momen yang tak akan dilupakan Husnan di sepanjang hidupnya. Itulah salah satu momen paling bersejarah yang pernah dibuatnya. Satu-satunya acara maulid yang digelar di sebuah gereja besar di pusat Kota Den Haag dan tak pernah terulang lagi. (Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan