Berita Keluarga BesarPesan Ustadz

(Memahami Kepemimpinan) Kultur dan Struktur: Pelajaran Dari Gontor

Memahami Hikmah Kepemimpinan Kultural dan Struktural Di PM Gontor oleh Ustadz Anang Rizka Masyhadi

Ayahanda KH. Hasan Abdullah Sahal berulang kali sering menyampaikan bahwa di pondok menggabungkan antara kultur dan struktur. Pendekatan kultural dan struktural ini bukan saja menjadi norma, nilai dan sistem, tetapi juga menjadi semacam acuan teknis dalam hampir semua sektor kehidupan pesantren.

Kemarin, Jumat 6 Rabiul Awal 1442 H / 23 Oktober 2020 kita saksikan bersama secara live pembacaan Surat Keputusan Sidang Luar Biasa Badan Wakaf Pondok Modern Gontor tentang pengangkatan Pimpinan Pondok pasca wafatnya Ayahanda KH. Syamsul Hadi Abdan dan Ayahanda KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.

Sebelumnya, Kamis 5 Rabiul Awwal 1442 H / 22 Oktober 2022 Badan Wakaf melaksanakan Sidang Luar Biasa sesuai ketentuan AD/ARTnya untuk mengangkat dan menetapkan Pimpinan Pondok yang baru. Sidang Luar Biasa itu tepat beberapa jam setelah pemakaman KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. Sejatinya, ini adalah kultur pergantian kepemimpinan ala Rasulullah yang tetap dilestarikan di pesantren. Seperti saat Rasulullah wafat, para sahabat senior segera berkumpul untuk memutuskan siapa pengganti (khalifah) Rasul. Tanpa harus menunggu satu minggu, satu bulan, dan seterusnya.

Diangkat, pada Surat Keputusan itu Ayahanda KH. Drs. KH. Akrim Mariyat, Dipl. Ad., Ed. dan KH. Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Kedua beliau akan membersamai Ayahanda KH. Hasan Abdullah Sahal dalam memimpin pondok.

Secara struktural, di Gontor, Pimpinan Pondok pasca Trimurti Pendiri Pondok adalah diangkat oleh Badan Wakaf untuk masa khidmah selama 5 tahun. Dan dapat diperpanjang lagi secara periodik lima tahunan. Ini pendekatan strukturalnya.

Dalam sambutannya, Kiai Hasan menyatakan bahwa masa khidmah itu: “Sekuatnya lima tahun, dan kalau bisa, masih layak dan masih bersedia, mungkin masih bisa ditambah lagi sesuai dengan kebutuhan dan kelayakan.” Kalimat beliau ini sarat makna dan nilai, dan secara tersirat mengandung pendekatan struktural maupun kultural.

Adapun pendekatan kulturalnya, Pimpinan Pondok biasanya masa khidmah hingga wafatnya sebagaimana lazimnya dalam kultur pesantren. Seperti KH. Shoiman Lukmanul Hakim yang wafat lalu digantikan KH. Drs. Imam Badri dan digantikan oleh KH. Syamsul Hadi Abdan. Kemudian sekarang ini oleh KH. Drs. Akrim Mariyat, Dipl.Ad., Ed. Demikian pula KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A yang kini digantikan oleh adik lelaki tertuanya, KH. Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Secara struktural pergantian Pimpinan Pondok dituangkan dalam sebuah surat keputusan Badan Wakaf sebagai lembaga tertinggi di Pondok. “Posisi Badan Wakaf adalah tertinggi dalam struktur organisasi, kami bertiga adalah mandataris Badan Wakaf” demikian penegasan KH. Hasan Abdullah Sahal kemarin saat sambutan.

Adapun kulturalnya bahwa pengumuman atau pembacaan Surat Keputusan Badan Wakaf yang dibacakan oleh salah seorang anggotanya, KH. Abdullah Baharmus, Lc dilaksanakan di Masjid usai shalat Jumat. Inilah kultur pesantren yang tetap menjadikan masjid sebagai sentral kegiatan, apalagi untuk hal-hal yang sakral seperti pengumuman pergantian kepemimpinan pondok.

“Inilah Pondok Modern Darussalam Gontor, tetap dengan kepondokmodernannya, kepesantrenannya, tapi juga tetap dengan kemodernannya, dengan struktur dan kulturnya; kultur pesantren dengan struktur organisasi kemodernan” kata Kiai Hasan dalam sambutan beliau.

“Kami diamanati untuk memimpin pondok ini, tetap dengan Panca Jiwanya dan Panca Jangkanya, kami bertiga dengan amanat ini bukan suatu jabatan, bukan suatu fasilitas, tetapi ini adalah amanat, karena mata, telinga, hati dan otak umat Islam, khususnya alumni Gontor dan seluruh keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor membaca dengan baik dan seksama”
tandasnya lagi.

Secara struktural Badan Wakaf yang memutuskan siapa yang akan menjadi Pimpinan Pondok. Namun, secara kultural tetap ada komposisi untuk keluarga dan kader Pendiri Pondok. Namun demikian, tetap mengacu pada aspek kebutuhan dan kelayakan, sebagaimana ditegaskan oleh Kiai Hasan dalam sambutannya itu.

Trimurti Pendiri Pondok telah mengkader putra-putrinya untuk memenuhi unsur kelayakan itu. Bahkan, bukan saja putra-putrinya, tetapi santri-santrinya pun dikadernya agar suatu ketika mereka memiliki kelayakan untuk memimpin dan meneruskan estafet perjuangan ini. Kaderisasi, bagi Trimurti adalah salah satu yang dapat menjamin keberlangsungan pondok di masa depan.

Maka, tak heran jika Kaderisasi menjadi salah satu dari Panca Jangka yang dicanangkan Trimurti. Itu artinya, para Pimpinan Pondok setelah Trimurti tetap harus melanjutkan proses kaderisasi itu secara terus menerus dan sungguh-sungguh. Di Gontor, kaderisasi itu by design.

Sehingga, sesuai pepatah: “patah tumbuh hilang berganti”. Di Gontor, malah sebelum patah sudah tumbuh. “Jangan sampai kalau pendirinya atau kiainya wafat, pondoknya ikut wafat” demikian ditandaskan oleh Kiai Hasan saat melepas jenazah Almarhum Kiai Syukri.

Pondok kita ini, kata Kiai Hasan, orang mengatakan pondok besar, pondok elit. “Supaya diketahui oleh anak-anakku sekalian, pondok ini besar jiwanya, besar nilai-nilainya, dan besar cita-citanya. Pondok ini tinggi nilai-nilainya, tinggi jiwanya, tinggi semangatnya. Elit pengorbanannya, elit keikhlasannya, elit kebersamaannya, elit ukhuwahnya, dan elit “itsar”nya (mendahulukan orang lain, tidak berebut jabatan dan pengaruh).”

“Inilah Pondok Modern Darussalam Gontor dengan segala spesifikasinya sedang meneruskan perjalanan perjuangan, memperjuangkan nilai-nilai pondok” lanjut beliau.

Sambutan singkat Kiai Hasan usai pengumuman formasi Pimpinan Pondok itu menyetrum semua alumninya yang tersebar di seantero dunia. Kiai Hasan lalu mengutip sebuah ayat:

وَیُؤۡثِرُونَ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةࣱۚ
[سورة الحشر 9]

Dan mereka mengutamakan (orang lain), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. (Qs. Al-Hasyr [59]: 9)

Inilah kultur tertinggi di pesantren: keikhlasan dalam berjuang. Tidak berpikir untuk kepentingan pribadi-pribadi, tetapi semata-mata untuk kepentingan pondok dan umat. Tidak mengenal istilah “take and give”, tetapi yang ada adalah: “give and give”.

Kultur itu terangkum dalam Panca Jiwa: Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyyah dan Kebebasan.

Strukturnya terangkum dalam Panca Jangka: Pendidikan dan Pengajaran, Kaderisasi, Pergedungan, Khizanatullah (Pendanaan) dan Kesejahteraan Keluarga Pondok.

Itulah sekelumit kultur dan struktur di Pondok Modern Darussalam Gontor. Pondok alumni perlu banyak belajar dan merenunginya. Kita doakan semoga Bapak-bapak Pimpinan Pondok senantiasa diberi kesehatan, kekuatan dan kesabaran dalam memimpin pondok. Semoga beliau-beliau diberi umur panjang untuk membimbing kita semuanya.

Tazakka, Batang
7 Rabiul Awal 1442 H
24 Oktober 2020
Anang Rikza Masyhadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan