Inspirasi dan Motivasi

Belajar ‘salah’ di Gontor?

Penulis: Demy (Walsantor G5 DQ)

“Pimpinan dari semula sampai saat ini masih terus menerus berkorban, dan ingin masih terus dapat berkorban sebanyak mungkin, sampai husnul khatimah, li ilahi kalimatillah.” (Pesan Kiai saat Khutbah fatihah)

Kaderisasi di Gontor ibarat darah yang menjaga keberlangsungan kehidupan pondok. Darah harus bersirkulasi, melahirkan sel-sel baru, mengatasi kebekuan yang berpotensi menjadi penyakit. Oleh sebab itu generasi baru harus terus menerus disiapkan, harus selalu diberikan pelajaran, harus diberikan ruang untuk menjadi pandai dalam berbagai hal. Harus diberikan kesempatan untuk menghadapi kesalahan dan melakukan perbaikan.

Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah Pendidikan.

Filsafat ini menunjukan bahwa dalam belajar, semua panca indera harus dikerahkan agar mampu maksimal mengetahui, memahami dan mempraktekan nilai-nilai pelajaran sehingga akhirnya menguasai keterampilan maupun pengetahuan yang dipelajari.

Sejenak mari bayangkan, situasi belajar sepeda hanya di dalam kelas.

Guru akan menerangkan seperti ini “Anak-anak, sebelum bersepeda siapkan segala sesuatu dengan baik, pastikan tidak ada yang kurang dari sepedanya dan pastikan kondisi kaki, tangan dan mata kita sehat wal afiat. Kayuh sepeda dengan kaki satu menempel di pedal dan kaki lainnya berada di tanah. Persiapkan badan untuk naik ke atas jok dan melaju jika sudah siap, injakan kaki yang di atas pedal dengan tekanan yang cukup untuk menggerakkan roda. Kendalikan stang dengan cara memegang dengan kedua tangan” dan seterusnya.

Alangkah susahnya bukan? dan bisakah kita menerka berapa kali pertemuan dalam kelas perlu diadakan agar anak-anak mahir bersepeda?

Belajar dengan mempraktekkan langsung akan melibatkan kombinasi seluruh indera dan intuisi yang ada agar dapat menguasai. Dan hal tersebut yang diberikan oleh sistem pendidikan di Gontor, dengan totalitasnya.

Belajar Skill butuh “Kesalahan”

Kemudian dalam proses belajar ini penting untuk kita bertanya, adakah belajar suatu skill atau pengetahuan tanpa pernah melakukan kesalahan? Adakah bijaksana untuk selalu menuntut agar langsung cakap tanpa memberikan ruang untuk jatuh dan bangun dalam proses belajar? Tentu jawabnya tidak.

Proses belajar membutuhkan ruang untuk berbuat salah dan melakukan koreksi. Seperti ilustrasi belajar sepeda diatas, mungkin tak ada yang bisa memastikan siapa diantara kita yang tidak akan jatuh saat belajar bersepeda? Bahkan kita hampir bisa memastikan bahwa jatuh, terpeleset, lecet dan gagal adalah mutlak dirasakan jika ingin menguasai keahlian bersepeda. Belum lagi bagi yang ingin menjadi pesepeda profesional yang mampu bertanding di kancah olimpiade. Tentu lebih banyak kesalahan yang harus dirasakan.

Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan adalah Pendidikan.

Filosofi Pendidikan Gontor

Semua kegiatan dan bagian organisasi di pondok merupakan ladang yang subur agar anak-anak kita belajar tentang banyak hal. Mulai dari berorganisasi, membuat perencanaan, mengkoordinasi anggota dan rekan, mengidentifikasi masalah yang akan muncul, mencari cara agar setiap masalah dapat diantisipasi sampai memastikan semua kegiatan berjalan lancar. dan tentunya melakukan evaluasi jika ada kekurangan dan kesalahan dalam menjalankan program.

Sadarkah kita, bahwa semua ini merupakan proses belajar yang sangat penting bagi perkembangan anak kita dalam mempersiapkan bekal kehidupan di hari kemudian?

Adakah kita pernah melihat saat masuk di koperasi dan bagian penerimaan tamu di pondok bahwa anak-anak kita diajarkan untuk mengurusi bagian-bagian tersebut dengan segala macam kekurangan dan kelebihannya.

Mungkin ada diantara wali santri yang berfikir kenapa barang dibiarkan berceceran, tumpukan macam-macam terlihat berantakan, manajemen macam apa yang dipakai jika semua serba berantakan seperti ini? Kenapa tidak serapi dan seindah sekolah-sekolah lain pada umumnya?

Cara pandang kita yang menganggap sekolah harus diorganisasi dengan apik oleh karyawan pengurus/pengelola sekolah adalah hal yang dibalik 180 derajat di Gontor.

Proses Lebih Utama daripada Hasil

Di pondok pesantren semua pengelolaan dilakukan oleh mayoritas pelajar atau pelajar senior itu sendiri. Kita bisa bayangkan pelajar menjadi pengelola dan pengurus sekolah. Bahkan bukan sekolah biasa dengan jam operasional pagi sampai siang atau sore, Sekolah ini adalah sekolah totalitas! dari jam 7 pagi sampai jam 7 pagi, 24 jam! Dan anak-anak didiknya menjadi bagian besar pengelola kegiatan besar tersebut. Gontor sepertinya tidak akan merekrut banyak karyawan agar sekedar pondok menjadi lebih rapi dan berkembang. Gontor menitikberatkan pada kemandirian dan pembelajaran. Subahanallah!

Kebanyakan kita ingin cepat melihat hasil dari pada prosesnya, disinilah letak kesalahan cara pandangnya. Ketahuilah, bahwa di belakang layar setiap kegiatan dan bagian-bagian tersebut ada anak-anak kita yang sedang diberikan pelajaran tentang banyak hal. Pelajaran yang tidak hanya bisa diberikan di kelas-kelas teori, tapi langsung diajarkan dalam praktek dan pelaksanaan.

Apakah pondok tidak mampu mempekerjakan karyawan profesional untuk mengambil alih seluruh pekerjaan tersebut sehingga dapat tertata dengan rapi, indah, berhasil baik dan berkembang dengan memuaskan?

Apakah tidak ada ustadz senior atau alumninya, lulusan perguruan tinggi yang cakap mengerjakan semua tugas dan pengelolaan tersebut? Jawabannya pada falsafah pondok yang sedari mula ditancapkan dengan tegas. Bahwa apa yang dilihat, didengar dan dirasakan di pondok ini adalah Pendidikan. Sangat sederhana dalam falsafah, tapi kompleks dalam pelaksanaan.

Percayakah kita kalau dikatakan bahkan pondok akan memberikan apapun yang dipunyainya untuk mendidik anak-anak kita agar bisa terjun langsung mempelajari semua?

Jika pondok mempunyai masjid, kelas dan buku, maka masjid, kelas dan buku itu akan diberikan untuk proses belajar santri. Jika pondok punya koperasi maka koperasi itu akan diniatkan untuk memandaikan santrinya (walaupun harus rugi). Kalau di pondok ada dapur, bus, mobil, motor, sepeda, sound system, studio musik, TV dan Radio, Klinik, stadion dan segala macam harta, maka semua itu akan diberikan seluruhnya lillahi taala sebagai sarana belajar santrinya. Bondo, bahu, pikir lek perlu sak nyawane pisan.

Kalau begitu, dimana kita akan melihat hasil?

Kalaupun pertanyaan ini harus dijawab, maka jawaban yang tepat menurut saya adalah; disaat para santri berkiprah di masyarakat. Disaat alumni-alumni ini berjuang dalam rangka mengaktualisasikan dirinya, ketika mereka berjuang menerapkan ilmu pengetahuan dari proses
belajar yang sangat menguras energi
di Pondoknya. Meminjam istilah trimurti, ketika kunci-kunci pengetahuan yang diberikan bisa digunakan.

Gontor hanya memberikan kunci, adalah keleluasaan para santri menggunakan kunci-kunci tersebut pada tempat-tempat yang tepat. Dan sudah cukup banyak para alumni yang menjawab pertanyaan tersebut dengan karya nyata, senyata-nyatanya karya.

Para wali santri yang budiman…

Sepanjang perjalanan menemani anak tercinta, kita pasti akan melihat, mendengar dan merasakan setiap tahapan proses pendidikan yang diberikan oleh pondok. Pengorbanan energi, biaya dan perasaan adalah hal yang akan dihadapi para santri dan wali santri sekalian. Namun ercayalah, pada falsafah pondok yang lebih dari 90 tahun lalu sudah ditancapkan kuat-kuat oleh Trimurti dan para pendiri. Bahwa dengan cara yang sama, setiap energi, ilmu, biaya dan perasaan yang dipunyai oleh para pendiri dan pengasuh pondok ini, akan dilimpahkan sepenuh-penuhnya, dikorbankan sebesar-besarnya untuk memandaikan setiap satu orang anak didiknya yang berniat sungguh-sungguh belajar di pondok ini.

Mari bersabar melihat proses, berikhlas mengusahakan yang terbaik. Lillahi ta’ala semata-mata dan untuk anak-anak kita. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan