Profil Wali Santri Gontor

Profil Walsantor: Andi Amran Suleiman, Mulai dari Menjadi Tukang Batu, Hingga menjadi Menteri Terkaya Di Indonesia

Latar belakang wali santri Gontor yang beragam, memberi keuntungan tersendiri dengan banyaknya kisah inspirasi yang bisa menjadi pelajaran. Kali ini walsantornews.com mengangkat kisah seorang walisantri yang hidup dan menghabiskan masa kecil di daerah terpencil dan dalam kemiskinan, namun berkat perjuangan gigihnya, ia berhasil menjadi salah satu menteri di periode 2014-2019 dengan status menteri terkaya saat itu berdasarkan laporan kekayaan yang saat itu diekspos oleh media.

Beliau adalah Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, walsantor asal Bone, Sulawesi Selatan. Lahir tanggal 27 April 1968. Dan diangkat sebagai Menteri Pertanian oleh Presiden Joko Widodo pada periode 2014-2019. Ia menjadi wali santri dari Ustadz Andi Amar Ma’ruf yang lulus tahun 2017 dan selesai melakukan pengabdian wajin tahun 2018.

Bagaimana perjuangannya dan kisah keinginannya masuk Gontor yang akhirnya baru terwujud pada anaknya? Berikut kisahnya.

Menjadi Penjual Batu Gunung dan tidak jadi masuk Gontor

Andi Amran Sulaiman adalah putra ketiga dari 12 bersaudara. Ayahnya adalah veteran ABRI (angkatan bersenjata Republik Indonesia), Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Linta.

Dengan saudara yang berjumlah 12 dan gaji ayahnya yang hanya berkisar di Rp 100 ribuan, kehidupan keluarga Amran sangat prihatin.

Selama 20 tahun Amran Sulaiman tinggal di desa terpencil. Walau lahir miskin, Amran bertekad tak mau dikuburkan dalam kondisi keluarganya tetap miskin. “Saya sekolah, kerja keras dan terus berdoa,” tuturnya.

Salah satu bukti kerja kerasnya adalah saat masih sembilan tahun, Amran dikabarkan sudah banting tulang dengan menjual batu gunung ke proyek.

Karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan itu, membuat Amran muda tidak jadi masuk Gontor, sekolah yang diidam-idamkannya. Untuk ke Gontor yang berada di pulau Jawa, keluarganya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Semasa sekolahan dulu, saya ingin masuk di Gontor, tetapi tidak punya uang.” katanya saat launching program pemberdayaan ekonomi umat berbasis pondok pesantren menuju lumbung pangan dunia di Claro Hotel & Convention Jl AP Pettarani Makassar tahun 2018. “Alhamdulillah tapi saya bersyukur anak saya bisa merasakannya,” lanjutnya.

Dididik Untuk Teguh Dalam Kejujuran

Di lingkungan keluarganya, Amran dididik dengan kejujuran. Ia pernah dapat uang Rp 5 di pasar. “Betapa girangnya saya.” Tapi ternyata ketika sampai rumah, ketika Bapaknya diberitahu, Amran malah dipukul dengan kayu. “Kembalikan, uang itu bukan milikmu,” tiru Amran.

Menurut Amran sukses ada pada  kejujuran kita. Dengan kejujuran itulah  Amran pernah  menjadi pegawai selama15 tahun, 6 tahun menjadi dosen, dan  8 tahun sebagai peneliti. Juga jadi pengusaha. 

“Sukses ada di kejujuran, doa dan lainnya. Ini karakter, calon pemimpin bangsa harus punya karakter,” kata Amran menyemangati para santri saat memberi sambutan di depan santri-santri Gontor.

“Suatu saat Anda akan jadi pemimpin, jujur, amanah dan jangan lupa sama guru.” tambahnya.

Kerja dengan Gaji 150 ribu

Dengan usaha kerasnya, Amran berhasil lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Hasannudin, lalu ia kemudian bekerja sebagai PPL Pertanian.

“Saya pernah jadi karyawan digaji Rp 150 ribu, begitu magang aku kerja 20 jam. Dari 7000 yang mendaftar 114 yang diterima cuman satu yang jadi pimpinan, cuman saya,” ujar Amran Sulaiman

Selama enam tahun bekerja sebagai karyawan, lanjut Amran, dirinya empat kali mengalami kenaikan pangkat.

“Saya naik pangkat empat kali, tiap tahun saya naik pangkat. Bosan atasan saya lihat, karena aku tanya masih ada kerjaan, masih ada kerjaan?” ujar Amran yang kakaknya sekarang menjadi Wagub Sulsel Andi Sudirman Sulaiman tersebut.

Karena gaji yang kecil, Amran sempat ingin merantau ke Brunei Darusalam, karena ia dengar di sana pekerja digaji dengan tinggi. Dan jika berhasil ke sana ia berniat tidak kembali ke Indonesia. Tapi Allah menakdirkan lain.

“Saya waktu kerja dulu tinggal di pondokan, tahun keenam ngontrak. Cuma satu kasur, satu TV, tanpa ranjang. Itu tahun 1996 gaji sebagai PPL (petugas penyuluh lapangan) Rp 150.000. Saya hampir merantau ke Brunei, dan tidak mau kembali lagi ke Indonesia,” kata Amran.

Lepas dari pekerjaan ini, Amran pernah bekerja di tempat terpencil menjadi karyawan dan ditempatkan di daerah perbatasan Indonesia-Philipina.

Aku ditempatkan di Sulawesi Utara, nggak ada sinyal, jalan kaki dan seterusnya delapan tahun setengah,” ujarnya.

Resign dan memulai bisnis racun tikus

Sebenarnya, karena kecerdasannya, saat masih menjadi mahasiswa S1, Amran berhasil membuat ramuan racun tikus yang ia daftarkan hak patennya. Bahkan ada 4 hak patennya untuk itu. Dia terinspirasi membuat ide bom tikus berbasis fumigasi itu pada tahun 1992 saat serangan hama tikus muncul di Indonesia. Namun belum ia pasarkan dengan serius.

Bertahun-tahun bekerja dengan gaji kecil, Amran bertekad untuk bisa membuat usaha sendiri. Berbekal ramuan pembasmi tikusnya yang sudah dipatenkan. Walau terasa berat, karena saat kerja saja ia sulit untuk makan, kini ia mengambil keputusan untuk keluar kerja.

Ia berharap, setelah ia serius menggarap hasil temuannya, ini dapat mengangkat taraf hidupnya. Racun pembasmi tikus itu ia beri nama TIRAN, yang merupakan singkatan Tikus diracun oleh Amran.

Perjalanan saat ia mendaftarkan hak paten karyanya di Jakarta juga bukan cerita yang mudah.

Tanpa Tiket Kapal Nekat Merantau Ke Jakarta dan Tidur di Masjid

Berusaha merubah nasib, Amran lalu untuk pertama kali mencoba ke Jakarta. Amran yang dulunya kurus dan gondrong bahkan diam-diam tidak membayar tiket kapal karena tidak memiliki bekal yang cukup. Dia hanya menyogok satpam kapal.

“Satpam kapal kami bayar setengah.” ujarnya bercerita ke media. Tapi kini, ia sudah membayar dosa masa lalunya.

“Insya Allah saya sudah balas. Setiap naik pesawat, saya kasih lebih. Ya Allah saya titipkan dosaku yang dulu. Saya bayar yang dulu itu,” kata Amran.

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, dia pernah tidur di Masjid Istiqlal. “Imamnya datang, buru-buru keluar,” imbuh dia.

Tak hanya itu saja perjuangannya, Amran bahkan mengaku pernah mengkonsumsi mi instan seporsi berdua bersama temannya. Itu pun, kata dia tanpa pesan minuman, lantaran tak ada kocek lagi sementara perut kelaparan.

“Dan biasa, air mata saya menetes, Ya Allah apakah saya dikutuk ini saya lahir. Ternyata ada hikmahnya semua, dilatih. Jadi, kalau ada anak muda sekarang maunya hura-hura, tua kaya raya, mati masuk surga, bohong,” ucap dia saat memberi motivasi kepada generasi muda salam sebuah kesempatan.

Bagi Amran, boleh terlahir miskin, tapi tidak boleh mati dalam keadaan miskin.

Usaha Kerja Keras dan Kejujuran Berbuah Hasil

Kerja keras Amran berbuah hasil, keampuhan pembasmi hama tikus temuannya membawa Amran berkibar sebagai pengusaha.

Pembasmi hama tikus produksi Amran dipasarkan mulai dari Papua sampai ke Aceh, bahkan hingga ke Jepang, dengan omzet puluhan miliar per bulan. Dari usaha ini, Amran juga dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan di Bidang Wirausaha Pertanian dari Presiden RI di Palembang, Sumatera Selatan pada tahun 2007.

Sebagai pengusaha, Amran tergolong sukses. Sejak menggeluti kewirausahaan 8 tahun yang lalu, Amran kini berhasil membangun Tiran Group yang memiliki sekitar 10 anak perusahaan dengan omzet total hingga Rp1 triliun per bulan. Anak perusahaan Amran bergerak mulai dari produsen pestisida, pertambangan emas, distributor semen dan produk Unilever, hingga pemilik SPBU.

Menjadi Menteri

Selain berhasil sebagai pengusaha yang sukses, Amran juga merupakan akademisi yang unggul. Ia melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat doktoral dengan Yudisum Sempurna, yaitu IPK 4.00.

Andi Amran Sulaiman kala mengunjungi sentra produksi padi saat ia masih menjadi menteri Pertanian.

Ia juga terlibat secara penuh sebagai koordinator relawan Sahabat Rakyat KTI (Keluarga Tani Indonesia), juga menjadi instruktur Wirusaha Mandiri Usaha Kecil dan Menengah Indonesia. Kecerdasan akademisnya, dan juga keterlibatan langsung dengan pertanian menjadikannya terpilih mengemban amanah sebagai Menteri Pertanian periode 2014-2019.

Saat menjadi menteri, berdasarkan laporan kekayaan calon menteri, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman adalah menteri terkaya di kabinet Presiden Joko Widodo. Kekayaannya mencapai Rp 330 miliar.

Menyekolahkan Anak ke Gontor

Kesuksesan Amran sebagai pengusaha dan juga dengan diamanahi sebagai menteri tidak serta merta menjadikan sekolah-sekolah mahal dan elit di kota besar atau mengirim putranya ke luar negeri sebagai tujuan studi putra tertuanya.

Andi Amar Ma’ruf Sulaiman (kiri) bersama ayahnya Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) di sela launching program pemberdayaan ekonomi umat berbasis pondok pesantren menuju lumbung pangan dunia di Claro Hotel & Convention Jl AP Pettarani Makassar. (Foto: Tribun)

Dan di Gontor pun tidak ada perbedaan antara anak menteri dan anak pegawai. Semua berhak mendapatkan pendidikan yang sama, hanya bagaimana anak tersebut mempelajarinya, sebesar keinsyafannya sebesar itu pula keuntungannya.

Gontor yang merupakan sekolah yang mengajarkan disiplin tinggi dan juga hidup sederhana yang juga pernah menjadi cita-citanya dulu menjadi tempat berlabuh ia menitipkan putranya untuk dididik.

Semasa sekolahan dulu, saya ingin masuk di Gontor, tetapi tidak punya uang. Saya bersyukur, meski cita-cita itu tidak terkabulkan pada diri saya, biar anak saya yang merasakan,” katanya.

Putra pertamanya, Ustadz Andi Amar Ma’ruf, disekokahkannya di PMDG. “Di awal ia minta pulang, karena tidak sanggup. Saya dari Bali langsung ke sana untuk temani bermalam. Hingga ada sepupunya yang kemudian menemani anak saya itu agar bisa saling menjaga dan betah. Alhamdulillah sekarang anak saya itu jadi pengajar di sana,” katanya dalam sebuah kesempatan saat Ustadz Andi Amar Ma’ruf menjalani pengabdian.

Amran menuturkan, anaknya masih jomblo. “Selepas tamat di Gontor ia mau ke luar negeri sekolah. Saya bilang tahan dulu. Nikah saja dulu yah. Jangan sampai pas kuliah di luar tiba-tiba bawa bule,” candanya.

Namun dari itu semua, Amran selalu mendidik anaknya untuk tidak menggunakan embel-embel anak meteri selama ia menjabat.

“Saya tekankan itu dalam keluarga. Soalnya ini fasilitas negara jangan digunakan untuk kepentingan pribadi,” katanya.

Dan di Gontor pun tidak ada perbedaan antara anak menteri dan anak pegawai. Semua berhak mendapatkan pendidikan yang sama, hanya bagaimana anak tersebut mempelajarinya, sebesar keinsyafannya sebesar itu pula keuntungannya.

..oo0O0oo..

Semoga Allah senantiasa menjaga Gontor, para Kiai dan Assatidz dan juga santri-santrinya, termasuk semua Almuni, dalam keberkahan. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan