Berita AlumniKisah Alumni

Orang Indonesia Pertama Peraih Gelar Doktor dari Universitas tertua di Dunia adalah Alumni Gontor

Universitas Al-Qarawiyyin atau Al-Karaouine adalah universitas pertama di dunia yang berlokasi di Fes, Maroko yang didirikan pada tahun 859. Universitas ini telah dan terus menjadi salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dari dunia Muslim.

Walau telah menjadi salah satu pusat ilmu Islam di dunia dan sekira 111 tahun lebih tua dibanding Universitas Al Azhar di Mesir, namun baru pada tahun 2003 seorang Indonesia berhasil meraih gelar doktor untuk pertama kali dari universitas ini. Dialah Prof. Dr. H. Eka Putra Wirman, Lc., M.A.

Dan Beliau juga merupakan alumni perguruan tinggi Maroko pertama dari Indonesia yang meraih gelar Guru Besar atau Profesor. Gelar itu disematkan langsung oleh Menteri Agama Fachrur Rozi pada bulan Juni 2020 lalu.

Lulus Gontor tahun 1988

Eka Putra Wirman lahir dari pasangan Nawir Bakar dan Hj. Maidar Thaher. Ia mengenyam pendidikan dasar di SD Muhammadiyah No. 17 Simpang Pagang, Nanggalo, Padang. Tamat SD pada 1981, Eka melanjutkan belajar ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur sampai 1988.

Selama menjadi santri di Pondok Modern Gontor, ia aktif berorganisasi. Setelah menamatkan pendidikan pada jenjang menengah di Gontor, Eka diterima sebagai ustadz di Pondok Modern Arrisalah Ponorogo sambil melanjutkan studi di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor (kini Universitas Darussalam (Unida) Gontor).

Mendapat Beasiswa Al Azhar

Usai merampungkan pendidikan di IPD Gontor, ia diterima sebagai mahasiswa jalur beasiswa pada Jurusan Pemikiran dan Dakwah Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Berbekal rekomendasi dari Kemenag (Depag waktu itu), ia mendapat kesempatan untuk berdomisili di International Islamic Student Hostel Abbasea. Pendidikan S-1-nya ia selesaikan pada tahun 1993.

Semasa studi S-1, ia dipercaya memegang amanah sebagai Ketua Departemen Olahraga pada Himpunan Pelajar Mahasiswa dan Pelajar Indonesia (HPMI) di Kairo. Melalui kepemimpinan di bidang tersebut, Eka mengomandoi penyelenggaraan ASEAN GAMES antarmahasiswa ASEAN tahun 1991 di Kairo. Ia kemudian dipercaya sebagai Ketua Bidang Olahraga dan Seni (tahun 1992) dan Ketua Bidang Sosial (tahun 1993) pada organisasi yang sama.

Selain aktif dalam kegiatan olahraga, ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Ia tercatat sebagai pendiri dan redaktur beberapa buletin dan majalah di Kairo, di antaranya: pemimpin redaksi Buletin ForumMitra, dan Renovasi; redaktur Buletin Terobosan dan Zuhra milik Organisasi Khusus Wanita Wihdah Kairo.

Mendapat Beasiswa di Universitas Al Qarawiyyin, Maroko

Pada 1995, Eka mendapat beasiswa kuliah dari Kementerian Wakaf Maroko untuk jenjang gelar magister pada Jurusan Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Qarawiyyin, Tetouan, Maroko. Kuliah S-2-nya ini ia selesaikan pada 1998.

Al Qarawiyyun, Universitas tertua di dunia

Setelah itu, Eka melanjutkan studi ke jenjang S-3 di jurusan melalui beasiswa dari Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO) OKI dan The Moroccan Agency of International Cooperation (AMCI) Kementerian Luar Negeri Maroko.

Saat bersamaan pada 1998, ia dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko. Selain itu, ia menggagas berdirinya Buletin Zoom dan Mediterane serta memimpin mahasiswa Indonesia memenangkan Piala ASEAN CUP tahun 1998.

Pendidikan doktoral Eka secara efektif baru dimulai pada 2000. Di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. Driss Khalifa, Prof. Dr. Raisuni, dan Prof. Dr. Abdullah Mrabet, ia mengangkat disertasi nerjudul Al-‘Allāmah Hamka wa Atsaruhu fī Falsafah Al-Akhlāq bi Indonesia yang memperoleh nilai mumtāz (cum laude). Eka resmi menyandang gelar doktor di bidang pemikiran islam pada 2003

Diamanati banyak Jabatan

Sejak diangkat menjadi dosen tetap pada Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol, sejumlah amanat jabatan bergilir disandangnya baik di dalam atau di luar kampus.

Diantaranya: Ketua Konsentrasi Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Imam Bonjol pada 2004. Ia mengemban amanah sebagai Koordinator Sekretariat Pendirian Pesantren Tinggi IAIN Imam Bonjol Padang pada 2007. Pada 2008, ia diberi amanah sebagai Ketua Program Khusus International Class Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol dan Ketua Unit Penjaminan Mutu IAIN Imam Bonjol. Tidak lama mengemban jabatan terakhir, ia diangkat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin periode 2008–2012.

Tahun 2013 ia diangkat sebagai Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Imam Bonjol. Selain itu, Eka dipercaya sebagai pembina 22 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) se-Sumatra Barat sejalan dengan tugasnya sebagai Koordinator Kopertis wilayah VI Sumatra Barat.

Selain itu, ia aktif sebagai pengurus di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Wilayah Sumatra Barat, Majelis Ulama Indonesia Sumatra Barat, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Sumatra Barat, Pengawas Badan Amil Zakat Nasional Kota Padang, Wakil Ketua Yayasan Dr. Abdullah Ahmad Padang, Hakim Musabaqah Tilawah Al-Qur’an Tingkat Provinsi Sumatra Barat, Hakim Musabaqah Qira’ah Al-Kutub Tingkat Provinsi Sumatra Barat, dan Pengasuh Rubrik Konsultasi Agama Koran Padang Ekspres.

Pada 2012, ia dilantik sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (STAIPIQ) Sumatra Barat. Hingga sekarang, ia dipercaya sebagai Ketua Alumni Timur Tengah Sumatra Barat dan Ketua Alumni Pondok Modern Gontor Sumatra Barat.

Prof Eka Putra Wirman menjadi pengisi Materi di Kajian Ramadhan di TV Lokal

Pada 9 Juli 2015, Eka dilantik oleh Menteri Agama sebagai Rektor ke-17 IAIN Imam Bonjol Padang periode 2015–2019. Ia terpilih setelah mengungguli tiga kandidat lain dengan perolehan 23 suara dari 35 suara yang diperebutkan.

Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Rektor UIN Imam Bonjol

Saat peralihan IAIN Imam Bonjol menjadi Universitas, pada tanggal 28 Juli 2017, Beliau juga dilantik sebagai Rektor pertama UIN Imam Bonjol Padang periode 2017–2021. Masya Allah!

Tidak melarang Cadar di Kampusnya

Saat larang bercadar di kampus oleh salah satu Universitas Islam Negeri, Beliau sebagai rektor UIN Imam Bonjol justru membolehkan penggunaan cadar.

Eka sangat tidak setuju ketika cadar didoktrin sebagai perilaku radikal. Menurutnya cadar ialah aturan keagamaan yang diperbolehkan sesuai pemahaman umat Islam masing-masing. Sebaliknya, ia katakan radikalisme itu identik perilaku buruk seseorang.

Terkait peraturan di UIN-IB Padang, ia tegaskan tidak ada larangan bagi mahasiswi yang memakai cadar, asalkan sesuai aturan kewajaran berdasarkan buku panduan yang ada di kampus. Ia juga mengatakan, bahwa selama ini belum ada terindikasi perilaku radikalisme oleh civitas akademika kampus UIN-IB Padang.

Radikal itu bukan cadarnya, tapi perilakunya. Setiap orang berhak mengekspresi diri dalam menjalankan agama, jadi tidak ada larangan bercadar. Namun di UIN-IB Padang, masih di bawah 15 orang yang bercadar,” sebutnya.

Mematahkan Pendapat HN dalam doktrin Pendidikan di IAIN (UIN)

Corak pendidikan Islam di IAIN dulu yang berkiblat dengan pandangan Harun Nasution yang liberal dan menganut pemahaman Mu’tazilah sudah bertahan bertahun-tahun tanpa ada yang mampu mematahkan pendapatnya.

Mu’tazilah yang merupakan salah satu pemahaman sesat dalam Islam yang diadopsi oleh HN berhasil dipatahkan oleh Prof. Eka Putra Wirman. Ia membuat tulisan itu diberi judul: “Membongkar Mitos Harun Nasution”.  

Kesimpulan Harun Nasution yang bertahan selama puluhan tahun, bahwa teologi Muhammad Abduh bercorak Mu’tazilah, dipatahkan oleh Eka Putra melalui penelitian yang serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya, ternyata Muhammad Abduh bukanlah penganut Mu’tazilah – sebagaimana diklaim Harun Nasution selama ini —  tetapi justru merupakan tokoh pelanjut paham Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Menurut Prof. Eka, usaha Harun Nasution selama berpuluh tahun dalam mempromosikan paham Mu’tazilah dan menggusur Ahlussunnah wal-Jamaah telah berdampak buruk.  Mitos Mu’tazilah sebagai pembawa kemajuan umat Islam sangatlah keliru.  Apalagi, kata Prof. Eka, Harun Nasution mencatut nama besar Muhammad Abduh dalam mempromosikan teologi Mu’tazilah.

Prof. Eka Putra tidak main-main. Ia melakukan kajian serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Kesaksian Hasyiah terhadap Teologi Muhammad Abduh (Padang: Puslit Press IAIN Imam Bonjol Padang, 2011). 

Pernah di demo Mahasiswa

Pada bulan September 2019, ratusan mahasiswa UIN Imam Bonjol melakukan demo yang mengajukan 13 tuntutan yang berhubungan dengan transparansi dana dan perbaikan fasilitas kampus.

Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Eka Putra Wirman disampingi pembantu rektor saat mendengar orasi mahasiswa unjuk rasa, (15/9/19). (GATRA/Wahyu Saputra/ar)

Aksi demo yang menamai dirinya dengan Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus sempat melakukan aksinya dengan membakar ban hingga tuntutan agar rektor dan wakil rektor turun.

Namun, Prof Eka menanggapinya dengan tenang. Walaupun ia menilai sebab-sebab demo itu dapat terjadi dari berbagai hal, seperti bentuk aktualisasi diri, mahasiswa yang mau di DO mencari pembenaran, dan sebab-sebab lainnya.

Terlepas dari itu ia akan tetap mendengarkan aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa-mahasiswanya.

“Tetapi secara umum, Saya mengapresiasi, anak-anak saya semua. Mahasiswa semua, jadi semua aspirasi, permohonannya harus didengar,jelasnya.

..oo0O0oo..

Semoga semua santri, alumni, assatidz/ah berikut seluruh Kiai senantiasa dibimbing dan dijaga Allah. Aamiin yaa Robbal ‘aalaamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan