Hanya di GontorKisah Alumni

Amanat Syaikh Mahmud Syaltuth MEWUJUDKAN SERIBU GONTOR Tahun 1958

Oleh : Ustadz Nif’an Nazudi

Saat berkungjung ke Indonesia tahun 1958, Grand Syaikh Imam Akbar Mahmud Syaltuth (Rektor Universitas Al-Azhar Mesir) sangat terkesan dengan sistem pendidikan Gontor dan keteguhan para pengasuh dan pendidiknya. Seraya menjabat tangan KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, Syaikh Syaltuth berharap ada 1.000 Gontor di Indonesia. Kini, harapan Grand Syaikh al-Azhar itu hampir menjadi kenyataan.

Sebelumnya, 1952, Syaikh Hasan al-Baquri Menteri Wakaf Mesir juga berkunjung ke Gontor. Dia menyampaikan, yang menjamin kelestarian pondok Gontor bukanlah gedung-gedung yang megah, santri-santri yang banyak, guru-gurunya yang hebat tetapi falsafahnya.

Kehadiran dua ulama Mesir ini telah memberikan motivasi bagi para pendiri Gontor untuk menjadikan Gontor sebagai kawah candradimuka dalam menggembleng para kader pemimpin umat yang siap menjadi mundzirul qaum.

Sistem Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) yang telah menjadi ikon Gontor ini merupakan hasil ijtihad para pendiri Pondok Gontor; KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannani, dan KH Imam Zarkasyi, yang dilakukan sejak tahun 1926, dalam rangka melakukan ‘modernisasi’ terhadap sistem pendidikan pesantren sebagai budaya asli bangsa Indonesia. Masyarakat kemudian menyebut Pondok Gontor dengan ‘Pondok Modern’.

Sepanjang hayatnya, melewati 5 kurun waktu yaitu masa penjajahan, masa awal kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru dan masa reformasi, para pendiri dan penerus Pondok Modern Gontor tetap bertahan dengan sistem KMI secara konsekuen dan konsisten di tengah-tengah berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan bangsa Indonesia. Bahkan para pendiri ‘berwasiat’ agar sistem KMI tetap dipertahankan sampai kapan pun.

Harapan ini sesuai dengan harapan beberapa Tokoh Pendidikan Nasional dan Internasional yang pernah berkunjung ke Gontor dan mengetahui keunggulan sistem KMI. Menurut data Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) bahwa sampai tahun 2018 ini, sudah berdiri lebih dari 350 pondok pesantren alumni di seluruh pelosok tanah air yang mempergunakan sistem KMI/TMI.

Ketua Forum Komunikasi Pesantren Muadalah Prof Dr KH Amal Fatullah Zarkasyi menegaskan bahwa maksud dari seribu Gontor adalah seribu KMI di Indonesia, bukan seribu tsanawiyah dan aliyah atau SMP dan SMA di Indonesia, melainkan dengan sistem KMI.

Dalam acara Silaturahim dan Seminar Nasional bertema Pendidikan Mu’alimin dalam Sistem Pendidikan Nasional dalam rangka peringatan 90 Tahun Gontor. Prof Amal menegaskan bahwa apabila pondok pesantren yang menerapkan satuan pendidikan muadalah, maka tidak dibolehkan selingkuh. Tidak perlu ikut program dan ujian tsanawiyah dan aliyah atau SMP dan SMA.

Prof Amal bercerita, ada seorang kiai pondok alumni yang dengan bangganya bercerita kepada almarhum KH Imam Zarkasyi bahwa pondoknya memiliki system SMP-SMA. Maka respon beliau ketika itu, “Anda sekarang pulang ke pondokmu dan jangan datang lagi ke Gontor.”

Saking konsistennya dengan sistem mualimin, Kiai Imam Zarkasyi mengatakan, “Bila santriku habis dan tinggal satu, maka yang satu itu tetap akan aku ajar. Sebab dari satu ini akan muncul seribu, kalau santri habis dengan berbagai sebab, ia akan mengajar dunia dengan pena.”

Wakil Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Dr Hamid Fahmi Zarkasyi MA mengatakan, dengan sistem Mu’alimin Pondok Modern Gontor menjadi subsistem pendidikan nasional, maka sudah tidak ada istilah Gontor swasta. Meski tak ikut ujian negara, alumni Gontor diakui dan sama dengan lulusan Madrasah Aliyah atau SMA.

“Sudah ada SK Menteri Pendidikan bahwa lulusan KMI boleh masuk ke perguruan tinggi apapun dengan prodi apapun,” paparnya.

Hamid berpendapat, Pondok Gontor tidak hanya menjanjikan ilmu, tapi skil of learning. Sistem pendidikan Gontor lebih komprehensif atau super sistem. Di dalamnya ada sistem bahasa Arab, sistem pengajaran agama Islam, sistem disiplin, sistem wakaf, sistem keikhlasan, sistem berdikari dan sistem-sistem lainnya.

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengatakan, Indonesia patut bersyukur karena kiprah Gontor dan alumninya di dunia pendidikan melahirkan alumni yang santun, ramah, menghadirkan Islam yang berkemajuan dan modern.

Hadirnya alumni Gontor di semua lini baik eksekutif, yudikatif, legislatif, pimpinan ormas, dan tokoh-tokoh masyarakat, menjadi jalan untuk menyebarkan nilai-nilai Gontor ke seluruh dunia.

Menurutnya, tersebarnya nilai-nilai Gontor ini hakekatnya adalah wujud semangat perjuangan Trimurti pendiri Gontor untuk menghadirkan 1.000 Gontor di Indonesia.

Menurut Hidayat, nilai Gontor yang harus disebarkan adalah kedisiplinan, semangat ukhuwah Islamiyyah, dan nilai-nilai kemajemukan lainnya yang dibutuhkan bangsa ini.

Alumni Gontor, lanjut Hidayat, menghadirkan prilaku yang moderat, solutif, bukan fanatisme buta yang membawa kemajuan peradaban. “Cara Gontor mendidik santri tidak hanya melalui pelajaran di kelas tapi melalui berbagai kegiatan, pengabdian dan kajian,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan