Kisah Alumni

Masuk Gontor Usia 27th, Begini Kisah Perintis Kampung Inggris, Pare, Kediri

KAMPUNG Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, telah terkenal hingga ke seluruh Indonesia, bahkan lingkup internasional. Di kampung itu kini terdapat lebih dari 200 lembaga kursus Bahasa Inggris. Geliat ekonomi pun muncul dari kegiatan berbahasa asing sehingga mulai dari pedagang asongan hingga tukang becak, rata-rata sudah mahir berbahasa Inggris.

Ternyata, perintis di Kampung Inggris adalah seorang pria asal Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Ia bernama Muhammad Kalend Osein (68 tahun), jebolan Pondok Pesantren Gontor.

Dari Keluarga Penganut Animisme Suku Dayak

Muhammad Kalend Osein, sekarang 69 tahun, besar di Sebulu, Kalimantan Timur. Ayahnya adalah seorang petani biasa dan ia sendiri saat itu bekerja di pabrik kayu. Saat itu keluarganya masih menganut kepercayaan animisme Suku Dayak. Namun Kalend Osein memiliki wawasan yang lebih luas.

Ia sangat ingin bisa berbahasa Inggris karena ia pernah membaca bahwa penduduk negara Singapura, yang bukan orang Inggris tapi bisa berbicara Bahasa Inggris. Dan pamannya yang pernah ke Malaysia juga mengatakan bahwa orang-orang di Malaysia mahir berbahasa Inggris. Sebagai seorang Dayak, dia mempunyai keinginan besar untuk menjadi yang pertama sebagai Putra Mahakam menjadi maju.

Penduduk Singapura berbicara bahasa Inggris, begitu pula paman saya yang pernah ke Malaysia,” katanya sebagaimana dikutip dari The Jakarta Post. “Saya mengagumi mereka dan menginginkan keterampilan mereka. Saya tahu saya harus keluar dari hutan dan membuat sesuatu dalam hidup saya. Saya juga tidak punya agama dan saya membutuhkan iman.”

Maka ia mulai belajar agama Islam, pada usianya yang sudah menginjak 27 tahun dia pindah ke Jawa dan sudah menjadi seorang Muslim.

“Itu adalah masa revolusi saya,” dia berkata. “Jika saya pergi ke daerah Kristen, saya mungkin sekarang menjadi seorang Katolik atau Protestan.”

Mengenal Gontor dari Ustadz Jaffar Siddiq

Berawal dari kegelisahannya dengan kondisi keluarga dan kampungnya yang memprihatinkan, yakni di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, pemuda Kalend diliputi oleh “Kegelisahan yang sangat Kuat” melihat kenyataan bahwa pemuda di kampungnya hanya bisa hidup dan bekerja di hutan.

Berangkat dari kegelisahan yang kuat tersebut, beliau bertekad untuk berusaha keluar dari permasalahan itu, dan bertekad untuk belajar ke Pondok Pesantren Gontor Ponorogo.

Dalam hati Kalend, sepanjang sungai Mahakam yang panjang itu, belum ada putra Mahakam yang dapat menembus ke Gontor, dan dia bertekad untuk menembus itu. Akan tetapi, kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk berangkat ke Gontor. Lalu Kalend minta petunjuk kepada salah seorang ulama asal Makassar di sana, yakni Ustaz Jaffar Siddiq.

Dalam nasehatnya itu, Kalend mendapat 2 hal penting, yakni bahwa “Belajar di Gontor itu, jangankan sampai selesai, belajar dua tahun saja di Gontor sudah akan jadi orang yang hebat”, dan kedua, diberi nasehat pada Al-Qur’an Surah Ar Ra’du ayat 11, yang artinya “Tidaklah berubah suatu kaum kecuali dia yang merubah dirinya sendiri”.

“Belajar di Gontor itu, jangankan sampai selesai, belajar dua tahun saja di Gontor sudah akan jadi orang yang hebat”

Ustadz Jaffar Siddiq, ulama asal Makasar

Mendengar dua nasehat tersebut, maka kegelisahan Kalend pun semakin hebat, termotivasi yang sangat kuat hingga selama 2 hari dua malam Kalen tidak bisa tidur memikirkan nasehat Ustaz Jaffar Siddiq tersebut.

Perjuangan Yang Berat Untuk Bisa ke Gontor

Tekad yang sangat kuat, tapi tidak ada daya untuk mewujudkannya, sehingga Kalend mengurungkan niatnya untuk sementara waktu. Dalam hatinya, saya tidak bisa berubah kalau saya hanya di Kutai saja bekerja di hutan. Orang hanya bisa berubah dengan otak dan hati.

Kalend mulai bekerja mencari uang selama tiga tahun, tujuannya untuk berangkat ke Gontor. Akan tetapi selama bekerja tersebut Kalend selalu mendapat ujian berat. Ketika menanam padi, pada saat padinya sudah menguning dan yakin akan banyak hasilnya, dia sudah berencana menjual semua kecuali sebahagian kecil untuk keperluan ibunya dibelakang hari, ternyata pada malam harinya datang hujan lebat mengguyur sawahnaya dan hasilnya sangat memprihatinkan, hanya untuk dimakan saja.

Maka batal lah rencana ke Gontor. Lalu kemudian Kalend mulai mencari jalan lain, ia bekerja usaha balok yang terbuat dari kayu, ketika dalam hitungan uangnya cukup untuk membiayai perjalanannya ke Gontor, lalu dibodohi lagi orang, sehingga ia tidak mendapatkan uang yang cukup. Batal lagi rencana ke Gontor.

Lalu yang ketiga, dia bekerja di perusahaan DBTC dengan harapan dia ditempatkan pada posisi yang baik. Namun ternyata posisi yang diharapkan itu sudah terisi oleh orang lain dan dia ditempatkan pada tempat paling rendah, yakni sebagai tenaga servey ke hutan belantara yang belum pernah dilewati orang dengan gaji yang paling rendah, yakni 17.000, rupiah sementara teman-temannya yang lain mendapatkan gaji 35.000 -45.000 rupiah.

Akan tetapi dengan pekerjaan dan gaji yang rendah itu Kalend mendapatkan kepuasan karena bisa punya waktu yang banyak untuk beribadah dengan baik. Dengan gaji yang rendah itu, Kalend sudah punya modal sedikit ditambah bantuan dari keluarga untuk mewujudkan harapannya ke Gontor.

Pada tahun 1972 Kalend berangkat ke Gontor, dan mengikuti tes masuk Pondok Pesantren. Ada sekitar 900 pelamar, sementara kuota hanya 400 orang. Hasil tes menempatkan Kalend pada rangking 45, sehingga dia berhak diterima menjadi santri.

Beban Belajar di Usia 27 Tahun Bersama anak-anak Lulusan SD

Kalend masuk Gontor dengan memulainya dari kelas reguler. Permasalahan yang muncul adalah umurnya sudah 27 tahun, sementara teman-temannya yang lain baru berumur sebelasan tahun sebab umumnya mereka baru tamat Sekolah Dasar.

Hal ini menjadi beban psikologis yang berat bagi Kalend untuk belajar bersama dengan teman-temannya yang tidak seusia. Anak-anak usia muda lebih kuat hafalannya, sementara dia tidak kuat hafalan, sehingga menjadi beban berat bagia dia untuk belajar di pondok itu.

Lalu Kalend mendengar dari 4 orang tokoh yang berbeda dan dari Ustaz Jaffar Sidiq, bahwa jangankan selesai di Gontor, dua tahun saja belajar di Gontor akan jadi orang yang hebat. Pernyataan ini menguatkan lagi semangat Kalend untuk tetap bertahan.

Kisah Sepatu Hilang di Gontor

1 2Next page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan