Cerbung dan Kisah HikmahInspirasi dan Motivasi

Kisah Inspiratif Walsantor: Usaha Bangkrut saat Menyekolahkan Anak ke Gontor

Salah satu sisi positif saat mudif itu yaitu bisa berkenalan dengan banyak walsan-walsan lain sehingga semakin bertambah kenalan dan saudara, bahkan semakin bertambah ilmu dan inspirasi.

Salah satunya yaitu saat mudif di awal tahun kemarin, ketika belum merebak wabah Covid. Sempat berkenalan dengan walsan, seorang pedagang dari Jakarta, berasal asli dari Sumatera Barat.

Beliau hanya mempunyai putra satu-satunya. Dari awal, ia sangat berharap putranya tidak sekolah di tempat yang jauh, dengan alasan karena ia putra satu-satunya dan jika harus menemani pedaftaran di sekolah yang jauh tentu ia harus menutup usahanya, sesuatu yang, saat itu, dikhawatirkannya.

Qodarullah, ternyata putranya memilih untuk sekolah di Gontor. Sempet ditolak keinginan itu oleh mereka. Bahkan mereka sedikit “menakut-nakuti” sang anak tentang “tidak enaknya pesantren apalagi di Gontor”. Namun sang anak bersikukuh. Dan akhirnya sang orangtua mengalah.

Apesnya”, mungkin demikian terpikir oleh orangtuanya saat itu, pendaftaran di Gontor itu dilakukan di bulan puasa, yang mana bagi pedagang barang-barang seperti kain atau konveksi merupakan masa-masa emas untuk mengumpulkan keuntungan.

Dengan mendaftarkan anak plus sedikit bimbingan sebelum ujian, sang ayah yang sangat sayang dengan anak satu-satunya ini, tidak bisa meninggalkan anaknya sendiri yang masih lulus SD untuk sendirian mendaftar di Ponorogo, maka ia dan istrinya mengantar dan menemani anak ke Gontor dari mulai sebelum Ramadhan masuk. Bahkan mereka menyewa satu rumah penuh selama menjadi “penduduk sementara” Ponorogo.

Dan … ia harus merelakan “masa panen” sebulan penuh hilang. Karena kedua orangtua ini ingin menemani sang anak hingga pasti diterima atau tidaknya.

Sang Ayah masih berharap anaknya tidak diterima, tapi sang anak justru semakin semangat setelah sampai di Gontor.

Hingga qodarullah, saat pengumuman penerimaan khas Gontor yang membawa suasana magis, entah kenapa, sang ayah menjadi khawatir jika anaknya tidak diterima karena pasti sang anak akan merasa sangat sedih. Dan ternyata saat nomor putranya disebut justru meledaklah tangis bahagianya bersama istrinya. Dan bahkan menurutnya ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya.

Singkat cerita, setelah anaknya sudah masuk dan mengikuti proses belajar, pulanglah ia untuk kembali berdagang. Tapi apa yang terjadi? Sesuatu yang dulu sudah diperkirakan dan dikhawatirkan akan terjadi, benar-benar terjadi. Usahanya bangkrut!

Usaha yang ditinggal sebulan lebih, dengan masih ada kewajiban membayar gaji karyawan, ditambah barang-barang dagangan yang dibeli secara hutang, hampir tidak tersisa untuk melunasi kewajibannya itu.

Setelah pihak keluarga besarnya tahu, ia bahkan dianggap “gila” karena nekat menyekolahkan anak di Gontor dengan resiko kehilangan usaha. Bagaimana nanti membiayai anak sekolah, bagaimana nanti biaya setiap nengok, bagaimana memulai usaha lagi, menjadi langganan ditanyakan saudara-saudaranya kepadanya.

Tapi yang anehnya, sang Bapak itu sendiri tidak ada kekhawatiran itu. Yang terjadi justru perasaan bahagia yang bersemayam di hati. Dan yakin bahwa Allah akan memberi jalan, suatu keyakinan yang belum pernah ada sebelumnya.

Ketika “hilangnya” toko disampaikan ke anaknya, anaknya pun ternyata tidak menjadi gundah bahkan menyampaikan sesuatu yang seolah-olah menjadi “pecutan” yang menyadarkan dirinya.

“Mungkin Allah tidak ingin saya dibiayai dari usaha ayah yang lama,” kata anaknya.

Seketika ia tersadar bahwa dalam usahanya selama ini sedikit banyak ia acap kali berlaku tidak jujur kepada konsumennya, baik sengaja atau tidak.

“Hilangnya tokonya” seakan-akan menjadi peringatan dari Allah agar ia harus benar-benar mensucikan nafkahnya dari hal-hal yang dilarang Allah. Karena anaknya sedang menuntut ilmu agama, sesuatu yang suci. “Bagaimana bisa dibiayai dari sesuatu yang tidak suci?” pikirnya.

Kemudian ia berhusnuzhon dan yakin bahwa pilihan anaknya ke Gontor adalah pilihan terbaik yang dipilihkan Allah bagi putranya dan bagi keluarganya.

Dan qodarullah, buah keyakinannya kepada Allah itu, ternyata setelah kebangkrutan tokonya, Allah beri mereka rezeki dari tempat yang tidak terduga. Entah mengapa, kini pun ia merasakan lebih ringan dan tenang dalam berusaha.

(kisah ini ditulis sudah atas perkenan Beliau, yg tidak saya sebutkan namanya, yang bercerita saat bertemu di masjid satelit di Bapenta G1)

..oo0O0oo..

Kisah seperti di atas seringkali terjadi pada wali santri Gontor, termasuk pada kami. Dan inilah sebenarnya salah satu bentuk kasih sayang Allah yang seringkali kita tidak sadari. Terkadang tidak baik di mata kita, terasa berat dan menyusahkan namun justru baik di sisi Allah dan juga sebaliknya, sesuatu yang mudah, tanpa hambatan belum berarti baik di sisi Allah.

Kisah-kisah seperti ini sering menjadi motivasi bagi kami ketika kesulitan datang dalam memenuhi kewajiban pembayaran SPP dan keperluan anak. Hal yang terfikir ketika kesulitan itu datang justru sebuah instrospeksi, dosa apa yang sudah kami lakukan, apakah ada cara yang “dibenci” Allah dalam nafkah yang kami cari, apakah ibadah kami sudah layak mendapat “simpati” Allah sehingga Allah beri solusi segala kesulitan dan lain-lain.

Semoga keyakinan ini senantiasa tertanam dalam diri kita, HUSNUZHON kepada Allah. Dan juga semoga Allah senantiasa lapangkan rezeki seluruh wali santri sehingga dapat menunaikan kewajibannya membayar seluruh kewajibannya untuk pendidikan putra/inya

One Comment

  1. *Wedang uwuh rempah SYAFI*
    OPEN agen dan reseller seluruh indonesia produk halalan thoyyiban ,legalitas halal MUI BER NIB siap export ,sdh ada di market singapore , wa.me/+628885121074 ( bunda navis ) SEMANGAT MENEBAR MANFAAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan