Inspirasi dan MotivasiKisah Alumni

Kisah Unik 3 Da’i Alumni Gontor yang Berda’wah di Pedalaman

Alumni yang hebat dan besar itu bukan ditentukan dari lulusan perguruan tinggi mana selepas pendidikan di Gontor, atau mereka memiliki jabatan apa di pemerintahan atau menjadi pimpinan apa tetapi ditentukan kemauan dia mengamalkan ilmu yang didapatnya dalam ruh keikhlasan sesuai dengan amanat-amanat Kiai untuk menjadi Mundzirul Qoum

Dan itu juga yang dicirikan sebagai “orang Besar” yang dipesankan oleh Kiai Imam Zarkasyi. Entah alumni itu lulusan luar negeri, atau perguruan tinggi negeri atau bahkan tidak kuliah, entah ia pejabat atau hanya seorang pedagang, Entah dia imam masjid besar di kota besar atau atau mushola kecil di kampung atau yang lainnya, maka mereka adalah orang-orang besar jika mau mengamalkan ilmunya dengan ikhlas dimana saja panggilan itu datang.

Dan akan menjadi nilai lebih jika ladang dakwah itu ada di daerah-daerah terpencil yang tantangannya lebih butuh keikhlasan yang besar.

Berdakwah di kota-kota dimana masyarakatnya lebih terdidik mungkin tidak akan menemui hambatan berarti. Berbeda dengan berdakwah dimana sasaran dakwah masih memegang tradisi-tradisi klenik atau sangat jarang sekali tersentuh cahaya Islam, tantangannya sangat terasa, Belum lagi ditambah lokasi yang terpencil di pelosok pedalaman.

Berikut kisah 3 alumni yang berprofesi sebagai da’i/ah yang menyampaikan dakwah di pedalaman di beberapa daerah di Indonesia, sebagaimana dikutip dari tulisan Ustadzah Edithya Miranti di Gontornews.com.

Dakwah tentang Syirik, Da’i Sebelumnya Hilang Suara di daerah kental mistis

Berdakwah di pelosok memang tidak mudah. Apalagi masih banyak warga setempat yang mempercayai hal-hal mistis. Sehingga memperbaiki aqidah mereka merupakan hal utama dalam berdakwah. “Desa ini masih sangat mistis. Masih banyak santet,” jawab Ustadzah Tsani.

Makanya ketika Ustadzh Tsani membahas soal syirik, setelah selesai acara tokoh ulama setempat langsung bertanya tentang kabarnya. Karena pernah ada seorang ustadz yang membahas hal serupa tiba-tiba tidak keluar lagi suaranya, padahal ustadz itu terus berbicara. “Alhamdulillah saya tidak kenapa-kenapa,” papar alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 2009 itu.

Dipanggil “Bapak Pendeta Islam”

Ustadz Bey, begitu sapaannya, sejak tahun 1997 telah berdakwah di kampung halamannya sendiri. Selain di Cigeulis, ia juga pernah berdakwah di Malingping, Panimbang, dan sekitarnya.

Pria kelahiran Desa Cigeulis, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten, 4 Mei 1972 ini, pernah diterjunkan oleh Dewan Dakwah sebagai dai di pelosok Desa Kie, Kec. Oilasi Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, NTT (Nusa Tenggara Timur).

Sempat shock Bey Hanafi di awal hidup bersama warga desa. Karena di tengah masyarakat yang sangat terbelakang dan miskin, mereka ternyata belum bisa sekadar memasak air dengan benar dan juga jarang mandi.

Sehingga beragam keterampilan hidup dan cara bersuci menjadi pelajaran dasar dalam memulai dakwahnya. Ustadz Bey juga didukung Dewan Dakwah untuk menggelar sunatan massal karena banyak warga yang belum disunat.

Bukannya dipanggil ustadz, di sana saya dipanggil “Bapak Pendeta Islam”,” kenang Bey sambil tersenyum. Alhamdulillah, setelah berdakwah sekian lama, Bey akhirnya memiliki seorang kader dakwah. Dialah yang kelak meneruskan langkah Bey selanjutnya.

Berdakwah pada Masyarakat yang Gemar Mabuk

Ustadz Jaka Firmansyah adalah seorang da’i muda penerus perjuangan dakwah almarhum Ustadz Mawardi di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Hal tersebut dilakukan setelah Dewan Dakwah menugaskannya untuk meneruskan misi dakwah di sana.

Dai asal Tangerang, Banten, itu lantas mengungkapkan, “Salah satu tantangan terberat di awal masa dakwahnya adalah persepsi masyarakat akan sosok almarhum Ustadz Mawardi.” Sebab almarhum adalah seorang dai hebat yang memiliki segudang pengalaman dalam berdakwah.

Selain melanjutkan apa yang sudah dilakukan almarhum, Ustadz Jaka juga mencoba membuat kegiatan lain, seperti di bidang pemberdayaan masyarakat yakni dengan memfasilitasi berdirinya dua kelompok tani.

Tepat di Kecamatan Wonosari, Boalemo, Gorontalo, inilah Ustadz Jaka mulai menunaikan tugas dakwahnya. Daerah ini merupakan daerah transmigran, sehingga banyak bercampur aneka budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Mirisnya lagi, budaya mabuk-mabukan sudah menjadi kebiasaan masyarakat pedalaman Gorontalo. Tidak hanya kalangan muda dan tua saja, bahkan imam masjid pun banyak yang gemar minum-minuman keras.

Sehingga dirasa masih banyak hal yang harus diperbaiki bersama dan itu bukan perkara mudah,” tukas alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Muhammad Natsir (STID Natsir) ini.

Masyarakat disana meski mayoritas Islam, namun masih banyak yang tidak menjalankan syariat Islam dan belum bisa membaca al-Qur’an.

Menyikapi ragam masalah medan dakwahnya, Ustadz Jaka akhirnya berusaha untuk fokus mengajar al-Qur’an untuk anak-anak di dua desa dahulu, yaitu Desa Pangea dan Desa Dimito. Selain itu, ia juga membentuk majlis taklim kaum ibu di Dusun Ampera.

“Program selanjutnya saya akan membuat pelatihan guru TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) dan pelatihan khotib Jum’at untuk memperbanyak jumlah TPA yang ada,” tutupnya.

..oo0O0oo..

Masih banyak alumni yang dengan ikhlas berdakwah di daerah-daerah terpencil, yang insya Allah akan dicarikan dan disarikan beritanya untuk disajikan bagi pembaca walsantornews.com agar menjadi inspirasi dan motovasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan