Berita Alumni

Gemuruh Pendidikan Gontor di Malaysia

Ma'had Tahfidz Arabic Al-Gontory, Negeri Sembilan

Saat ini, pendidikan di pondok pesantren menjadi tren di masyarakat Indonesia tak terkecuali model dan sistem pendidikan yang ditawarkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor. Tapi siapa sangka, semangat pendidikan yang ditawarkan Gontor juga bergemuruh di negeri jiran, Malaysia.

Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) adalah salah satu pesantren kebanggaan masyarakat Indonesia. Ragam profesi dan pencapaian alumni Gontor di berbagai bidang juga mengundang decak kagum dari berbagai kalangan baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satu bentuk kebanggaan alumni PMDG adalah saat mereka berkesempatan untuk menyanyikan lagu ‘Oh Pondokkku’. Terang saja, kebanyakan alumni Gontor, dan mungkin juga wali santri Gontor, akan menghayati sambil sesenggukan menangis kala menyanyikan lagu ini.

Menariknya, ada satu bait menyebut ‘Pada ibuku, Indonesia’ yang bermakna bahwa lembaga ini adalah lembaga pendidikan khas Indonesia dan lahir untuk Indonesia. Namun, apa jadinya jika ada lembaga pendidikan Islam di luar negeri yang menginduk sistem dan silabus pembelajaran seperti halnya di Gontor?

Jawabannya tentu saja tidak masalah karena terbukti ada lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren yang menginduk dan mengikuti program serta sistem PMDG bernama Ma’had Tahfidz Arabic Al-Gontory (MTAG).

Pengelola MTAG menjelaskan popularitas serta kualitas alumni Gontor di Malaysia telah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat. “Pemerintah Malaysia menghormati dan kagum dengan pencapaian Gontor, juga para santri dan guru-gurunya,” kata Widatul Nadhirah Hassan Din kepada Majalah Gontor.

MTAG sendiri merupakan lembaga yang dibentuk secara kolaboratif antara Septian Ryandi bin Aswendi dan Muhammad Syarifuddin bin Mustofa. Hasil diskusi antara keduanya lantas teraplikasi dengan pendirian MTAG secara resmi pada 1 April 2014.

Pada mulanya, hanya ada 1 mudir, 1 guru dan 3 santri. Namun setelah menempat ruko 2 lantai sebagai sarana pembelajaran awal, jumlah santri menjadi 10 orang, 6 laki-laki dan 4 perempuan.

Pimpinan MTAG, Septian Riyandi bin Aswendy, berusaha menggabungkan sistem pendidikan tahfidz dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti bahasa Arab. Menariknya, model pendidikan talaqqi menjadi salah satu keunggulan di MTAG.

“Melalui teknik pengajian Talaqqi, musyafahah dan gabungan penguasaan bahasa Arab yang dipopulerkan oleh Gontor, kami berharap dapat melahirkan generasi al-Qur’an, dan di saat bersamaan mampu berbahasa Arab,” timpal Widatul Nadhirah Hassan Din, istri Septian.

“Kami juga berharap lembaga kami dapat berkontribusi membenahi kemerosotan akhlak dan nilai di kalangan remaja,” tambah wanita yang juga aktif sebagai guru itu.

Setelah memutuskan untuk memulai lembaga pendidikan dengan menyewa ruko 2 lantai, MTAG lantas mendapatkan bantuan tanah wakaf seluas 1,3 Hektar pada tahun 2014 di Kampung Bongek, Negeri Sembilan, Malaysia.

Di wilayah tersebut, MTAG berhasil membangun sebuah bangunan 2 lantai yang terintegrasi menjadi sebuah asrama, 20 kamar mandi, kantin, ruang pimpinan sekaligus surau atau mushala. Juga empat ruang tamu bagi mereka yang memutuskan untuk menginap dan menikmati suasana pembelajaran di MTAG.

Selain di Negeri Sembilan, MTAG juga menerima wakaf sebidang tanah seluas 1 hektar yang diberikan oleh seorang dermawan di wilayah Bukit Hijau, Kuala Selangor. Sembari menunggu pembangunan di Bukit Hijau usai, Septian memfokuskan pembelajaran bagi santri-santri di Bongek, Negeri Sembilan.

Selain tahfidz dan pembelajaran bahasa Arab, MTAG juga menjalankan beberapa program unggulan yaitu program persiapan bagi santri yang ingin melanjutkan studi ke Gontor serta para santri yang berminat untuk melanjutkan pendidikan tingginya di universitas terpilih di Malaysia.

Sistem pendidikan yang diterapkan oleh MTAG adalah tahfidz al-Qur’an dan materi-materi pembelajaran yang berasal dari Gontor. Termasuk juga silabus pembelajaran bahasa Arab yang menjadi salah satu keunggulan Gontor.

Kini, MTAG memiliki tiga cabang yang berada di Rembau, Negeri Sembilan, Bukit Hjiau Selangor, dan cabang Banat dengan jumlah santri mencapai 210 santri. Sementara pengajar, sebagian besar alumni Gontor, baik yang berstatus Warga Negara Malaysia maupun Warga Negara Indonesia.

“Untuk sistem pendidikan dan kedisiplinan, kami merujuk kepada Pondok Modern Darussalam Gontor,” kata sekretaris pimpinan MTAG itu.

“Mungkin sedikit perbedaan (antara murid asal Indonesia dengan Malaysia) dari segi penyampaian dan metode pengajaran,” tambahnya menjelaskan perbedaan mendasar dalam mengajar santri asal Malaysia dan Indonesia di MTAG.

Sementara itu, pendanaan MTAG berasal dari iuran bulanan santri dan sumbangan para dermawan serta bantuan dari kerajaan. MTAG juga mengembangkan usaha peternakan ayam kampung, ikan lele dan didistribusikan ke pasar sebagai bentuk ikhtiar dalam mengelola kemandirian pesantren.

Tujuan utama pendirian MTAG yaitu menyelenggarakan pendidikan tahfidz dan pendalaman bahasa Arab serta memberikan kesempatan bagi para santri untuk memiliki mental dan keberanian untuk berbicara dengan masyarakat asing dan unjuk kemampuan diri.

“Tujuan kami adalah terwujudnya para huffaz yang akan menjadi khairul ummah, melahirkan para ulama penghafal al-Qur’an yang senantiasa berkhidmat kepada masyarakat serta mewujudkan warga negara Malaysia yang berkepribadian, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.”

MTAG bervisi  menjadi pondok tahfidz yang terintegrasi dengan bahasa Arab sebagai sarana dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an. Sedangkan misi-misi  yang disiapkan adalah dengan melahirkan hufffaz yang berakhlaqul karimah; membentuk generasi unggul menuju terbentuknya khairul ummah; serta mendidik dan mengembangkan generasi  Mukmin Muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berfikiran bebas serta berkhidmat kepada masyarakat.

MTAG pun berharap para santrinya menjadi pribadi dan generasi yang lebih baik dari generasi yang sebelumnya.

Pun dengan generasi yang tidak mampu membaca al-Qur’an dan di saat yang bersamaan menguasai bahasa Arab, MTAG berharap menjadi pioner dan yang terdepan dalam mempertahankan dua hal penting dalam Islam tersebut.

“Jangan pernah tinggalkan al-Qur’an dan bahasa Arab, sematkan dua perkara ini di dalam hati dan dada kalian semua agar kalian bisa menjadi manusia yang bukan sekedar hidup di dunia tetapi juga hebat di mata Allah SWT.”

“Perbaiki niat pada setiap perkara yang kalian lakukan, In asya Allah setiap langkah kalian akan diridhai Allah SWT,” pungkas wanita lulusan Diploma Perakaunan Universiti Teknologi Mara. [Mohamad Deny Irawan] (Dikutip dari Gontornews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan