Berita AlumniKisah Alumni

Profil Alumni: Putra NU Ini Pimpin Muhammadiyah

Tahun 2005, sebuah musyawarah yang dilakukan 13 formatur terpilih di Kepengurusan Kantor Pusat Muhammadiyah, yaitu Din Syamsuddin, Haedar Nashir, Muhammad Muqoddas, Malik Fadjar, Yunahar Ilyas, Rosyad Sholeh, Dahlan Rais, Goodwill Zubair, Zamroni, Mukhlas Abror, Bambang Sudibyo, Fasichul Lisan dan Sudbyo Markus, yang bermusyawarah hanya 55 menit dimulai pukul 10.15 hingga 11.10, akirnya disetujui secara aklamasi salah seorang alumni Gontor sebagai Ketua Umum PP Muhammadiya periode 2005-2010 menggantikan Prof.Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif.

Usai bersidang, ketiga belas formatur itu langsung menuju gedung Dome UMM dan segera Rosyad Sholeh, Ketua Pemilihan menyampaikan hasinya.

“Setelah dimusyawarahkan, formatur menetapkan Din Syamsudin sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2010,” ujar Rosyad.

Rosyad juga menyampaikan mekanisme pemilihan di dalam tim formatur. Pertama-tama ditanyakan kepada seluruh anggota formatur,  “Apakah disepakati Din Syamsuddin sebagai calon Ketua Umum PP Muhammadiyah?” Pertanyaan itu, kata Rosyad.langsung disambut peserta, “setuju”. Tentu saja raut muka pendukung Ustadz Din nampak berseri-seri. “Hidup Din” pekiknya berkali-kali.

Setelah menetapkan hasil keputusan, Rosyad Sholeh mengetuk palu dan menutup sidang.

Seorang News Maker

Nama aslinya  Muhammad Sirajuddin Syamsuddin. Atau kerap dipanggil hanya dengan Din. Namanya selalu menjadi news maker semenjak dia aktif di organisasi Pemuda Muhammadiyah.

Tahun 1995, misalnya, tatkala dia masih aktif sebagai Ketua Litbang Golkar, dia pernah mengajukan aktifis PDI, Permadi ke polisi karena ucapannya yang dianggap menghina Nabi Muhammad. Akibat pernyataannya itu, Permadi harus mendekam di penjara selama 8 bulan.

Sebelumnya, di tahun 1990, tatkala masih aktif di IMM, Din ikut mempelopori umat Islam menentang tabloid Monitor dan mengadukan Arwendo Atmowiloto menuju hotel prodeo.

Yang terakhir, namanya menjadi news maker saat menjadi pengurus MUI dan melansir fatwa haram pada bahan penyedab, Ajinomoto.

60% Hidupnya dipengaruhi Gontor

Ustadz Profesor Din Syamsuddin lulus dari Gontor tahun 1975. Dalam sebuah sambutan saat Beliau menjadi pembicara pada Pengajian Akbar bertema “Peran Pesantren dalam Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin” di Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah, Buduran, Sidoarjo tahun 2019, Prof Din Syamsuddin mengakui kuatnya pengaruh pendidikan pesantren pada dirinya.

Din menyatakan pendidikan pesantren mempunyai andil besar mempengaruhi kepribadiannya.

Saya merasa 60 persen dari kepribadian saya, dari hidup saya, dari perkembangan saya, dari prestasi kalau ada disebut demikian, itu dipengaruhi oleh Gontor, kalau boleh saya representasikan,” ungkapnya.

Menurutnya, kehidupan pesantren yang 24 jam diisi dengan pendidikan, shalat, doa, dzikir, dan shalawat menjadikan lingkungan tersebut penuh dengan barokah.

Menurut Din, ada beberapa faktor yang menjadikan Gontor memiliki andil besar dalam pembentukan kepribadiannya yaitu pertama adalah diberikannya dasar-dasar ilmu agama.

Kedua diajarkannya ilmu bahasa, terutama Arab dan Inggris yang bisa mengantarkan dirinya untuk mendapat beasiswa studi ke luar negeri.

Ketiga mentalitas kepribadian, dengan dilatih kepanduan (pramuka), pidato dan kegiatan sehari-hari lainnya. “Saya paling senang dulu itu ketika latihan pidato bahasa Inggris, juara pidato bahasa Inggris dulu. Akhir pidato saya tutup dengan kalimat why not the best, mengapa tidak menjadi yang terbaik? Itu merasuk dalam diri untuk selalu menjadi yang terbaik,” kenangnya seperti dikutip dari media online Gontornews.com

Keempat, di pesantren dilatih untuk terbuka pemikirannya sehingga di masyarakat menjadi perekat umat.

Putra NU

Ustadz Sirajuddin Syamsuddin putra asli Sumbawa Besar. Suami Fira Beranata ini sejak kecil dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Nahdhatul Ulama (NU).

Lulus Pesantren Gontor tahun 1975, Din kemudian melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Ushuluddin. Selajutnya dia melanjutkan ke University of California, Los Angeles (UCLA) hingga doktor sampai tahun 1991.

Sebelum aktif di organisasi Muhammadiyah, ia juga pengurus di Ikatan Pelajar NU (IPPNU). “Saya sejak kecil dibesarkan dalam keluarga NU, ” ujarnya suatu hari pada media hidayatullah.comTernyata sejarah mencatat seorang anak NU pernah memimpin Muhammadiyah.

Selepas Menjadi Ketua Umum lalu Menjadi Ketua Ranting

Setelah habis masa jabatannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Din lalu bersedia menjadi Ketua Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sebuah tingkat kepengurusan Muhammadiyah di kelurahan.

Ustadz Din saat dilantik sebagai Ketua Ranting Muhammadiyah Pondok Labu

Ini salah satu pembuktian didikan Mental Orang Besar yang sering ditekankan oleh Kiai Imam Zarkasyih Rahimahullah, karena bukan jabatan dan bukan kedudukan yang menentukan orang besar atau tidaknya melainkan pengabdian sepanjang masa yang penuh dengan niat baik dan keikhlasan dimanapun panggilan itu menempatkannya. Masya Allah

Karis Ustadz Profesor Din Syamsuddin

Berikut karier yang diikuti oleh Din Syamsuddin:

  • Ketua Ranting Muhammadiyah Kelurahan Pondok Labu
  • Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005–2015)
  • Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations/ CDCC (2007–)
  • Member, Strategic Alliance Russia based Islamic World (2006–)
  • Member, UK-Indonesia Islamic advisory Group (2006–)
  • Chairman, World Peace Forum/ WPF (2006–)
  • Honorary President, World Conference on Religions for Peace/ WCRP, based in New York (2006–)
  • Wakil Ketua Umum MUI Pusat (2005-2010)
  • Wakil Ketua Dewan Penasihat ICMI Pusat (2005-2010)
  • Vice Secretary General, World Islamic People’s Leadership, based in Tripoli (2005–)
  • Member, World Council of World Islamic Call Society, based in Tripoli (2005–)
  • President, Asian Committee on Religions for Peace/ ACRP, based in Tokyo (2004–)
  • Ketua, Indonesian Committee on Religions for Peace/ IComRP (2000–)
  • Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000–2005)
  • Wakil Ketua PP Muhammadiyah (2000–2005)
  • Wakil Ketua Fraksi Karya Pembangunan MPR-RI (1999)
  • Wakil Sekjen DPP Golkar (1998–2000)
  • Wakil Sekretaris Fraksi Karya Pembangunan MPR-RI (1998)
  • Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, DEPNAKER RI (1998–2000)
  • Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan DPP Golkar (1993–1998)
  • Anggota Dewan Riset Nasional (1993–1998)
  • Sekretaris Dewan Penasihat ICMI Pusat (1990–1995)
  • Wakil Ketua Mejelis Pemuda Indonesia (1990–1993)
  • Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah (1989–1993)
  • Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM, 1985)
  • Dosen/ Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1982–)
  • Dosen di berbagai Perguruan Tinggi (UMJ, UHAMKA, UI, 1982–2000)
  • Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta (1980 – 1982)
  • Ketua IPNU Cabang Sumbawa (1970–1972).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan