Berita AlumniInspirasi dan MotivasiKisah Alumni

“Standar” dalam Bahasa Arab di Gontor, Namun Menjadi Pakar Nahwu Yang dikagumi

Profil DR. Ustadz Budiansyah, Lc. MA., seorang Pakar Nahwu Indonesia

Beberapa waktu yang lalu walsantornews.com menemukan sebuah postingan di instagram sebuah cuplikan video seorang Indonesia mengajar dalam sebuah kelas, yang berisi beberapa orang Arab dan orang Indonesia .

Di sana tertulis:

Doktor Budiansyah asal Indonesia.
Pakar nahwu, spesialis mengajar mata kuliah nahwu di LIPIA Jakarta. Pada video lawas ini, beliau sedang mengisi dauroh yang dihadiri oleh asatidz dari Indonesia maupun Arab (native speaker). .
Mari kita langitkan do’a untuk kesehatan, keberkahan ilmu, dan semoga Allah selalu menjaga Beliau.

Kemudian status ini dishare ulang di FB kemudian ditambah komentar bahwa DR. Budiansyah ini adalah mantan santri Gontor. Wah! … Karena panasaran, walsantornews.com mengubek-ubek Google mencari keterangan tentang Beliau, hingga bertemulah dengan akun FB Beliau dan terjadilah komunikasi, yang awalnya singkat melalui perpesanan kemudian Beliau sendiri menelepon walsantornews.com, alhamdulillah.

Walsantornews.com merasa berbahagia dan merasa terhormat ditelelpon langsung oleh Beliau dengan segala kepadatan aktifitas Beliau. Begitu banyak pelajaran yang bisa didapat dari pengalaman Beliau yang semoga menjadi inspirasi bagi alumni dan walisantri Pesantren tercinta, Gontor.

Berikut yang bisa disarikan dalam dialog tersebut.

Disiasati Untuk Masuk Pesantren

DR. Budiansyah, Lc. MA, lahir pada tanggal 2 Juni 1961 dari Ibu yang berprofesi sebagai pedagang di pasar. Masa kecilnya dibesarkan di lingkungan pasar Babatan, Dulatip, sebuah pasar yang terbesar saat itu di kawasan Bandung (kini pasar itu pindah ke daerah Ciroyom).

Pergaulan pasar yang mengkhawatirkan, mulai dari pergaulan hingga bahasa “pasar” yang “mengerikan” membuat sang Bunda ingin sekali Budiansyah kecil (maaf Tadz) mendapat pendidikan di pesantren. Namun sang putra ingin masuk sekolah negeri.

Agar Budiansyah kecil tertarik ke pesantren, saat ia kelas 6, Ibundanya bersiasat mengajak liburan keliling pulau Jawa dengan mengunjungi-mengunjugi pesantren besar dan hebat mulai dari beberapa pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa timur. Namun dari puluhan pesantren yang dikunjungi, Pesantren Gontor tidak ada di dalamnya.

Namun saat setelah selesai kunjungan panjang itu, Budiansyah kecil ternyata masih lebih memilih masuk sekolah negeri. Akhirnya ibunya mengalah namun dengan syarat harus sekolah negeri, jika tidak masuk sekolah negeri maka akan dimasukkan pesantren. Budi setuju.

Masuk Gontor “Mendadak”

Maka masuklah Budiansyah kecil ke sebuah sekolah negeri di Bandung, satu tahun sudah dijalani tiba-tiba Budi Kecil berubah fikiran, ia ingin masuk pesantren.

Ibunda yang mendapati perubahan ini, seolah-olah mendapat durian runtuh langsung bergerak cepat, khawatir Budi kecil berubah fikiran, sore hari disampaikan Budi, besok paginya langsung berangkat ke pesantren. Super kilat!

Namun yang dituju kali ini adalah Gontor. Sang Ibunda mendapat kabar tentang Gontor itu dari seorang anak kiai di Bandung, yang bernama Kang Toto, ia adalah putra Kiai Musaddat yang juga lulusan Gontor. Kang Toto pun saat itu masih menempuh pendidikan di Gontor. dan kepada Kang Toto lah, saat itu Budiansyah kecil akrab berteman.

Karena saat itu Gontor belum waktunya penerimaan santri baru, Budiansyah kecil kemudian dititipkan sementara di Pesantren Ngabar, Ponorogo.

Santri Pintar (Pelajaran Exact)

Maka mulailah petualangan Ustadz Budiansyah kecil di pesantren Gontor. Mungkin karena sempat mengenyam pendidikan di Pesantren Ngabar, santri Budiansyah sangat menonjol di kelas terutama pelajaran exact seperti matematika, berhitung, fisika, bahasa Inggris dan lain-lain. Sedang dalam pelajaran agama, sebagaimana pengakuan Ustadz Budiansyah sendiri, adalah standar-standar saja. Istilahnya yang penting lulus.

Karena prestasinya, Beliau setelah kelas satu langsung loncat ke kelas 3 karena menduduki peringkat kedua di kelas B, kelas unggulan di Gontor. Nilai matematika dan berhitung selalu sepuluh. Bahkan ustadz yang saat itu mengajarnya matematika sering deg-degan saat mengajar santri Budiansyah karena khawatir salah. Sedang di pelajaran bahasa Arab prestasinya justru tidak menonjol.

Prestasi 2 besar ini senantiasa direngkuhnya hingga kelulusan kelas 6. Hanya satu santri saat itu yang Beliau tidak bisa susul yaitu seorang santri yang kini juga menjadi Doktor sebuah perguruan tinggi di Surabaya.

Menghindar untuk Pengabdian

Ustadz Budiansyah lulus tahun 1980 Sosyc, saat itu Gontor masih satu sehingga belum ada kewajiban pengabdian satu tahun setelah lulus. Namun santri-santri yang berprestasi biasanya ditawarkan untuk melakukan pengabdian.

Ustadz Budiansyah remaja saat itu, lebih memilih untuk tidak mengambil pengabdian. Namun karena dia santri unggula maka besar kemungkinan ia terpilih untuk pengabdian.

Untuk menyiasati ini, Ustadz Budiansyah remaja sengaja membuat banyak kesalahan sehingga sering digundul sehingga ia tidak terpilih untuk pengabdian. (Do not try this at your school!!)

Kuliah di LPBA

Selepas Gontor, Ustadz Budiansyah melanjutkan ke LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) kini lembaga itu bernama LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Arab). Ini sebenarnya bukan pilihan utama Beliau, karena Beliau saat itu mengakui penguasaan Bahasa Arabnya sangat buruk. Karena pelajaran Bahasa Arab dari apa yang didapat di Gontor hanya diikuti sekedar agar dapat lulus, namun tidak diseriusi. Namun the show must go on!

Mungkin karena dasarnya memang cerdas, baru 4 bulan pendidikan di LPBA, ustadz Budiansyah terpilih bersama 14 mahasiswa lainnya untuk belajar di Arab Saudi karena prestasinya bagus.

Sementara teman-temannya memilih jurusan syariah (agama Islam), ustadz Buduansyah yang kemampuan pelajaran syariahnya standar, memilih jurusan Bahasa Arab. Dan itu pun awalnya karena terpaksa.

Namun saat mempelajari Bahasa Arab dengan tekun, ustadz Budiansyah menemukan bahwa mempelajari Bahasa Arab itu seperti belajar matematika, pelajaran yang sangat ia sukai, mulai dari situ Ustadz Budiansyah seolah menemukan passionnya.

Karena sudah menemui trik dalam belajar ini, maka prestasi kembali direngkuhnya. Saat itu Beliau menempati urutan kedua prestasi dalam penguasaan bahasa Arab, di bawah seorang mahasiswa dari Bangladesh, dan melebih dua orang mahasiswa berprestasi penduduk Arab asli yang menempati urutan ketiga dan keempat.

Pakar Nahwu Yang Mengajar di Beberapa Universitas

Ustadz Budiansyah melanjutkan terus studinya hingga S3 Ilmu Agama Islam konsentrasi Bahasa Arab di UIN Syarifhidayatullah Jakarta (dulu IAIN Jakarta). Kini Beliau mengajar di almamaternya tersebut dan sering menjadi pembicara di beberapa pertemuan ilmiah tentang Bahasa Arab khususnya Nahwu.

Beliau juga mengetuai Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA Ar Raayah Sukabumi selama dua periode.

Kepakaran Beliau dalam bidang nahwu pernah diungkapan oleh salah satu mahasiswa yang pernah merasakan sentuhan pengajarannya dalam sebuah tulisan di FB

Ustadz Budiansyah bersama Pengurus STIBA Ar Raayah Sukabumi

“DR. Budiyansyah (Doktor bidang Nahwu asal Indonesia), demi Allah saya belum pernah mendapati guru nahwu sehebat beliau, betul2 pakar dan cara mengajarnya asyik” (Rosyid Adi Al Majlani)

Saat saya sampaikan pujian salah satu mahasiswanya itu, DR Budiansyah menjawab, “Bisa jadi mahasiswa itu bahasa Arabnya parah, makanya dia memuji saya. Kalau orang yang bahasa Arabnya bagus menganggap biasa saja,”

Masya Allah, demikian ketawadhuan orang berilmu. Semoga Allah menjaganya.

Saat ditanya siapa teman seangkatannya yang saat ini menjadi tokoh masyarakat, jawab Beliau cukup banyak, salah satunya yaitu Walikota Depok saat ini, Doktor Muhammad Idris

Walikota Depok, Dr. KH. Mohammad Idris (kiri), menyampaikan materi ceramahnya saat silaturahmi IKPM Depok

Pesan Ustadz DR Budiansyah Lc. MA untuk santri dan Walisantri

Di akhir dialog tadi, Ustadz DR. Budiansyah menitipkan pesan agar santri lebih aktif dalam menekuni pelajaran Bahasa Arab di pondok, jangan hanya bangga dengan Bahasa Arab Gontorian, karena sesungguhnya yang dipakai dalam pergaulan dengan ilmu dan dengan orang yang berbahasa Arab adalah Bahasa Arab asli bukan bahasa Arab Gontory.

Kemudian Beliau juga menyarankan agar serius mempelajari tajwid secara praktek, karena yang ia alami dulu, secara teori beliau hafal tajwid namun dalam prakteknya tidak sebagus teorinya. Beliau berharap berharap para santri serius mengikuti khalaqoh-kholaqoh tahsin yang diwajibkan saat ini. Dulu saat ia masih nyatri di Gontor, kholaqoh semacam itu belum ada.

Kepada walisantri, Ustadz Budiansyah menyarankan agar terus mengawasi putra-putrinya, karena melepas anak ke pesantren itu bukan berarti lepas tanggung jawab. Terus motivasi anak agar menjaga pergaulan, pintar memilih teman, dan secara mandiri terus tingkatkan kemampuan pendalaman syariah dan bahasa Arab.

Ustadz Budiansyah memberi gambaran, dahulu saat Beliau nyantri, tidak sedikit anak dipesantrenkan karena nakal, karena sudah rusak, sehingga melepas anak tanpa terus membimbingnya selama di pesantren sangat mungkin anak-anak yang “demikian” itu justru akan membawa pengaruh buruk bagi anak kita.

Satu lagi yang walsantornews.com simpulkan yaitu peran Ibunda dari DR Budiansyah yang sangat perhatian akakn pendidikan agama putranya. Dengan segala upaya dan doa tentunya sangat memberi peran dengan terbentuknya sosok Beliau seperti sekarang. Semoga Allah muliakan ibunya.

Saat walsantornews.com bertanya kapan bisa mengisi dauroh di Gontor, ustadz Budiansyah berkata, ‘Pasti datang jika diundang,” kata Beliau di akhir pembicaraan,

Semoga ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi alumni dan walisantri, dan Semoga Allah menjaga dan membimbing para guru-guru kita, sehingga Gontor terus melahirkan alumni yang memberi arti bagi umat dan agama. Aamiin.

Terima kasih Ustadz Doktor Budiansyah, Lc. MA. semoga Allah senantiasa menjaga Antum, dan Allah limpahkan keberkahan dalam setiap langkah Antum dan keluarga. Semoga suatu saat bisa bertatap muka. Insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan