Kabar Pondok

Makna “Metode Lebih Penting daripada Materi”

Interpretasi dari salah satu filsafat pendidikan di Gontor

Bagi para penggelut dunia akademi Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), kalimat at-thariqah ahammu mina-l-maddah tentunya sudah tidak asing lagi. Namun tidak banyak yang mengetahui sejarah, kisi-kisi, hingga orientasi awal mengapa kalimat tersebut begitu ditekankan di pondok yang notabene dapat dikatakan sukses dalam membina puluhan ribu santri dari pelosok negeri ini.

Nampaknya, ini tak terlepas dari peran K.H. Imam Zarkasyi, salah satu Trimurti pendiri PMDG, yang begitu menekankan kalimat tersebut. Sejak kedatangannya dari Padang Panjang, beliau membawa pembaharuan dengan mendirikan Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), lembaga pendidikan yang mengusung metode pengajaran modern serta menyeimbangkan antara materi agama dan materi umum.

Dalam setiap perkumpulan, pengarahan, maupun halaqah-halaqah guru, K.H. Imam Zarkasyi selalu menekankan akan pentingnya makna kalimat tersebut. Metode lebih penting dari materi. Materi apapun yang disampaikan, jika menggunakan metode yang benar, maka akan dapat diterima para siswa dengan baik. Sebaliknya, materi yang telah dipersiapkan dengan matang, akan menjadi hampa, tanpa metode yang baik.

Namun, kalimat pegangan para guru KMI ini nampaknya masih kurang sempurna ketika itu. Jika hanya berhenti pada metode saja, masih kurang mengena, masih mengambang. Indikasinya, masih ada saja guru yang belum begitu paham makna hakikat dari metode. Ternyata, arti dari metode harus lebih diperjelas lagi. Bahkan, mungkin perlu disempurnakan.

Saat itu, K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan PMDG saat ini, merasa kurang sreg dengan kalimat tersebut, jika hanya berhenti pada metode. Setelah merenung dan melalui pemikiran yang mendalam, ditambah lagi ada suatu kejadian yang tak dapat disampaikan dalam tulisan ini, beliau menganggap bahwa metode memang berpengaruh, namun tidak mutlak. Yang berpengaruh adalah the man, manusianya, orangnya, al-mudarris nafsuhu (‘guru itu sendiri’) Tak berhenti pada kata guru, ada sesuatu yang lebih penting dari itu, yakni jiwa seorang guru, the soul, atau ruh al-mudarris.

Hal ini disampaikan K.H. Hasan Abdullah Sahal pada acara Pengarahan dan Pembagian Tugas Ujian Tulis Pertengahan Tahun 1434-1435, Kamis (26/12/2013) pagi, di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Di depan 700-an siswa kelas 6 dan 400 orang lebih guru KMI, beliau menegaskan, “Memang at-thariqah ahammu mina-l-maddah, namun al-mudarris (‘guru’) jauh lebih penting dari sekadar thariqah (‘metode’). Meskipun ada 11 orang Maradonna di lapangan, jika semuanya ayanen, maka tak akan ada seorang pun yang bisa memasukkan bola ke dalam gawangBukan sekadar guru, namun ruhu-l-mudarris (‘jiwa seorang guru’) itu yang sebenarnya lebih penting dari keduanya (metode dan guru).”

Akhirnya, lahirlah kata-kata dari beliau yang sangat terkenal di dunia pendidikan Gontor: at-thariqah ahammu mina-l-maddah, wa al-mudarris ahammu mina-t-thariqah, wa ruhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi. Kata-kata inilah yang terus ditanamkan kepada segenap santri dan guru hingga saat ini, yang mendorong kemajuan sistem pendidikan dan pengajaran di PMDG. (binhadjid, Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan