Hanya di Gontor

Jejak Cinta Tanah Air di Gontor (3): Less Ceremonial, More Action

Setiap tahun, masyarakat Indonesia merayakan peringatan hari kemerdekaan setiap 17 Agustus. Makna yang diharapkan dari setiap peringatan itu adalah agar masyarakat Indonesia dapat mengenang jasa pahlawan, menghargainya dan membalas jasa-jasa mereka, para pahlawan yang telah mengorbankan waktu, harta bahkan jiwa, dengan usaha mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri, bagi masyarakat dan bagi bangsa dan negara.

Namun pertanyaannya cukupkah peringatan yang hanya satu hari itu mampu membentuk karakter yang bisa menghargai dan membalas jasa-jasa para pahlawan yang teramat mahal itu dengan mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermanfaat?

Sejatinya, karakter itu terbentuk dengan usaha komprehensif, simultan dan konsisten. Bukan setelah perhelatan selesai kemudian kembali ke habitat suka-suka masing-masing yang makna peringatan itu sendiri hampir tidak berbekas.

Dan usaha yang komprehensif, simultan dan konsisten itu hampir tidak mungkin jika tidak dilembagakan (kecuali beberapa orangtua hebat yang mampu mendidik juga secara komprehensif, simultan dan konsisten anak-anaknya). Itulah sebabnya sekolah-sekolah pembentuk karakter unggul pengisi kemerdekaan, entah itu nasionalis, disiplin, kesetiaan dan lain-lain adalah sekolah berbentuk asrama seperti Akmil, Akpol, IPDN dan sejenisnya, dan juga pesantren.

Dan Gontor adalah salah satunya, tapi yang berbeda di Gontor tidak menonjolkan seremonial atau ritual dalam memenuhi harapan para pendiri Indonesia, tapi sepanjang kiprahnya dalam membentuk generasi unggul Gontor insya Allah tidak hanya memberi janji, tapi juga bukti.

Less Ceremonial

Di Gontor tidak ada upacara bendera setiap hari senin, sebagaimana sekolah lain lakukan sebagai “tanda” nasionalisme. Dan jangan juga tunggu perayaan Hari Pahlawan, RA Kartini, Sumpah Pemuda dan lain-lain di Gontor, Anda tidak akan menemukannya.

Dan saat peringatan 17 Agustus pun, di Gontor hanya dilakukan upacara Bendera yang khidmat dengan Paskibranya namun tidak ada “pesta kemerdekaan” dengan aneka lomba dan panggung hiburan setelahnya.

Hal inilah yang biasanya menjadi “titik kritik” para pengaku paling NKRI dalam menuduh Gontor tidak nasionalis. Padahal …

Nasionalisme itu ada di dalam dada semua Santri dan Assatidz, apalagi Kiai. Mereka tidak perlu berteriak paling nasionalisme namun tidak mendidik diri menjadi nasionalisme sejati.

Di Pondok tau akan arti berbakti pada Pertiwi yang bukan hanya make up karena Pertiwi adalah Ibunya.

Oh pondokku…
          Engkau berjasa…
          Pada ibuku Indonesia…

Demikian lirik lagu Hymne Pondokku yang menjiwai semua seluruh santri dan alumninya.

Bakti Gontor kepada Indonesia bahkan Sebelum Negara Indonesia ada!

Banyak yang belum tahu bahwa lagu Hymne Gontor Oh Pondokku, itu dibuat sebelum Indonesia Merdeka, tepatnya 5 tahun sebelumnya yaitu pada tahun 1940.

Dan selama masa penjajahan (tahun 1926-1945) Gontor menolak mengibarkan Bendera Belanda dan Nippon saat itu. Sebagai gantinya, mereka mengibarkan bendera Merah, Hijau dan Putih. Dan ketika Bendera Merah Putih resmi menjadi bendera Indonesia, bendera tersebut sampai sekarang tetap dikibarkan di bawah bendera merah putih dalam setiap acara resmi pondok.

Kiai Sukri pernah berkata:

Bahwa Nasionalisme adalah mencintai negara sebagai bentuk manifestasi iman dan takwa pada Allah. Berjuang untuk negara adalah bagian daripada ibadah.”

More Actions

Dalam menunjukkan rasa cinta tanah airnya, Gontor lebih memberikan perbuatan dibanding slogan. Berikut beberapa actions yang Gontor persembahkan bagi Ibu Pertiwi

1. Gontor membentuk pahlawan yang Nyata

Setiap alumni Gontor adalah pengajar, adalah guru, adalah ustadz yang berusaha mengamalkan ilmu dan bertekad mencerdaskan adik-adiknya. Dan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan di Gontor ada tambahan lagi: “tidak digaji”!

Gontor mendidik calon guru-guru bangsa

Penekanan akan semangat mengajar dengan ikhlas ini pernah disampaikan Kiai Imam Zarkasyi kemudian ditekankan lagi oleh Kiai Sukri Zarkasyi dalam banyak kesempatan yang memberi definisi orang besar:

Jadilah kalian orang besar, orang besar bukanlah orang yang memiliki pangkat yang tinggi, harta yang melimpah, atau ilmu yang luas dikenal orang di mana-mana, akan tetapi orang yang ikhlash mengajar ngaji walau di surau kecil di daerah terpencil.

2. Gontor membentuk Karakter Pejuang

Sebutkan semua karakter pejuang, dan Gontor mendidik itu kepada santri-santrinya bukan hanya seremonial namun juga dengan sanksi jika tidak dilaksanakan.

Disiplin, tidak gampang menyerah, tepat waktu, perencanaan, kerja cerdas, kerja ikhlas, kerja sama, rajin ibadah, rajin belajar, kuat mental, orator, motivator, dan lain-lain.

Kemudian secara jujur mari kita tanyakan mana yang bisa lebih dekat memberikan jawaban akan harapan pejuang bangsa ini yang sudah mendahului kita: karakter pejuang ataukah aneka pesta perayaan?

3. Kepanduan/Pramuka adalah Wajib

Semangat Santri dalam mengikuti Pramuka

Di Gontor tidak ada upacara bendera setiap hari senin. Sebagai gantinya, setiap santri wajib mengikuti latihan Pramuka setiap hari kamis. Latihan dimulai dengan mengibarkan bendera merah putih pada jam 14.00 tepat!. Bagi yang terlambat, hukumanya sama beratnya dengan terlambat sholat di masjid jami.

Latihan ditutup dengan upacara penurunan bendera jam 15.30 (sekarang 15 menit sebelum Ashar). Jika sampai tidak mengikuti upacara ini atau tidak mengikuti kegiatan pramukanya, maka siap-siap rambut digundul atau hukuman lain.

Dalam sistem Gontor, kepramukaan diamalkan oleh seluruh penghuninya, dari Kyai sampai santri baru. Semuanya berstatus Pramuka aktif. Kalender kegiatan pramuka-nya padat, mulai dari latihan mingguan, KMD, KML hingga Jambore dan Raimuna rutin digelar tiap tahun. Mulai dari Penggalang, Penegak, Pembina Dasar, Pembina Lanjut semuanya aktif 24 jam.

Yang unik, jika ada anak Kyai Pesantren mondok di Gontor, biasanya ditempatkan sebagai pengurus Pramuka. Menurut falsafah tidak tertulis di Gontor,

“Pramuka yang baik, pasti menjadi Kyai yang baik bagi umat dan bangsa”

This image has an empty alt attribute; its file name is wp-1473408287570.jpg
KH. Hasan Abdullah mendapat penghargaan Lencana Melati dari Kakwarnas atas dedikasinya pada gerakan Pramuka

Karena seriusnya pondok dalam hal kepramukaan, pimpinan Pondok Gontor, senantiasa mendapat anugerah bintang melati dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Salah satu rangkaian kegiatan adalah Jambore dan Raimuna (Jamrana) yang diikuti oleh pesantren-pesantren yang mengadopsi sistem pendidikan ala Gontor.

Salah satu rangkaian kegiatan adalah Jambore dan Raimuna (Jamrana) yang diikuti oleh pesantren-pesantren yang mengadopsi sistem pendidikan ala Gontor. Ada hampir 100 pesantren model Gontor yang mengikutinya.

Jamrana ini adalah kegiatan rutin tahunan. Bagi pesantren yang mbolos, akreditasi ke-gontor-an nya bisa dicabut!!!. Inilah yang membuat sebuah media Militer saat kunjungan ke Gontor menjadi takjub, yaitu soal pendidikan Nasionalisme melalui Pramuka, belum pernah mereka menjumpai ada sekolah ataupun pesantren yang menanamkan ke-indonesia-an yang lebih baik daripada sistem Pondok Gontor ini.

Penutup

Sebagai penutup, ada kutipan yang disarikan dari pidato Kiai Hasan yang menjawab keraguan orang-orang akan rasa cinta tanah air pesantren-pesantren di Indonesia.

“Kalau ingin melihat nasionalisme itu jangan datang ke sekolah-sekolah umum tapi datanglah ke pesantren-pesantren!”

Dirgahayu Republik Indonesia, semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga Indonesia. Dan semoga Allah juga selalu menjaga Kiai-kiai dan guru-guru kita dimanapun berada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan