Hanya di GontorKisah Alumni

Jejak Cinta Tanah Air di Gontor (2): Kiai Hasan, Lagu Nasional dan Lagu Daerah

Bagian Kedua Serial Menyambut Peringatan Kemerdekaan Repubik Indonesia

Kiai adalah figur sentral dalam sebuah pesantren. Titahnya bisa menjadi kurikulum pondok bahkan menjadi sunnah pondok, yang jika santri tidak melaksanakannya maka harus siap dengan sanksi atau bahkan hilang keberkahan ilmu.

Dalam setiap pidato atau kumpul Qo’ah Kiai Hasan (semoga Allah senantiasa Melindunginya) sering menekankan wajibnya santri mencintai negerinya. Pidatonya kadang sangat berapi-api yang menandakan penekanan pentingnya hal itu untuk dilaksanakan.

“Negaramu Nak!! Berjuanglah Nak (untuk negaramu)!

Para pejuang-pejuang, para Kiai-kiai dulu memperjuangkan kemerdekaan! kalian jangan membuat jelek Indonesia!”

“Di Gontor santri diajarkan untuk mencintai Indonesia, ..”

Demikian beberapa pesan yang sering ditekankan oleh Kiai Hasan kepada santri-santrinya

Bahkan Santri Asing Wajib Hafal Lagu Indonesia Raya

Dalam setiap kumpul Qo’ah (istilah untuk sebuah kegiatan yang dilakukan di Balai Pertemuan) selalu dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang diikuti kemudian dengan Hymne Pondok.

Bahkan santri yang berasal dari luar Indonesia pun wajib hafal dan mereka insya Allah pasti sudah hafal.

Pesan yang terkandung dari aturan ini adalah bahwa disaat orang yang mendapat kesempatan hidup di Indonesia wajib mencintai Indonesia apalagi yang lahir, hidup dengan segala manfaat yang diambil dari tanah air Indonesia maka mencintai Indonesia adalah keharusan.

Kiai Hasan Menangis Jika Menyanyikan Lagu Ini

Ada satu lagu nasional yang jika menyanyikannya, Kiai Hasan sering terisak bahkan menangis. Ini menandakan kecintaannya pada bangsa ini dan sangat sedih jika membayangkan bangsa yang besar, indah dan diperjuangkan awalnya oleh para Kiai dan Santri-santri untuk kemerdekaannya dan terlepas dari penjajahan ini diisi oleh orang-orang yang hanya berusaha mengambil keuntungan pribadi alih-alih memajukan dan menyejahterakan.

Lagu itu adalah Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki, anak seorang pelantun lagu-lagu Islami, Marzuki, yang sering membawakannya dengan diiringi kecapi.

Santri Wajib Hafal Minimal Satu Lagu Daerahnya Masing-masing

Dalam sebuah kunjungan ke suatu daerah, Kiai Hasan (semoga Allah senantiasa Melindunginya) sempat mendengar sebuah lagu daerah. Dalam acara Kumpul Qo’ah Kiai Hasan menyampaikan hal tersebut.

“Saya kemarin berkunjung ke daerah … eh sekpim mana sekpim … ayam den lapeh oi oi,” kata Kiai Hasan dengan logatnya yang khas

“Dulu saya senang banget denger lagu itu. Sekarang saya dengar lagi langsung .. eh coba .. coba!” kata Beliau dengan mimik seperti sedang mengingat lagu itu sambil memberi isyarat agar Sekpim mencari liriknya di Google. Kiai Mashudi tanggap dengan isyarat itu lalu mencari di Google dan menyerahkannya dengan Kiai Hasan.

Yang ini Tadz?” kata Kiai Mashudi

“Naah ini!” kata Kiai Hasan gembira.

“Coba … coba … nanti pertemuan besok kita nyanyi lagu ini bareng-bareng,” perintahnya.

Kumpul Qo’ah selanjutnya semua santri dan Assatidz bernyanyi bersama-sama para Kiai lagu Ayam Den Lapeh dengan Lirik terpampang besar di layar.

Pernah juga suatu ketika Kiai Hasan berkata dalam suatu pertemuan yang dihadiri seluruh santri.

Maluu laah!” katanya masih dengan logatnya yang ngangenin, Kiai Hasan menyindir santri-santri yang tidak hafal lag daerah.

Saya aja orang Ponorogo tau lagu Bubuy Bulan.” tambahnya.

Ayo mana priangan .. Priangan .. orang Priangan ..!” tanya Kiai Hasan kemudian menyanyikan lagu Bubuy Bulan

Bubuy bulan
Bubuy bulan sanggray bentang
Panon poe,
Panon poe disasate ..
. eahh” kata Beliau kocak.

Dan Beliau masih lanjut.

“Daerah mana? .. hayoo .. Ampar-ampar pisang! Biissaaa saya … Coba … coba ..!”

Demikianlah Kiai kita tercinta menekankan kepada santri-santrinya untuk tidak lupa dengan daerah dimana dia lahir dan dibesarkan.

Semoga Allah menjaga Kiai-kiai dan para Assatidz di Gontor dan seluruh pesantren di Indonesia karena sesungguhnya merekalah yang sungguh-sungguh menjaga Indonesia dengan seluruh raga dan kesungguhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan