Kolom Ustadz Oky

Reflexi Dua tahun dibubarkannya Organisasi Extrakurikuler PERSADA

By : Oky Rachmtulloh

Dua tahun yg lalu, saya up load sebuah video mengenai pembubaran salah satu organisasi kegiatan extrakurikuler yang membidani para santri yang berkiprah di bidang senam, organisasi itu bernama Persada (persatuan Senam Darussalam). Segera berita itu menyebar cepat di dunia maya, merangkai berbagai respon utamanya dari Alumni Gontot atau lebih khusus alumni Persada, ada yang menyesalkan tindakan anggotanya, ada yang menyesalkan kenapa tidak ada musrif (pembimbing) Persada yang bertindak untuk meyelamatkan, sampai ada Alumni senior yang alumni persada berniat ke Gontor dengan satau tujuan : Persada Harus tetap ada….

Saya berfikir, sejauh inikah fanatisme itu terbentuk di Gontor? Sehingga bahkan keputusan Pimpinan-pun masih perlu dieprtanyakan oleh kita, para alumni yang tinggal diluar, tidak tau bagaimana perkembangan situasi dalam pondok , tidak tahu menahu asbab nuzul keputusan itu, hanya bisa merangkai kata dari berita dunia maya yang itu 70% bisa jadi adalah berita bohong? Saya hanya berfikir menurut pandangan saya saat ini, sebagai orang yang pernah ikut serta di TERISDA (Teater) pernah merasakan bagaimana Hancurnya terisda dububarkan, pernah merasakan bagaimana hidup sebagai anggota POT 15, yang selalu jadi tukang beli Nasi Goreng ketika Ramadhan untuk buka puasa teman-teman? Semoga uraian singkat saya ini membawa mafaat, setidaknya untuk saya, yang masih sangat jauh untuk disebut senior..Saya masih kemarin sore, masih kalah juah pengetahuan saya mengenai Gontor di Banding para senior saya itu…

Organisasi extrakulikuller adalah organisasi usulan para santri, di usulkan kepada pimpinan pesantren. Ini posisi awalnya, jadi yang membentu organisasi itu buknalah Gontor sebagai institusi, tapi ini inististif santri sendiri untuk menyalurkan Hobi mereka. Yang Hobi bela diri membentuk Perbeda, yang suka Teater membantuk Armada, yang suka sepakbola membentuk Club sepak Bola, yang basket membentu Klub bola basket, dan selama hal itu tidak melangar dispilin dan sunah pondok modern, maka Pimpinan Insya Allah mengizikan berdirinya organisasi itu. Jadi sekali lagi, Gontor sama sekali tidak punya inistiatif mendirikan organisasi itu. Yang punya inistaif adalah santri kemudian meminta izin kepada Pimpinan untuk mendirikannya… Ini yang pertama..

Yang kedua adalah, organisasi yang saat ini exis, membesar, dan memberi kotribusi ke Pondok itu sama sekali bukanlah tujuan santri datang ke Pondok. Silahkan tanya kepada santri-santri baru itu, apa tujuan mereka ke Pondok? Pasti jawabannya menuntut ilmu, dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan semua organisasi itu. Karena memang tidak menjadi tujuan utama, maka seandainya pak Kyai berkehendak membubarkan sebuah organisasi, yang tinggal bubarin aja Dengan atau tanpa alasan. Karena santri masih bisa hidup, belajar, berdisiplin dengan ada atau tidaknya organisasi extrakulikuler itu.

Dari Marching band sampai Club Bahasa, semuanya tidak punya pengasruh apa-apa kepada Gontor, meskipin jasa mereka haris diakui juga banyak kepada Gontor. Tapi kita di Gontor diajari berjasalah tapi jangan minta jasa. Bekerjalah dengan ikhlas, jasa kita biarlah Allah yang membalas, tidak perlu mengagungkan jasa masa lalu, karena kalau kita fikir-fikir apa yang dilakukan kelompok kita terlalu jauh dengan apa yang sudah dilakukan oleh para pendiri pesantren ini. Jasanya?? Bahkan kuburan merekapun sangat amat sederhana sekali….Malu rasanya jika kita yang baru bisa tampil di acara Pondok sedikri saja sudah merasa berjasa, pernah tampil di hadapan tamu negara sudah meras berjasa, masya Allah..kecil nian kita ini bila dibandingkan beliau-beliau ini…

Dari dua catatan saya diatas, biasalah dengan semua pembubaran oragnisasi ini. Ini bukan organsasi pondok, kita yang usul untuk diadakan, usulnya kepada Pimpinan. Bapak Pimpinan setuju, maka jadilah organsiasi itu. Karena sifatnya extrakulikuler, maka Gontor punya tuga membimbing, mengarahkan, mendisiplinkan, kalau tidak bisa dididik ya dibubarkan. Satu-satunya Organisasi siswa yang dimilliki Gontor adalah OPPM. Maka tidak mungkin ada pembubaran OPPM, di ganti personilnya mungkin, tapi tidak akan pernah ada pembubran OPPM, meskipun secara de Jure, itu syah dilakukan oleh Pimpinan Gontor.

Sejak dulu, sudah ada sekian organisasi yang dibubarkan kemudain diajukan lagi dengan nama yang baru. Persida (silat) dulu dibubarkan kemudian mengajukan lagi menjadi Perbeda (bela diri), Terisda (teater) juga dibubarkan, lalu dua tahun kemudian berganti nama menjadi ARMADA, Meteor, salah satu club epak bola, pernah dibekukan. Dan hal itu menjadi sangat biasa di Gontor. Karena masing-masing kita sangat menyadari, bahwa kita ini tamu. Tidak berhak sama sekali menanyakan apa kebijakan tuan rumah. Mau tuan rumah itu mecahi gelas diruang tamu, ya kalau tidak nyaman kita yang pergi, bukan malah memarahi Tuan rumah.Itu analogi saya…

Ini yang harus kita sadari, ini yang harus kita penuhi. Sebab siapapun anda, mau presiden atau ketua PBB sekalipun, tidak akan pernah ada ceritanya bisa menrubah keputusan pimpinan, betapapiun pahit kepiutusan itu bagi kita…Gontor sudah kenyang di cacai maki, juga sudah kenyang di puji-puji..

Sebagaimana tulisan Ustadz Oky di FB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Mohon matikan adblock Anda, karena untuk maintenance web ini kami hanya mendapat dari iklan